My Bastard Husband

My Bastard Husband
episode 9


__ADS_3

Happy reading my beloved readers🥰


"Morning, dear!"


Aku langsung menoleh kesebelah kanan, saat mendengar sapaan yang lumayan familiar untukku, ketika aku sedang mengunci rumah sebelum berangkat ke kampus hari ini.



Tenang saja, hari ini gak ada drama dari Bang Samuel lagi, kok. Karena aku sudah belajar dari hari kemarin dalam mengurus suamiku. Hingga tak ada alasan lagi buat Bang Samuel untuk mengomeliku.



Sekarang, pria itu sudah berangkat ke kantor, setelah menghabiskan sarapan buatan ku yang tumben mau dia makan.



"Morning, An," balasku dengan Riang,


saat melihat keberadaan Ana.


Tetangga apartemen yang sangat baik hati.


Ana itu seorang janda, yang memutuskan tidak menikah lagi setelah suaminya meninggal.


Ana bilang, cintanya pada suaminya kekal, hingga tak bisa menerima pria manapun lagi.


Lagipula, kini umurnya sudah lebih dari 50 tahun. Dia sudah tak memiliki hasrat untuk berumah tangga lagi.


Toh, kalau soal kebutuhan biologis, dia masih mampu membayar g*g*l* manapun untuk memuaskannya.


Jangan kaget, ini Luar nergi. Tentunya, **** bebas sudah jadi hal yang umum.


"Kau sudah mau kuliah, my dear?" tanyanya, setelah aku memberinya pelukan hangat pagi ini.



Kalau di Indonesia aku punya Mama Lina sebagai pengganti ibuku yang sudah tiada. Maka di sini, aku punya An, yang sudah kuanggap ibuku sendiri.


Dia itu baiiiikkkk sekali.


"Iya, An. Hari ini aku kuliah siang." sahutku seadanya.



"Oh ... nice. Jangan lupa jaga kesehatan ya, dear. Cuaca sudah mulai tak bersahabat," tegurnya ramah.



"Aku tahu. Terima kasih sudah mengingatkan. Kau juga jaga kesehatan, An," balasku, sambil mensejajari langkahnya.



Dilihat dari pakaiannya, sepertinya An juga baru akan berangkat kerja.



"Tentu, Dear. Aku selalu menjaga kesehatanku, karena tidak akan ada yang mengurusku jika aku sakit nanti. Bahkan jika aku mati mendadak pun, mayatku pasti akan di temukan setelah membusuk."



Dia mencoba berkelar, meski aku tahu arti ucapannya sangat dalam sekali.


Meski dia terlihat santai dan cuek dengan hidup singlenya. Tapi aku tau pasti, kadang An pun merasa kesepian.


Bagaimana pun, kita ini makhluk sosial, kan? Jadi, tentunya kita pasti butuh orang lain untuk sekedar menemani.


Begitupun dengan An. Meski dia kadang mandiri, bahkan terkesan tak membutuhkan orang lain. Tapi An tetaplah manusia biasa.



"Jangan bicara seperti itu An, masih ada aku. Kau bisa memanggilku jika butuh sesuatu," aku mencoba menghiburnya.



"Dan kau juga akan pergi, kan? Setelah kuliahmu selesai?"


Benar juga, sih?


"Karenanya, tidak perlu memikirkan aku, Dear. Aku sudah terbiasa sendiri."


Dia mengibasakan tangannya dengan santai. Sebelum melangkah ke dalam lift. Aku pun segera mengekorinya.


Aku mengerti maksud An apa. Dia cuma tak ingin terlalu bergantung pada orang lain, karena tahu suatu hari akan ditinggalkan lagi.


Karenanya, selama ini. Dia selalu berusaha mengandalkan dirinya sendiri, hingga tak perlu bergantung pada orang lain.


Dia bisa hidup sendiri.


"Ah, iya. Kemarin aku bertemu dengan sepupumu. Dia tampan dan baik, ya? Aku suka sekali," ucapnya tiba-tiba.



Tak ayal, aku pun langsung mengernyit bingung. Karena ... perasaan belum ada satu sepupuku pun, yang mengunjungiku tahun ini. Mereka semua sibuk, dan ... memang jarang berkunjung.


Lalu, sepupu mana yang An maksud?



"Sepupu?" beoku pelan.



"Iya, sepupumu. Pria tampan berkulit coklat, bermata tajam dan ... yang baru datang kemarin. "



Hah?!


Maksudnya? Jangan-jangan ....



"Kalau tidak salah namanya Samuel!"


Ah, sudah kuduga! Ternyata memang Bang Samuel yang di sebut An. Tapi ... kenapa An bilang di sepupuku?


__ADS_1


"Oh, Bang Samuel," aku hanya pura-pura bergumam. Karena aku bingung harus menjelaskan bagaimana pada An, tentang Bang Samuel.


Sudah kubilang, kan? Tidak ada yang tahu jika aku sudah menikah.



"Iya, Samuel. Semalam aku tak sengaja berpapasan dengannya saat pulang kerja." Tanpa diminta, An pun membuka ceritanya.


"Awalnya, kukira dia salah alamat, karena terlihat bingung di depan pintu apartemenmu. Saat kutanya apa sedang butuh bantuan atau tidak, ternyata dia memang sepupumu yang sedang menginap."



"Dia bilang seperti itu?"



"Ya! Meski wajahnya sangat kaku dan datar. Tapi dia lumayan baik karena mau membantuku membawa barang, saat aku kesulitan mencari kunci di tas."



"Ah, begitu, ya?" Kembali, aku hanya menanggapinya sekilas, karena ... sebenarnya ada hal lain yang lumayan menggangu pikiranku.


Sepupu? Bang Samuel mengenalkan dirinya pada Ann sebagai sepupu? Itu berarti, dia memang tak ingin ada orang lain yang tahu tentang status kami.



Setelahnya, aku pun hanya bisa tersenyum miris diam-diam. Sebelum berpamitan pada An, karena arah kami memang berbeda.


Sepupu, ya?


Baiklah.



\*\*\*


"Ayolah, Hani. Sudah lama, kan? Kita tidak hangout bareng."



"Yess i know. Tapi, aku sedang benar-benar tidak bisa kemana pun, Jul," tolakku tegas, pada Juli sahabatku di sini, saat dia mengajakku untuk pergi ke Mall sepulang kuliah nanti.



"Tapi kenapa? Apa kau memang sesibuk itu, Hani? Hingga kini kau tak punya waktu hanya sekedar me time?" tuntutnya mulai kesal. Karena memang, beberapa bulan ini aku tak pernah menuruti maunya.



Bukan apa-apa. Aku hanya sedang memperdalam ilmu Bisnis, dan mulai sering datang ke kantor untuk mempelajari Bisnis ayahku.



Biasanya, setiap pulang kuliah, aku akan menyempatkan diri datang ke kantor. Tapi sejak ada Bang Samuel, aku memilih tinggal di apartemen, dan mempercayakan semuanya pada Bang Samuel.


Namun, tetap saja itu bukan alasan aku bisa santai lagi, dan kembali menghabiskan menghabiskan hari di Mall seperti dulu. Karena justru, keberadaan Bang Samuel membuatku tak bisa kemana-mana.



Dia itukan susah sekali di tebak. Kadang muncul tanpa peringatan dan ... ada saja polanya yang membuatku harus selalu waspada.


Seperti hari ini, saat sedang berusaha menolak Juli secara halus. Tiba-tiba dia datang begitu saja, dan mengajak aku pulang di depan teman-temanku. Membuat semua orang menatapku penuh selidik.



"Siapa dia, Hani? Pacarmu?" tuntut Juli, setelah memindai Bang Samuel dengan kurang ajar.



"Wah, Hani, kamu? Ternyata diam-diam sudah punya kekasih," goda Joseph, sambil menoel lenganku.



Namun aku hanya menggeleng pelan menanggapinya, dan melirik Bang Samuel agar memperkenalkan dirinya. Karena aku tak ingin salah mengenalkan dia.



Namun, pria itu hanya diam, seperti menyerahkan semuanya padaku. Membuat aku mendesah pelan, sebelum menjawab, "Jangan bergosip. Dia itu hanya sepupuku."



Entah benar atau tidak. Aku melihat tatapan Bang Samuel langsung menajam. Sedetik setelah aku mengucapkan kalimat tadi.


Apa yang salah? Bukannya dia sendiri yang mengaku sebagai sepupuku pada An?


Aku hanya mengikuti alur saja. Lalu, kenapa dia tampak tak suka?



"Apa maksud kamu tadi?!"


Bang Samuel langsung menghardikku, sesampainya kami di apartemen.



"Maksud aku? Apa?" Bukan aku tak mengerti arah pertanyaan Bang Samuel, hanya saja, aku ingin memastikan saja dugaanku.



"Gak usah pura-pura, Hani. Saya tahu kamu pasti mengerti maksud pertanyaan saya. Kamu itu bukan orang bodoh!" tukas Bang Samuel, masih dengan nada kesal yang sama.



Aku pun akhirnya menghela napas sebentar, sebelum menjawab, "Apa yang abang maksud adalah, aku yang mengenalkan Abang sebagai sepupuku?"



"Tentu saja, apa lagi selain itu?!" Jawabnya cepat. Bahkan terlalu cepat menurutku.



"Lho, aku kira abang memang ingin dikenal dengan status seperti itu di sini?"


Tak ayal, aku pun bertanya balik. Karena bingung dengan sikapnya ini. Kenapa dia harus marah, kalau dia sendiri mengaku sebagai sepupuku pada An.



"Saya tidak pernah bilang begitu!" tegasnya.

__ADS_1



"Tapi kemarin abang mengenalkan diri sebagai sepupu akukan pada, An?" Aku mencoba membela diri.



"An? Siapa?" Tanya Bang Samuel makin kebingungan.



"Tetangga apartemen ini." Jawabku cepat.



Dia pun lalu terdiam, seraya berfikir. Mungkin dia sedang mencoba mencerna ucapanku.



"Maksud kamu wanita tua yang punya gaya nyentrik itu?" Kak Samuel mencoba mengkonfirmasi.



"Iya, dia An." jawabku mengiyakan


Dia pun terlihat membuang muka dengan tatapan yang ... entahlah, seperti kikuk atau canggung.



Namun dari rona raut wajahnya, aku tahu kekesalannya sudah sedikit berkurang.



"Kalau itu jelas perkara beda." Nyatanya, dia tak serta merta mengaku salah. Dia masih bersikukuh, seakan tak mau aku merasa bersalah .



"Beda gimana?" Tentu saja itu membuat aku kembali bingung. Karena makin ke sini, aku malah merasa Bang Samuel ini seperti bunglon.



"Jelas saja Beda. Wanita tua itu kan tetangga kamu. Dia pasti akan bergosip jika tahu saya suami kamu, tapi tidak pernah terlihat. Saya tak ingin jadi buah bibir. Sementara yang tadi di kampus, kan teman-teman kamu. Mereka harus tahu kalau kamu sudah menikah, agar tak ada yang berani mengajak kamu kencan. Ingat Hani istri itu pakaiannya suami."



Kok, terdengar egois, ya? Maksudnya apa coba? Tetangga gak boleh tahu aku sudah menikah, sementara teman wajib tahu.


Padahal, temanku justru lebih sering berkunjung ke sini daripada tetangga. Lalu, kalau mereka menanyakan keberadaan Bang Samuel yang tak pernah terlihat? Aku harus jawab apa?



"Tapi bang--"



"Sudahlah! Saya malas bahas ini lagi. Kamu tuh emang bandel, ya? Udah tahu salah, masih saja ngeyel. Bisa gak sih, nurut sama suami sedikit aja? Mau kamu saya labeli istri durhaka?"



Astaga!


Aku salah apa lagi? Kenapa semua yang aku lakukan sepertinya tak ada yang benar di mata Bang Samuel.



"Kamu tuh harus benar-benar belajar sama Alisia. Karena Alisia itu bukan cuma penurut, tapi pandai membuat hati saya senang. Makanya saya bangga punya istri seperti dia."



Alisia lagi! Alisia lagi!


Jujur saja, aku sebenarnya tidak pernah ingin cemburu, atau menganggap Kak Alisia itu adalah saingan ku selama ini.



Karena apa? Karena aku sadar diri aku cuma piguran di sini. Aku pengganggu dan hanya cadangan.


Aku tahu dan berusaha menerima takdirku itu.


Tetapi, jika Bang Samuel terus saja membandingkan kami dengan sengaja. Lama-lama aku bisa kesal juga.


Karena aku juga manusia biasa, yang bisa sakit hati dan punya rasa egois.


Tidak masalah jika dia tidak mencintaiku, atau terpaksa ada di sini bersamaku karena tuntutan Mama Lina. Makanya dia selalu ketus dan tak sudi melirikku. Aku mengerti itu.



Namun bagaimanapun aku ini juga istrinya, kan? Bisakah dia menghargai aku sedikit saja?


Tak perlu berlebihan. Cukup jaga perasaanku dan tak usah membandingkan aku dengan istrinya


yang lain. Karena aku juga bisa sakit hati. Atau ... lebih baik diam dan acuhkan aku saja. Aku akan lebih menghargai itu.


"Ck, benar-benar payah." Bang Samuel pun berdecak kesal. Sebelum akhirnya pergi meninggalkanku, menuju lantai atas tempat kamar utama berada.



Tuhan ... sampai kapan aku harus bertahan dengan pernikahan ini?


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


Bersambung…


Maaf bila ada penulisan kata atau ejaan yang salah.


__ADS_2