
Happy reading my beloved readers 🥰
"Akhirnya selesai juga." Ucap Hani senang seraya mematikan komputernya.
"Siapa bilang kamu selesai? Nih kerjain. Gara gara kamu kan jabatan aku jadi turun, sebagai gantinya, kerjain nih berkas." Perintah Mawar kepada Hani.
"Iya mbak." Jawab Hani pasrah, karena kemarin memang 100% kesalahannya.
"Kalau sudah selesai silahkan kamu cetak, dan letakkan di atas meja kerja saya!" Perintah Mawar kepada Hani. Lalu Mawar keluar dari ruangan itu.
Satu persatu orang sudah pulang, Hani masih fokus pada layar monitornya.
"Udah tu Hani, ayo pulang. Besok masih bisa kamu kerjakan. Aku pulang dulu ya." Ucap Mira pada Hani.
"Iya mbak, hati hati di jalan mbak." Saut Hani, yang masih tetap fokus pada layar monitornya.
Karena kalau di kerjakan besok otomatis pekerjaan Hani akan semakin menumpuk.
Sekarang sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, Hani masih tetap bekerja. Sekarang dia tinggal mencetak file file itu, setelah itu dia akan pulang kerumah.
Tret...
Ternyata tinta printernya habis, Hani mencari tinta printer ke seluruh lemari.
Dia tidak menemukan satu pun stok tinta printer, di dalam lemari itu.
Lalu Hani berinisiatif untuk pergi ke ruangan persediaan alat tulis kantor, yang berada di lantai 2.
Lorong kantor sangat sepi, dan menyeramkan. Tapi Hani menyemangati dirinya untuk lebih berani lagi.
Setelah sampai di ruangan persediaan alat tulis kantor, Hani segera masuk ke dalam, dia menghidupkan lampu. Lalu membuka lemari, dan mencari tinta printer untuk di isi ulang.
Tanpa dia sadari, Raymond masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah perlahan. Lalu dia menutup dan mengunci pintu itu dengan pelan.
"Ha... I got it." Ucap Hani senang, lalu dia membawa tinta printer itu.
"Hai sayang kita ketemu lagi." Ucap Raymond seraya menampilkan senyuman iblisnya.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Hani takut. Hani pun selangkah demi selangkah berusaha menghindari Raymond.
"Kamu nolak aku kan, sekarang aku akan mendapatkanmu secara paksa." Jawab Raymond sambil membuka kemejanya.
"Ngapain kamu Raymond, cinta itu tidak bisa di paksakan. Jangan macam macam kamu!" Jawab Hani dengan keras.
"Iya saya tau saya hanya seorang manajer, saya tau saya kalah jauh dari boss perusahaan ini. Tapi saya ingin menikmati wanitanya boss, tidak salah kan saya?" Ucap Raymond, lalu dia membuang kemejanya entah kemana.
Hani semakin takut melihat ini, dia segera lari dan membuka pintu.
Sial, ternyata pintunya di kunci, Hani pun bertriak meminta tolong.
"Tolong.... seseorang tolong saya!" Ucap Hani sambil terus menggedor gedor pintu dengan keras.
"Tidak akan ada yang bisa mendengarmu sayang, semua orang sudah pulang." Ucap Raymond dengan sensual.
Raymond mendekat, lalu dia menarik tangan Hani dengan paksa.
"Lepaskan saya brengsek." Perinta Hani sambil berusaha melepaskan diri dari Raymond.
__ADS_1
"Mari kita nikmati saja malam indah ini, hanya milik kita berdua sayang. Kamu sangat agresif sekali, pantas saja boss suka dengan mu." Ucap Raymond seraya berbisik ke Hani.
Hani tidak mengerti apa yang di bicarakan pria cabul ini, Hani hanya berpikir bagaimana, cara agar lolos dari pria gila ini.
Buk...
Hani menendang daerah privasi Raymond
"Akh... sakit, berani beraninya kau ******." Ucap Raymond kesakitan, sambil meringkuk meringis memegang daerah privasinya.
Hani segera melepaskan diri dari Raymond, dia melihat ada jendela di ruangan ini. Hani membuka jendela itu dan segera pergi dari sana.
Belum ada selangkah Hani menginjakkan kakinya. Rambutnya sudah di tarik keras oleh Raymond.
"Kau tidak mau secara sukarela, aku akan melakukannya secara paksa." Ucap Raymond marah besar.
"Akh.. sakit brengsek lepaskan aku!!! Tolong... siapa pun tolong aku, tolong...." Triak Hani dengan keras,dan terus bergerak berusaha melepaskan dirinya.
Sementara itu Bang Samuel yang baru bangun tidur, dia terkejut karena tertidur di kursi kerjanya, dan dia masih berada di ruangan kantornya.
Dia segera bangkit dari kursinya, lalu segera keluar dari ruangannya.
"Diam ******, aku tidak akan lembut lagi padamu!" Ucap Raymond, lalu dia menampar pipi Hani dengan keras.
"Akh... tolong aku... seseorang tolong aku...." Ucap Hani dengan keras seraya mencoba melepaskan diri dari Raymond yang berada di atas tubuhnya.
"Tolong... tolong..." Ucap Hani tersendat, karena Raymond menyumpal bibir Hani dengan bibirnya secara paksa.
Saat melewati lantai dua Bang Samuel mendengar suara minta tolong, tapi suara itu tiba tiba hilang.
"Akh.. tolong... seseorang tolong aku....." Teriak Hani kencang, saat dia berhasil mengigit bibir Raymond sampai berdarah.
Dia akhirnya menemukan asal suara itu dari mana.
"Ya, suara minta tolong itu, berasal dari sini." Batin Bang Samuel, sambil berjalan menuju ruangan persediaan alat tulis kantor.
"Tolong... tolong." Ucap Hani menangis dengan terisak. Sambil memukul dada Raymond dengan keras, karena dia sangat takut Raymond bertindak kurang ajar kepadanya.
Plak...
"Diam kau ******!" Perintah Raymond, sambil menampar pipi Hani.
Raymond merobek blouse yang Hani gunakan, sehingga memperlihatkan bra bewarna lilac itu.
Raymond terpana, melihat pemandangan indah yang ada di depan matanya.
"Tolong... jangan.... lepaskan aku brengsek!" Teriak Hani putus asa,
"Ya Tuhan tolong aku!!" Batin Hani sambil berharap ada seseorang yang menolongnya.
Bang samuel membuka pintu itu.
"Akh di kunci, dari dalam." Batinnya heran.
Bang Samuel tidak kehilangan akal, dia segera mendobrak pintu itu dengan kakinya.
Bruk....
__ADS_1
percobaan pertama gagal
percobaan kedua.
Bruk...
Pintu ruangan itu terbuka lebar.
Bang Samuel melihat pemandangan aneh, dia melihat seorang laki laki sedang berusaha, untuk melecehkan Hani.
Melihat hal itu, perasaan Bang Samuel menjadi campur aduk. Tapi perasaan marah yang mendominasi pada hatinya.
Bug..
Bang Samuel menendang kepala laki laki itu dengan keras, sehingga membuat laki laki itu terpental ke arah kanan.
Sementara Hani meringkuk, menutupi tubuhnya yang setengah naked itu.
"Sialan, dasar bajingan." Ucap Bang Samuel marah, sambil meninju wajah Raymond dengan keras.
Raymond yang di berondong pukulan kuat itu, dia tidak bisa melawan, karena kepalanya sangat pusing saat di tendang bossnya beberapa detik yang lalu.
Dia melihat Raymond yang sudah babak belur di tangannya, dan seperti mau pingsan, tidak berdaya lagi.
Bang Samuel menelpon seseorang menggunakan ponselnya.
"Halo pak, segera ke lantai dua, tepatnya di ruangan persediaan alat tulis kantor, secepatnya!" Perintah Bang Samuel kepada seseorang, melalui ponselnya.
Sementara itu dia melihat Hani yang meringkuk di sudut ruangan, sambil menangis terisak, dan gemetaran.
Bang Samuel melepaskan jasnya, lalu dia memakaikannya ke badan Hani.
"Iya bos ada apa memanggil saya?" Tanya security, berjalan mendekat ke arah Bang Samuel.
"Tolong panggil polisi kesini, lalu laporkan dia atas kasus percobaan pemerkosaan!" Perintah Bang Samuel, sambil menunjuk wajah babak belur Raymond.
"Baik.. boss." Jawab security itu dengan cepat, lalu dia segera menelpon polisi.
Bang Samuel mengambil kabel T di dalam lemari, setelah itu dia mengikat tangan Raymond menggunakan kabel T.
"Tolong urus dia! Pastikan dia membusuk di penjara!" Perintah Bang Samuel kepada securitynya.
"Siap laksanakan boss." Jawab dua orang berbadan besar itu, lalu mereka segera menghubungi polisi.
_
_
_
_
_
Bersambung…
Maaf bila ada ejaan ataupun kesalahan dalam penulisan kata.
__ADS_1
Maklumlah saya masih amatiran.
Thanks to read all🥰