My Bastard Husband

My Bastard Husband
episode 45


__ADS_3

Happy reading my beloved readers🥰


Jam makan siang sudah selesai. Hani bergegas masuk ke ruangannya.


Setelah masuk ke dalam Hani melanjutkan pekerjaannya yang belum rampung tadi.


"Hani, tadi kamu kemana? Kok buru buru amat?" Tanya Mira penasaran.


"Hm... tadi aku ada urusan sebentar mbak." Jawab Hani tetap fokus mengerjakan sesuatu di komputernya.


"Hani, aku boleh minta tolong gak?" Tanya Mira pada Hani.


"Iya mbak, ada apa?" Jawab Hani, seraya menghentikan aktivitas mengetiknya, lalu beralih melihat Mira.


"Aku gak ngerti tentang berkas ini. Bisakah kamu menolongku?" Tanya Mira memelas. Lalu dia meletakkan berkas itu ke meja Hani.


"Coba aku lihat dulu." Jawab Hani, seraya membuka lembar demi lembar berkas itu.


"Silahkan." Saut Mira senang.


"Hmm....baiklah mbak, mbak aku bantu. Tapi kalau belum selesai, kita lembur berdua ya, soalnya aku takut pulang sendirian mbak. Ucap Hani, seraya mengetik keyboard komputer itu kembali.


"Oke, no problem, Hani. Kalau gitu, aku balik ke meja ya, soalnya masih banyak yang aku kerjain." Saut Mira, lalu dia berjalan kembali ke meja nya.


Detik demi detik berlalu, mereka semua masih saja sibuk mengerjakan pekerjaan masing masing.


Jam pun sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Tidak ada tanda tanda Hani, akan pulang sepertinya. Dia masih saja berkutat dengan berkas yang di berikan Mira padanya.


Satu persatu orang yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, mereka masing masing keluar dari ruangan itu.


Mira pun menghampiri Hani, karena dia sudah selesai mengerjakan pekerjaannya.


"Hani, apakah sudah selesai?" Tanya Mira, lalu dia mengambil kursinya, dan duduk di sebelah Hani.


"Sedikit lagi mbak." Jawab Hani, yang masih saja berkutat pada komputernya.


"Oke, Hani. Silahkan lanjutkan!" Saut Mira, lalu dia memainkan ponselnya, sembari menunggu Hani melanjutkan pekerjaannya.


2 jam kemudian.


"Hani, kita sambung besok aja yok, soalnya udah mau magrib nih." Perintah Mira, pada Hani. Seraya memperhatikan jam di ponselnya.


"Bentar lagi mbak, tanggung banget ini, kalau di sambung besok lagi. Soalnya besok kita pasti banyak kerjaan lagi." Jawab Mira, yang tidak memperdulikan ucapan Mira.


"Terserah kamu deh." Saut Mira pasrah, lalu dia mencoba duduk lebih tenang lagi.


Kring... kring...


Ponsel Mira berbunyi dengan keras.


Mira segera mengangkat ponselnya itu.


"Halo mas, iya ada apa mas?" Tanya Mira pada suaminya dari seberang sana.


"kamu kok pulangnya lama sayang? Dedek udah rewel banget nih sayang." Saut suaminya pada panggilan telepon itu.

__ADS_1


"Iya, sayang aku pulang." Jawab Mira, pada panggilan telepon itu.


"Yaudah, aku tunggu di rumah ya." Saut suami lalu mematikan sambungan telepon itu.


"Maaf Hani, sepertinya aku harus pulang lebih dulu. Soalnya anakku rewel." Ucap Mira, pada Hani yang masih saja fokus pada layar komputernya.


"Iya gak papa Mbak, sebentar lagi selesai nih." Jawab Hani, santai.


"Oke aku pulang dulu ya, kalau gak selesai sekarang, sambung besok saja Hani." Saut Mira seraya memasukkan barang barangnya ke dalam tasnya.


"Iya mbak. Hati hati di jalan ya mbak." Jawab Hani.


"Iya, kamu juga hati hati ya Hani. Jangan pulang terlalu malam! Gak baik untuk perempuan seperti kamu." Saut Mira menasehat Hani, yang masih sibuk dengan berkas itu.


"Oke mbak." Jawab Hani.


Detik berikutnya Mira keluar dari ruangan itu , dengan santai.


Tanpa di sadari, ternyata Vanya mengkunci ruangan Hani dari luar.


30 menit kemudian.


"Ah... akhirnya selesai juga di berkas." Ucap Hani. Seraya membersihkan mejanya, memasukkan barang barangnya ke dalam tas, lalu memasukkan berkasnya ke laci mejanya dan mengkuncinya.


Hani, sekarang sudah siap untuk pulang.


Saat membuka pintu, Hani heran karena pintunya tidak bisa terbuka.


Krek...


Tiba tiba saja lampu padam.


Hani yang takut pada, gelap pun memekik keras.


"Ah... kok mati lampu?" Ucapnya lagi gusar.


Hani biasanya membawa kunci cadangan, ruangan ini. Tetapi hari ini, Hani tidak membawa kunci itu.


"Aduh gimana nih, aku gak bawa kunci lagi." Ucap Hani, lalu dia mengambil ponselnya untuk menerangi ruangan yang gelap itu.


Hani berusaha membuka satu persatu laci teman temannya, dan lemari siapa tau dia menemukan kunci cadangan ruangan ini.


Tapi nihil, Hani tidak menemukan kunci cadangan pintu ruangan ini, dimana pun.


Hani tidak memiliki nomor ponsel office girl, atau pun office boy, pada ponselnya.


Meskipun Hani sudah berkeringat dingin, karena takut gelap. Dia mencoba tetap bersikap tenang.


Hani membuka ponselnya, harapannya terakhir adalah menghubungi suaminya. Karena Hani tidak tau harus minta tolong kesiapa.


Sementara itu, tenggorokan Hani sakit. Sepertinya Hani panas dalam. Dia tidak mungkin bertriak triak, dengan kondisi tenggorokannya yang sedang sakit.


Tut.... tut.... Panggilan berdering saat menghubungi Bang Samuel.


5 menit kemudian.

__ADS_1


"Iya, ada apa?" Tanya Bang Samuel ketus.


"Bang, Hani minta tolong sama abang, Hani terkunci di ruangan staff accounting. Tolong Hani, membuka pintu ini bang! Jawab Hani menahan air matanya, karena dia sangat takut sekarang.


"Hmm.... " Panggilan pun di putus sepihak oleh Bang Samuel.


Setidaknya Hani sedikit lega, sudah meminta tolong pada suaminya. Semoga Bang Samuel, segera membukakan pintu ruangan ini.


Bang Samuel yang sedang makan malam bersama kolganya itu pun, segera pamit kepada koleganya, karena dia ada urusan mendesak.


"Maaf pak, saya pamit pulang. Saya ada urusan mendesak." Pamit Bang Samuel, pada salah satu koleganya.


"Sayang sekali, sebenarnya saya mau membicarakan inti pembicaraan kita. Kalau begitu silahkan nak, kalau ada waktu lagi, saya akan mengundangmu." Jawab pria paru baya itu, sambil tersenyum pada Bang Samuel.


"Terima kasih atas makan malamnya, selamat malam." Saut Bang Samuel, seraya berlalu pergi, dari restoran bintang 5 itu.


Dia segera menuju parkiran dan melajukan mobilnya santai.


30 menit kemudian dia sampai di perusahaannya.


Dia memarkirkan mobilnya asal.


"Loh bapak, ada keperluan apa datang kesini?" Tanya salah satu security itu, pada Bang Samuel.


"Berikan saya kunci cadangan staff accounting!" Jawab Samuel, dingin.


Security itu segera mencari kunci ruangan staff accounting.


"Ini pak." Ucap security itu, sambil memberikan kunci itu, ketangan Bang Samuel.


Tanpa menjawab, Bang Samuel mengambil kunci itu.


Dia segera menuju ruangan staff accounting.


Hani, sudah terduduk di depan pintu, sambil terus merapalkan doa agar suaminya segera datang membukakan pintu untuknya. Walaupun lampu, sudah menyala beberapa saat yang lalu. Hani tetap saja merasa takut, berada di ruangan yang luas ini, seorang diri.


Krek.. pintu pun terbuka dari luar. Menampilkan sosok Bang Samuel yang datar.


_


_


_


_


_


Bersambung…


Maaf bila ada kesalahan ejaan maupun penulisan kata.


Maklumlah saya masih amatiran.


Thanks for read all😇🥰

__ADS_1


__ADS_2