My Bastard Husband

My Bastard Husband
episode 8


__ADS_3

Happy reading my beloved readers🥰


"Kamu dimana?" tanya Bang Samuel siang itu. Saat aku masih sibuk dengan kelompok kerjaku.


"Di cafe depan kampus, bang. Lagi ngerjain tugas kelompok. Kenapa? Bang Samuel butuh sesuatu?" jelasku, sekalian balik bertanya.


Mengingat dia baru di negara ini.


Bukan mau merendahkan pria itu. Aku tau dia sering bepergian ke negri mana pun dalam kunjungan bisnis, ataupun hanya sekedar liburan. Jadi, dia pasti gak akan kesusahan menyesuaikan hidup di negri orang, kan?


Namun, kenapa aku bertanya begitu? Ya ... anggap aja sekedar basa basi. Karena, aku gak mungkin bertanya, "Kenapa, bang? abang kangen, ya?"


Tidak. Aku gak segila itu!


"Saya belum makan siang."


Hah?


"Maksudnya?" tanyaku refleks. Karena tak mengerti akan maksud ucapannya barusan.


Dia belum makan siang? Ya sudah, tinggal makan saja. Kenapa musti laporan sama aku, coba? Memang aku siapa?


Istrinya! Iya, itu benar. Tapi hanya istri yang tak di anggap. Lalu, apa maksudnya dia laporan seperti ini?


"Ck, kamu ini pura-pura bodoh atau gimana, sih? Bukannya tawarin saya makan, atau apa gitu. Malah nanya maksud pernyataan saya? Kamu bener-bener gak ngerti tugas seorang istri, ya?"


Salah lagi!


Tuhan ... maunya nih cowok apa sebenarnya?


Dia sendiri yang dari awal menyuarakan penolakannya dengan lantang terhadapku dan menyatakan kalau dia memang tak pernah menganggapku sebagai istrinya.


Akan tetapi sekarang? Kenapa dia juga yang ribet nuntut aku harus bisa jadi istri yang baik di sini.


Maksudnya apa, coba?


"Bukan begitu, bang. Hani cuma--"


"Saya gak mau tau! Pokoknya kamu pulang sekarang, dan siapain makan siang buat saya. Secepatnya!" potongnya dengan cepat. Lagi-lagi tak membiarkan aku membela diri.


"Tapi Han lagi kerja kelompok, bang. Hani--"


"Saya gak perduli! Saya suami kamu Hani, dan posisi saya harus kamu utamakan. Jadi, pulang sekarang, dan masak!"


Tuhan ... kenapa dia jadi otoriter gini.


"Bang? Ayolah. Hani beneran harus--"


"Kamu ngerti Agama, kan? Tau kan, perintah suami itu mutlak dan wajib bagi seorang istri. Sekarang terserah kamu. Mau dapat pahala, dengan menuruti saya. Atau dosa, karena membangkang. Ingat Hani, surga kamu ada pada saya saat ini."


Boleh gak aku balikin? Kalau kini, aku juga punya andil dalam keberkahan rezekinya?


"Baiklah, Hani pulang sekarang."


Walaupun begitu, toh pada akhirnya, aku kembali mengalah, dan menuruti titah Bang Samuel. Karena sekali lagi, aku katakan. Aku malas ribut dengannya.


Sabar, Hani! Dia cuma seminggu di sini. Jangan cari gara-gara dengannya, kalau tidak mau imagemu makin buruk di matanya.


Itulah sugesti yang selalu ku tekankan dalam hati. Jika aku mulai kesal dengan segala tingkah laku Bang Samuel.


Lagipula dia benar, kok. Surgaku kini memang ada di kakinya. Karenannya, semenyebalkan apapun dia, aku harus tetap tak boleh membuatnya marah.


Takutnya dia mengutukku dengan mulut sadisnya, yang berakhir malah jadi doa untuk hidupku.


Jangan sampai!


"Hay, guys! Aku balik duluan, ya?"


Setelah menutup telpon Bang Samuel, aku pun berpamitan pada teman-temanku, yang langsung membuat mereka menyuarakan kebertannya.


Namun, mau bagaimana pun, rengekan keberatan mereka tak akan mampu membuat aku tetap bertahan di sini.


"Sorry. Aku lupa ada keperluan yang harus segera aku lakukan (memberi makan suamiku)." Jadi, kita lanjut malam, Takutnya dia mengutukku dengan mulut sadisnya, yang berakhir malah jadi doa untuk hidupku.


Nanti kita lanjutin lagi, By meeting Zoom, okeh!"


Walau begitu, aku tak memberitahukan alasan sebenarnya, karena aku takut mereka shock be


Ya! Di sini, memang tidak ada tahu kalau aku sudah menikah. Karena pernikahanku memang terlalu antimainstream untuk di akui.

__ADS_1


Pernikahan ini memang sah di mata agama dan hukum. Tapi statusku yang hanya istri kedua ....


Tidak! Aku tak sanggup memberitahukan hal itu pada khlayak publik.


Karena image istri kedua selalu buruk, dan terlalu empuk untuk di jadikan bahan ghibahan. Tak perduli bagaimana pun true storynya dan alasan di balik pernikahan itu. Istri kedua selalu di pandang negatif oleh publik.


Maka dari itu. Status ini, biar aku saja yang tahu. Karena toh, ini gak akan bertahan lama. Hanya menunggu sampai aku lulus saja, dan itu kurang dari satu tahun lagi.


Aku rasa, aku masih bisa bertahan sampai waktu itu tiba.


Akhirnya, setelah berpamitan dan menentukan jam meeting nanti malam, aku pun segera pergi dari sana, dan berlari secepat yang aku bisa menuju apartemenku


Semoga aku bisa menyelesaikan masakanku sebelum Bang Samuel pulang.


***


Ceklek!


Aku langsung menoleh cepat, saat mendengar suara pintu di buka.


Seperti dugaan, itu adalah Bang Samuel, yang datang setelah hampir 30 menit aku bergulat dengan alat dapurku.


Syukurlah, dengan begitu aku tidak terlambat menyiapkan makanan untuknya.


"Abang udah pulang? Tunggu sebentar lagi, ya? Tinggal dikit lagi udah rampung semua," ucapku, seraya meliriknya, yang masih belum mengeluarkan suara sedikitpun sejak datang tadi.


Bahkan mengucap salam pun, tidak sama sekali.


Yang dia lakukan hanya menatapku lekat, dengan tatapan elang yang selalu membuat aku kikuk.


Entah kenapa, aku selalu merasa ada yang salah dengan diriku, setiap kali di tatapan seperti itu olehnya.


Rasanya seperti dikuliti habis-habisan. Padahal, perasaan aku tidak sedang melakukan apapun. Hanya saja, tatapan Bang Samuel itu memang selalu berhasil membuat aku seperti terdakwa di suatu persidangan.


Tajam dan penuh selidik.


Hingga kadang, aku langsung menelan salivaku kelat, setiap kali bersirobok dengan tatapan tajamnya itu.


Apalagi, dia menatapku tanpa senyum sedikit pun. Membuat aku gusar, tanpa sebab yang pasti.


Pokoknya, tatapan Bang Samuel itu, seperti vonis mati untukku.


Aku salah apa lagi kali ini?


"Abang gak mau ganti baju dulu? Biar enak nanti makannya." Aku berusaha menegurnya sesantai mungkin. Berbading terbalik dengan degup jantung yang mulai tak terkontrol di dalam dadaku.


"Saya masih harus balik ke kantor."


Owh, okeh! Jadi, dia pulang hanya untuk makan siang?


Kok, so sweet ya, kedengarannya?


Eh, tapi kamu gak boleh baper, Hani. Karena siapa tau, itu hanya sekedar kebiasaannya sama Kak Alisia di Indonesia, dan terbawa hingga ke sini.


Jadi intinya, itu hanya sekedar kebiasaan. Bukan semata-mata hal spesial yang sengaja di lakukan untukku.


Jadi, dilarang baper!


"Oh, gitu. Ya, udah. Duduk dulu, Bang. Ini udah selesai, Kok," sahutku seantai mungkin, sambil memindahkan ayam asam manis yang ku buat, ke dalam piring.


Setelah itu, aku langsung menyajikannya ke atas meja, menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu mejeng di sana.


Namun Bang Samuel masih tak mau duduk, dan malah mematau gerak gerikku yang berusaha mengabaikannya.


Ini kenapa, sih? Kenapa aku di pantau seperti seorang pencuri, di dalam rumahku sendiri? Masalah dia apa?


"Bang, ini makan siangnya udah siap. abang mau makan sekarang, atau--"


"Kamu masak sendiri?" tanyanya tiba-tiba.


Membuat aku langsung terdiam, dan mengerjap dua kali.


Maksud pertanyaannya apa?


Dia gak percaya aku bisa masak? Atau gimana, sih? Kok, nanyanya gitu banget?


"Iya, bang. Kenapa? Bang Samuel gak suka masakan rumahan, ya? Mau aku pesenin di restauran bawah?" tanya balikku kemudian, yang sayangnya tak mendapat jawaban apapun darinya, selain tatapn datar saja.


Tuhan, aku bisa gila jika di tatap seperti itu terus! Karena tatapannya benar-benar membuat aku nething pada diriku sendiri.

__ADS_1


"Gak usah, ini aja."


Aku pun diam-diam menghela napas lega, saat akhirnya Bang Samuel memutuskan tatapannya, dan kini manarik kursinya sendiri.


Aku pun segera meraih piringnya, dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk yang tersedia, sebelum dia mulai membaca dalil lagi akan kewajiban seorang istri dalam melayani suami.


Tidak! Kali ini tidak akan aku biarkan dia mengkritikku lagi. Karena aku memang tak seburuk dugaannya.


"Saya kira kamu sudah lupa sama nasi dan tempe."


Itu sindiran, jelas! Dia tau aku lama di LN, dan pasti masih mengira aku semanja dugaannya selama ini. Bahkan, aku tahu dia selama ini menganggap aku sombong, karena tak pernah pulang ke Tanah air.


"Aku memang lama di sini, bang. Tapi lidah dan perutku sudah Indonesia sekali. Makanya, aku selalu merasa belum betul-betul kenyang, sebelum makan nasi dalam satu hari," jelasku lugas.


Tanpa niat membantahnya sama sekali.


Bang Samuel pun tak bersuara lagi, dan bersiap makan dengan santainya. Membuat aku malah harap-harap cemas menunggu reaksinya, karena takut apa yang kumasak, ternyata tak sesuai harapannya.


Aku bahkan tanpa sadar sudah menahan napas, saat dia mulai saat dia mulai menyuapkan makanannya, dan mengunyahnya pelan sekali.


Lalu saat dia terdiam beberapa saat setelah makanan itu masuk, rasanya jantungku pun ikut terhanti, bersiap menerima semburan kata-kata pedasnya tentang makananku.


Glek!


Aku tanpa sadar menelan salivaku, saat dia melirikku dengan tajam.


Baiklah! Aku memang tak pandai masak. Jadi--


"Lain kali kalau masak. Tambahkan cabai di dalamnya, saya suka masakan pedas."


Eh? Apa? Maksudnya?


Setelah itu, Bang Samuel pun meneruskan makannya dengan santai, tanpa berkomentan apapun lagi. Membuat aku tersenyum diam-diam, karena ternyata ....


Dia menyukai masakanku!


Ugh ... begini aja aku udah seneng banget!


Rasanya seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah, sebagai kerja kerasnya.


Sayangnya, kebahagiaanku pun harus berakhir, saat getar panjang dari ponsel Bang Samuel terdengar.


Karena setelah melirik siapa penelponnya, Bang Samuel pun langsung menghentikan makannya, dan pergi begitu saja meninggalkanku.


Walau begitu, tanpa diberitahu pun, aku tahu pasti siapa yang menelpon Bang Samuel tadi? Karena dari sapaannya yang tak sengaja terdengar, aku yakin pasti kalau itu dari ....


"Ya, Sayang?"


Kak Alisia. Iya, kan?


Tidak ada wanita lain yang akan di panggilnya semanis itu oleh Bang Samuel, selain Kak Alisia. Karena baginya, hanya Kak Alisia yang pantas diperlakukan semanis itu.


Aku?


Lupakan saja!


Jangan berharap!!!


_


_


_


_


_


_


_


_


Bersambung...


Maaf bila ada kesalahan ejaan atau penulisan kata di dalam novel ini .


Thanks for read😍

__ADS_1


__ADS_2