
Happy reading my beloved readers😘
Krek.. pintu pun terbuka dari luar. Menampilkan sosok Bang Samuel dengan ekspresi datar, yang berdiri dengan gagahnya.
Hani segera menoleh ke pintu, dia sangat senang karena melihat suaminya, datang untuk membukakan pintu ini untuknya.
"Kenapa kamu telalu bo-- Belum sempat Bang Samuel menyelesaikan ucapannya, Hani sudah berdiri, lalu memeluk badannya yang kekar itu dengan erat.
"Terima kasih bang, terima kasih, karena sudah mau datang untuk menolong saya." Ucap Hani sambil memeluk Bang Samuel dengan erat.
"Uhukk... lepas dulu, aku gak bisa napas." Saut Bang Samuel sesak, karena Hani terlalu erat memeluknya.
Hani pun melepaskan pelukannya pada Bang Samuel. Hani merasa sangat malu, karena bersikap terlalu agresif kepada Bang Samuel.
"Maaf bang, Hani tidak sengaja." Ucap Hani, seraya menyembunyikan pipinya yang sudah semerah tomat, karena malu. Dan jangan lupakan detak, jantunganya yang seperti orang yang habis lari maraton. Berdetak dengan sangat cepat.
"Hmm... sudah sekarang kamu pulang!" Perintah Bang Samuel, pada Hani.
Hani segera mengambil tasnya yang berada di dalam ruangan.
"Terima kasih sekali lagi pak, saya pamit pulang dulu." Ucap Hani, lalu pergi dari ruangan itu.
Bang Samuel mengunci, ruangan itu kembali.
Setelah itu dia mengembalikan kunci cadangan itu pada security, lalu dia kembali pulang kerumahnya.
****
Setelah sampai di rumah Hani, merasa sangat bersyukur sekali serta senang, meskipun suaminya terlihat cuek, arogan, dan ketus. Bang Samuel masih bisa di mintai tolong.
Hani mulai berpikir, jika suaminya saja bisa di mintai tolong olehnya, berarti ada kesempatannya untuk meluluhkan hatinya yang keras itu.
Mulai sekarang, Hani akan berusaha agar dia selalu berdekatan dengan Bang Samuel. Karena kalau kita sering bertemu, ada kemungkinan untuk menaruh rasa satu sama lain. Semoga saja apa yang di inginkan Hani terkabul.
Setelah makan malam, Hani pergi ke kamarnya, untuk tidur. Dia berharap memimpikan, hal indah bersama suaminya.
Beberapa menit kemudian, Hani sudah terlelap ke alam mimpi.
Pagi harinya Hani terbangun pukul 05.00 WIB.
Pagi ini Hani, sangat bersemangat pergi ke kantor. Karena sepertinya dia ingin segera melihat suaminya, yang tampan itu.
Hari ini, Hani membuat makanan kesukaan suaminya. Untuk bekal makan siang Bang Samuel nanti. Dia membuatkan Bebek panggang pedas manis, kesukaan suaminya.
Dulu sewaktu baru menikah, Mama Lina pernah bilang, kalau Bang Samuel sangat menyukai bebek panggang pedas manis, kepada Hani.
Mereka membicarakan hal itu melalui ponsel, karena saat itu Hani masih berkuliah di Inggris.
Walaupun ini masakan bebek pertama Hani, tapi dia tetap memasak makanan ini dengan baik sesuai toturial, dan dengan sepenuh hati tentunya.
Ting..
__ADS_1
Bebeknya sudah matang, Hani segera mengeluarkannya dari pemanggang.
Hani mendinginkan bebek panggang itu sebentar, lalu memindahkan bebek panggang itu, ke piring.
Hani mencuil sedikit, daging bebek panggang itu.
"Wah enak banget." Ucapnya senang, dengan masakannya sendiri.
Hani segera memasukkan bebek panggang itu, ke dalam kotak bekalnya, dan kotak bekal Bang Samuel.
Tak lupa pula dia membersihkan dapur, dan mencuci semua peralatan memasaknya.
Hari ini hani sarapan dengan bubur gandum, segelas susu, dan sepotong roti hazelnut. karena dia lagi malas makan nasi, untuk sarapan paginya
Setelah itu dia pergi mandi, dan bersiap siap ke kantor pastinya.
45 menit kemudian Hani sudah sampai di kantor, seperti biasa Hani berangkat lebih cepat, karena dia ingin suasana yang ramai, Hani sudah bosan sendirian di rumahnya sendirian. Makanya Hani ingin melihat suasana ramai, dan berisik.
Hani, memasuki gedung perusahaan dengan senyum ramahnya, dia menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya.
Pertama tama, Hani akan keruangan Bang Samuel dulu. Hani akan mengantarkan bekal makan siang Bang Samuel.
"Misi pak, boss ada di ruangannya?" Tanya Hani, berbasa basi kepada office boy, yang sedang menyapu di depan pintu ruangan Bang Samuel.
"Ada mbak, baru aja dateng." Jawab Pak Udin, office boy, di ruangan Bang Samuel.
"Oh.. terima kasih, pak. Kalau gitu saya masuk dulu ya pak." Saut Hani kepada, Pak Udin.
Tok...tok... tok..
"Masuk!" Ucap Bang Samuel dari dalam.
Krek..
Hani membuka pintu, itu dengan pelan.
"Permisi pak, saya mau antar bekal makan siang bapak." Ucap Hani, agak gugup.
"Iya, letakkan di atas meja saya." Jawab Bang Samuel, yang terus saja fokus pada laptopnya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya pak." Saut Hani cepat.
"Tunggu" Ucap Bang Samuel menahan Hani.
Hani pun memberhentikan langkahnya, dan berbalik melihat Bang Samuel.
"Iya, ada apa pak?" Tanya Hani penasaran.
"Bisa kamu tolong, saya membuat ini?" Tanya Bang Samuel, dengan datar.
"Hmm... kenapa tidak minta tolong sekretaris bapak saja?" Tanya Hani balik, kepada Bang Samuel.
__ADS_1
"Saya bertanya pada kamu, tapi kamu malah bertanya balik ke saya. Ya sudah sana keluar!" Jawab Bang Samuel ketus, sambil menampilkan wajah cemberutnya.
Hani pun tersenyum, melihat mood Bang Samuel yang sangat cepat berubah itu.
"Saya hanya bertanya saja pak, tapi saya tidak menolak untuk membantu bapak." Saut Hani, menahan tawanya.
"Lantas mengapa kamu masih disana? Cepat, bantu saya mengerjakan ini." Jawab Bang Samuel, geram melihat Hani yang seperti mengejeknya itu.
"Siap pak." Saut Hani cepat, lalu dia segera berjalan ke meja Bang Samuel.
Bang Samuel memperlihat file yang tidak di mengertinya, dengan kepintaran Hani, Hani dengan mudah memperbaiki kesalahan yang di buat Bang Samuel, pada file itu.
Sebenarnya Hani sangat gugup, karena jarak mereka sangat dekat. Bahkan Hani bisa merasakan napas hangat Bang Samuel yang mengenai leher jenjangnya itu.
Hani menjadi salah tingkah sendiri, saat berada di posisi seperti ini. Jika dia salah bergerak sedikit saja, dia bisa besentuhan langsung, dengan bibir Bang Samuel.
Jadi Hani, harus lebih berhati hati.
"Sudah siap pak." Ucap Hani segera, berdiri dari posisi membungkuknya.
"Ahh.." Hani terkejut, saat Bang Samuel menarik tangannya kuat.
Tanpa di sengaja, Hani terjatuh di pangkuan Bang Samuel.
Hani semakin terkejut ternyata, Bang Samuel menahan pinggangnya.
"Pak, saya mau kembali ke ruangan saya." Ucap Hani gugup.
...... Bang Samuel, hanya diam saja, sambil terus memperhatikan wajah Hani.
Hani merasa sangat malu, berada di posisi yang sangat intim ini. Walaupun itu adalah suaminya, tapi tetap saja Hani, sangat malu.
"Pak, lepaskan saya pak." Ucap Hani memelas.
Entah apa yang di pikirkan Bang Samuel, jujur saja, dia sangat tertarik dengan harum badan Hani. Apalagi melihat leher jenjang yang mulus itu, membuat jakunnya naik turun ingin mencicipinya.
_
_
_
_
_
Bersambung…
Maaf bila ada kesalahan ejaan maupun penulisan kata.
Maklumlah saya masih amatiran.
__ADS_1
Thanks for read all😘