My Bastard Husband

My Bastard Husband
episode 44


__ADS_3

Happy reading my beloved readers😘


Hani dan Mira memesan makanan terfavorit di sini. Beberapa menit kemudian makanan mereka sudah datang, Hani langsung mencicipi makanan itu, karena dari tadi perutnya lapar sekali.


Saat Hani sedang menikmati makanannya, Hani di kejutkan dengan suara ponselnya yang berdering cukup keras.


Lalu Hani pergi keluar sebentar, untuk mengangkat ponselnya.


"Mana makan siang saya?" Tanya Bang Samuel, saat Hani menjawab panggilan itu.


"Maaf pak, tapi saya tadi tidak memasak makan siang. Apa bapak mau saya belikan makanan?" jawab Hani heran.


"Terserah kamu, saya tunggu kamu 15 menit!" Perintah Bang Samuel, dengan otoriter. Setelah itu dia mematikan panggilan ponsel sepihak.


Hani masuk ke dalam cafe itu, lalu dia meminta menu makanan seperti yang dia makan untuk di bungkus.


Setelah itu dia segera melanjutkan makannya yang tadi tertunda, dengan cepat.


"Pelan pelan makannya neng! Buru buru amat sih." Ucap Mira heran, dengan cara makan Hani.


"Maaf mbak aku duluan ya, aku ada urusan penting." Jawab Hani, seraya meneguk air putih di meja. Dan berlalu pergi ke meja kasir, untuk membayar makanannya, dan juga pesanannya. Tanpa menunggu jawaban Mira.


Setelah selesai, Hani segera berjalan dengan cepat menuju perusahaan.


30 menit kemudian


Hani baru sampai ke lantai 4, dia membuka pintu ruangan CEO, dengan napas memburu, karena Hani sempat berlari sedikit tadi.


Setelah sampai di dalam sana, Hani di melihat Bang Samuel yang baru selesai makan siang.


"Pak ini makanannya." Ucap Hani, seraya memberikannya kepada Bang Samuel.


" Saya tidak suka orang yang lambat, dalam segala hal. Dan kamu tidak lihat, saya sudah selesai makan siang." Ucap Bang Samuel ketus.


"Maaf pak, saya lama. Karena tadi cafenya ramai, saya juga ngantri tadi." Jawab Hani jujur.


"Saya gak peduli, saya gak terima alasan apa pun dari kamu." Saut Bang Samuel ketus.


"Maaf pak, jadi ini makanannya bagaimana?" Tanya Hani binggung.


"Terserah kamu, saya gak peduli lagi. Mau kamu buang pun terserah." Jawabnya ketus, sambil melanjutkan perkerjaannya di laptopnya.

__ADS_1


"Tapi kan mau bazir pak." Saut Hani sendu.


Padahal Hani, sudah berusaha secepat mungkin untuk sampai ke ruangan Bang Samuel. Hani pun sempat terjatuh, karena berlari tadi, tangannya tergores sedikit. Tapi goresan di tangannya, tidak sesakit goresan di hatinya, karena mendengar penolakan suaminya, yang tidak mau memakan makanan, yang sudah dia beli dengan susah payah.


"What ever." Ucapnya cuek, dan acuh tak acuh.


"Bapak benar benar gak mau makan nih?" Tanya Hani lagi seraya berharap Bang Samuel menerima makanan yang di belikan Hani.


"Kamu itu tuli, atau gimana. Saya sudah makan siang, jadi terserah kamu mau diapain tu makanan, saya gak peduli. Sekarang silahkan keluar dari ruangan saya! Saya sibuk, saya butuh konsentrasi." Jawab Bang Samuel dengan intonasi tinggi.


"Kalau gak mau, bilang aja baik baik! Gak usah triak triak! Saya gak tuli pak." Jawab Hani dengan keras pula.


Lalu Hani keluar dari ruangan CEO, seraya mengumpat dalam hatinya. Karena sikap suaminya yang sangat menyebalkan sekali. Dan kesialan apa yang menimpanya, sehingga dia menikah dengan pria egois seperti ini.


Hani berjalan keluar perusahaan, dia memutuskan untuk berjalan ke dekat taman kota. Sambil melihat lihat pemandangan, dan sekaligus membuang rasa sakit di hatinya.


Perusahaan ini letaknya sangat strategis, karena terletak di dekat taman kota, dan juga dipinggir jalan raya.


Hani tidak khawatir berjalan sedikit jauh. Karena Hani memakai sepatu flat tipis, yang sangat nyaman dikakinya. Semenjak kakinya terkilir agak parah. Hani tidak berani memakai high hels lagi, karena dia Hani tau, dirinya sangat ceroboh dan bodoh, seperti yang di bilang suaminya.


Hani duduk di taman itu, kebetulan hari ini mendung, jadi udaranya tidak panas. Dan matahari tertutup oleh awan kelabu. Tapi sepertinya hanya mendung saja, tidak akan hujan.


Hani melihat, seorang ibu membawa karung besar, pundaknya. Ibu itu memakai pakaian yang sangat lusuh, bahkan sudah sobek.


"Permisi bu." Ucap Hani, sambil menepuk pundak ibu itu dengan pelan. Tidak ada rasa jijik sedikit pun melihat penampilan dan baju ibu itu, yang sudah sangat tidak layak di kenakan itu.


"Ya ada apa neng gelis?" Tanya ibu itu, seraya tersenyum kepada Hani.


Hani segera, memberikan makanan yang ada di tangannya, dia juga mengeluarkan dompetnya, lalu memberikan semua uang cash yang ada di dalam dompetnya kepada ibu itu.


"Tolong di terima ya bu! Saya hanya bisa ngasih ibu sedikit, maaf ya bu." Ucap Hani, seraya tersenyum kepada ibu itu.


"Alhamdulillah terima kasih neng, semoga apa pun hajat neng, segera di kabulkan Allah. Jawab ibu itu, senang. Terlihat dari garis wajahnya yang terus tersenyum, seraya memegang tangan Hani dengan erat.


"Aminnnnn ya Allah." Ucap Hani, ikut mengaminkan doa yang di ucapkan ibu itu untuknya.


"Selain gelis neng baik lagi. Jarang jarang ada orang baik seperti neng." Puji ibu itu kepada Hani.


"Ah ibu bisa aja, orang yang lebih gelis dan baik, lebih banyak kok bu di dunia ini. Cuma langka saja bu yang baik. Ucap Hani malu.


"Ah neng bisa aja." Ucap ibu itu tersenyum.

__ADS_1


"Ibu udah lama kerja kek gini?" Tanya Hani prihatin.


"Ya neng, sejak suami ibu meninggal 3 tahun yang lalu, ibu udah mulung neng." Jawab ibu itu, tanpa beban.


"owh gitu buk. Anak ibu ada berapa?" Tanya Hani penasaran.


"Anak ibu 2 cewek." Jawab ibu itu.


"Sehat trus ya bu. Semoga Allah selalu memberikan ibu rezeki yang berlimpah." Ucap Hani mendoakan ibu itu balik.


"Makasi neng." Jawab ibu itu terharu, dengan doa Hani.


Hani membuka dompetnya, lalu dia mengeluarkan kartu namanya, yang terdapat nomor hpnya disana.


"Ini bu nomor ponsel saya, ibu bisa menghubungi saya, jika ibu lagi butuh sama saya." Ucap Hani, seraya memberikan kartu namanya kepada ibu itu.


"Makasi banyak neng, saya akan menyimpannya dengan baik. Semoga neng sehat selalu." Jawab ibu itu, menangis haru pada Hani.


"Ini bukan apa apa bu. Saya hanya bisa membantu sebisa saya saja. Kalau gitu saya pamit ya buk, ini udah jam masuk kantor." Ucap Hani, seraya pamit pada ibu itu.


"Ya neng, hati hati di jalan." Jawab ibu itu tulus.


"Ya terima kasih ibu. Ibu juga hati hati di jalan ya." Saut Hani tersenyum.


Lalu mereka pergi ke tujuan masing masing.


_


_


_


_


_


Bersambung…


Maaf bila ada kesalahan ejaan maupun penulisa kata.


Maklumlah, saya masih amatiran.

__ADS_1


Thanks for read all😘


__ADS_2