
Mengingat pasien corona semakin meningkat, sekolah kita di perintahkan belajar di rumah dan memperiapkan diri untuk UN selama 14 hari dan untuk mencegah penyebaran virus. So, aku sempatkan update.
SELAMAT MEMBACA🧡
©©©
Tiga hari sudah mereka lalui di maldives oh no, bahkan empat hari karena ada sesuatu hal. Kini mereka sudah kembali memasuki sekolah dan belajar seperti biasa, mengingat ujian akan segera tiba.
"eh eh rosjeh itu ada apa di sana, kok rame-ramean?"tanya vivian teman sebangkunya hari ini yang meranjak menjadi temannya.
Kebetulan sekali hari ini renata tidak masuk, jadi dia sebangku dengan putri vivian. Dan kebetulan juga anaknya baik walaupun suka ceplas ceplos tak disaring jika berucap dengan mulut cabenya itu. Bahkan nama rose saja dia panggil dengan ejaan ROSJEH. Roselina hanya menggelengkan kepala jika melihat kelakuan vivian.
Mata roselina menerawang apa yang di tunjuk vivian tadi, lalu matanya membundar kaget saat di depannya ada tawuran. Yang dia tahu, setengah dari mereka memakai seragam yang sama dengannya dan separuhnya seragam sekolah lain.
"aduh vi gimana dong? Itu kok mereka lari ke sini SIHH VIVI AYO LARI!"
Roselina langsung berlari kencang sebari mencekal lengan vivian.
"rosjeh gw takut!!"teriak vivian sebari lari
Roselina tak menjawab, dia hanya berlari dan sesekali melihat kebelakang. Saat dirinya melihat kebelakang, di sana ada sean yang berlari kencang ke arahnya lalu tiba di sisinya. Sebari berlari, sean menggenggam tangan rose lalu membawanya berbelok arah ke dalam gang kecil di susul vivian dan jauh sekali di belakang sana, angga juga malah mengikuti sean.
"hah hah itu kenapa si se?"tanya roselina sebari ngos-ngosan akibat capek
"lebih baik lo panjat ni dinding. Sekarang!"perintahnya dengan tegas
Roselina mematuhinya lalu menaiki pundak sean untuk menjadi pijakannya supaya bisa menggapai tembok beton itu. Setelah sampai di atas, roselina menunggu vivian naik tapi saat itu juga, sekelompok siswa tadi datang tapi untungnya, jauh di sana angga menahan serangan lawannya untuk mencegah mereka menyerang sean yang sedang membantu roselina dan vivian pergi. Vivian dengan cepat menaiki pundak sean sebari di bantu roselina dari atas.
"abis ini, cepet pulang kerumah. Ngerti?!" roselina mengangguk cepat lalu dia menyuruh vivian untuk turun
"hati-hati!" ujar sean saat roselina akan turun
BRUKK
"ahkkk pantat gw jeh ishh sakit"rintih vivian
"ayok cepat vi, nanti ada yang nyusul"
Roselina langsung menghubungi sopirnya dan menginttuksikan memakai sirine di mobilnya. Tepat di ujung gang, mobil hitam mengkilat berhenti di depannya dengan suara sirine. Roselina memasuki mobil itu diiringi vivian.
"tunggu di sini dulu ya pak"
"sirine buat apa non? Apa ada masalah?"
"gak pak. Gak ada"
10 menit kemudian, roselina menyuruh sopirnya bergegas pulang dengan melewati jalan tadi. Sengaja roselina ingin melihat kondisi di sana apakah sudah aman atau tidak. Saat melewati jalanan tadi, ternyata tempatnya sudah terisolasi bersih tanpa ada siswa-siswa tadi. Kini mobilnya melaju ke kediaman vivian untuk mengantarkan gadis itu, lalu melaju lagi menuju mansion raquell.
Dalam mansion, vernon mengalihkan matanya dari laptop ke arah adiknya yang kebetulan menyadari maksud tatapan itu. Dia menatap tajam adiknya seolah berkata kenapa baru pulang?
"aku ada masalah sedikit tadi di jalan kak"ujar roselina dan vernon menaikan satu alisnya
"gak papa. Bukan masalah besar. Rose ke kamar ya kak"
Saat di kamarnya, roselina senang melihat kakaknya sudah mulai merasakan rasa khawatir pada dirinya. Walaupun tidak banyak bicara dan hanya muka datar yang di tunjukan, tapi dia bersyukur karena vernon telah berubah. Seketika otaknya mengingat kejadian tadi saat pulang sekolah.
Apa mereka baik-baik saja? Gak ada yang terluka?
Selesai dengan ritual mandinya, roselina keluar dengan bathrobe dan gulungan handuk di kepalanya yang kecil dan menambahkan kesan sexy.
Drrt Drrt Drrt
Ponsel apple yang terletak di atas nakas bergetar tanda panggilan masuk. Rose mengambil ponselnya lalu menggeser ikon hijau pada panggilan itu dan menempelkannya di telinga.
"hallo"
"singkirin telinga lo"
"ha? Apa?"
"vc"
Rosina bingung lalu menurunkan ponselnya dari telinga ke hadapan mukanya, ia sempat akan menutup panggilan itu tapi ia terkejut ternyata sean melakukan Video Call. Dengan keterkejutan, roselina melempar ponselnya ke kasur lalu menutup mulutnya.
"Lo!"geram sean di di balik ponsel roselina
Buru-buru rose mengambil ponselnya dan menampilkan wajahnya di depan wajah sean yang terdapat luka di wajahnya tapi menambahkan kesan badboy.
"lo mau gw kesitu sekarang juga?" ucapnya tiba-tiba lagi
"a-apa?" tanya rose bingung
"belahan lo"
Rose menunduk lalu dengan cepat merapatkan bathrobe miliknya.
"a-aku mau pakai baju dulu"
"ok"
Lalu dengan cepat rose menyimpan ponselnya dan berlari ke walk in closet untuk memakai baju tidurnya. Setelah selesai, dia kembali pada sean. Sean meminta rose menemaninya samapai tertidur lewat Video Call, dan sekarang bukan sean yang tertidur duluan, tapi rose. Tadi sean hanya berpura-pura tidur lalu tanpa di sangka satu menit setelahnya ia kembali membuka mata dan melihat rose sudah tertidur di balik ponselnya.
Lucu
__ADS_1
Itulah yang ada di pikiran sean. Akhirnya, sean mengakhiri Video Call itu dan ikut tertidur juga. Hari ke hari dan minggu ke minggu hubungan sean dan rose tambah lebih dekat you know lah, bahkan rose sudah membiasakan diri dengan lingkungan dan sikap sean saat di dekatnya. Mesum. Itulah sikap yang selalu di tunjukan sean kepada rose terlebih lagi jika sedang berdua, entah itu di keramaian ataupun sepi. Contohnya saja sekarang, sean memgajak roselina nonton film romance di bioskop dan memilih kursi paling pojok.
Saat film di putar sean justru tidak menontonnya, malahan dia asik menonton wajah roselina yang memerah karena perbuatan tangannya di balik kaos wanita itu.
"sean please. Ini tempat umum"bisik rose seraya menahan pergelangan tangan sean yang sedang asik meremasnya
"tonton aja filmnya by"ujar sean dengan manja lalu menaruh kepalanya di ceruk leher roselina
Roselina hanya menghela nafas kasar dan menelan desahannya dengan minuman miliknya seraya mengunyah es batu. Sean tersenyum bangga pada wanitanya karena mampu meredam suara itu sehingga ia bisa leluasa.
Kebetulan roselina yang duduk di pojok di himpit dinding dan sean. Kursi di sebelah mereka kosong hanya ada tiga pasangan di barisan belakang sini. Sean dan roselina di pojok, lalu satu pasangan di tengah dan satunya lagi di ujung sisi. Sean leluasa? Toh pasangan yang sejajar dengannyapun melakukan hal yang sama. Sean hapal betul jika kursi belakang di duduki oleh orang yang kasmaran, di jamin gak bakal diam saja menonton film toh tempatnya jauh dari jangkauan dan lebih gelap.
"sean!" tegur roselina tertahan
Sean menepis tangan roselina di tangannya lalu meciumi leher gadis itu dan sesekali menggigitnya di iringi remasan kencang. Ciuaman sean merambat terus sampai di bibir roselina, dia memagut bibir itu dengan sedikit dalam dan memainkan lidahnya.
"open your mouth"bisik sean
"no!"
"amm"ringisan tertahan roselina di bungkam langsung oleh sean saat dirinya mencubit dada gadia itu
Setelah dua jam di dalam bioskop, dua pasangan itu keluar dengan sean yang tersenyum bangga dan roselina hanya diam cemberut.
"what's wrong with you?"tanya sean dengan senyum khasnya
"Nothing!"jawab rose lalu berjalan mendahului sean dengan bersedekap dada
Sean kembali tersenyum lalu menyusul wanitanya dan kembali merangkul pundak kecil itu.
"besok minggu, mau kemana?"tanya sean dalam perjalanan pulang memakai mobil sportnya
"ahh itu. Aku akan pergi ke rumah renata, aku mau nengok dia. Katanya sakit"
"perlu erlan?"
"aku gak tahu. Aku kerumah renata juga belum bilang sama orangnya, cuma minta ijin sama mamanya doang. Emm itu anu se-"
"anu gw kenapa?"
"ih bukan! Maksud aku, emm apa renata gak hamil?"
"tergantung"
"maksudnya? B-bukannya jika dua lawan jenis me-melakukan itu, mereka bakalan hamil"
"iya kalau erlan mengeluarkannya di dalam, tapi kalau di luar, renata gak bakalan hamil. Bisa juga erlan mengeluarkannya di dalam tapi renata gak hamil. Ada tiga kemungkinan, ****** erlan lambat, renata mengkonsumsi pil atau mereka gagal produksi. Mandul"
"kenapa?"tanya sean
"ngapain ngurusin renata? Urusin hidup lo sendiri, ntar juga ngalamin"
"frontal banget si jadi orang" bales roselina dengan kesal
"faktanya"
"kalaupun renata hamil, erlan pasti tanggung jawab. Gw tahu dia"
"semoga saja"
Lamanya perjalanan dan panjangnya obrolan mereka, kini sean memasuki kendaraannya di area mansion raquell. Sean melirik-lirik dan ternyata di halaman sudah ada jet pribadi berlogo V.
Sampai depan pintu masuk mansion, sean membukakam pintu untuk wanitanya. Lalu pandangan roselina jatuh pada kakaknya yang memakai setelan formal dengan menenteng ipad apple miliknya keluar dari mansion.
"kakak mau ke mana?"tanya rose khawatir jika kakaknya berubah pikiran dan kembali ke vernon yang dulu
"Jerman" lalu matanya kembali pada ipad itu dan berjalan ke arah jetnya
"kak vernon gak berniat ninggalin rose lagi kan kak? Kakak akan pulang kan? Kak?!" tanya roselina dengan menuntut sebari mengejar vernon
"ROSELINA"bentak vernon seraya membalikan badannya menghadap sang adik
Rose terkejut dan menghentikan langkah kakinya. Sean yang melihat itu hanya diam tak ikut campur. Walau sebenarnya, sean ingin memukul vernon jika dia bukan kakak pacarnya yang berani mengabaikan dan membentak roselina.
"ada urusan kantor yang sedang menungguku! Dan berhentilah seperti anak kecil!" ujar vernon dengan tegas dan penuh tekanan
Saat vernon menaiki pijakan jet, ia memandang adiknya yang menunduk takut.
"kuliahku pindah ke sini" ujarnya di sela-sela langkahnya memasuki jet
Roselina yang mendengar itu mengangkat kepalanya dan terkejut karena senang. Dia mengerti vernon berkata bergitu karena tak ingin ia khawatir soal ketakutan dirinya karena di tinggal vernon.
Kakak akan kuliah disini, berarti kak vernon tidak akan meninggalkan aku lagi
Rose tersenyum melihat jet itu mulai lepas landas dan meninggalkan area mansion. Setelah jetnya tidak terlihat, dia membalikan badannya dan terheran karena sean masih di mansionnya.
"kok masih disini?" tanya rose di hadapan sean
"sama kakak lo aja takut di tinggal gitu. Lah sama gw malah nannya "kok masih disini" ngusir" ujar sean dengan raut seperti biasa
"maaf. Udah sore, bentar lagi papah pulang. Aku mau membersihkan diri"
"hm. Kalau gitu, gw balik"
__ADS_1
CUP
Sean berpamitan dengan mencium bibir roselina sekilas dan langsung memasuki mobilnya lalu pergi memutari halaman dan melaju keluar gerbang mansion. Rose menggelengkan kepalanya dan memasuki mansion.
Selepas dari ritualnya setiap sore menjelang malam, roselina mengambil ponselnya dan menelpon renata
"hallo"
"hallo, renata. Besok aku ke rumah kamu ya?"
"ahmm, aku mau keluar rose, lain kali gak papa?"
"kenapa? Kamu mau kemana?"
"itu..aku ma-"
"bohongkan? Aku mau kesana besok. Kalau kaamu ijinin, aku bawa sean"
"jangan, janagan! Kamu aja kalau mau kesini rose. Gak usah ngajak sean"
"Kamu takut erlan ikut ya?" tanya rose dengan hati-hati
"aku belum siap ketemu erlan rose..aku takut dan..malu"
"baiklah, besok aku pergi sendiri. Samapai ketemu besok ya re"
"iya rose"
Tuut Tuut
Setelah itu, rose turun kebawah dan mendapati ayahnya sedang membaca majalah sport dengan beberapa jenis kue dan buah di atas meja. Rose mendudukan diri di samping ayahnya dan bersamaan mengunyah kue.
"kamu udah pilih mau kuliah di mana?" tanya richard dengan mengunyah buah anggur
"ujian masih lama pah. Belum tentu juga rose lulus"
"ngomong kok sembarangan. Justru dari jauh-jauh hari kamu harus tentuin mau kuliah di mana. Biar gak labil saat lulus nanti"
"papah emang udah tahu kalau rose bakalan lulus?"
"kamu mau tinggal di kelas? Ya silahkan. Toh kamu juga yang malu"
"ekherm. Pah, rose mau nannya"
"nannya apa? Kok kaya serius"tanya richard sebari menutup majalahnya
"emm pas papah sama mamah dulu..saat buat kak vernon, papah sama mamah ngelakuinnya setelah atau sebelum nikah?" richard mengerutkan keningnya terkejut dengan pertanyaan putrinya
"kamu kenapa nannya itu? Kamu gak aneh-aneh kan?"tanya richard dengan mengintimidasi
"gak! Rose nannya aja"
"katakan yang sebernarnya roselina!" tekan richard
"emm i-itu-"
"KAMU HAMIL?"teriak richard yang membuat rose melotot lalu menggeleng keras
"BUKAN PAH. Bukan rose, lagian dia gak hamil!" balas rose tak terima
"bukan kamu? Terus kenapa kamu nannya gitu hmm?"
"ha-hanya saja mereka melakukannya sebelum nikah. Rose takut kalau tiba-tiba renata hamil terus nangis kejer-kejer karena gak terima. Apalagi jikaa keluarganya mengetahui kejadian itu" tutur rose dengan lesu
Richard menghembuskan nafasnya lega. Karena ia berpikir bahwa roselina, anaknya ini telah berbuat macam-macam sehingga menanyakan hal seperti itu.
"vernon dan kamu lahir secara sah. Tidak ada kata anak di luar nikah, semuanya dalam nikah haha"
"ihh papah gak lucu"
"udah sana, mendingan kamu tidur. Udah malam"
"iya pah. Selamat malam"
"malam juga"
CUP
richard mencium kening anaknya dan roselina mencium pipi ayah tercintanya lalu melenggang ke kamar. Richard tersenyum melihat putrinya itu, semakin lama wajahnya semakin persis seperti lina. Richard jadi tak terlalu kesepian karena ia masih memiliki darah lina yang beranjak dewasa. Roselina De Raquell richard berjanji akan terus menjaga putrinya karena hanya di dalam roselina lah darah lina mengalir (mirip).
Vernon De Raquell juga darah dagingnya bersama lina. Tapi vernon adalah pria, muka richard menurun sepenuhnya ke vernon dan lina ke rose. Belakangan ini, richard tak berhenti menebarkan senyumannya karena melihat vernon telah merubah sedikit sikapnya kepada roselina.
Dia tahu vernon berubah karena ia yang meminta bantuan ayahnya di jerman untuk menjelaskan lebih rinci dari kecelakaan itu dan menasehati vernon secara pelan-pelan. Dan usahanya berhasil, walaupun sikapnya dingin tapi vernon sudah mulai perhatian terhadap adiknya.
©©©
Vernon
Thank You for Reading of my story. Maaf jikalau ada typing lagi :)
__ADS_1
SEE YOU NEXT TIME