My Cool Boyfriend

My Cool Boyfriend
19


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA🧡


"ha jadi kamu sekolah di garuda?"


"iya. Eh ini BBQ-nya udah matang, cuy ambilin piring"


Lalu pria yang di panggil cuy itu mengambilkan diki piring. Roselina yang gemas ingin membantu akhirnya mengambil capitan satunya dan membantu diki memanggang.


"eh gak usah, gak papa. Nanti bigboss tahu gw kena marah lagi"


"gak papa. Dia lagi sibuk, gak bakal ngurusin kita"


Saat roselina mengelap piring untuk menampung BBQ, dia terkejut saat tubuhnya tiba-tiba di balik mengahadap dada bidang seseorang. Tak lama, orang itu menyingkirkan piringnya dan menarik roselina ke kamar.


Tunggu, kaki roselina berhenti tepat di depan pintu kamar sean. Roselina tidak mau masuk.


"lepaskan aku sean"


"masuk"


"gak mau"


"masuk"


"aku bilang gak mau!. Lepaskan tangan aku"ucapnya lagi sambil meronta


"MASUK ROSELINA"


"GAK MAU. AKU GAK MAU MASUK KE RUANG BEKASAN"


"ouh oke"


Sean menarik roselina dan membantingnya ke sofa di ruang santai yang biasanya banyak orang berlalu lalang. Sean membuka jaketnya dan meleparnya dengan kasar. Roselina hendak bangun tapi dengan cepat badan sean keburu menindihnya.


"lo berani make baju ini?"


"bukan salah aku. Minggir"


"lo berani bikin mereka natep lo?"


"minggir sean! Jangan lupakan untuk tidak menyentuhku!"


"lo berani deketin cowo lain? Hah?!"


Jika harus jujur, roselina sedikit menciut kalau di hadapkan dengan emosi sean.


"itu bukan kesalahan. Aku punyak hak!"


"dan gw punya hak atas lo!"


"EKHERM. Bakal banyak yang lewat, jalannya gw fortal__mau?" ujar seseorang


"gak usah. Biarkan mereka lewat. Gw gak peduli, dia sendiri yang bilang jangan sembunyi-sembunyi. Biarkan mereka tahu"jawab sean dengan santai tanpa menoleh ke sepupunya


Satria hanya menggelengkan kepalanya dan kembali ke luar dengan banyak minuman bersoda. Yah, dia juga orang yang mengantar roselina saat pertama kali ke sini lalu menangis saat pulang.


Roselina berontak dengan keras tapi usahanya selalu gagal. Karena risih, sean mengunci tangan roselina di kedua sisi gadis itu dengan tangannya. Matanya tak berhenti menajam terutama pada leher dan bahu roselina yang terbuka. Kulit ini, kulit yang mampu membuat jakun sean bergerak gelisah. Perut ratanya yang terbuka dan kembang kempis karena nafas roselina. Sean merasakan semuanya. Dia tidak ingin berbagi pemandangan dengan orang lain.


Bibir sean bergerak menuju bibir roselina tapi gadis itu dengan cepat memalingkan wajahnya.


"aku gak suka sama bibir kamu. Tolong minggir. Jangan biarkan mulut lambe kamu menyentuh kulitku yang berharga"


"ck. Heh. Ingat, kita udah lebih dari melakukan ini"


"kalau kamu belum puas sama delia, pergi sana. Cari wanita lain! Jangan aku"


"delia lebih memuaskan, sayang kalo gw pake terlalu cepat"ujar sean dengan menggoda


Roselina langsung menatap sean tak percaya dan detik itu juga, bibir sean membungkam bibir roselina. Awalan yang lembut sampai roselina terhanyut. Cepat sadar karena ingat akan perlakuan sean, dengan cepat gadis itu kembali meronta dan kepalanya di tolehkan ke kiri. Tautannya terputus dan itu membuat sean geram karena kesenangannya terganggu.


Bibirnya turun pada area bawah kepala gadis itu. Mengecup, menjilat dan menggigit di semua area yang terbuka, bibir lembutnya merasakan bahwa kulit mulus roselina bersih dan lembut melebihi bibirnya.


Benar kata satria, kini banyak teman-temannya yang berlalu lalang untuk mengambil beberapa kebutuhan mereka. Sampai terdengar ada yang bersiul saat melihat aksi sean.


PLAK


tangan roselina mendarat pada pipi sean setelah berhasil lepas dari genggamannya. Lalu gadis itu kembali menaikan bajunya dan mendorong dada sean supaya berjarak darinya.


"jangan buat aku jijik sama kamu yan. Tolong"


"kak sean"


Belum sempat sean menjawab, panggilan 'kak' dari delia mengalihkan mereka. Gadis itu berdiri dengan sok bingung saat melihat roselina dan sean yang berada di sofa.


Senyuman itu kembali sean tunjukan. Dia bangkit dari roselina dan duduk tegap di sofa dengan roselina di sisinya.


"ada apa del?" tanya sean sebari mengarahkan tangannya menyuruh delia mendekat


Delia mendekat dan duduk di sisi sofa, langsung saja tangan sean melingkar di pinggang delia.


"aku bosen kak"rengeknya


Sean tersenyum mengerti dengan rengekan delia. Dia menelusupkan wajahnya pada belahan dada delia yang tertutup. Baru gitu saja delia sudah merasakan sensasi, bagaimana jika ngegol? Beda sekali dengan roselina.


"lo ngapain pada di sini? Orang lain sibuk nyiapin makanan buat nanti malem"


"Terus lo ngapain di sini? Kerja sana"titah sean tanpa menoleh


"baju gw udah bau asap"lalu sean mendengus mendengarnya

__ADS_1


Tadi june masuk ke dalam membawa minuman soda. Dia meletakan minuman itu di meja dan duduk di sofa single memperhatikan raut roselina dan kegiatan sean.


"lo kalo ada masalah ngomong. Jangan kaya gini. Lo gak lihat mukanya roselina?"


"hemm"


Hanya gumaman tak berarti yang sean berikan. Pria itu masih asik dengan dunianya pada tubuh delia. June memalingkan wajahnya lalu berdecih.


"cukup!"


"aku juga gak mau diam"


Sean tak memperdulikan ucapan roselina. Dia sengaja mengabaikannya dengan terus menjamah delia. Roselina benar-benar sakit hati. Dia melirik june yang sedang minum soda.


Roselina bangkit dari duduknya dan langsung mendudukan diri di pangkuan june lalu mencium bibirnya. June terkesiap dengan tingkah roselina sampai kaleng sodanya terjatuh ke lantai. Dia mati kutu karena saking terkejutnya.


Sean yang mendengar kaleng jatuh langsung mengalihkan pandangannya ke arah june. Saat itu juga amarah melingkupinya. Mendorong delia dengan kasar sampai jatuh dan menarik roselina dengan sekali tarikan. Ia memukul june.


BUG


"ANJING LO"


Sean mencengkram kaos june yang tersungkur di lantai. June hanya diam tak melawan lalu mendapatkan pukulan kedua dari sean.


BUG


"BERANI LO NYENTUH CEWEK GW HAH?!"


"gw gak nyentuh cewek lo"jawab june dengan santai


"aku yang nyentuhnya. Kenapa? Gak terima?"


Kepalan sean terhenti di udara saat mendengar pengakuan roselina. Dia mendorong june dengan kasar lalu menggeret roselina ke kamarnya. Kali ini, ia tak peduli dengan rontaan roselina. Emosinya benar-benar di batas maksimal.


Mengunci pintu dan mendorong gadis itu dengan kasar ke kasur, lalu menindihnya.


"ini akibatnya kalo lo ngelawan gw!" gertaknya


"berani nyentuh aku, siap-siap kamu mati di tangan papah sama kak vernon!"ucap rose dengan penakanan


"ingat, keluarga lo masih di bawah keluarga gw. Gw gak takut sama bokap dan kakak lo"


"cukup nikmati hari ini. Masalah besok, gimana nanti"lanjutnya


SREK


baju sabrina rose terlepas. Menampilkan kemben miliknya dan langsung di lepas oleh sean. Roselina tahu ini akhirnya akan seperti apa. Dengan rontaan sepenuh tenaga, roselina berhasil menjatuhkan sean. Dia menyilangkan tangannya dan berlari ke tepi ranjang.


Sean tersenyum sinis. Dia mengejar roselina yang berlari mengitari ranjangnya. Sampai ketika, tubuh roselina limpung dan kakinya tersanjung selimut tebal milik sean. Dia terjatuh di lantai. Kesempatan itu tak di sia-sia kan oleh sean, dia mengangkat tubuh roselina yang setengah telanjang ke atas kasur. Dia mengikat tangan roselina dengan kaosnya, lalu melorotkan celana gadis itu.


"GAK! LEPASKAN AKU SEAN!"


"Gak. Akan. Pernah"


"jangan lakukan ini sean__ingat kedepannya"mohon roselina


Menghiraukan ucapan gadisnya, sean terus menyerang tubuh roselina sampai kissmark yang bertumpuk-tumpuk di seluruh bagian tubuhnya. Saat merasakan milik sean mulai menyentuhnya, barulah roselina menggeleng keras dan mendorong bahu sean dengan kasar. Baru kali ini dia menyesal di takdirkan jadi wanita. Sangat lemah. Bahkan tubuh sean tambah menghimpitnya.


"Akkh! Sakiit__hiks"


Air matanya baru saja bisa keluar saat sean memasukinya dengan sekali sentakan. Rose menjerit menahan sakit dan meminta berhenti di sela-sela tangisannya. Bagian dirinya yang ia jaga kini telah hilang. Sean tidak ada lembut-lembutnya sama sekali, bahkan tidak ada penetrasi yang membuat kewanitaannya merasakan sakit yang amat dalam.


Mendorong, memukul, mencakar, menggigit dan menjerit. Hanya itulah yang roselina lakukan. Mata indah itu tak sengaja melihat wajah sean di sisinya yang penuh keringat dan menikmati kegiatannya.


Jam 18.34 sean baru berhenti membuat roselina kelelahan. Tak terhitung lagi sean menembakan cairan itu dalam diri roselina. Wanita itu lelah, keringat membanjiri keduanya. Sean tersenyum miring lalu mencium bibir bengkak roselina karena ulahnya. Tak ada lawanan lagi dari wanita itu karena terlalu lemas.


"lain kali. Akan ku buat mendesah"bisik sean pada telinga rose


Sean memisahkan dirinya dan langsung membersihkan diri. Setelah kembali rapih dengan pakaiannya, sean keluar dari kamarnya dan pergi ke halaman.


"masakin gw nasi goreng dan bawa air mineral"titahnya pada seorang wanita


Wanita itu mengangguk dan pergi ke dapur. Sean duduk di kursi sambil memakan BBQ hasil panggangan diki sebari menunggu nasi gorengnya.


"lo apain june?" tanya erlan sebari duduk di kursi lain


Erlan bingung saat melihat luka pukul di wajah june siang tadi. Langsung saja dia menyuruh zero mengobati temannya. Dan erlan tahu setelah selesai menanyakan siapa yang membuatnya seperti itu.


Renata sekarang bersama june dan angga di dalam basecamp, sehingga erlan datang menghampiri sean. Delia? Wanita itu banyak mengobrol dengan anggota lain.


"june berani nyentuh roselina"jawabnya dengan raut dingin


"dan lo berani memperkosa raquell? Lo udah gila kayanya"


"gw gak peduli"


"kalau kakaknya tahu, bisa abis lo di tangan dia"


"tetap gak peduli"


"lagian lo bawa-bawa si delia, kenapa? Lo sebenarnya ada masalah apa sama raquell? Sampai-sampai selingkuh gak tahu tempat"


"gw gak selingkuh. Hati gw tetap pada roselina"


"lantas kenapa lo bermesraan sama delia? Di depan pacar lo sendiri pula"


"lo gak bakalan ngerti"


"gw nanya karena gak ngerti ****"

__ADS_1


Sean mendelik tajama pada angga yang santai. Baru akan membalas ucapan konyol erlan, dia mendengar wanita tadi membawakan nasi goreng untuknya.


"yan! Nih, nasu gorengnya"ujar wanuta itu


"thanks dew"


"sama-sama"balas dewi lalu melengos memakan bbq


"gw duluan"


Ujar sean seraya membawa nampan yang berisikan nasi goreng dan air mineral.


"bae bae dia hamil yan"


Sean berhenti mendadak dan menghembuskan nafasnya setelah mendengar ucapan erlan. Ia kembali melangkah menuju kamarnya.


CEKLEK


"bangun dan makan"


Tak ada pergerakan dari roselina, sean menyimpan nampan itu dan kembali membangunkannya.


"roselina, bangun"


"bangun atau akibatnya tanggung sendiri!"


"roselina!" guncangnya pada bahu rose


"jangan bercanda roselina!!"


"sial!"


Sean mengambil kaos dan celana pendek miliknya, lalu mengambil dalaman roselina dan dengan cepat memakaikannya pada wanita itu. Setelah selesai, sean keluar dan langsung mencari zero.


"dimana zero?"


"masih di kamar june"


Sampai di depan kamar june sean masuk begitu saja dan langsung menarik zero


"woy, lo kenapa si? Tangan gw di tarik-tarik"


"periksa roselina"unarnya sebari membawa zero keluar kamar june


"roselina kenapa?" pertanyaan spontan renata


Karena tak di jawab oleh sean, akhirnya mereka bertiga mengikuti sean ke kamarnya untuk melihat roselina. Sampai di kamar pri aitu, zero langsung mengeluarkan stetoskopnya dan memeriksa roselina. Dia memang belum jadi sarjana, tapi otak dan kemampuannya sudah menjadi andalan kampus. Zero juga pernah menyelamatkan tiga pasien dengan luka parah ya.


"dia hanya kelelahan. Lo gak kasih dia asupan napa?"


"gak"


"gila. Kasih aja vitamin di ruang kesehatan dan beri dia asupan makanan. Tubuhnya pasti lemas sekarang"


"gak ada yang serius?"


"gak ada. Kalau kurang memuaskan, silahkan pergi ke dokter lain"


"kapan dia bangun?"


"bentar lagi juga bangun"


"oh. Kalian boleh keluar"


"kamu yang keluar"


Semua orang kaget dan langsung menoleh pada roselina yang tiba-tiba menyela. Wanita itu sudah sadar dan matanya menatap kosong langit kamar sean.


"aku mau bicara sama renata. Cuma.berdua!"


"sebaiknya lo keluar dulu, ini demi kebaikannya. Cuma sekarang yan"bujuk zero


"oke"


Sean keluar dengan yang lainnya dan menyisahkan roselina sama renata. Renata langsung duduk di sisi roselina dan temannya itu langsung memeluknya. Roselina menangis di pelukan renata, sampai suaranya terendam oleh perut renata karena saking eratnya.


"hiks_aku__aku_hikss__hwaa_hiks"


Roselina terus menangis dan renata dengan lembut memeluk roselina serta mengelus kepala temannya itu.


"aku tahu, kamu yang sabar ya. Mungkin sean terlalu cinta sama kamu"


"eghehiks_kalau dia cinta_hiks_mana mungkin sama delia ka-kaya gituhh__hwaa_hiks"


"ak-aku_cuma pelarian doang_hiks_hiks"


"kalau dia gak cinta sama kamu, tadi sean gak mungkin langsung narik zero ke sini cuma buat meriksa kamu yang pingsan"


Tak mau mendengar kata sean lagi, roselina justru hanya menangis dan menangis.


Bagaimana jika ayahnya tahu dia bukan gadis?


Jika kakaknya tahu?


Suaminya?


Paling gak bisa aku tuh kalau bikin Konflik. Beneran


Inimah enak-enak kalian ajadah bacanya hehe

__ADS_1


Makasih udah baca ceritanya. Maaf kalau ada typo


SEE YOU NEXT TIMEw


__ADS_2