
SELAMAT MEMBACA🧡
"sayang, bangun ya. Papah pulang nih"
Setelah pulang dari kediaman tiffin dan kembali ke rumah sakit, richard enggan sedikitpun melepaskan genggaman tangannya pada tangan rose. Vernon sedari tadi hanya diam, setelah mengusap dan mengecup dahi adiknya.
Kembali ke jaman dulu. Vernon merasakannya. Saat ibunyi terbaring di brangkar rumah sakit lalu tertidur dan tak pernah kembali. Sekarang, vernon ingun adiknya baik-baik saja, tidak seperti mamahnya. Richard enggan berpindah kursi juga, karena ia takut. Takut akan kondisi roselina yang sekarang.
Sekarang hampir jam delapan, hanya kurang lima menit. Dokter bilang, efek obatnya akan sirna saat jam delapan atau kurang. Tapi sekarang? Belum ada tanda-tanda roselina akan sadar.
"lima menit lagi. Mungkin kita harus menunggunya sampai detik terakhir"ujar richard berusaha berpikir positive
"vernon__merasakan hal yang aneh pah"
"maksud kamu?"
"gak tau__hanya saja__vernon merasa, roselina__"ucapan vernon mulai lirih dan seketika dadanya merasakan hal aneh. Sakit.
Richard segera berdiri dan mengarahkan tangannya pada hidung putrinya. Lalu kedua jarinya tertempel di urat nadi leher roselina. Karena tak puas, richard menyibakan selimut anaknya lalu mendengarkan degup jantung rose.
DEG
dengan cepat, richard menekan alarm peringatan di sisi brangkar supaya dokter bergegas keruangan anaknya. Sedangkan vernon, ia langsung berlari ke luar untuk mencari perawat dan dokter.
"sayang please. Jangan tinggalin papah, Papah mohon roselina. Ayo bangun sayang, jangan sampai obat tidur itu mempengaruhi kamu ROSELINA BANGUN"
Terdengar grasak grusuk langkah kaki orang memasuki ruangan roselina. Dokter dan perawat yang membawa defibrilator dan alkes lainnya bergegas melakukan tugas mereka.
"mohon tuan-tuan tunggu di luar sebentar, saya akan memeriksa pasien"
Richard dan vernon menunggu di luar ruangan. Mereka dilanda rasa takut, takut kehilangan orang berharga untuk kedua kalinya. Vernon duduk dilantai sebari menyender di dinding dekat pintu dan richard terus berdiri melihat apa yang dokter lakukan pada anaknya lewat kaca tengah pintu.
"kenapa diluar om?"
Angga, erlan dan renata baru saja tiba dan langsung bertanya kala melihat kedua lelaki itu berada di luar ruangan. Richard dan vernon menolehkan matanya dan kembali ke posisinya karena tak ada niatan menjawab.
Mereka bertiga yang kepo akhirnya menengok ke arah pintu. Renata langsung membelalak saat tahu roselina lagi di tangani dokter.
"ros-roselina kenapa om?"cicit renata
Menghela nafas dan duduk di kursi tunggu. Richard memberi tahu mereka.
"detak jantungnya__melemah. Harusnya sekarang dia sudah sadar"
"a-apa?"
Renata terkejut, dia kembali melihat roselina di balik pintu lalu air matanya keluar. Erlan juga sama terkejutnya, ia membawa renata kedalam pelukannya lalu duduk di sebelah richard. Angga juga yang terkejut segera menghubungi seseorang. Ia berlalu dari sana untuk menelpon.
"ada apa?"
"lo sebaiknya kesini"
"kemana?"
"rumah sakit"
"gw gak bisa keluar. Kalaupun bisa, udah dari siang"
"raquell lagi di kejut jantung. Nadinya melemah, kemung-"
"hallo? Hallo? Yan?"
Saat melihat ponselnya, ternyata panggilan dirinya dengan sean terputus. Lalu ponsel angga bergetar.
SEAN GBLK
jmpt gw pke mtor. Bwa helm fullface lo. Dn bwa bdygrd lo
Bkin alsn appun klo ada yg nnya lo ngpain ke rmh gw
Angga mengetikan pesan pada pengawalnya untuk membawakan motor beserta helm fullface miliknya. Berjalan untuk pergi ke lantai dasar, ponselnya kembali bergetar. Motor merah miliknya sudah ada di depan rumah sakit. Angga menaiki motor itu dan memakai helmnya dengan cool.
Dengan kecepatan maksimal tanpa takut kecelakaan atau melanggar aturan, kini angga sampai di halaman mansion tiffin bersama beberapa bodyguardnya.
Memarkirkan motornya di dekat gerbang utama, angga berjalan untuk bisa sampai pintu mansion. Sedangkan bodyguardnya dia suruh bersembunyi.
Ck. Gila aja, banyak banget bodyguard. Tuh *baju pasti gak ganti-ganti, bau asem seharian ngeronda-angga
Sampai* depan pintu, beberapa bodyguard tiffin menunduk memberi salam tanpa ekspresi.
"maaf, ada keperluan apa tuan angga kemari?"tanya salah satu dari mereka
"banyak tugas sekolah yang harus gw kerjain bareng tuh anak. Gw capek ngerjain sendiri"
Orang itu langsung mengarahkan pergelangan tangannya ke dekat mulut, lalu bicara sesuatu pada alat yang terpasang di dalam ujung lengan jasnya.
"silahkan masuk"ucapnya setelah mendapat ijin
Angga memasuki mansion sean, lalu di sodorkan william yang berjalan membawa teh.
"langsung ke atas aja ga"suruh william dan menghilang di balik ruangan
Sampai kamar sean, angga membuka pintu dan langsung ditarik sean kedalam.
__ADS_1
"buka baju lo"
"ha?"
"gw mau tukeran, buat pergi ke rumah sakit!"
"gak. ***** lo! Gw aja yang nyamar jadi lo. Gw bakal balik sambil pake nih helm lalu berjalan seolah-olah gw itu lo yang gak mau ketahuan. Lo kabur nanti setelah keadaan rusuh"
"serah lo"
Sean memasukan ponsel dan dompetnya lalu memakai jaket. Sama seperti angga, dia memakai helm fullface yang berkaca hitamnya.
Angga keluar dari kamar sean dengan pelan. Saat di awal anak tangga, pria itu mengedikan bahunya seolah-olah sedang membenarkan bajunya. Dia menuruni tangga dengan biasa, lalu bodyguard yang berada di depannya memberi jalan sebari pintu terbuka. Saat melewati mereka, angga mengangkat tangannya seakan dia sedang menutupi penyamarannya dan takut mereka sadar. Salah satu bodyguard mulai curiga.
Kena lo-angga
Pria hitam itu menahan lengan angga tapi langsung di tepis dan mempercepat jalannya. Akhirnya, bodyguard tiffin mencurigai bahwa orang di balik helm itu adalah tuan mudanya.
Angga berlari sebari menangkis kala bodyguard tiffin mulai kehabisan kesabaran menahan pergerakan tuannya. Tak lama, bodyguard yang angga bawa keluar menghadang bodyguard tiffin yang akan menjangkaunya
Untung gw bawa banyak.ck. lucu juga
Orang berbaju hitam yang berjaga di bawah kamar seanpun bergegas ke halaman depan setelah alat di telinga mereka berbunyi. Sean yang melihat itu langsung membuka jendelanya dan meloncat dari lantai tiga di bantu pohon besar di samping kamarnya.
BRUKK
sean berlari dengan kencang untuk menjangkau tembok besar pembatas wilayah tiffin dan wilayah luar. Melompat setinggi mungkin, sean belum bisa mencampainya. Tak sengaja, matanya melihat pepohonan di area dinding lain. Berlari ke arah pohon itu, sean meloncat dan meloncat sampai akhirnya meloncat untuk turun dari tembok.
BRUKK
"oh shit!"
Menepuk tangannya dan bokongnya yang terkena aspal, sean menunggu motor angga. Sedangkan angga yang merasa melihat sean baru saja berlari ke arah pembatas, pria itu membuka helmnya perlahan.
"Wuhhhhh__rambut gw kusut. Ck"ujarnya sebari mengaca pada kaca helm dan membenarkan rambutnya.
"makasih ya, atas perhatiannya"lanjutnya sebari bersiul
"cari tuan sean!"
Bodyguard sean mulai berpencar di seluruh halaman. Dengan cepat, angga menjalankan motornya menyusuri tembok pembatas mansion tiffin.
"buruan woy"
Sean menaiki motor angga lengkap dengan helmnya, sedangkan angga? Dia menyerahkan motornya dan ia akan pergi menaiki mobil jemputannya.
"cinta? Kalo emang cinta dapat merubah kita, gw mau ketemu sama yang namanya jatuh cinta"gumam angga
Di rumah sakit, sean berlari menuju kamar inap roselina yang di beritahu angga. Memelankan laju larinya dan berhenti sebari mengontrol nafasnya.
Sean melihat semua orang di sana sedang berduka. Erlan yang menyadari ada seseorang, mendongak dan melihat sean sedang berdiri dengan mengatur nafasnya.
"b-bagaimana__keadaan roselina?"
Vernon, richard dan renata mendongak. Mereka tak menjawab, akhirnya sean mendekatkan kakinya ke arah pintu. Lalu seketika hatinya merasa sakit. Di dalam sana, wanita yang ia cintai tengah berbaring dan sekarang? Apa wanita itu akan meninggalkannya? Gak! Sean takan membiarkan roselina pergi
BRAKK
"LO GILA!"sentak vernon kala sean membuka pintu itu dengan kasar dan masuk kedalam tapi malah di tahan vernon
"gw mau masuk"
"LO LIHAT?! ROSELINA LAGI DI PERIKSA *******!!"
"GW CUMA MAU DI SISI DIA!!"
"INI SEMUA GARA-GARA LO!! GARA-GARA LO ADIK GW JADI BEGINI!! KELUAR LO!"
"KALIAN TOLONG DIAM!"sentak dokter yang berusaha fokus
"TOLONG KELUAR DAN BIARKAN SAYA FOKUS!"
sean menepis kasar cekalan vernon sampai terlepas. Ia berjalan menghiraukan perawat pria yang mencegahnya.
"gw gak akan ganggu, gw hanya mau disini. Di sampingnya"
Akhirnya, sean berada di sisi roselina dengan menggenggam tangannya dan dokter terus menerus berusaha untuk mengembalikan jantung roselina yang semakin lemah.
Setelah melakukan kejut jantung, dokter itu menekan dada roselina berkali-kali lalu melakukan kejut jantung lagi.
"maaf"bisis sean dalam genggaman tangannya dan roselina
"tolong selamatkan pacar saya__calon istri saya__saya mohon"lirih sean
"tolong naikan angkanya"titah dokter itu pada perawat
"1 2 3 shoot. 1 2 3 shoot. 1 2 3. Shoot"
Tuuuuuuuuuuuuuuuut
Hening. Sangat hening. Telinga sean tiba-tib berdengung. Tangannya gemetar begitupun genggamannya pada roselina. Mereka yang berada di tengah-tengah pintu membatu. Richard berlari ke arah roselina.
"gak! Jangan tinggalin papah lina! BANGUN! PAPAH MOHON BANGUN hikkss bangun sayang. Hanya kamu satu-satunya harapan papah hidup hiks"
__ADS_1
"R-rose-roselina___gak__gak boleh__LO GAK BOLEH NINGGALIN GW! BANGUN ROSE! BANGUN GW MOHON LO HARUS BANGUN!!"
In Dream
"*hahaha mamah ayo main"
"kakak, bukan mamah"
"ayo tebak nama aku siapa? Hahaha"
"mmm siapa ya? Leon?"anak itu menggeleng
"rangga?"menggeleng kembali
"angga?"
"june?"
"erlan?"
"diki?"
"david?"
"Sean?"anak itu tersenyum
"nama kamu sean?"lalu mengangguk
"sean junior mama haha"ucapnya sebari tertawa lucu yang membuat roselina gemas
Ahh iya, dari tadi roselina bingung. Baju putih bersih dan tempatnya serba putih. Tidak ada objek apapun, jadi dia bingung harus keluar lewat mana. Hingga akhirnya, entah dari mana ia kedatangan anak laki-laki yang sangat menggemaskan. Anak itu selalu tersenyum lalu tertawa. Mereka bermain tebak nama sampai roselina menemukan jalannya untuk pulang.
"mama__gak inget sean junior?"roselina menggeleng lalu anak itu tersenyum pedih
"maaf. Karena sean, mama jadi disini"
"maksud kamu apasih? Kok kakak gak ngerti?"
"mama, sean anak mama. Mama pernah ngandung sean junior, tapi mamah luka. Lalu sean pergi ninggalin mama. Terus, sean gak nyangka kalau mama bisa kesini. Entah sean harus senang atau sedih mama disini"
"ma-maksud kamu?"
"he'em, sean__anak papa sean dan mama rose yang keguguran"
Roselina membekap mulutnya tak percaya. Jadi, dia__hamil.
"m-maaf, maafin__mama"lirihnya sebari memeluk sean junior
"gak papa kok ma hehe__"
Lalu sean beranjak dan berlari menjauhi roselina.
"kamu mau kemana?!"teriaknya
"pulang mah!"balas sean
"mama ikut"
Roselina berlari mengejar sean selaku anaknya, tapi saat akan merengkuh sean. Sean menjauh.
"mama harus pulang!"
"ini aku mau ikut kamu pulang"
"mama tau kan kalau sean udah keguguran? Sean udah gak ada. Pulangnya sean bukan ke dunia mama"tutur sean dengan nada kesedihan
"tapi__"
"mama harus pulang__papa, nenek, kakek dan semua orang menunggu mama. Sean mohon, mama pulang kedunia mama. Dan sean kedunia sean"
Saat akan membalas perkataan anaknya, sean keburu berlari menuju cahaya yang semakin bersinar. Rose menghalau sinar itu menggunakan tangannya dan seketika, tubuhnya perlahan merasakan hal aneh*.
"waktu kemat-"
"APA YANG ANDA BILANG?! ANAK SAYA GAK MENINGGAL! LINA BANGUN SAYANG!! PAPAH MOHON! Hiks"
"ANDAI KAMU BANGUN SEKARANG, KAKAK JANJI__KAKAK AKAN MERUBAH SIKAP KAKAK LEBIH BAIK roselina!"
"gw mohon lo harus bangun rose__GW LAGI MEMOHON SIALAN! gw janji__gw gak akan nyakitin lo lagi. Gw janji hiks"
Angga yang sampai di sana saat sean mendorong pintu inap kini hanya bisa menangis. Most wanted sekolah, menangis? Badboy menangis? Gengster nangis?" erlan dan angga masih dimaklumi, tapi Sean? Temannya juga baru kali ini melihat sean menangis. Terakhir kali menangisi kondisi ibunya, itupun sembunyi-sembunyi.
"gw bahkan belum minta maaf hiks_sama lo hiks__gw mohon bangun__gw bakal perbaiki semuanya hiks_____gw sayang sama lo, gw cinta sama lo hiks"
"mohon permisi"
Air mata richard de raquell dan vernon masih mengalir. Vernon memnepikan ayahnya saat perawat membawa kain putih untuk adiknya. Sean di awaskan oleh erlan dan june walaupun memberontak tidak ingin melepaskan roselina. Pria itu, semakin meraung saat tubuh kaku kekasihnya di tutupi kain putih dan di bawa untuk di urusi oleh petugas jenazah.
Sean kembali memberontak dan berlari menyusul roselina. Sean menghentikan brangkarnya dan membuka kain putih itu untuk yang terakhir.
Air mata sean bercucuran di wajah pucat roselina. Tangannya meremas tangan roselina seakan menyalurkan kepedihannya.
"aku mohon, kamu bangun sayang"bisik sean di telinga rose dengan tulus. Sangat tulus.
__ADS_1