My Cool Boyfriend

My Cool Boyfriend
15


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Di rumah sakit, sean berjalan di sebuah lorong dengan roselina untuk mencari ruang operasi. Lalu dengan cepat, ekor mata sean melihat sang ayah yang sedang terduduk di kursi tunggu.


"bagaimana keadaan mamih?"


"dia baru saja masuk. Sore tadi, daddy mendapat telpon dari dokter bahwa ada pendonor yang matanya cocok untuk mamih kamu. Tanpa berpikir, daddy langsung menerima tawaran itu supaya mamih kamu bisa seperti dulu lagi"


"hanya saja, warna bola mata mamih kamu yang dulu biru xavier sekarang harus berubah jadi coklat menderang"lanjut william


"no problem. Selagi mamih nyaman dan bisa sembuh kenapa tidak" william mengiyakan lalu matanya menatap rose


"bukannya kau roselina?"tanya william sedikit terkejut karena putranya bersama keturunan raquell


"iya om"


"ada hal apa kamu bareng Raquell?"


"My Girlfriend"jawab sean sekenanya


"Ck. Cantik, lucu, suara melody, baik, smart, berkelas and good body. Siapa yang tidak tertarik dengan keturunan Raquell heh?"goda william


"ngomong-ngomong, kenapa kamu mau dengan sean? Jika dilihat, muka sean tidak ada apa-apanya di banding muka kamu"


"ha? Ouhh ituu hem gak tahu om"jawab roselina pelan


Yakali kan aku harus jawab, aku di paksa jadi pacar sean! Btw Baru kali ini aku bertemu keluarga Tiffin. Wait, lalu kenapa ibunya sean bisa buta dan di operasi?


"sean lapar, sean ke kantin dulu"


Lalu tangan sean menggeret lagi tangan rose supaya mengikuti dirinya ke kantin untuk makan. Sampai di kantin, mereka duduk di meja berdua dengan piring makanan masing-masing.


"boleh nanya?" tanya rose hati-hati lalu sean menganggukan kepalanya sebari mengunyah


"emm mamih kamu kok bisa tidak bisa melihat, kenapa?"


Sean menghentikan pergerakan makannya lalu menatap intens roselina dan menghela nafas sebelum menjawab.


"kecelakaan. Saat dia pergi ke mall dan katanya, di jalan dia pengen membeli manisan. Dia turun dari mobil lalu berjalan di trotoar, dan waktu itu beliau sedang mengandung. Dia tertabrak mobil dengan rincian mobil itu bermaksud menghindar dari seorang pria yang melintas tiba-tiba dan hasilnya, mobil itu di belokan yang malah menabrak beliau di pinggir jalan. Beliau terpental jauh dan mobil itu bertabrakan dengan mobil di depannya sampai hancur bahkan berbalik"


"yang menyebabkan dia buta karena, pendarahan yang tak henti dan darahnya mengenai sistem penglihatannya"


"m-maaf. Kau pasti mengalami masa-masa sulit waktu kamu masih kecil. Aku minta maaf"


"kenapa lo yang meminta maaf? Yang harusnya minta maaf adalah wanita yang dengan beraninya nabrak mamih gw"


"kalau saja gw tahu dia siapa. Gw bakal menghabisinya!"lanjutnya


"kamu harusnya bersyukur masih memiliki seorang ibu se" sean menaikan satu alisnya bingung


"ibu lo. Lo juga punya"timpal sean


"tidak. Ibuku sudah naik ke atas"


"sorry. Kenapa?"


"sama seperti ibumu. Kecelakaan, saat aku kecil bahkan masih di rahim"


"kecelakaan? Di mana"


"aku tidak tahu pasti. Ayahku belum memberitahukannya padaku secara rinci dan akupun tak pernah menanyakannya. Karena aku takut, jika kakakku akan marah"


"sepertinya hubungan lo kurang baik sama kakak lo"


"he'em. Kakak selalu marah padaku karena dia mengira ibuku meninggal karena aku. Waktu itu nyawanya dan nyawaku terancam, dia akhirnya memilih mempertahanku lalu mengikhlaskan diri untuk pergi. Ini juga sebabnya aku tak pernah menyebut namaku dengan akhiran 'Lina' sekarang kakak sudah mulai menerimaku, bahkan menyebutkan Roselina. Sebenarnya, masih ada rasa takut jika aku menyebutkan semuanya Rose'Lina' De Raquell"


"Lina? Nama ibu lo?"


"iya. Lina Agnesia"


DRRRRSSS DRRRRRRSSS


"di saat bulan sedang terang begini, kenapa hujan tiba-tiba turun begitu deras?"gumam rose saat hujan deras di balik jendela kantin


Sean hanya melihat keluar jendela, suasana diiringi hujan deras. Ini mengingatkannya ke delapan tahun silam, di mana ia mulai frustasi dengan keadaan ibunya yang tak sadar-sadar dari koma. Waktu itu, umurnya masih sepuluh tahun tapi dia sudah membuat risau ayah dan orang-orangnya.


Sean kecil sering menyibukan diri pada latihan fisik dan di mansionpun, dia sering latihan sampai larut malam entah itu terang ataupun hujan. Pernah tangannya sampai lebam dan berdarah karena terlalu sering memukul bambu yang sengaja di sediakan untuk latihannya. Waktu itu william sering menyadarkan sean tapi tetap tak di gubris oleh sean.


Tak lama setelah ia demam karena kelelahan sekaligus kehujanan seharian di luar mansionnya dengan samsak, hari itu juga di sela demamnya ia senang. Cassandra, ibunya sadar dari koma. Tapi yang harus sean telan mentah-mentah adalah, ana tidak bisa melihat dan kakinya lumpuh sementara.


Sean tersenyum miris mengingat masa-masa itu. Lalu iris matanya menatap roselina yang sedang menikmati pemandangan hujan di luar. Lagi, sean tersenyum dalam diam.


Semoga saja, aku yang akan melindungimu dari apapun. Takan ku biarkan masalalu ibuku terjadi lagi. Ataupun masalalu ibumu. Roselina. Aku akan selalu ada untukmu. Aku janji.


Tak ingin larut akan kesedihan, sean membuka snacknya dan itu mengundang roselina. Akhirnya, sean berbagi snack dengan gadisnya seraya menikmati suara hujan.


Hari ini, roselina sedikit senang karena sean terbuka dengannya. Roselina pikir, apa sean benar-benar mencintainya sampai langsung terbuka. Saat mendengar bahwa ibu sean dan ibunya sama-sama mengalami kecelakaan, roselina merenung. Dia dan sean sama-sama memiliki masa kecil yang haus akan seorang ibu. Mereka tidak pernah sekalipun merasakan seperti anak lainnya yang langsung di kasih asi dan di sayang dengan elusan lembut. Tapi sean beruntung karena ibunya masih hidup. Sedangkan dirinya? Lina sudah pergi dan takan kembali.


"sikapmu sekarang tak memperlihatkan watakmu yang asli? Tumben"


"lo mau gw lakuin sesuatu ke lo? Di sini"


"tidak. Bukan itu maksudku. Sudahlah"


"gw anter pulang. Udah malem juga, besok sekolah"


Rose mengangguk lalu sean pergi lebih dulu untuk membayar. Tidak seperti biasanya, kini dalam mobil hanyalah keheningan. Lalu dering ponsel rose berbunyi.


"hallo"

__ADS_1


"......"


"apa?! Iya iya aku ke sana. Tunggu ya!"


"putar balik sean!"


"ada apa?" tanyanya sebari memutar balik mobilnya


"erlan dan renata dalam masalah. Erlan terluka"


Langsung saja, sean menancapkan kecepatan mobilnya menuju tempat erlan yang di tunjukan roselina di maps mobilnya. Jalanan sepi. Itulah yang sean lihat. Mata sean memicing melihat dua orang manusia terduduk di sisi mobil dengan kaca mobil pecah. Sean memakirkan mobilnya lalu turun diikuti roselina.


Erlan sedang terengah sebari memegangi perutnya yang terdapat sayatan dalam.


"hikss..rose..hikss..ini gimana?"


"astaga! Erlan. Kita telpon ambulan"


Hampir menelpon nomor darurat, sean langsung mencegah roselina supaya tidak menelpon pihak luar.


"lo gak papa?"tanya sean menunduk sebari memeriksa luka erlan


"gw gak papa akhh! Jangan di sentuh b*go sakit!"


Sean membawa erlan kedalam mobilnya dan rose juga menyuruh renata masuk. Mereka meninggalkan begitu saja mobil erlan dan melaju menuju basecamp 7STONE untuk mengobati erlan. Sampai di basecamp, semua orang terkejut melihat erlan di papah oleh sean dengan darah di perutnya.


"lo kenapa lan?" tanya angga khawatir


"bukannya lo tadi nganterin renata? Kenapa bisa begini?" june


"panggil Zero. Dia butuh dokter"sela sean lalu membawa erlan ke ruang kesehatan 7STONE


"sorry gw lama. Erlan kenapa?" tanya zero yang baru datang


"kena sayatan, dalem"ujar sean


"siapa yang nyerang lagi?" tanya zero sebari mempersiapkan alat kesehatannya


"lagi? Maksud lo?"


"ekherm"zero berdehem


Lalu mata zero melirik rose dan renata yang berdiri di dekat tempat erlan berbaring, bermaksud 'apa boleh ngomongin masalah 7Stone di depan kedua gadis itu?' lalu sean mengerti dan memberi kode bahwa rose dan remata bisa di percaya.


"lay sama bima kena amukan Cakra karena toni kalah tanding sama lay"


"mereka tanding di area Antarixa? ck, berani ngadain kompetisi di rumah sendiri. Kalah nyalahin orang lain, ketua goblog kaya cakra kok di angkat heh. Lucu"sarkas sean


"akhh"ringis erlan saat di enestesi akan di jahit


"Zaga, wakil ketua antarixa juga yang bikin ini luka"lanjut erlan saat lukanya mulai di jahit


"kalo tanding sama mereka, menang oke. Kalah, kasih aja taruhannya. Toh kita punya segalanya, mereka cuma geng miskin yang haus akan kekuasaan"tutur sean


"mereka udah agak mendingan. Ck, untung kuliah gw masuk pagi. Jadi sore tadi gw stay di sini"ungkap zero


Yap, zero salah satu mahasiswa kedokteran yang bergabung dengan 7STONE. Zero juga sudah biasa dengan sean yang notabenya adik kelas malah memanggilnya nama, dia tak pernah marah karena sean justru lebih dewasa darinya. Menurutnya.


"lo harus pulang. Ayo"ujar sean pada rose


"kamu nginep rumah aku aja ya ren"lalu renata mengangguk


"cepat sembuh ya er"


"thanks ra"jawab erlan pada raquellnya


"ehmm cepat sembuh"


"iya, gw pasti sembuh"


Lalu sean mengantarkan gadisnya dan temannya, renata ke mansion gadisnya.


"hati-hati"ujar rose


Sean mengangguk lalu mendaratkan ciuman di kening roselina sebelum menjalankan mobilnya untuk kembali ke basecamp, karena ia akan bermalam di sana.


"ayo masuk ren"


Saat memasuki mansion, renata berhadapan dengan ayahnya sekaligus kakaknya di ruang utama. Gugup. Roselina takut saat melihat tatapan kakaknya yang menghunus. Dan renata yang duduk di sebelahnyapun hanya menunduk takut.


"kok pulang larut?" tanya richard


"maaf, rose abis ke rumah sakit dulu nengok mamanya sean terus nengok temen yang terluka karena di keroyok"


"sean?" tanya vernon bingung serasa hafal dengan nama itu


"Sean Tiffin Junior. Anak William"timpal richard


"ah, anak itu. Yang sering nempel pada roselina?" tanya vernon


"kau tahu?"tanya richard


"saat di maldives"


"Cassandra kenapa rose? Mamanya sean"


"itu..mamanya di operasi mata karena sudah dapat pendonor yang pas"


"ouhh..sudah sepuluh tahun, akhirnya dia akan bisa melihat lagi. William pasti senang melihat istrinya kembali pulih"

__ADS_1


"papah tahu kenapa mamanya sean bisa seperti itu?"


"ku dengar dia korban kecelakaan"


"ehm, benar"


"pergi ke kamar roselina. Besok sekolah"sela vernon dengan tajam lalu pergi ke kamarnya begitu saja


Roselina langsung pamit pada richard lalu memasuki kamarnya dengan renata. Dan sebelum tidur, mereka membersihkan diri terlebih dahulu.


"kamu pakai aja bajunya yang ada di sini. Besok sekolah aku kasih seragamnya. So, tidurlah yang nyenyak"


Roselina langsung menghambur ke kasurnya dan menunggu renata berganti piyama. Setelah selesai, mereka menarik selimut dan tertidur bersama. Saat roselina sudah nyenyak, renata kembali membuka matanya. Renata tidak bisa tidur karena pikirannya tertuju pada erlan.


FLASHBACK ON


"*pacarilah saskia er, aku gak bisa"


"saskia hanya mantan ren. Udah gak ada apa-apa lagi" tukas erlan dalam mobil sebari menyetir


"aku gak bisa. Aku takut"


"takut? Kenapa?"


"hanya menjadi kamar tidurmu saja sudah membuatku kehilangan sesuatu, apalagi jika sudah menjadi pacar? Kamu bakal bosen sama aku dan akhirnya bakalan putus sehingga kamu buang aku begitu saja"


"gak! Kok nyimpulin sendiri?! Aku cuma mau sama kamu renata!"


BRAKK


BRAKK


"woy anj*ng berhenti lo!"


"shit!"umpat erlan


BRAKK


Mobil erlan terus di pukuli menggunakan balok, sampai beberapa kali ada yang mencoba memecahkan kaca mobilnya. Zaga dan gengnya Antarixa. Erlan mengumpat kala kaca mobil belakangnya mulai retak.


"diam di mobil dan cobalah menghubungi roselina untuk menyuruh sean ke sini. Dan jangan menelpon orang lain. Ngerti?!!"


Renata buru-buru mengangguk dan menundukan diri ke bawah sehingga orang luar tak menyadarinya. Erlan keluar dan menutup pintu mobil dengan keras. Zaga yang melihatnya hanya tersenyum miring


"ngapain lo gangguin gw?"


"gak asiklah bikin geng tapi gak di gunain"ujar zaga


"sorry nih ya, gw khawatir sama lo kalo lo ributin gw di sini. Lo tahukan 7STONE kek gimana?"


"Bacot amat lo! Lo bertujuh sok berkuasa karena orang tua lo kaya kan?!"


"tuh lo tahu"


"ANJING"


lalu zaga menyuruh teman-temannya menyerang erlan dengan brutal menggunakan balok dan ada yang membawa batu. Saat batu besar itu melayang, erlan menghindar dengan cepat. Alhasil, batu itu mengenai kaca belakang mobilnya yang tadi retak sekarang sudah pecah.


Erlan yang kepikiran renata, membalas orang tadi yang melempar batu sampai tersungkur. Karena antarixa banyakan, erlan tersungkur dan matanya lengah sehingga perutnya tersayat pisau Zaga. Zaga tersenyum lalu menunduk.


"temen lo udah ngalahin temen gw, dan gw gak terima itu. Lagian ini cuma sayatan, lo pasti kuatlah. Yakan er? Heh"


Zaga bangkit dan mengajak gengnya untuk pergi meninggalkan erlan sendirian. Ralat, setelah Antarixa pergi. Renata keluar mobil dan menangis melihat keadaan erlan. Untungnya tadi, nomor roselina aktif dan akan menuju ke sini bersama sean*.


FLASBACK OFF


Tak ingin terlembat untuk besok, renata kembali memejamkan matanya untuk tertidur.


Pagi ini, renata dan rose menjalani hari seperti biasa. Dan pulang sekolah mereka pergi menengok erlan yang masih di basecamp. Sudah lima hari ini erlan di istirahatkan dan di pulihkan di basecamp. Dan hari ini, pulang sekolah, sean pergi ke rumah sakit dengan mengajak roselina.


Ayahnya mengatakan bahwa hari ini ibunya sudah bisa membuka perban di matanya. Sean senang. Sekarang, sean dan william menanti-nanti gerakan dokter yang sedang membuka lilitan perban itu.


Lambat sekali!


Sean terus menggerutu kapan selesainya dokter itu? Padahal cuma membuka perban. Putaran terakhir, kain putih itu merosot dan kelopak mata indah itu kembali terlihat. Cassandra mengerjapkan matanya dan sedikit-demi sedikit membukanya.


Pandangan awal Cassandra terlalu buram lalu lama kelamaan, matanya menangkap sosok pria yang selama ini ia rindukan. William. Lalu mata ana teralihkan pada seorang pria remaja yang mukanya seperti william, tapi ada dirinya juga. Sean. Cassandra tahu itu pasti anaknya.


Tampan sekali


Cassandra terpana melihat wajah sean, dan mengulurkan tangannya. Sean yang melihat itu mendekat pada ibunya. Telapan tangan ibunya yang lembut membelai pipi mulus sean. Cassandra tersenyum senang, karena bisa melihat anaknya.


Di sela senyumannya, cassandra melirik gadis remaja yang memakai seragam sama dengan sean. Mata cassandra menelisik wajah gadis itu yang menunduk.


"mam, ini Roselina De Raquell. Pacar sean" lalu roselina mengangkat kepalanya dan mengulurkan tangannya


"Ha-hallo tante. Roselina"


Cassandra menerima jabatan itu dan tersenyum. Tapi, ingatannya berputar ke kejadian di masa lalu. Cassandra menatap intens wajah rose yang terasa familiar.


Cassandra langsung melepas jabatan tangannya dan menutup mulutnya tak percaya.


Anak ini. Bagaimana bisa wajahnya mirip dengan orang yang menabrakku di masa lalu-batin ana



peringkat di wp. and 3.87K viewers eak


Makasih udah baca :)

__ADS_1


Maaf jika ada typing


SEE YOU NEXT TIME


__ADS_2