My Cool Boyfriend

My Cool Boyfriend
16


__ADS_3

Asik nih libur panjang :v becanda


Kalian jaga kondisi ya. Jangan sampai lelah apalagi sakit.


SELAMAT MEMBACA🧡



"sean, seneng mamih bisa melihat sean" ujarnya setelah cassandra dan roselina selesai berkenalan


"maaf karena baru sekarang mamih bisa melihat kamu sayang. Mamih gak nyangka, wajah yang dalam bayang-bayang mamih tampan, sekarang malah lebih dari kata tampan. Mamih seneng bisa melihat kamu yan" tutur cassandra dengan kekehan


Sean mengangguk-ngangguk paham karena dia tidak ingin bermelow-melow di saat ada roselina di sana. Langit mulai sore. Roselina yang hanya ikut tersenyum di obrolan keluarga tiffin tadi, akhirnya di antarkan pulang oleh sean.


"ingat. Besok pagi gw jemput"


"iya inget"


"yaudah. Salam buat papah sama kakak lo. Gw pulang"


CUP


sean mencium kening roselina dengan lembut lalu kembali memasuki mobilnya dan pergi dari pekarangan mansion Raquell. Perlahan, bibir roselina berkembang. Tak salah hatinya perlahan terbuka untuk sean, toh makin kesini sean semakin menurut juga. Ada kalanya juga nggak sih. Tapi saat ini ia senang lagi karena sean mencium keningnya.


Memasuki mansion dengan tingkat kesenangan, tak lama senyuman itu luntur kala melihat vernon sedang menuruni anak tangga dengan membawa koper. Buru-buru roselina menghampiri kakaknya di bawah tangga.


"kakak mau ke jerman lagi?"


"iya"


"gak bosen kesana kemari, kesana kemari terus? Emang perusahaan di sana butuh kakak banget ya?"tanya rose dengan melas


"perusahaan raquell yang di sini aja gak cukup di kelola oleh papah. Bahkan tante amir megang di China dan om amar di italia. Papah bahkan sering bolak balik luar negeri dengan sekejap karena cabang di kairo dan jepang. Yang aku pegang juga bukan hanya di jerman, dan kamu tahu itu. Makannya setelah lulus nanti, kakak mau kamu kuliah di jerman. Sekalian mantau di sana"


"hahh lihat nanti gimana sreknya aja kak"ujar rose tak berminat


"kakak hati-hati ya!"lanjutnya


Vernon mengangguk sekilas dan kembali berjalan keluar mansion. Sampai di lihatnya tubuh vernon yang menghilang, roselina kembali menghela nafas lalu berjalan ke kamarnya. Sekarang ia sudah tak banyak mengkhawatirkan vernon karena dia tahu, kakaknya itu sekarang adalah miliknya. Kakak aslinya.


menjelang pagi, roselina terbangun karena gasrak gusruk di luar kamarnya. Saat membuka pintu, dahinya kembali berkerut kala melihat sang ayah sedang mengacak-ngacak kertas dan dua pelayan menuruni tangga membawa koper.


"papah mau kemana?"


Richard yang sedang sibuk mengurusi dokumen pentingnya hanya membalas pertanyaan roselina tanpa menghadap.


"papah mau ke jepang lagi dan sore harinya ke kairo"


"papah serius?" tanyanya lagi sebari membantu richar memberskan dokumennya di meja


"jadwal papah beneran padat. Belum lagi lusa harus ke paman sam. Hahhh lelah sebenarnya papah tuh. Pengen kamu cepet gede, supaya papah bisa istirahat. Papah pulang setelah dari Amrik. Kamu baik-baik di rumah"


"iya. Roselina juga akan berusaha apapun buat papah. Papah hati-hati ya, jangan sampai lelah"


"iya sayang. Papah pergi dulu ya, bye"pamitnya dengan menenteng tas berisikan dokumen dan beberapa file


Roselina mengantar ayahnya sampai ke jet, dia melambaikan tangannya saat jet itu terbang. Setelah kepergian richard, roselina menghembuskan nafasnya lalu kembali ke dalam mansion dan menuju kamarnya untuk siap-siap.


Di sofa tengah dengan tv yang mempertunjukan sebuah kartun. Dia berselonjor dengan cemilan di pangkuannya. Karena masih pukul 04.45 roselina memutuskan menunggu mentari di ruang tengah dengan baju yang sudah rapih siap sekolah.


DRRRTTT DRRRRTT


"hallo, guten morgen"


"guten morgen auch"


"kenapa kak?"


"aku pulang lusa. Papah pulang lusa. Kamu diam saja di rumah dan jangan aneh-aneh"


"kakak tahu papah ke luar negeri? Trus kuliah kakak gimana?"

__ADS_1


"kuliahku sudah di atur. Aku tutup telponnya"


TUUUT TUUUT


Hanya mengedikan bahu dengan bibir mengerucut, gadis itu kembali menonton tv sampai mentari mulai bersinar. Dia mengambil tasnya dan membenarkan rambut halusnya lalu berjalan ke garasi. Upss seperti bukan garasi biasa di rumah orang ehh pokoknya garasi milik raquell ini besar. Mobil-mobil yang berjejer rapih seperti bukan mobil sungguhan. Mereka seperti mainan yang terpajang dalam galeri.


"aku akan membawa mobilku hari ini. Jadi, paman tidak usah mengantarku ke sekolah"


"tapi nona, jika tuan tahu saya bisa terancam. Apalagi jika tuan vernon yang mengetahuinya. Biar saya antarkan saja"


"kakak lagi di jerman, papah di jepang. Paman gak usah khawatir, rose gak akan kemana-mana. Hanya ke sekolah lalu pulang"


"baiklah. Asalkan mereka mengikuti nona kemanapun dan kapanpun. Selama nona di luar"tunjuknya pada pria-pria berbadan proposional ehh manly lah pokoknya


"ok. Tapi cukup mengikuti dari jauh ya paman, aku gak mau orang lain terganggu"


Axel. Pria yang selalu menyupiri roselina dari kecil hanya mengangguk setuju. Umur axel 27th, dia bertemu roselina saat di jerman pada umur 15th. Bibi roselina yang tak lain adalah teman ayahnya Maura Dandelion dan suaminya Abas Jordania di titipkan Roselina oleh richard dari kecil sampai akhirnya dia SMA. Ayah axel bekerja sebagai salah satu pengawal keluarga jordania dan axel pun merangkak menjadi pengikut ayahnya. Mengabdi pada jordania.


Maura yang sudah memiliki anak juga akhirnya tidak bisa mengantar roselina kesana kemari. Sehingga akhirnya, axel yang di perintahkan menjaga roselina sampai menjadi supir pribadi roselina. Axel juga pandai bela diri. Saat nona mudanya ini di titah kembali ke indonesia oleh ayahnya. Axel juga di suruh mengikut pada roselina oleh richard dan abas. Richard menyuruh axel ikut karena dia tahu pasti, axel orang terpercaya dan dia pasti hafal roselina karena sering menjaga anaknya.


Kenapa roselina tinggal di jerman? Roselina tidak tinggal bersama kakeknya saat di jerman? Kenapa bersama maura, teman ayahnya?


-di lain part aku ceritain :)


"ini pertama kalinya rose pakai mobil. Yang ini aja paman xel"


Lalu axel menyuruh orang untuk mengeluarkan kuncinya di lemari kaca yang agak kecil tertempel di dinding.


"tunggu nona, jika ini yang pertama kali, apa nona bisa mengendarainya?"


"he'em. Aku tahu, karena sering lihat paman mengendarai mobil. Dan aku yakin sudah pasti bisa tanpa belajar ya kan paman?"


Axel hanya tersenyum sebari mengangguk. Dia tahu pasti nonanya itu. Roselina jika sering meneliti maka hasilnya pasti ok. Contoh, roselina kecil menggunakan tablet tanpa pembelajaran karena dia sering melihat maura menggunakannya. Komputer? Sama. Roselina cukup melihat maura mengutak-ngatik dan besoknya saat ia butuh, ia tiba-tiba bisa. Motor juga. Cukup melihat orang lain yang berlalu lalang di jalan dan dia bisa memakainya.


Sekarang mobil ferrari terbaru. Roselina menaiki mobilnya. Ia memang tidak pernah belajar mengemudikan mobil, tapi ia sering melihat orang menggunakannya. Dengan menstarter mobilnya, roselina memasukan gigi mobilnya dan mulai menginjak gas supaya ferrarinya jalan.


Mobil itu keluar dari garasi dengan sempurna sampai akhirnya keluar mansion yang di ikuti dua mobil pengawal, termasuk axel di dalamnya jauhh di belakang mobil roselina.


"gak heran dengan keluarga raquell ckckck"


"gila orang sama barangnya sama-sama mulus"


"apalah daya orang ganteng ini, gakda tandingannya sama raquell"


"untung raquell udah kelas 12, cepet keluar. Jadi gw bisa balikin posisi primadona gw"


"kenapa gak lawan aja?" tanya temannya


"GILA LO! Gw masih pengen hidup mewah!" sentak wanita tadi


"iya sih. Pantes lo gak dapet si Tiffin, orang dia lagi nunggu Raquell toh"


Rose menaiki lift supaya bisa ke kelasnya, ia menyesal bawa kendaraan. Dikira mulut lambe anak sekolah gak bakalan bercerocos, ternyata pikirannya salah. Setelah lift terbuka, roselina kembali berjalan hingga sampai di kelas.


"hai ren"


"hai rose"


"baru dateng juga?" tanya roselina sambil mendudukan diri di kursinya


"iya. Kamu juga pan"


"hmm eh gimana kabar erlan?"


"kenapa nanya ke aku?"


"alah, erlan walaupun di rumah pasti sering ganggu kamu lewat telpon kan?"


"iya juga sih. Katanya dia baik-baik aja. Besok juga sekolah, yaa walapun lukanya belum sepenuhnya kering"


"ouh gitu ya. Semoga cepet sembuh deh erlannya"

__ADS_1


bel masuk telah berbunyi dan guru mapel mulai melancarkan aksinya untuk mengajar di setiap kelas. Ponsel dalam saku roselina bergetar tanda ada pesan. Ia merogoh ponselnya dan membukanya di bawah meja.


Sean


gw pulang duluan, lo pulang minta jemput aja sama supir


Roselina


Aku bawa mobil sendiri kok


Kamu gak sekolah emangnya?


Sean


Gak. Bolos


Roselina


Ouh yaudah


Roselina kembali memasukan ponselnya dan memahami apa yang di terangkan guru matematika di depan.


Sedangkan di lain tempat. Sean berhasil memanjat dinding besar di hadapannya. Sebenarnya, pagi ini sean masuk sekolah. Karena mapel di kelasnya adalah sejarah yang bisa membuat moodnya hancur, dia memilih kabur dari sekolah lewat area belakang. Setelah di luar gedung, sean mengirim pesan pada angga dan menyuruhnya membawakan motor sean saat pulang sekolah.


Tadi pagi, sean mendapat telpon dari anak 7stone. Mereka mengabari sean bahwa antarixa mengeroyok anak-anak lagi tanpa sebab. Niatnya akan ke basecamp minta di jemput. Tapi saat kakinya berjalan di trotoar dekat sekolah, sean melihat permen kapas. Ayahnya pernah bilang.


Mamih kamu dulu sangat menyukai permen kapas. Saat hamil, dia juga pernah ngidam permen kapas


Sean membeli dua permen kapas dan bucket bunga lalu pergi dengan taksi menuju rumah sakit. Tapi sebelum ke rumah sakit, sean mampir ke toko untuk berganti seragam. Di sepanjang koridor rumah sakit, sean tersenyum pada permen kapas untuk ibunya.


Sampai di depan kamar inap ibunya, sean melihat tidak ada seorangpun di sana. Dia langsung bertanya kepada pihak administrasi takut jika ibunya sudah pulang.


"maaf sus, pasien atas nama cassandra margaretha apa sudah pulang?"


"sebentar ya mas, saya cek dulu___belum mas. Beliau masih di rawat di bangsal viv no 29"


"baiklah. Terima kasih"


Sean melangkahkan kakinya menyusuri taman rumah sakit. Setelah sekian meneliti, akhirnya sean menemukan ibunya tengah bersama ayahnya. Sean hampir mendekati mereka dari belakang dan terhenti saat mendengar perbincangan ibunya.


"aku ingat siapa yang nabrak aku 10th silam"


"kamu tahu? Sekarang sebutkan. Aku mau orang itu tanggung jawab!" desis william


"tanggung jawab apa will? Aku udah sehat. Apa yang harus di pertanggung jawabkan pada 10th silam. Gak ada, aku sudah ikhlas kok"


"kamu tahu cassie? Dari kecil sean sendirian tanpa kamu, sampai umurnya menginjak 7th dia mulai mengutarakan kesedihannya dengan fisik. Dia menderita karena kamu koma. Bayangkan, kamu ninggalin sean dari bayi sampai 10th cass. Aku.  Aku juga sakit lihat kamu gak bangun-bangun. Aku tiap hari makan enak, hidup enak. Sedangkan kamu? Hanya tidur tanpa arah dengan selang-selang sialan yang menopang hidup kamu! Kasih tahu dia siapa cass!"


"kamu pasti kaget setelah aku mengatakan siapa yang menabrakku"ujar cassandra dengan sendu


Cassandra sadar, yang menabraknya di masa lalu adalah ibunya roselina. Raquell. Dan sekarang keturunan Raquell tengah menjadi kekasih anaknya. Cassandra tidak ingin merusak kebahagiaan anaknya. Wanita itu menatap william dengan dalam penuh permintaan.


"aku kasih tahu. Tapi janji, kamu gak bakal mempermasalahkan masalah ini lagi. Demi sean. Janji?"


William mengkerutkan dahinya. Demi sean? Jari kelingking william bertautan dengan jari kelingking cassandra lalu menganggukan kepala.


"aku janji"


"aku masih ingat wajahnya karena mobil dia berhenti tepat di depanku. Wajahnya, masih sadar setelah mobil itu beberapa kali menabrak dan berguling. Samar-samar aku melihat dia mengulurkan tangannya kedepan dengan raut kesedihan. Dan akhirnya, aku tak bisa melihatnya lagi karena kantuk yang tiba-tiba melanda. Dia, wanita cantik itu. Wajahnya sama persis dengan___Roselina. Yang aku yakinkan. Ibunya yang menabrakku dulu, karena aku melihat perutnya sedang mengandung"


Tetes demi tetes tak bisa cassandra tahan. William merengkuh tubuh wanita itu dengan lembut diiringi kecupan di kepalanya.


Sedangkan di belakang mereka. Sean menatap tak percaya kedua insan di hadapannya. Matanya sendu tapi retinanya menajam. Bunga dan permen kapasnya terjatuh karena saking kagetnya bahwa yang menyebabkan ibunya koma adalah Ibunya ROSELINA. Sean mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu berlalu begitu saja.



Terima kasih atas kesempatan kalian buat baca.


Terutama yang ngasih dukungan.


Next? Sabar aja dulu ya:)

__ADS_1


SEE YOU NEXT TIME


__ADS_2