
©©©
Tok Tok Tok
Rase memasuki kamar sean dengan hati-hati setelah mengetuk pintu tadi. Dari sini, rose bisa melihat bahwa sean tengah tertidur di atas ranjangnya yang lumayan besar.
"se, sean. Bangun, aku mau pulang" ujar rose membangunkan sean
Tak kunjung dijawab, rose terus berusaha membangunkan sean sampai akhirnya ia melihat jam di atas nakas menunjukan pukul 4.50. Kini sudah 43 menit ia berusaha membangunkan pria yang asik tertidur di balik selimut.
"sean!! Aku mau pulang!!"
Karena kesal, rose sengaja berteriak kencang di samping telinga sean. Pria itu benar-benar membuatnya kesal. Rose sudah menoel, mengguncang, menjambak rambutnya, mengorek telinganya, menggeplak, menarik dan yang terakhir meneriakinya.
"engh apasih. Ganggu!"
Sean melenguh dan kembali tidur tanpa memperdulikan rose.
"kalau kau tidak mau mengantarku, aku pulang sendiri" tekadnya
Sean yang mendengar itu hanya membuka matanya tanpa ada niatan menanggapi. Lalu, sean menepuk tempat sebelah kirinya yang kosong beberapa kali. Rose menggerutu mengerti, dan dia langsung duduk di sisi sean yang tidur membelakanginya.
Sean membalikan badannya dan langsung menidurkan rose, lalu di bawanya kedalam pelukan.
"ahkk sean!" pekiknya kaget
"diam. Jangan mengelurkan suara itu"balas sean dengan dingin
"maksudmu?"
"lupakan"
Sean semakin merapatkan tubuhnya kepada rose sehingga rose merasa bahwa mereka sangat intim, dan rose butuh oksigen.
Dalam beberapa waktu mereka masih terdiam dalam pelukan. Setelahnya, rose kembali merengek pada sean bahwa dia ingin segera pulang.
"kumohon aku mau pulang se" rajuknya
"orang tua lo nggak ada. Buat apa lo pulang?"
"jangan takut. Gw nggak akan berbuat macam-macam'' lanjutnya
"kau yakin?" tanya rose ragu
"kalau lo lupa, gw pernah bilang. Gw gak suka cewek tepos" bisiknya
"kalau gak suka ngapain peluk-peluk?'' tanya rose kaku
"serah gw"
Sean memejamkan matanya begitu juga rose. Tapi, rose semakin merasakan nafas sean memburu pada tengkuknya. Dan tak lama, dia juga merasakan ada yang aneh di bawah sana. Tapi apa?
Rose memang anak yang angkuh dan sedikit bad ya kan. Tapi di balik sikapnya itu, dia adalah wanita polos berhati lembut. Dan sekarang, dengan polosnya dia mencari benda tersebut lalu datang menyentuhnya dengan sedikit remasan. Aneh. Pikirnya
"Ahh"
Rose kaget dan langsung heran. Kenapa dengan sean? Apa dia sakit?
"kau kenapa?" tanyanya
"apa yang kau lakukanh?"
"aku tidak melakukan apapun"
"Shh singkirkan tanganmu!" suara sean mulai berubah tegas
Dengan cepat rose menyingkirkan tangannya. Rose berusaha melepas pelukan sean di belakang tubuhnya karena kepo dengan benda aneh tadi.
"sean lepaskan dulu ihh"
"sean ya ampun lepasinn. Tadi itu benda apa se? Ko keras? Terus kok kamu ngerasa sakit?"
__ADS_1
"diam. Dan jangan banyak tanya"
Rose menurut, dia menutup kedua matanya dengan tak tenang. Tapi itu mampu mebuatnya tertidur. Sean? Dia masih terjaga walaupun matanya tertutup rapat. Dia masih bisa merasakan bagaimana tangan milik rose menyentuh bendanya.
Sial. Keras di luar lunak di dalam. Polos apa sok polos hmm? Bodo amat lah.
Paginya, raina sedikit terusik karena suara gaduh diluar kamar sean. Dan juga, dia merasa ada beban yang sedang menimpanya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat pria yang semalam tidur disebelahnya kini malah tidur di atas tubuhnya. Lantas saja rose mendorong sean.
"sean bangun"
.....
"awas sean!"
.....
Plak
Rose menampar pipi sean dengan keras tapi tak membuat dia terusik, malahan wajah sean mendusel tak karuan di dadanya.
"sean please!" ujar rose dengan marah
Dukk
"Ahkk!"
Sean meringis kesakitan karena mendapat tendangan tiba-tiba dari seseorang di bawahnya. Rose? Rose tidak sengaja. Dia hanya menggerakan sedikit kakinya. Lalu tak sengaja lututnya yang mulus menabrak sesuatu di bawah sean.
"makannya menyingkirlah sean!" teriaknya
Tanpa kata, sean menyingkirkan sendiri tubuhnya dari atas rose dan langsung pergi dari kamarnya. Tapi sebelum itu, sean sempat berbicara saat di ambang pintu.
"Bersihin diri lo disini. Gw kebawah dulu"
"tapi baju aku?"
"yang itu aja"
Dalam kamar mandi, rose terperangah takjub atas interior ruangan tersebut. Dan apa ini? Harum maskulin. Rose membuka bajunya sambil menatap dirinya di cermin. Tapi setelah bajunya melorot, dia terkejut. Sangat terkejut dengan banyaknya tanda merah dalam dadanya.
"apa ini?"
Karena ketidak tahuan, rose membuka sebuah apl di ponsel nya. Dia menSearching tentang tanda merah di beberapa bagian tubuhnya. Setelah keluar hasilnya, rose nampak lebih terkejut karena tanda itu adalah ulah dari perbuatan manusia.
Awalnya rose tak menuduh sean saat tiba-tiba pria itu berada di atas tubuhnya. Dia hanya berpikir bahwa sean mungkin gasruk dalam tidurnya. Tapi setelah ia membaca artikel di mbak gugel dia semakin yakin bahwa sean telah berbuat sesuatu padanya. Rose mempercepat mandinya dan keluar kamar mandi.
Rose berjalan keluar kamar dengan emosi yang di ubun-ubun. Sungguh. Dia tak menginginkan hal ini. Dari dulu, dia selalu menjaga tubuhnya saat berdekatan dengan cowok. Tapi sekarang? Hahh sialan pria itu.
"hai beib" sapa seseorang
"mau kemana?" tanya lagi seorang pria
"sean lagi mandi tuh. Lo mau kemana buru-buru gitu?"
"hai rose"
Tak peduli, rose tetap berjalan melewati teman-teman sean yang namanya bodo amat. Saat ini dia hanya ingin keluar dari sini dan tak ingin bertemu pria yang bernama sean.
"woy dude! Cewek lo kabur!"
Rose mengerutkan keningnya karena mendengar teriakan teman sean. Dia buru-buru melangkah lagi supaya bisa keluar. Rose bersyukur karena sekarang dia melihat pintu keluar didepannya. Saat dirinya akan menggapai handle pintu, seseorang berlari ke arahnya dan langsung mencekal tangannya.
"siapa yang mengijinkanmu pergi?"
"lepaskan" tekannya
"tunggu disini. Gw akan ngambil mobil"
"lepasin aku bilang!!"
Rose berteriak di hadapan muka sean sekaligus menghempaskan cekalannya.
__ADS_1
"lo ngebenbentak gw?" tanya sean dengan mata menajam
"gw tanya sekali lagi. Lo ngebenbentak gw?! Hah!" suara sean meninggi dan mampu membuat rose terdiam takut
"sekali lagi lo berteriak kaya tadi, lo gw abisin. Ngerti?" tekannya
"kok kamu yang marah?! Disini aku yang harusnya marah! Bukan kamu!"
Rose kembali berteriak sehingga membuat emosi sean menaik. Dengan satu tarikan, sean menubrukan bibirnya pada bibir rose. Dia mencium rose dengan kasar dan membuat wanita itu terkejut karena serangan tiba-tiba.
Dugg
Sean semakin memperdalam ciumannya dan saking dalamnya, sean membuat tubuh rose menabrak pintu di belakangnya. Tangan wanita itu tak tinggal diam. Dia memberontak menggunakan tangannya. Tapi usahanya tetap gagal. Ia ingat semalam sean mengaduh kesakitan di area bawahnya. Dan itu membuat akal rose berfungsi dengan cepat ia mengarahkan lututnya ke atas akan menendang area sean. Tapi usahanya kembali gagal, karena sean tahu akal bulusnya.
Pria itu justru malah menaikan kaki kanan rose sehingga tubuh sean berada tepat di belahan kakinya. Rose kehabisan akal. Tangannya di atas kepalanya, kaki kanannya di pinggang pria itu karena sean menahannya.
BRENGSEK!!
Rose terus mengumpat di dalam hatinya.
Tes
Rose mengeluarkan air matanya karena takut dan air matanya melewati pipi sean juga. Tapi lelaki itu tak bergeming sedikitpun, justru dia malah semakin menikmati bibir roselina. Bosan dengan bibirnya, sean menggigit bibir bawah rose hingga membuat rose meringis dan tak sengaja membuka bibirnya
Sean meloloskan lidahnya di dalam mulut rose dengan lihai. Rose benci ini. Dia tak hanya menangis, sekali lagi ia menggunakan otaknya. Menggigit. Tadi sean menggigit bibirnya alhasil rose mengaduh sakit, sekarang rose akan melakukan cara yang sama.
"Ahkk Sial!" pekik sean dengan darah yang mengalir dari bibirnya
"hah..hah ******** kau sean!!"
Dugg
"Ahkh ****!!"
Tak menyia nyiakan waktu, rose melarikan diri setelah menggigit, mendorong dan menendang ************ sean dengan keras. Rose berlari keluar dari tempat itu dengan mata sembab.
"hiks kenapa gerbangnya jauh sekalii?" lirihnya
Brumm Brumm
"ayok naik" ujar seorang pria
.....
"ayok naik aku akan mengantarmu"
"tidak hiks"
"sudah jam 6.35 kau tak takut telat?"
.....
"aku tak seperti sean. Jika kau takut"
"hiks beneran?"
"ehmm"
"memang kau siapanya sean?"
"sepupunya. Ayok cepetan"
"ok makasih" ujarnya pelan
Rose menaiki motor sport itu dengan hati-hati karena dia masih memakai seragam sekolah yang roknya pendek. Beruntung dia memakai stoking, ya walaupun stokingnya berwarna krim.
Detik itu, motor mereka melaju menuju gerbang utama. Sean? Dia melihat roselina di antar oleh pria yang ia kenal, benar dia sepupunya. Sean menggeram marah melihat pemandangan itu. Dia berjanji, roselina de raquell takan terikat dengan pria manapun kecuali dirinya.
Awas lo gadis sialan!
©©©
__ADS_1