
"bisa gak si lo pergi!__sekejap aja! Bosen tiap disini, gw liat lo mulu!"
"HAM"balas sean pada vernon
Sudah seminggu, semenjak roselina kembali sadar. Sean benar-benar tak pernah beranjak sedikitpun dari roselina. Hanya satu mungkin yang membuatnya beranjak dengan pasrah.
Mandi
"*udah dua hari kamu gak mandi yan"
"gak papa"
__
"udah empat hari kamu gak mandi sean! Sana mandi. Bau!"
"lo juga nggak"
"aku lagi sakit"
"gw lagi jagain lo"
__
"sean! Seminggu kamu gak mandi? Sana ih bau!"
"yan! Mamah jewer telingamu lama-lama. Liat tuh, rose jijik sama kamu. Sana mandi"
"kalau kamu gak mandi, sana pergi. Aku gak mau deket kamu!"
"iya-iya aku mandi__tapi jawab video call aku!"
"dasar, anak william!"puji cassandra
"gila kamu yan, yakali aku vc sama kamu yang lagi mandi!"
"bodo. Cuma setengah badan. Yaudah aku ke toilet dulu__inget, jawab!"
Dan benar saja, mereka melakukan video call dan sean memperlihatkan setengah tubuhnya yang melakukan ritual mandi. Roselina walaupun sudah pernah melihat semuanya, tetap saja dia merasa malu sampai sering memalingkan wajahnya saat vc*.
••
"kondisi tubuh nona raina memang tidak ada yang harus di khawatirkan. Nafsu makannya juga sudah lancar. Hari ini juga, nona roselina bisa pulang ke rumah"
"tidak salah periksa?"sela sean
"ya? Ahh, saya yakin tuan raquell juga sudah memeriksa hasilnya. Saya permisi"
Setelah dokter itu pergi, richard mengakui memang dirinya sudah memeriksa kondisi tubuh roselina. Dan semuanya sehat.
Karena bosan di rumah sakit, roselina meminta ayahnya untuk segera mengurus kepulangannya.
Dan di sinilah roselina sekarang. Di mansion kediamannya.
"ayo"
"ehh!"
Sean membukakan pintu mobil dan langsung menggendong kekasihnya sampai ke kamarnya di lantai dua. Mereka pergi duluan di saat sekertaris richard mengurus administrasi rumah sakit.
"padahal aku bisa jalan"
"hmm"
"kamu gak pulang?"
"gak, mau jagain lo"
Dari pagi sampai malam, sean terus berdiam di kamar roselina sampai wanita itu jengah. Seluruh keperluan roselina, sean yang tanggung.
"yan aku mau kebawah, lape-"
Dua menit kemudian
"nih aku bawain nasi sama sayur. Ada buahnya juga. Biar sehat"
Dan berbagai macam kebutuhan raina yang lain seperti mandi. Rose memang menolak keras. Tapi sean ya sean.
Roselina hanya membolehkan sean masuk tapi tidak ikut campur soal mandinya apalagi melirik-lirik. Cukup berdiri di balik gorden bathtub.
Malam ini, roselina sudah tertidur nyenyak dengan sean masih di sisinya sambil mengusap dahi wanita itu. Sean melirik jam rolex di tangannya 7.23pm.
Menyelimuti rose dan mencium keningnya. Sean menuruni tangga mansion raquell berniat pulang.
"pulang lo?"
Sean melirik vernon yang berada di sofa dengan tv menyala dan beberapa buah di meja.
"ya"
"bagus"
"om richard man-"
"kamu mau pulang?"
Richard baru saja datang dari ruang kerjanya dengan baju santai dan segelas cangkir di tangannya.
"iya om, mamih saya nyuruh pulang"
"yaudah, hati-hati"
"om masih marah__sama saya?"
"tidak__tapi saya harap kamu tidak akan mengulanginya"
"tidak akan. Saya janji. Tolong om pegang janji saya"
"saya tidak butuh janji. Orang yang memcintai saya saja mengingkari janjinya. Apalagi kamu, yang bukan siapa-siapa. Saya cuma mau bukti"
__ADS_1
"baik. Saya akan memberikan om bukti. Terima kasih dan__permisi"ucap sean mantap
Richard mendesah pelan setelah kepergian sean. Lalu dia mendaratkan bokongnya di sofa dekat vernon.
"papah percaya dia?"richard menatap vernon
"percaya gak percaya. Tapi saat ini, papah percaya. Sudah seminggu anak itu bolos sekolah hanya untuk menjaga roselina. William bahkan menggertaknya, tapi tak pernah goyah. Untuk saat ini__papah percaya"
"saat melihat roselina terkulai di rumah sakit__vernon__merasa rindu sama mamah"
"bukan hanya kamu, tapi papah juga. Papah sampai gak bisa bayangin kalau roselina benar-benar pergi"
••
"eunghh ish!"
Roselina terus mengibaskan tangannya dan sesekali menggaruk pipinya yang geli.
CUP
CUP
"ishh!!"
Sean terkekeh karena roselina mungkin sedang mengira bahwa yang mengganggunya adalah serangga. Karena terbukti dari tangan rose yang mengibas-ngibas seolah mengusir serangga.
Karena gemas, sean mencobloskan kedua jarinya di hidung roselina sampai wanita itu engap-engap mengambil nafas dengan mulutnya.
Mata roselina terbuka dan langsung di sambut cahaya matahari yang memasuki jendelanya tanpa gorden, karena sudah ada yang membukanya.
"sean. Kamu ngapain pagi-pagi di sini?"tanya rose bingung
"siang"
"ah masa?"
Rose melihat jam di dinding. Dan benar saja, sudah jam 11. 57am. Roselina turun dari ranjang lalu menyuruh sean keluar sebentar karena dirinya akan mandi.
Selesai mandi, roselina di ajak sean jalan pagi mengilingi mansion raquell.
"papah lo kayaknya sayang banget sama lo"ujar sean saat melihat nuansa mansion secara keseluruhan
"ya gitu. Kenapa?"
"rumah kaca siapa?"
"aku"
Seanpun mengajak roselina ke ruang kaca. Di dalam sana, banyak sekali tanaman hias yang terawat.
Indah-pikir sean
"lo yang rawat?"
"bukan. Pelayan yang rawat"
Sean mendudukan dirinya di kursi dan menyuruh roselina duduk di sisinya.
"apasih yan"protes roselina
Sean menidurkan kepala kekasihnya di paha. Mengusap-usap kepala pacarnya sampai roselina yang tadinya mau protes, kini merasa nyaman
Roselina menikmati cahaya hangat yang di pancarkan matahari di dalam ruangan kaca. Sean menyanggah kepalanya dengan tangan satunya sambil menikmati pahatan tuhan.
CUP
"i love you"bisiknya saat roselina tertidur pulas
Akhir-akhir ini roselina memang gampang tidur. Mungkin karena efek obat dalam tubuhnya.
Karena posisinya yang tidak baik. Sean mengangkat roselina untuk ia pindahkan ke kamarnya.
"jauh *****"gumam sean
Pria itu sedikit membenarkan gendongannya pada tubuh roselina yang merosot.
"ROS-elina__dia tidur?"
"jangan berisik"
Vivian, renata, erlan, angga dan june berada di sini.
Mereka tadi pergi ke kamar roselina tapi tidak ada. Dan pelayan bilang, roselina sedang jalan-jalan di halaman mansion.
Selepas menidurkan roselina, sean turun ke bawah menemui teman-temannya.
"gimana keadaannya?"tanya erlan
"udah lebih baik"
"gw minta maaf"sela june
"soal kejadian di ruang 7stone. Gw bakal jelasin"lanjutnya
"gw gak peduli!"
"jangan gitu yan, gw udah tau semuanya dari june. Lebih baik lo dengerin"tutur angga
"hm"
Dari sana, june menghela nafas dan mulai bercerita pasal dirinya dan roselina. Selesai menjelaskan, sean menatap june tajam.
"lo gak baper kan?"
"gak. Lo tenang aja"
"ok. Gw maafin"
Semuanya melongo mendengar kata yang keluar dari mulut sean. Bahkan bukan cuma june yang salah, sean juga salah. Tapi disini yang meminta maaf hanyalah june, sedangkan sean? Dia santai saja.
__ADS_1
"siapa?"tanya sean saat melihat wajah baru
"ini putri vivian. Temen roselina juga, lo gak inget?"
"maklum. Dia kan orangnya acuh"sela vivian sebari minum es soda dalam gelas yang di tambah potongan lemon di dalamnya
"gak"
"dia temen sekelas ****. Otak lo acuh mulu"timpal erlan
"bodo"
"gw juga yang waktu itu kabur bareng rose di bantu lo yang lagi tawuran di jalan *****. Gak inget?"
"lupa"
"serah lo lah. Bodo amat gw juga"
Merekapun dengan setia menunggu putri tidur bangun dengan mengobrol sedikit dan bermain virtual reality 3D game yang mereka tebak pasti milik vernon.
Tadi sean menanyakan kepada pelayan apa ada ps? Dan pelayan menjawab tidak. Mereka memberi tahu sean kalau mereka hanya memiliki VR dan seanpun meminjamnya.
"WO WO WOAHHHH! ***** NYET GW TAKUT TINGGI *******!"
Angga berteriak sambil bergidig ngeri dan memegang benda di kedua tangannya semacam stick ps. Angga memilih permainan terjun bebas, dan iapun memakai alat di matanya dan mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya
Mereka yang melihat hanya tertawa ngakak karena kelakuan angga. Sedangkan erlan, ia memilih game yang mengambil cake di atas gedung dengan alas satu kayu balok.
Karena merasa real, erlan sedikit ketakutan saat kakinya mulai menginjak balok itu dan mengambil sepotong cake kedalam lift dan terus saja begitu sampai potongan terakhir. Dan saat akan kembali, kakinya goyah lalu dia terjatuh ke bawah.
"AHHHKKK ANJING GW JATUH. MATI BABIK"
"LO JATUH NIMPA GW ****** MINGGIR"sentak sean sambil menertawai erlan
"hwaa ngeri ***** gw gak mau main lagi ******!"
"Letoy lo!"ledek angga
Erlan membuka alat VR'nya dan di serahkan ke sean. Erlan semakin cemberut saat semua orang menertawakan kekonyolannya.
Karena kesal, erlan menelungkupkan wajahnya di perut renata yang duduk di karpet berbulu halus dan meringkukan tubuhnya seperti bocah.
Di lantai atas, roselina melenguh mendengar teriakan aneh di luar kamarnya. Mata indah itu terbuka dan melihat jam di dinding kamarnya.
"udah sore. Aku lama banget tidurnya"
Menggaruk-garuk kecil lehernya, iapun bergegas membersihkan diri untuk turun ke lantai bawah karena perutnya sedikit lapar.
Memakai piyama tidur satin dengan celana dan baju panjang berwarna biru gelap dan motif bulan kuning.
Roselina menuruni anak tangga sambil menempelkan jepit di cepolan rambutnya supaya tak jatuh.
"loh? Kalian kok ada di sini?"
Mereka yang sedang dalam kegiatannya masing-masingpun langsung menoleh ke sumber suara.
"akk rose! Akhirnya, bangun juga"vivian berlari dan memeluk roselina rindu
"kamu kok ada di sini?"
"kita nungguin lo bangun. Niatnya mau nengok gituu"
"ouhh, aku udah baik kok. Gak usah di tengok juga gak papa vi"
"ish lo mah gitu"
Roselina melangkahkan kakinya mendekati teman-temannya di sofa.
"lo kok udah bangun? Atau kebangun?"tanya sean
"eh nggak kok, cuma merasa laper aja"
"duduk sini, gw ambilin salad buat lo"roselina mengangguk dan seanpun berjalan menuju dapur
Sean kembali membawa satu kotak salad buah dari kulkas dan langsung menyuapi roselina.
"aku bisa sendiri yan"
"diam aja"dan kembali menyuapi mulut roselina
"kalian udah lama di sini?"
"lumayanlah, dari siang"erlan
"ha? Kalian gak bosen? Kenapa gak pulang?"
"mending di sini. Enak, banyak makanan"vivian
"eh ra, itu VR punya kak vernon?"tanya angga
"bukan"
"terus?"
"aku. Bekas di jerman, yaudah aku bawa ke sini"
"gw kira punya kakak lo"rose tersenyum kecil menanggapi angga
"kalo orang cantik mau dalam keadaan apapun tetep cantik ya"puji vivian yang di setujui semuanya
"mukaku ada yang salah?"tanya roselina
"iya, salah. Terlalu cantik"
PLAK
"SAKIT NYET"june melototi angga memberi kode
"sekali lagi lo muji cewek gw. Abis"tekan sean
__ADS_1
angga menyengir dan beralih duduk kedekat june yang tadi menggeplak pundaknya keras.
Karena semakin sore, mereka akhirnya pamit untuk pulang. Dan roselina bilang pada mereka bahwa besok ia mulai sekolah.