
Jerry menghembuskan nafasnya kasar untuk memulai ceritanya yang cukup menguras emosi.
*Flashback on
Suara hentakan kaki memenuhi koridor rumah sakit, perasaan khawatir sangat jelas tertera pada wajah Jerry yang kini terus saja menatap jalanan didepannya dengan sorot mata khawatir nya.
"Dokter gimana keadaan dia dok? " Tanya Jerry saat sudah sampai di ruang rawat seorang gadis yang ia sayangi sebagai sahabat nya, gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Mari ikut ke ruangan saya" Ucap dokter itu sambil berjalan menuju ruangannya.
"Silahkan duduk nak Jerry" Dokter itu mempersilahkan Jerry duduk didepannya.
"Bagaimana keadaan nya dok? " Tanya Jerry dengan sorot mata yang sangat khawatir.
"Pasien positif HIV" Ucapan dokter itu bagaikan pisau yang menghunus tajam pada hati Jerry, Jerry menyandarkan badannya pada sandaran kursi tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter tersebut, bagaimana bisa semua ini terjadi?
"Mulai kapan dok? " Tanya Jerry lemas.
"Sekitar 5 bulan" Ucapan dokter itu benar-benar membuat Jerry hancur, ingin rasanya Jerry tidak mempercayai nya namun ia tak menemukan kebohongan dari sorot mata dokter tersebut.
"Pasien juga positif pengguna narkoba" Lagi, untuk kedua kalinya perkataan dokter tersebut menghancurkan perasaan Jerry.
"Saran saya, lebih baik pasien dibawa untuk rehabilitasi" Jerry hanya mengangguki ucapan dokter tersebut, setelah diberi resep obat dan vitamin untuk gadis itu Jerry mulai berpamitan dan berjalan keluar menghampiri ruang rawat gadis itu.
"Jerry" Ucap gadis itu lirih saat melihat sahabat nya yang berjalan menghampiri nya.
"Kenapa lo make El? Gimana perasaan Tara pas tau lo make? Gimana perasaan orang tua lo pas tau lo make? Gimana perasaan mereka kalau tau lo positif HIV Eliza?" Jerry sudah tidak dapat lagi menahan amarahnya saat melihat wajah Eliza didepan nya, Jerry tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Tara sahabatnya sekaligus kekasih Eliza jika ia tahu kekasih nya mengidap HIV dan pengguna Narkoba.
__ADS_1
Jerry menarik rambutnya frustasi sedangkan Eliza hanya bisa menangis meratapi semua kebodohan yang telah dilakukannya.
"Orang tua gue udah cerai Jer, Mama gue depresi pas tau papa selingkuh. Mama gue gila Jer, sedangkan Papa gue? Gue gak tau dia dimana sekarang, keluarga gue hancur" Eliza menangis dengan muka yang ditutupi oleh tangannya. Jerry mendekati Eliza membawa gadis itu ke dalam pelukannya memberi kekuatan pada gadis itu.
"Bingung harus gimana, saat itu ada temen gue yang biasa gue jadiin temen curhat dia nawarin gue make, awalnya gue nolak tapi dia maksa akhirnya gue mau dan dengan make gue ngerasa semua beban gue hilang Jer" Eliza masih terus menangis dalam dekapan Jerry tanpa menghiraukan baju laki-laki itu yang sudah basah karena air mata dan ingus nya.
" Kenapa harus make? Lo punya gue, lo punya Tara El, lo punya kita" Jerry mengeratkan pelukannya pada Eliza.
"Gue mohon jangan kasih tau siapapun tentang keadaan gue Jer"
"Tapi Tara harus tau El" Jerry merasakan gelengan dalam dekapan nya. Jerry mendengus kesal sebelum mengangguki permintaan Eliza.
"Besok kita akan berangkat ke Belanda untuk rehabilitasi lo dan pengobatan lo" Ucap Jerry tegas, Eliza tersenyum sinis dan melepaskan pelukannya.
"Percuma Jer, bentar lagi juga gue bakal mati" Eliza terkekeh miris menyadari hidupnya tak akan lama lagi.
"Penyakit lo emang gak akan sembuh tapi setidaknya elo bisa bertahan lebih lama lagi" semangat Jerry pada Eliza.
"Lo masih punya Tara untuk alasan lo bertahan El” Eliza mengangguk membuat senyum Jerry terukir di wajah tampannya.
" Gue akan bicarakan ini sama keluarga gue, gue yakin mama gue mau bantu lo," ucap Jerry karena memang orang tua Jerry
sudah menganggap Eliza seperti anaknya sendiri, karena Eliza sudah dekat dengan keluarga Jerry sedari kecil karena mereka sudah bersahabat dari kecil jadi tidak heran jika mereka sangat dekat.
"Makasih Jer," ucap Eliza dengan senyumannya di tengah tangisnya. Dengan cepat Jerry membawa Eliza ke dalam pelukanya menenangkan gadis itu.
Flashback off*
__ADS_1
Alysa menatap Jerry dengan air mata yang sudah mulai jatuh membasahi pipi putihnya. Ia tidak tahu jika Jerry pergi karena membantu gadis yang saat itu hancur.
“Jangan Nangis Al, Please” Jerry menghapus air mata Alysa menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya.
“Gue sayang sama lo, dari dulu sampai sekarang perasaan ini masih tetap sama lo Al gue masih milik lo” Alysa memejamkan matanya mencerna dengan baik apa maksud dari kata terakhir yang di ucapkan Jerry. ‘Jerry masih miliknya?’ bahkan sekarang posisi Jerry sudah mulai tergantikan oleh Rakha bagai mana bisa bahwa ia juga milik Jerry?.
“Maaf udah buat lo nunggu selama ini, gue sayang sama lo” Jerry menggenggam erat tangan Alysa seakan jika ia melepaskan nya maka akan ada efek besar di kemudian hari, namun tanpa Jerry sadari Jerry salah menggenggam tangan Alysa karena kini yang pergi adalah Hati Alysa, Hati gadis itu telah pergi bersama hati Rakha. Walau masih ada nama Jerry di hatinya namun itu sudah samar karena nama Rakha lebih mendominasi.
Suara lagu electric kiss-EXO mengalun dengan kerasnya mengusik dua insan yang sedang melepas rindu itu. Mata Alysa membulat saat melihat siapa yang menelefonnya raut wajah gadis itu bahkan sudah berubah takut.
“Ha.. Hallo” Sapa Alysa dengan gugup dan takut.
“Kamu dimana? “ Tanya Rakha tegas saat panggilannya dijawab. Bisa dipastikan laki-laki itu kini tengah menahan amarahnya.
“Aku masih diluar, kenapa? “ Tanya Alysa. Alysa menatap Jerry yang berada disamping nya, laki-laki itu kini menaikkan alisnya dengan mulut yang digerakkan ‘siapa’ tanpa suara. Sedangkan Alysa hanya menatap Jerry tidak enak.
“Pulang “ Suara tegas tanpa penolakan disebrang sana membuat Alysa memejamkan matanya. keputusan Rakha adalah mutlak, meskipun Alysa masih ingin bersama Jerry numun Rakha kini lebih penting mengingat sekarang Rakha lah kekasihnya.
“Iya aku pulang” Ucap Alysa akhirnya mengalah dan segera mematikan telfonnya. Dan beralih menatap Jerry dengan tatapan permohonan maaf.
“Jer aku harus pulang, kamu mau aku anter ke mall gak?” Tanya Alysa merasa tidak enak.
“Aku sendiri aja, kamu mending buruan pulang” Jerry mengusap puncak kepala Alysa sayang yang dibalas senyuman manis Alysa. Meskipun ia tidak tahu siapa yang menelfon dan meminta Alysa untuk segera pulang.
“Ya udah aku duluan ya” Alysa melambaikan tangannya berjalan meninggal kan Jerry yang masih menatapnya dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya bukan senyuman kebahagiaan namun senyuman miris.
****
__ADS_1
Hai Bagaimana Sama Part Ini?
Maaf Ya Kalau Banyak Typo Dan Feel Kurang Dapet. Jangan Lupa Buat Follow, Rate, Dan Koment Ya 😍