
Bagaimana rasanya berjuang tanpa diperjuangkan? Sakit bukan? Lelah bukan? Kecewa? Jelas saja. Hal itu lah yang kini Alysa rasakan ia merasa kini tengah berjuang sendiri di atas tali kecil yang entah akan membuatnya jatuh atau tetap bertahan diatas tatihan tali itu.
Pernah merasakan berjuang untuk orang yang dulu pernah berjuang bersama lalu kini harus berjuang sendiri karena salah satunya tidak peduli? Kalian yang pernah merasakan nya dan tetap bertahan kalian hebat, kalian kuat tapi berhenti lah bersikap bodoh hanya karena dia yang sudah pergi. Lepaskan meskipun sulit jangan bertahan dalam luka yang kian menyakiti.
Alysa menatap taman yang sedang padat oleh anak kecil yang sedang bermain dengan senyum kecutnya ia sangat merindukan tunangannya yang sekarang sangat jarang menemuinya atau mengantarnya pulang saat kesekolah kini laki-laki itu lebih sering menghabiskan waktunya untuk menjaga Eliza dari pada memperhatikan tunangannya sendiri. Alysa merasa tidak ada gunanya statusnya sebagai tunangan namun sering di campakkan jika menjadi mantan bisa selalu di perhatikan. Tanpa sadar air mata Alysa jatuh membasahi pipinya. Sebuah jari menghapus air mata Alysa, Alysa menatap orang yang menghapus air matanya lalu tersenyum manis ke arah laki-laki itu.
“Kamu ngapain ke sini? Gak lagi ngurusin Eliza?” Tanya Alysa dengan senyum nya yang sulit diartikan.
“Gak usah mikirin orang lain yang, kalau hati kamu sakit dengan keadaan ini” Ucap Rakha sambil menggenggam tangan Alysa. ‘Bukan aku yang memikirkan orang lain Kha, tapi kamu yang selalu memikirkan orang lain tanpal mengerti perasaan ku’ batin Alysa berusaha menahan tangisnya agar tak kembali tumpah dihadapan Rakha.
“It’s ok” Ucap Alysa tersenyum samar. Jauh dilubuk hatinya ada rasa sakit yang mendalam menggerogoti hatinya tanpa tau betapa keras Alysa berusaha bertahan saat semua diambang kehancuran. Entah siapa yang bodoh disini Rakha yang tak dapat melihat rasa sakit Alysa dan lebih mementingkan Eliza? Atau Alysa yang dengan bodohnya tetap diam tanpa bertindak untuk merebut Rakha sepenuhnya dari Eliza dan hanya berjuang dalam diam mempertahankan rasa sakitnya. Berjuang dalam diam? Bahkan seorang raja tidak akan mendapatkan apapun dengan duduk diam tanpapp memerintah pasukannya untuk melakukan banyak hal.
Suara handphone Rakha mengalihkan perhatian keduanya setelah menerima panggilan dari ponselnya Rakha menatap Alysa tidak enak gadis itu mengerti apa maksud tatapan Rakha dan siapa yang menelfon nya. Alysa mengangguk maklum menyuruh Rakha untuk segera pergi. Setelah kepergian Rakha Alysa menumpahkan tangis nya tak beberapa lama hujan turun dengan derasnya menemani Alysa. Alysa memukul dadanya yang begitu sesak merasakan sakit yang begitu dalam, Alysa terlalu sabar menghadapi semuanya namun ia juga seorang wanita yang pasti saja memiliki rasa sakit tak ada yang tau sampai kapan Alysa akan bertahan dengan rasa sakit yang menimpanya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jerry melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, geraman kecil keluar dari mulut laki-laki itu yang mulai kalang kabut mencari gadis yang sangat ia cintai.
“Alysa kamu dimana?” Geram Jerry, matanya dengan teliti mencari dimana keberadaan gadis itu. Tadi ia baru saja dari rumah Alysa namun Mama Alysa mengatakan gadis itu tak ada dirumah dan entah kemana. Sekarang hujan deras tengah mengguyur ibu kota jakarta dengan derasnya.
Jerry memberhentikan mobilnya di taman pusat kota saat pemandangannya tak sengaja menangkap seorang gadis yang sedang menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangan gadis itu.
Jerry dengan segera menuju gadis itu sambil membawa payungnya.
“Alysa” Panggil Jerry sambil menyentuh pundak Alysa dan benar saja gadis itu adalah gadis yang di carinya sejak tadi. Jerry langsung memeluk gadis itu yang sudah basah akibat hujan. Wajah Alysa begitu pucat, badannya juga sudah menggigil dengan mata sebabnya.
“Kamu kenapa Lys?” Tanya Jerry yang masih mendekap Alysa yang menggigil hebat. Dengan cekatan Jerry langsung menggendong Alysa membawa gadis itu menuju mobilnya untuk membawa gadis itu pulang.
__ADS_1
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
Alysa mengerjapkan matanya beberapa kali saat cahaya masuk dalam retinanya, Alysa tak mengingat apa yang terjadi padanya kemarin malam yang ia ingat adalah saat Jerry menggendongnya menuju mobil laki-laki itu.
“Kamu udah bangun sayang?” Tanya Karin saat melihat anak gadisnya mulai membuka matanya.
“Jerry mana ma?” Tanya Alysa saat gadis itu tak melihat keberadaan Jerry yang kemarin malam mengantarnya pulang
“Jerry masih pulang kan dia harus sekolah nanti datang sekolah dia bilang mau balik lagi” Ucap Karin sambil mengusap puncak kepala Alysa yang panasnya mulai turun, kemarin malam Alysa demam tinggi membuat Karin dan Jerry kelimpungan, Papa dan Kakak Alysa sedang tidak ada dirumah jadilah Karin meminta tolong pada Jerry untuk membantunya menjaga Alysa.
“Kamu lagi ada masalah sama Rakha?” Tanya Karin curiga karena akhir – akhir ini Karin sering melihat mata Alysa yang sembab dan Rakha yang sangat jarang menemui Alysa.
“Enggak kok Ma” Ucap Alysa sambil menampilkan senyumnya.
“Gak papa kalau kamu belum siap cerita sekarang, kalau ada masalah itu di selesaikan baik-baik ya sayang” Nasehat Karin dengan senyum keibuannya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
“Kenapa bisa sakit hmm?” Tanya orang tersebut dengan menaikkan sebelah alisnya menatap khawatir tunangannya itu.
“Kecapean” Ucap Alysa singkat lalu kembali memejamkan matanya saat rasa pusing kembali menghampirinya.
“Kamu harus jaga kesehatan kamu yang, jangan kecapean lagi. Aku khawatir banget sama kamu” Rakha menatap Khawatir pada Alysa masih sambil mengelus puncak kepala gadisnya itu.
“Aku gak apa-apa Rakha” Ucap Alysa sambil mengelus tangan Rakha.
“Maaf ya Yang akhir – akhir ini aku jarang sama kamu” Rakha menatap sendu Alysa. Alysa tersenyum paksa menyembunyikan sakit yang begitu sangat ia rasakan.
__ADS_1
“Its ok Rakha” Ucap Alysa.
Suara dering ponsel Rakha kembali menganggu mereka. Alysa mendengus dalam hatinya seolah bisa menebak siapa yang menelfon Rakha. Hati Alysa begitu sakit melihat semuanya. Sudah cukup kali ini ia harus tegas akan semuanya, Alysa sudah cukup sabar akhir – akhir ini menerima semuanya. Sekuat-kuatnya seseorang pasti ada saatnya ia akan jatuh dan mulai lelah mempertahankan orang yang sulit di pertahankan.
“Maaf yang aku harus pergi, Eliza lagi di rumah sakit dia drop lagi “ Ucap Rakha dan segera pergi meninggalkan Alysa tapi baru beberapa langkah Rakha berjalan ucapan Alysa mampu membuatnya berhenti.
“Sebegitu penting nya ya Eliza buat kamu. Bahkan di saat aku sakit karena kamu, kamu lebih perhatian sama Eliza. Apa harus aku punya sakit yang sama seperti Eliza biar kamu perhatiin aku?” Tangis Alysa sudah mulai pecah, sudah cukup ia menahan semua kata itu untuk keluar sudah cukup ia menyembunyikan tangis dan rasa sakitnya selama ini.
“Please jangan egois untuk kali ini Yang” Ucap Rakha lirih, Alysa menatap Rakha tak percaya. Egois? Bahkan Alysa sangat sabar selama ini, jika gadis lain yang berada di posisi Alysa bisa di pastikan gadis itu sudah meninggalkan Rakha.
“Egois? Kamu yang selama ini egois Rakha kamu selalu memikirkan mantan kamu, kamu gak pernah mikirin perasaan aku. Kamu lebih perhatian sama mantan kamu dari pada tunangan kamu sendiri. Aku sudah cukup sabar Rakha menghadapi kamu yang seperti gak memperdulikan aku. Sudah cukup Rakha, aku sudah cukup sabar selama ini. Aku capek Rakha berjuang sendiri buat hubungan kita yang bahkan kamu sendiri gak peduli lagi sama aku dan hubungan kita. Jika gadis lain yang berada di posisi aku, aku yakin dia sudah pergi ninggalin kamu tapi aku masih di sini merjuangin kamu sendirian. Tapi sekarang hati aku sudah capek Kha berjuang sendiri sekarang keputusannya ada di kamu. Bertahan atau melepaskan. Aku rasa percuma kita tunangan kalau yang aku miliki Cuma hati tanpa raga kamu, percuma aku jadi tunangan kamu kalau jadi mantan lebih di perhatikan. Apa perlu aku jadi mantan kamu aja? ” Ucap Alysa panjang lebar sambil sesegukan. Rakha menatap sendu kearah Alysa ia tak ingin kehilangan Alysa tapi rasa tanggung jawabnya akan Eliza membuatnya bimbang.
“Aku gak mau kehilangan kamu Alysa, kita udah tunangan gimana sama keluar kita?” Tanya Rakha sendu ia benar-benar tak ingin kehilangan gadis yang ia cintai itu. Ia sadar akhir – akhir ini sering melalaikan Alysa tapi Eliza juga membutuhkannya.
“Aku yang akan bicara sama keluar kita tanpa menyalahkan kamu” Alysa menghapus air matanya kasar.
“Aku gak mau, kita gak boleh putus kamu milik aku Alysa sampai kapan pun” Rakha memeluk Alysa erat.Gadis itu tak membalas pelukan Rakha Alysa hanya menangis dalam dekapan Rakha menyalurkan betapa sakitnya hati nya.
“Aku capek Rakha” Alysa mesih menangis dalam dekapan Rakha tanpa membalas pelukan Rakha.
“Ok, aku akan jauhi Eliza dan mulai semuanya saat Eliza belum datang dalam hidup kita. Aku mohon jangan pergi dari aku” Ucap Rakha sambil memeluk Alysa erat menyalurkan betapa ia menyayangi gadis itu. Alysa membalas pelukan Rakha tak kalah erat ia tak ingin kehilangan Laki-laki nya itu. Salahkah Alysa jika ia egois untuk kali ini? Alysa hanya tidak ingin kehilangan sosok yang sangat ia sayangi, Laki-laki yang selalu menemaninya dan mengobati luka lamanya. Jika bagi kalian Alysa egois maka coba lah untuk mengerti bagaimana rasanya di tinggal oleh orang yang kalian sayang.
****
Hai Bagaimana Sama Part Ini?
Maaf Ya Kalau Banyak Typo Dan Feel Kurang Dapet. Jangan Lupa Buat Follow, Rate, Dan Koment Ya 😍
__ADS_1