
Alysa menunggu di depan
ruangan Eliza dengan harap cemas, tak hanya Alysa kini semua sahabatnya, orang
tua Jerry yang sudah menganggap Eliza sebagai anaknya bahkan orang tua Eliza
yang sudah tidak memperdulikan nya juga sudah berkumpul di depan ruang rawat
Eliza dengan cemas. Bahkan Mama Eliza sudah menangis dalam pelukan suami
barunya. Kondisi Eliza memang sudah sangat buruk gadis itu bahkan sudah seperti
tengkorak hidup sangat kurus.
Hubungannya dengan Farrel
sudah berakhir semenjak Eliza memberi tahu Farrel kondisinya dan memutuskan
untuk menjauh dari Farrel awalnya Farrel menolak dan memilih untuk tetap
bersama Eliza menemani gadis itu dalam masa sulitnya anmun Eliza menolaknya dan
menjauh dari Farrel.
"Semua akan baik-baik
aja," ucap Rakha menenangkan Alysa sambil memeluknya dengan erat,
menyalurkan kekuatan untuk gadisnya itu.
"Aku takut," ucap
Alysa dengan isak annya. Ia takut Eliza akan pergi meninggalkan mereka.
Seorang dokter keluar dari
ruang rawat Eliza dengan wajah lelah dan sedihnya.
Semua orang yang berada di
sana langsung menghampiri dokter tersebut.
"Dok bagaimana keadaan anak saya?" tanya papa Eliza mewakili
pertanyaan yang lainnya.
"Maaf kamu sudah
berusaha semampu kami, tapi Tuhan lebih menyayannginya," terdengar suara
helaan nafas berat dari dokter tersebut. Semua yang ada di sana langsung lemasmendengar
ucapan dokter tersebut. Mereka tau apa artinya, Tuhan lebih menyayangi Eliza
oleh sebab itu Tuhan menjemputnya lebih dulu.
Suara tangis pecah, mereka
belum relarela melepaskan Eliza.
Alysa langsung memeluk Rakha erat, yang di balas tak kalah erat oleh Rakha.
Rakha sama hancurnya dengan Alysa, apa lagi Eliza pernah mengisi hatinya namun,
sebisa mungkin ia mencoba kuat untuk memberikan kekuatan pada Alysa. Ia tak
boleh lemah, jika ia lemah siapa yang akan memberikan gadisnya itu semangat??
"Kamu harus ikhlas,
Eliza udah tenang di sana. Dia gak akan merasakan sakit lagi," ucap Rakha
menenangkan gadisnya itu.
Semua berjalan begitu
cepat, rasanya baru kemarin ia menjadi sahabat Eliza dan sekarang gadis itu
sudah pergi.
"Mau masuk?"
tanya Rakha yang mendapat anggukan dari Alysa. Alysa memasuki ruang rawat Eliza
dengan Rakha yang selalu setia menuntunnya.
Di ranjang rumah sakitnya,
__ADS_1
Eliza sudah terbujur kaku dengan kain putih yang menutupi seluruh badannya,
hanya wajahnya saja yang di biarkan terbuka. Di sampingnya sudah ada
keluarganya yang menangisi Eliza, sahabat nya juga berdiri di sekelilingnya dan
juga menangis. Jerry terduduk di sofa, pandangannya kosong menatap lurus kearah
jenazah Eliza.
Alysa menghampiri Jerry,
lalu memeluk erat pada Jerry. Rakha mendengus kesal, ingin rasanya ia memukul
Jerry melepaskan pelukannya itu tapi ia harus sabar melihat kondisi berduka
saat ini. Apa lagi Jerry yang selama ini menemani Eliza, Jerry sudah menganggap
Eliza seperti adiknya sudah pasti Jerry sangat terpukul.
"Dia udah pergi
Lys," tangis Jerry pecah, ini untuk pertama kalinya ia menangis. Gadis
yang sudah ia anggap sebagai adiknya, ia jaga seperti keluarganya dengan rela
mengorbankan gadis yang ia sayang demi menjaga Eliza, kini gadis itu sudah pergi.
Ia sudah bersama tuhan, rasanya sangat sakit melihat orang yang kita sayang
sudah tak bernyawa lagi.
"Kamu harus kuat Jer,
aku sama terpukul nya. Kamu sebagai laki-laki harus kuat, kalau kamu lemah
siapa yang akan menguatkan aku?" ucap Alysa yang juga ikut menangis, ia
mengerti Jerry pasti sangat terpukul apa lagi Eliza menghembuskan nafas
terakhirnya bersama Jerry di sampingnya.
"Maaf Lys, maaf udah
menjadi lemah," ucap Jerry lalu beralih dia yang memeluk Alysa dengan
erat. Mereka saling menguatkan, saling mendukung dan saling berusaha untuk
menerima kenyataan.
Suasana hikmat di iringi
tangisan memenuhi area pemakaman, tepat hari ini jenazah Eliza akan dimakamkan.
Alysa dengan baju hitamnya
dan kerudung yang membalut indah wajahnya sudah berada dalam pelukan Rakha yang
juga menggunakan baju hitamnya. Jerry ikut membantu memakamkan Eliza bahkan ia
ikut turun ke pusaran terakhir Eliza untuk mengantarkan gadis yang sudah ia
anggap sebagai adiknya itu.
Tak ada yang bersuara
kecuali lantunan takbir untuk mengantar Eliza, jenazah Eliza mulai di timbun
dengan tanah. Alysa tidak kuat melihatnya langsung menyembunyikan wajahnya pada
dada Rakha isaknya pecah saat melihat tubuh Eliza sudah berada di
peristirahatan terakhirnya.
Alysa ikut menaburkan bunga
pada makan Eliza begitupun sahabatnya yang alin, Alysa membawa buket mawar
merah dan meletakkannya di dekat baru nisan Eliza.
Kini Eliza hanya tinggal
kenangan, Eliza yang dengan senyum manisnya salalu menenangkan Alysa kini sudah
tiada. Hanya ada namanya di ukiran batu nisan, kenangannya dalam setiap ingat
akan orang yang mengenalnya.
Sejauh apapun orang
itu pergi ia pasti memiliki kenangannya tersendiri dalam ingatan orang yang
mengenalnya meskipun namanya sudah tertulis di atas batu nisan sekalipun.
"Semoga lo bahagia di
__ADS_1
sana El, terimakasih karena telah hadir dan memberikan kenangan tersendiri
untuk kita," ucap Alysa sambil mengelus batu nisan Eliza.
"Lo ngapain merenung
gitu Do? Tenang lo juga besok kebagian kali, lo milih lahan sebelah mana? Masih
luas noh," ucap Josep yang malah bercanda dengan Aldo agar suasa bisa
mencair.
"Kalo ngomong lo gak
di saring dulu, nying." Aldo menoyor kepala Josep dengan kesal membuat
temannya yang lain menggeleng melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
"Lo berdua ya, lagi
berduka sempetnya bercanda. Lama-lama lo berdua yang gue tanem di sini,"
ucap Rakha kesal dengan kelakuan kedua sahabatnya itu.
"Hehe maaf bos,"
ucap Aldo. Mereka masih sama saat mereka masih SMA masih kekanakan tak ada yang
berubah.
"Pulang
sekarang?" tanya Rakha pada Alysa. Alysa hanya mengangguk lalu berjalan
dengan Rakha yang dengan setia merangkulnya. Namun langkahnya terhenti saat
melihat Jerry yang masih berada di makam.
"Bentar," ucap
Alysa, lalu ia berjalan kearah Jerry yang terlihat sangat kacau. Buka
hanya bajunya saja yang berwarna hitam, bahkan lingkaran matanya juga menghitan
karena tidak tidur.
"Jer, ayo pulang kamu
harus istirahat," ucap Alysa sambil merangkul pundak Jerry. Jerry hanya
menggeleng masih setia terduduk di makam Eliza, sedangkan keluarga Eliza sudah
pulang.
"Jerry kamu kelihatan
kacau banget, kamu belum istirahat belum makan juga, please pulang ya,"
ajak Alysa dengan memohon, akhirnya Jerry mengalah ia menuruti Alysa. Alysa
merangkul tangan Jerry sambil berjalan.
Lagi-lagi Rakha harus
mendengus kasar, ia hanya bisa mengalah untuk kali ini dengan membiarkan
Alysa bersama laki-laki lain. Ini yang terakhir tidak akan ada lagi yang
seperti ini. Rakha merangkul pinggang Alysa jadi mereka sudah seperti orang
yang tengah selingkuh. Dengan Jerry yang merangkul pundak Alysa, Alysa yang
menggandeng tangan Jerry, dan Rakha yang merangkul pinggang Alysa.
Mereka berjalan keluar area
makam menuju mobil Rakha. Sahabat mereka berdecak kagum melihat pemandangan
Alysa, Rakha, dan Jerry entah apa yang membuat mereka kagum.
***
Sampai sini dulu ya jangan lupa buat Vote, Rate, dan koment ya guys
follow juga akun ku
jangan lupa follow akun ig roleplayer mereka ya
@trakhaakhdna_
@alysaevlyaa_
@alviando_jerry
@wphilmiath_
__ADS_1