
...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak...
...Vote,like, komentar dan ulasan ya 🌹...
...🎠Selamat membaca dan selamat berpetualang imajinasi ðŸŽ...
...----------------...
...----------------...
Mata indah berbentuk almond itu perlahan terbuka, menampakkan kilau sejernih langit malam berbintang.
Meski wajah cantik itu terlihat pucat, kecantikan tak sedikitpun memudar.
Latusya,mengerjap perlahan wajah cantiknya tergambar kebingungan.
Satu tangannya terangkat,terbalut perban dan sebuah jarum infus.
Rambut coklat panjang nan gelap bergelombang itu tersebar halus memenuhi seluruh bantal.
Indah.....
Memikat.....
Racun paling berbahaya bagi lelaki manapun!.
"Dimana ini?" Suaranya terdengar mengalun lemah.
Bergerak perlahan,meringis samar kala kulit di beberapa bagian tubuhnya seakan ikut tertarik begitu ia bergerak.
Tanpa gadis cantik itu sadari,sepasang manik tajam dan dalam menatapnya dari satu sisi pojok yang cukup remang dalam keheningan.
Latusya berhasil duduk dengan lemah.
"Benar-benar sial misi terakhir justru jadi begini! Harusnya aku membawa samurai saja agar mereka tidak bisa mendekat! Winsi dan Vigo... bagaimana?" Sia bergumam dalam keresahan .
Sudut bibir sosok itu perlahan tertarik dalam.
Sepanjang malam Raylion terduduk menunggu manik indah itu terbuka,dan kini harapan yang dibangun dalam kesabaran itu terjadi.
Tersenyum dalam diam.
Sementara Latusya sendiri,tenggelam dalam kekesalannya.
Menatap seluruh ruangan dimana kini dia berada,Latusya menyisir seluruh tempat hingga .
Deg........
Manik almond cerah itu bertemu dengan manik tajam segelap malam.
Raylion tersenyum miring melihat wajah cantik yang kini tengah tercengang.
Bangkit dengan langkah tenang menuju king size dimana sosok cantik itu masih terpaku.
Menggemaskan sekali...!
"Tu...tunggu...siapa anda ini? dan dimana ini?" Latusya bertanya gugup.
Hilang semua keganasannya dalam menambak mati targetnya dibawah tatapan mata panas membara pria asing itu.
Yah,Latusya tidak mengenal sosok Raylion.
Namun aura berat nan ganas bisa terasa bahkan hanya dari tatapan mata dan kontur wajah itu.
Wajah tampan yang menyimpan bahaya!.
"Raylion Zailendra Roosevelt...dan kamu ada di resident tempatku....Nona Peony..."
__ADS_1
Deg....
Wajah cantik Latusya segera berubah pias.
Dari mana pria ini mengetahui nama samarannya di dunia bawah?!.
Terkekeh geli,Raylion duduk dipinggir ranjang dimana Latusya terduduk.
Keduanya saling memandang.
Dengan senyum miring,Raylion mendekatkan wajahnya yang tampan tak bercela tepat dihadapan wajah kaku Latusya.
Nafas hangat beraroma kopi berpadu mint segar itu berhembus,kala pria tampan itu dengan senyum lembut meniup wajah cantik dihadapannya.
Latusya tersentak,wajah cantiknya yang terbiasa acuh tak acuh segera memerah bak buah apel siap panen.
Manis dan menggoda!.
Memalingkan wajah sembari meletakkan kedua telapak tangannya didepan tubuh Raylion,berusaha mendorongnya sedikit menjauh.
Deg....deg...deg...
Wajah cantik itu semakin merona merah hingga leher dan daun telinga.
Degub jantungnya semakin kencang kala merasakan betapa lebar ,bidang dan kokohnya tubuh atas pria yang baru saja menyebutkan namanya itu.
"Sial...kenapa tidak bergerak seincipun?!" Latusya membatin ngeri,tubuh pria ini sangat kokoh!.
Grep....
Wush.....
"A...APA YANG KAMU LAKUKAN?!" Latusya terpekik kala tangan kanannya ditangkap dan tubuhnya didorong hingga kembali berbaring.
Senyum Raylion semakin dalam.
Presiden Roosevelt muda itu menekan tubuh yang sebagian terbalut perban itu tanpa menyakiti.
Yah,katakan dirinya gila atau sakit mental.
Bagaimana anak berusia 8 tahun dulu begitu memuja sosok bayi perempuan yang bahkan hanya ia lihat sekali?.
Aneh,namun inilah faktanya!.
Raylion membawa jemarinya membelai pipi yang terdapat sebuah kapas terbalut perekat untuk menutupi luka sayatan yang sudah tertangani dengan baik.
Latusya terdiam mematung,manik tajam nan dalam itu seakan sebuah danau gelap yang menghanyutkan.
Dihadapan sosok Raylion,dirinya tak lebih bak seekor kelinci yang terperangkap oleh kungkungan serigala!.
Saat wajah keduanya hampir saja bersentuhan.
Wush....
Hening....
Sebuah pisau buah segera menekan pinggang kokoh Raylion.
Dengan tangan kiri yang bebas,Latusya tanpa sengaja mampu menggapai sebuah pisau buah yang terletak di atas nakas samping ranjangnya!.
Raylion tertawa rendah saat Latusya justru semakin menekan pisau buah itu.
"My dear beauty peony...apa kau akan begitu tidak berperasaan,melukai penyelamatmu?" Raylion menggenggam lembut pergelangan tangan kiri Latusya,wajahnya menunjukkan kelembutan dengan samar.
Meski ujung pisau itu terasa telah menembus sedikit kulitnya,tidak ada rasa sakit!.
Hanya perasaan menggelitik yang begitu kuat.
Saat Raylion sibuk dengan tawa gelinya,Latusya segera menarik tubuhnya turun dari ranjang sembari menarik selang infusnya.
Dan segera...
__ADS_1
Begitu darah segar dari pergelangan putih itu tercipta,wajah Raylion segera menggelap.
Tidak masalah jika bunga peony miliknya melukainya,namun tidak untuk melukai diri gadis itu sendiri!.
"Latusya...jangan membuatku menangani dirimu...kembali dan berbaring kamu berdarah!" Raylion tersenyum namun wajah itu penuh ancaman.
Latusya tersenyum main-main,sisi pemberontak dalam dirinya kembali.
" Lalu mengapa jika aku berdarah? terima kasih sebelumnya atas bantuan anda tuan Raylion...tapi bisakah anda tidak berbuat lebih? izinkan aku bertanya,dimana teman-teman saya?" Latusya berucap formal,menjaga wajahnya tetap tenang tanpa terpengaruh rasa takut akibat aura intimidasi dari sosok Raylion.
Gadis itu bersandar disebuah sofa santai tak jauh dari ranjang king size tempat ia berbaring,menjaga tetap stabil nada bicaranya.
Demi apapun,tubuhnya seakan remuk dengan rasa sakit yang menjalar disepanjang kain kasa yang menutupi seluruh lukanya
"Dan kita bukanlah kenalan,jadi tolong bersikap pantas!" Latusya kembali berucap dengan senyum lembut.
Seketika wajah Raylion jatuh tenggelam dalam badai.
Bangkit dan menatap wajah cantik itu penuh peringatan.
"Latusya..... kehitung sampai tiga,kau yang kemari...atau..." Raylion menggulung lengan kemeja yang terbalut rompi di tubuhnya dengan senyum miring.
Wush...
Deg.....
"AAAAAA....APA YANG KAMU LAKUKAN?!" Latusya terpekik saat tubuhnya diangkat ala karung beras,pria ini benar-benar gila!.
"Aku bukan pria yang suka menunggu...dan aku tak suka saat aku katakan 1 maka semua harus menjadi 1,kau sudah bermain-main dengan cara yang salah,sayang......"
Deg....
Manik indah itu membola horor.
Dengan pisau buah yang masih tergenggam,Latusya memberi gestur perlawanan keras.
"Sebaiknya kamu lepaskan aku! aku tidak takut untuk memulai pertarungan berdarah denganmu!" Ucapnya geram.
Plak....!
"YAAAK....KAU DASAR PRIA C*BUL... TIDAK WARAS...KAU MAU MATI?!!!"
Sia memekik kala b*kongnya ditampar dengan cukup keras oleh tangan besar itu.
"Iya..iya aku pria c*bul..tidak waras dan mau mati..sekarang berbaring dulu aku akan balut lukamu lagi,sekarang menurut ya...jangan melawanku dulu.Setelah kau sembuh kamu bisa memukulku sesukamu..." Kemarahan itu sirna, terganti ucapan penuh kesabaran dan kelembutan.
Sia terdiam,tak bisa berkata-kata setelah melihat perubahan suasana hati pria ini!.
Apakah pria tampan ini memang tidak waras? bagaimana dia bisa mengganti suasana hati secepat membalik telapak tangan?!.
Bukankah dia sangat marah tadi? bahkan seperti dia akan menghanguskan seluruh kota hanya dalam sekali percobaan!.
"TIDAK!" Sia berucap dengan jengkel.
Raylion tersenyum tabah.
Pertama kali seluruh tempramen dirinya runtuh!.
Tidak ada kemarahan...
Tidak ada hasrat membunuh....
"Kamu tau...? orang pertama yang berani membantahku sudah terkubur jauh dalam tanah! bahkan rumput disana sudah setinggi satu meter! bukankah aku cukup sabar padamu,hm?" Raylion membawa tubuh sia kembali berbaring,meraih pergelangan tangan cantik yang kini penuh darah kembali.
Gadis ini benar-benar cobaan yang Tuhan kirim untuk menguji jiwa iblis dalam dirinya!.
...----------------...
...TBC...
__ADS_1