
...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya...
...Vote,like, komentar dan ulasan 🌹...
...🎠Selamat membaca dan selamat berpetualang imajinasi ðŸŽ...
...----------------...
Suara tangisan terdengar meraung disebuah kamar jenazah,tiga keluarga menatapi putri-putri mereka dengan kemarahan dan kesedihan penuh dendam.
Siapa yang telah membunuh putri mereka?!.
Siapa yang begitu kejam hingga bahkan meninggalkan jasad yang tidak lagi utuh?!.
"Putriku....Marina!!! bangun sayang...bangun ini mama!!"
"Abel...hiks....tidak ini pasti bukan kamu honey!"
"Tidak...Celine jangan tinggalkan mama!!"
Suara keras dari tiga orang wanita paruh baya memecah suasana duka.
"Bi*dap! bagaimana...siapa pelaku pembunuh atas para putri kita?!" Seorang pria baya,dengan kumis melintang dan wajah penuh kemarahan berdiri disisi brangkar jenazah Marina.
"Terlalu kejam! bahkan kepala putriku hampir putus.... komisaris, bagaimanpun caranya kau dan kepolisian harus berhasil menangkap pelakunya!" Pria baya lain,dengan wajah memerah memeluk sosok wanita baya yang sibuk mengelus wajah penuh sayatan jenazah Celina.
"Benar....bila perlu kami ingin orang itu dihukum mati! beraninya dia menyentuh putri kami yang tak berdosa!" Sosok pria baya disamping ranjang jenazah Abel berucap geram.
"Paman...bibi...rinai turut berdukacita...hiks..tidak tau siapa yang telah melakukan ini,tapi rinai harap paman dan bibi tidak menyalahkan iris..." Rinai,seakan sadar akan ucapannya.Wanita itu menutup mulutnya cepat dengan wajah tergambar kepanikan.
"Apa maksudmu rinai?! bicara yang jelas!!" Ibu dari sosok Celine mendekat dengan wajah bengis.
Rinai, melirik matanya terukir panik.
Tepatnya, berpura-pura panik.
"Siapa iris?!"
Senyum licik itu terbit kala rencananya nampaknya berjalan lancar!.
"Iris....dia.."
...----------------...
Sanches mansion.
Dentingan alunan lembut mengalun memenuhi seluruh ruang keluarga besar Sanchez.
Wanita muda itu,Rinai.
Terduduk dengan wajah penuh kebanggaan didepan sebuah piano hitam klasik,jemarinya memainkan tuts-tuts piano dengan telinga yang terus mendengar lantunan pujian dari para pelayan atas permainannya.
Akan diadakan sebuah konser dari seorang penyanyi yang sangat terkenal secara internasional,dan Rinai.Sebagai seorang model muda dan seorang mahasiswa jurusan seni musik dan sastra, terpilih sebagai pembuka konser sang penyanyi itu.
Tentu saja semua pujian dan apa yang berhasil dirinya raih selama ini dapat memuaskan kesombongannya.
Dan rencana atas iris yang nampaknya mulai berjalan sesuai keinginannya,tinggal menunggu gadis itu kembali dari rumah sakit dan tiga keluarga sahabatnya,bukan.
__ADS_1
Mayat sahabatnya akan menjadikan gadis itu tinggal nama saja!.
Memikirkan iris akan segera dijadikan tersangka atas kematian tiga babu miliknya,rinai semakin bahagia.Terdengar dari nada riang lantunan pianonya.
Bukankah selama ini,dirinya dikenal sebagai putri sulung Sanches yang cantik dan berbakat?!.
"Apa kau tidak dengar gosip diantara para pengawal hari ini?"
"Gosip apa?!"
" Dia ini baru sebagai pelayan disini,jelas dia tak akan tau"
"Gosip apa memang?! cepat ceritakan!!"
" Dua puluh tahun lalu, sebenarnya tuan besar Alejandro punya seorang putri yang hilang dari mendiang nyonya Aluna! dan kudengar gadis itu telah ditemukan!"
" Wow...ini berita besar!"
"Yah...bahkan tuan Alejandro sendiri yang menjemputnya dan menurut gosip yang kudengar dari para penjaga...gadis itu sedang dibawa kembali!"
"Apa?! itu artinya nona rinai bukan lagi nona besar Sanchez?! wah ini berita besar!"
"Sttttt...pelankan suaramu atau nona rinai akan mendengar! sekarang nyonya Jesika sedang tidak ada jika dia tau...aku tidak tau akan bagaimana?!"
Melodi dari piano itu seketika berhenti,manik gelap itu seketika menegang dengan kilat kemarahan yang tak berdasar.
Nona besar Sanchez?...
Bukan dirinya lagi?!.
Hingga,sebuah langkah kaki berjalan memasuki mansion.
"Kakak kau sudah kembali? bagaimana keadaan iris? kapan dia kembali pulang?"Rinai,mendekati sosok candrik dengan suara penuh kecemasan dengan ekspresi lembut diwajahnya.
Meraih lengan berbalut jas dokter candrik,rinai melempar senyum gambaran saudara perempuan yang lemah lembut.
Cendrik menampik tangan rinai yang memegang lengannya.
Nada suaranya sedingin kilau gletser.
"Kau bertanya ingin tau,apa iris masih hidup atau tidak?" Candrik menatap rinai dingin,sikapnya sangat jelas atas keperdulian palsu rinai.
Atas sikap penolakan candrik,rinai hanya bisa mengigit bibirnya menahan amarahnya.
"Kak...apa kakak tau papa punya putri selain aku dan iris ? para pelayan bilang papa akan kembali dan membawa dia pulang.....benarkah itu kak?" Berusaha menahan amarahnya,rinai bertanya dengan suara halus bergetar samar.
Mencoba menebak dari ekspresi wajah tampan kakak angkatnya.
Dan,rinai hancur seketika!.
Candrik mematung,wajahnya yang tampan terlukis dalam akan sebuah penantian dimana harapan seakan benar-benar terkabul!.
" Tidak ada siapapun yang boleh merebut posisiku sebagi nona besar Sanchez!
"Kak candrik,bukankah papa hanya punya aku sebagai putri mama Jesika,lalu iris putri mendiang mama Aluna,kenapa tiba-tiba ada putri lain? apakah dia anak haram?" Dengan wajah polos,rinai bertanya dengan wajah seakan tidak tau apapun.
Wajah candrik menggelap,kedua tangannya terangkat mencengkram dagu rinai.
Wanita muda itu memekik kaget atas kemarahan candrik.
__ADS_1
"Jaga mulutmu! dia adalah putri sulung mama Aluna...dia adalah kakak kandung iris! hati-hati dengan ucapanmu atau aku akan merobek mulutmu yang tidak berguna itu!"
Dengan geram,candrik menghempas wajah rinai.
Wanita itu memucat melirik wajah tercengang para penjaga dan pelayan.
Sosoknya yang ia jaga sebagai gadis murah hati dan lembut tergores!.
Tatapan para pelayan dan penjaga itu seakan menatapnya curiga!.
"Kak...bukan seperti itu! rinai hanya tidak pernah mendengar hal ini dari mama ataupun papa! bagaimana kakak bisa begitu kasar?" Dengan untaian air mata seperti manik-manik kalung yang putus,rinai membalik rasa malu yang ia alami atas reaksi candrik sebagai korban yang begitu rapuh!.
Candrik abai,melirik kepala pelayan.
"Apa pria itu sudah kembali?" Candrik bertanya cepat,pria berseragam butler itu.
"Itu...."
...----------------...
Pesawat internasional itu akhirnya mendarat.
"Latusya... papa..." Begitu turun dari tangga pesawat,sosok Alejandro menatap wajah cantik putrinya penuh dengan penyesalan.
Para pengawal yang mengikuti sang tuan,melangkah mundur memberi ruang pada ayah dan anak itu.
Latusya,menatap sosok Alejandro dalam diam.
Gadis cantik itu terlalu tenang!.
Mengabaikan setiap pasang mata para pria yang ikut turun dari pesawat,menatap gadis cantik dengan gaya busana casual namun tetap penuh daya tarik itu penuh puja.
Ternyata kecantikan bak seorang malaikat itu mungkin memang benar ada!.
Alejandro menelan kembali kata-katanya, melihat tidak adanya ekspresi yang berarti diwajah putrinya.
Denyut nyeri merangsang jejak rasa bersalah yang semakin dalam.
"Latusya....papa akan meninggalkan dirimu pada asisten papa..papa..harus kembali ke perusahaan dulu,papa minta maaf..." Akhirnya, Alejandro terpaksa berbohong,tidak ada urusan berarti di perusahaannya.Namun,perasaan campur aduk dihatinya membuatnya ingin mencari ketenangan sejenak.
Diam,Latusya menatap pria seumuran Zen yang berdiri dibelakang Alejandro.
Pria ini tersenyum ramah.
"Nona sulung...saya Andromeda,senang bisa membantu anda" Pria muda itu, Andromeda.
"Baiklah...sampai jumpa,nak..." Alejandro merasa kelu,berbalik dan memasuki mobil lain setelah itu.
Latusya hanya menatap dalam diam.
Tidak ada gejolak kasih sayang dihatinya pada sosok itu.
20 tahun bukan waktu yang sebentar untuk perasaan layaknya orang tua dan anak,perasaan itu sudah lama terkubur dalam.
"Tuntun jalan..." Latusya berucap dengan wajah tanpa ekspresi, Andromeda tersenyum maklum dan menuntun sang nona memasuki sebuah Alphard hitam yang sudah menunggu.
Akhirnya,pasangan ayah dan anak perempuan itu kembali berpisah di jalan masing-masing.
.....TBC.....
__ADS_1