My Dear Beauty Peony

My Dear Beauty Peony
Rencana


__ADS_3

...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak...


...Vote,like, komentar dan ulasan 🥀...


...☘️ Happy reading and keep spirit ☘️...


...----------------...



...----------------...


"Ma, bagaimana ini?! gadis dusun busuk itu bilang akan memberikan bukti dalam dua hari! bagaimana jika dia berhasil menemukan bukti dan semua ini akan berbalik mempermalukanku! " Rinai berjalan gusar,menatap wajah ibunya gelisah .


Didalam kamarnya,pasangan ibu dan anak itu nampak menyimpan beban fikiran.


Jesika nampak terdiam,berfikir keras.


"Mama pergi dulu, sebaiknya kamu tenang jangan tampakkan gelisahmu pada siapapun!' Jesika berdiri dari duduknya,dibawah tatapan rinai yang termenung wanita baya itu berlalu pergi dengan cepat.


...----------------...


Klik....


Kamar bernuansa elegan,kini terlihat remang dengan cahaya matahari yang tak mampu menerobos celah gorden tebal berumbai.


Latusya,peony berjalan menuju sebuah meja kecil yang berada di samping ranjang.


Sebuah laptop berlogo apel berwarna putih nampak tersimpan apik disana.


Peony,mulai menyalakan benda yang hanya akan dirinya gunakan kala hal mendesak terjadi.


"Baiklah...misi pertama" Peony menunggu dengan sabar.


Hingga...


Ponselnya terdengar berbunyi.


Meraih benda itu dari atas ranjangnya,sebuah nomor asing terlihat melakukan panggilan.


"Siapa?" Peony,dengan acuh berucap kala panggilan tersambung.


"Nona latusya....."


Kening mulus itu mulai mengeryit tak sabar.


"Langsung intinya!" Gadis berdarah panas itu benar-benar tak memiliki kesabaran layaknya latusya.


Sisi Peony jenderung pada amarah dan tempramen panas yang tak meninggalkan sedikitpun hati dan kesabaran pada orang lain.


Hening...


Terdengar suara menelan yang sangat pelik .


Sebab penelpon mulai takut,namun apa daya?.


"Saya.. saya memiliki informasi tentang kasus keguguran nona rinai..."


Peony menyeringai,meraih sebuah dessert eagle hitam dari laci nakas meja-nya.


" Lanjutkan..." Gadis itu tersenyum lebar,mengisi selongsong peluru pada short gun itu.


"Datanglah ke restoran distrik Chinese street..akan kuberikan rekamannya.."


Tut....


Hahahah

__ADS_1


Tawa dingin itu pecah di dalam kamar yang tamaran dan tertutup rapat .


Berbalik menuju kamar mandi,dirinya belum sempat untuk mandi pagi dan sekarang sebaiknya dirinya berbersih diri.


20 menit berlalu,Peony keluar dari kamar mandi dengan bathrupe biru muda yang menutupi tubuhnya.


Menuju walk in closet untuk mencari pakaiannya.


Peony,meraih short gun yang sudah terisi penuh dan menyelipkan dibalik punggungnya.



Meraih mantel maroon dan sepatu booth hitam dan ponselnya .


"Sempurna..." Bergumam puas.


"Well....misi ditunda dulu..." Latusya terkekeh rendah,menyimpan kembali laptopnya.


Benar,Peony memilih mundur kala latusya nampak mulai bosan dibawah alam bawah sadarnya!.


Benda ini adalah nyawanya.


Laporan misi,aset serta semua teransaksi selama 10 tahun sejak misi pertama sebagai sniper Red cobra terdata.


Maka dari itu,kamar gadis itu sejak awal tak bisa dimasuki oleh siapapun bahkan Alejandro sekalipun.


Terkunci rapat dengan kunci sidik jari.


Begitu keluar kamar, tanpa perduli tatapan para maid yang menatapnya tak berkedip.


Apakah ada gadis liar yang tumbuh dan besar di sebuah desa kecil akan menjadi secantik dan begitu fashionable seperti ini?.


Bahkan penampilan nona sulung Sanches ini tak kalah dari gadis-gadis yang hidup dan besar di ibukota!.


Menuruni tangga, latusya menatap keluarganya yang nampak mulai terlihat di meja makan.


Postur tubuh dan sifat tegasnya.


Alejandro bahkan merasa,latusya tidak besar di sebuah desa.


Namun tumbuh dan berkembang layaknya putri-putri konglomerat ibu kota!.


Melirik iris, Alejandro menghela nafas panjang.


"Tidak...aku memiliki sedikit urusan,papa sarapan saja " Latusya berjalan tanpa melihat siapapun lagi,hanya Alejandro yang gadis itu tatap meski acuh tak acuh.


"Saudari...benar kata papa,sarapanlah bersama kami... lagipula semua menu ini adalah rekomendasi mama ini sangat enak!" Rinai berucap antusias,menatap latusya riang.


Menyeringai dingin,latusya berdiri bersidekap.


"Kau aneh...wanita yang baru saja keguguran masih begitu riang dan masih bisa makan kenyang dan enak? aku kadang berfikir... kau ini senang atau sedih atas keguguran mu?" Latusya menatap manik gelap rinai lamat,ketakutan tergambar jelas disana.


Meraih sebuah ikan goreng yang terhidang.


Zrashhh....


"ARKHHH... LATUSYA KAMU APA-APAAN?!!"


Jesika menjerit kala Ikan itu terlempar ke udara dan sebelum jatuh ketanah.


Pisau yang digunakan untuk memotong stik daging telah membelah tubuh ikan goreng itu menjadi dua.


 " Lihat...bayimu mati....ma...ti! sound goods?" kenapa aku tidak pernah melihat wajah sedihmu? bahkan kau semakin glamor dalam berpenampilan,riasan juga perhiasanmu sudah layak disebut toko emas dan salon berjalan!" Latusya menekan kepala ikan itu dengan pisau dihadapan semua orang.


Rinai menggigil,kata mati yang diucapkan latusya seakan tertuju padanya!.


Jesika menghempas tubuh ikan yang mendarat di rok yang wanita itu kenakan!.

__ADS_1


"A..apa salahnya aku ingin menghibur diri atas kematian calon bayiku?! apa aku harus tenggelam dalam kesedihan selamanya?!" Rinai menjawab dengan geram,namun ekspresi wajah yang terluka benar-benar membuat latusya ingin tertawa.


"Hanya Tuhan dan kau yang tau...." Berbalik pergi setelah menancapkan pisau stik itu lebih dalam diatas meja makan.


"Papa lihat?! putri yang kamu bawa kembali benar-benar kasar dan tidak punya etika!"


Mengatur nafas yang memburu,Jesika benar-benar berang.


"Mama ragu dia bahkan pernah bersekolah atau tidak dengan tempramen itu!" Wanita baya itu terus mengoceh.


Candrik menatap wanita baya itu tidak sabar.


Brakhhh!.


"Diam dan tutup mulutmu!"


Hening...


Seketika ocehan Jesika dan tangisan rinai terhenti atas amarah Alejandro.


Memijit pelipisnya pening,nafsu makannya hilang dan pria baya itu bangkit pergi dengan amarah.


" Sebaiknya,pergilah ikut casting...jangan hanya menjadi model mungkin kalian cocok sebagi peran ibu dan saudara tiri Cinderella..." Candrik berucap jenaka,mengigit apel sembari menatap keduanya lamat.


...----------------...


Latusya menghentikan mobilnya,mobil Audi putih pemberian Alejandro padanya.


Benar,begitu mengetahui putrinya meski hidup didesa namun bisa mengemudikan mobil,pria baya itu langsung membelikan sebuah mobil tanpa berkata-kata.


Inilah dia,jangankan mengemudi.


Latusya bahkan mampu adu skill mengemudi mobil dengan seorang pembalap mobil profesional sekalipun!.


Maniknya berkilat dingin kala menatap sebuah jalan dengan bangunan-bangunan kosong dikanan dan kirinya.


Menarik Baretha miliknya keluar dari sarangnya.


Klik...pintu mobil terbuka.


Dengan tenang namun tetap waspada.


Latusya berjalan keluar dari mobil.


Hingga....


Wushhhh....


Dorr....


Seseorang yang berada tepat didepannya segera menyemprotkan sebuah cairan obat bius dosis tinggi,bersamaan dengan satu buah peluru yang melesat.


Orang itu,menghindar dengan cepat hingga peluru melesat hampir mengenai kepalanya.


Latusya,dengan cepat merasakan pusing yang begitu berat.


Brukhhh...


Tubuhnya limbung,namun segera diraih cepat.


Hahahah....


"Begini aku harus turun tangan?"


...----------------...


...To be continue...

__ADS_1


__ADS_2