My Dear Beauty Peony

My Dear Beauty Peony
Guardian


__ADS_3

Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya


Vote, like, komentar dan ulasan 🥀


...✒️ Happy reading and keep spirit ✒️...


...----------------...



...----------------...


Rumah sakit


Pukul 21.00 waktu setempat.


Disebuah ruang rawat yang terasa dingin,raungan pilu seorang wanita terdengar menyayat.


Tidak tau tangisan itu adalah ratapan yang berasal dari hati atau hanya pencitraan publik?.


Rinai menangis,sembari memeluk perutnya dengan erat menatap dokter wanita dan dua perawat dengan nanar.


"Tidak...hiks..kalian pasti bohong! bayiku tidak akan,tidak akan terjadi apa-apa pada bayiku!! hiks...Pedro....Pedro...bayi kita!!!" Rinai meracau dengan tangisan yang bahkan mampu menggetarkan bumi dan mengguncang langit!.


Dua perawat dan dokter wanita baya itu saling melirik,entah mengapa reaksi wanita ini benar-benar?.


Itulah pemandangan yang dilihat Jesika dan Alejandro begitu mereka tiba di ruang rawat putri mereka.


Jesika berlari dengan manik memerah,merangkul erat tubuh rinai yang gemetar dan berderai air mata.


"Mama...huuuu..hiks...anakku dan Pedro yang malang....huhu...." Racau rinai,Jesika terkekeh rendah tanpa diketahui Alejandro yang sibuk berbicara dengan dokter yang menangani perawatan rinai.


"Bagus sekali rinai,mama benar-benar bangga atas bakat aktingmu! tidak sia-sia mama memasukan dirimu di sekolah seni peran!"


"Hehehe..dengan ini kita bisa melempar semua kesalahan pada iris! kebetulan sekali dia duduk disampingku, benar-benar tikus yang malang!"


"Rinai,bisa jelaskan semua ini pada papa?! bagaimana kau bisa hamil dan bagaimana kamu bisa sampai terlempar keluar dari mobil?" Alejandro berucap dengan manik memerah tajam.


"Huhuh....aku tidak jelas papa,hanya saja sepertinya iris tak sengaja membuka kunci pintu saat..hiks...saat kakak sepupu Likay berbelok tajam...hiks...papa jangan berfikir macam-macam ini bukan salah iris,mungkin dia juga tak sengaja menekan tombol seatbel a-"


Rinai terdiam,maniknya menegang dengan bibir gemetar.


Melirik Jesika yang nampak menampilkan ekspresi terkejut.


Alejandro terdiam,mematung mencerna ucapan rinai.


Terduduk dipinggir brangkar rinai,mengusap keningnya dengan wajah pias.


Alejandro jatuh dalam tekanan.


...----------------...


Hening menghias awan gelap yang menutupi sinar bulan.


Bayangan hitam melesat melewati lorong sepi nan sunyi.


Satu tujuan,kamar putri sulung Sanchez sekaligus cucu sulung perempuan Fujihara.


Sementara itu...


Disebuah halaman seorang pria nampak berdiri dengan sebuah senapan laras panjang yang bertengger di bahunya, melompat dan memanjat dengan mudah hingga sampai di dahan yang cukup kuat.


Sepi disekelilingnya,tidak nampak seorangpun terlihat dihalaman besar bergaya kuno itu.


Diatas sebuah dahan pohon,memindai.


Dengan mengunyah sebuah permen karet, Raylion terkekeh sembari teropongnya terus mengikuti jejak bayangan hitam yang sudah memasuki kediaman tua Fujihara.

__ADS_1


"Seorang pemimpin Lion King kini mengambil tugas bawahannya demi cinta....luar biasa sekali kau rubah kecilku...." nada suara jenaka namun sorot mata haus darah itu menguar menambah hawa dingin mencekam malam.


Kedatangan dua bayangan itu membawa aroma darah yang samar.


"Pembunuh yang sudah membunuh banyak orang ternyata...pantas saja aroma darah dari tubuh mereka, korban-korban itu terbawa oleh pembunuh itu...saudaraku,mau kubantu tidak?" Didahan lainya,sosok Helios nampak menyesap rokoknya dengan senyum main-main.Tidak tau sejak kapan pria itu sudah bertengger disana begitu saja, lagipula Raylion tidak perduli juga!.


"Bagaimana sudah kau lakukan apa yang kukatakan?"


Helios mendengus atas ekspresi dan ucapan saudara keduanya itu.


Beruntung dirinya mengikuti langkah raylion kemari,atau dia akan melewatkan tontonan menarik ini!.


"Ck..aku ini kakakmu, hormat sedikit seperti kau akan mati saja?." Sinis dokter tampan itu.


Raylion mendengus jijik,tanpa melirik Helios yang ikut duduk santai sembari dengan teropong X-ray ikut mengintai dua bayangan hitam yang sudah tiba didepan kamar latusya.


"Tidak...pergi !" Raylion mengusir kejam.


Helios ini jika berbicara benar-benar tidak sadar diri! hormat? memangnya dia sendiri pernah hormat pada orang lain? selain itu auranya sendiri sudah membawa aroma darah masih berani mengatai orang lain?!.


Mendengus dan Helios diam menonton dengan penuh minat.



Senapan berjenis fossile armamen 308 E.G.N.I.S ESR sudah mulai berada dalam posisi siapa tembak.


Sementara itu..


" Kau merasa hawa dingin yang aneh?" Seorang berpakaian hitam dengan tubuh semampai berucap pada sosok yang memiliki tubuh lebih besar.


Saat angin sepoi-sepoi berhembus,kedua pembunuh yang menyelinap memasuki kediaman tua Fujihara ini bergidik.


Aneh.....


Bukan hanya mereka mampu menerobos dengan mudah dikediaman seorang mantan jendral,namun suasana juga terlalu hening .


"Jangan berfikir terlalu jauh! bunuh saja cepat dan kita kembali!" Sosok yang memiliki tubuh semampai itu memgangguk atas ucapan sosok lainya.


Pintu terbuka.


Kedua masuk.


Berjalan tanpa menimbulkan suara.


"Benar-benar kecantikan yang mengandung racun....." Sosok pembunuh yang dari postur tubuhnya yang tinggi tegap berucap.


Menatap wajah cantik yang tertidur begitu pulas tanpa satupun noda kosmetik yang menghiasi wajahnya.


Sosok pembunuh dengan tubuh semampai mendengus.


"Kau disini untuk membantuku membunuh! bukan menjadi pengagum dadakan!" Miko,pembunuh yang dikirim Yamura berucap bengis.


Mengeluarkan belati dari balik pakaian.


"Tutup mulutnya jangan sampai dia berteriak!"


Miko tertawa kejam,belati itu terangkat tinggi.


Wushhhh...


Zlap!!!


"ARKK-"Pria pembunuh disamping Miko membekap mulut Miko yang berteriak keras kala sebuah peluru dengan ujung runcing menembus di pergelangan tangannya!.


"Siapa?! siapa yang menganggu kita?!" Miko meraung,menatap sekeliling kamar.


"Jangan perdulikan aku...kau bunuh gadis itu!!" Miko memberi perintah.

__ADS_1


Namun...


Detik berikutnya begitu selesai berucap.


Sosok hitam lain melesat masuk .


Duakhh...


Wushhhh...


Raylion memberi tendangan keras namun rupanya pembunuh itu cukup gesit.


Pria itu melompat ke sisi lain ruangan,memberi tatapan awas yang tajam.


Miko mematung.


Pria ini?!.


Pria yang menghinanya di kedai ramen!.


Raylion berdiri didepan ranjang latusya, mengeluarkan sebuah cambuk yang terbuat dari besi elastis.


Menatap kedua pembunuh yang mengincar gadisnya.


Darah dari lengan Miko mengucur mengotori lantai.


"Bagaimana gadis pel*cur itu masih bisa tidur?" Miko memaki,menatap waspada sosok raylion.


Crash..


Miko dan Pria pembunuh itu melompat jauh,menghindari tebasan cambuk dari raylion.


"Pergi dari sini....." Ucapan dengan sorot mata buas itu membuat Miko bergidik.


"Hahahaha.....tugas kami belum selesai,jika kau halangi maka mati saja!" Pria disamping Miko berucap dengan senyum bengis.


Akhirnya..


Helios diluar kamar,bersandar sembari menghitung jeritan yang mulai terdengar.


Cambuk raylion membelit leher pria pembunuh,cambuk itu dengan otomatis membelit semakin erat bagai tubuh seekor ular.


Sementara, tubuhnya yang kokoh bergerak mengincar Miko yang berusaha menikam latusya.


Brakhhh..


Tubuh Miko terhempas menghantam dinding.


Krakhhh...


Suara patahan tulang terdengar nyaring,leher itu patah dengan belitan cambuk yang seluruh bagiannya terdapat besi-besi kecil yang meruncing.


Miko,menatap tegang kala melihat bagaimana pria berwajah tampan itu membunuh tanpa berkedip .


Raylion menatap sosok Miko,wanita itu bangkit dan mulai mengeluarkan katana.


"Mati saja!!"


Raylion,menyeringai semakin dalam.


Menarik cambuknya.


"Hewan yang berbahaya harus dihabisi..."


Helios terkekeh dibalik pintu kamar yang terbuka setengah.


Obat bius yang menyebar di seluruh kediaman tua Fujihara akan bertahan hingga 12 jam.

__ADS_1


Sungguh baik bukan dirinya membantu tanpa disuruh?.


.....To be continue.....


__ADS_2