My Dear Beauty Peony

My Dear Beauty Peony
Dia dan masa lalunya


__ADS_3


Part sebelumnya..


 Latusya,membuka matanya.


Hal pertama yang dirinya lihat adalah dua sosok yang dirinya tau jelas siapa ,hingga tubuhnya terasa mulai gemetar.


Seorang gadis kecil berusia 10 tahun dan seorang pria muda berusia hampir 20 tahun.


"Hiks....kakak lukamu kembali berdarah...."


Latusya menutup mulutnya kala bibirnya mulai gemetar.


Itu...


Dirinya saat masih anak-anak!


Dan sosok Zen remaja!.


"Sttttt....jangan menangis adik,jika tuan Harold mendengar kita akan semakin dihukum!"


Zen remaja tersenyum lemah,menekan perutnya yang terus mengeluarkan darah.


"Hiks.. bagaimana bisa kak Drick menendang perut Kak Zen meski tau luka kakak belum sembuh?!" Latusya kecil menangis,gadis kecil itu berlari dan menuju kearah ranjang besi tua yang biasa dirinya gunakan untuk tidur.


Menarik sebuah kotak besi yang terlihat berisi berbagai macam obat penanganan luka sederhana.


dengan air mata,gadis kecil itu berlari menuju kamar mandi kecil di sudut dan meraih sebuah gayung berisi air bersih dan sebuah handuk kecil.


Latusya yang melihat sosoknya di masa lalu itu menangis dalam kebungkaman.


"Kak Zen...maafkan sia,alkohol dan pereda nyerinya sudah habis...hiks.... bagaimana ini?" Zen remaja mengatur nafasnya kala keringat dingin sudah mulai membasahi wajah dan tubuhnya.


"Ti..tidak...tidak apa sia,kakak tahan kamu berhenti menangis ya atau anak-anak yang lain akan mendengar dan melapor pada tuan Harold..." Zen remaja berusaha mengusap rambut adiknya,namun tubuhnya sudah sangat lemas.


Deg...


"KAKAK!!! HIKS....KAKAK!!" Sia kecil menjerit ketakutan kala Zen remaja telah menutup mata dengan tangan terkulai.


"Sttttt...sia....sia...." Sosok Kenzo kecil terlihat,membawa sebuah platik hitam dan masuk kekamar asrama yang sia tempati.


"Zo..hiks..kak Zen tidak membuka mata!"


Latusya terjatuh,menatap kedua anak kecil itu dan Zen remaja dengan nanar.


Duduk disudut ruangan sempit yang hanya berisi dua ranjang besi tua dan sebuah lemari kecil,ingin mendekat namun begitu mencoba meraih tubuhnya menembus!.


Latusya terhuyung dan berakhir duduk meringkuk dipojok kamar dingin nan remang itu.


"Sia...zo ada bawa alkohol dan obat bius! mari kita rawat kak Zen sama-sama!" Kenzo yang berusia 13 tahun itu berusaha bersama sia kecil membawa tubuh Zen menuju ranjang kecil mereka.


Setelah berhasil menempatkan tubuh mengenaskan penuh darah Zen remaja,kedua anak itu mulai bergerak.


Kenzo kecil menutup pintu,namun sebelum itu menatap lorong asrama para red cobra kecil dilatih.


Diujung,sosok gadis kecil lain memberi tanpa berupa lambaian tinggi kedua tangan.

__ADS_1


Winxs kecil kemudian berlari pergi kala Kenzo kecil telah melihat kode darinya.


Harold pergi,pria kejam itu telah meninggalkan asrama.


Kenzo kecil kembali masuk.


Melihat sia kecil yang sudah membukakan pakaian penuh darah zen remaja.


Latusya ingat jelas,luka diperut Zen remaja dulu berawal dari kegagalan misi dan Harold dengan kejam melempar remaja itu memasuki kandang beruang hitam yang sudah tidak diberi makan selama tiga hari!.


Demi mempertahankan diri,Zen mendapat luka gigitan menganga di area perut dan beruang itu yang akhirnya mati dengan tusukan pada matanya!.


Dan belum luka itu sembuh,harold dengan kejam menurunkan Zen yang masih terluka untuk sparing tanding dengan remaja lain yang berada di dalam asrama pelatihan hanya demi menggantikan sia untuk tidak melakukan misi,tentu saja karena saat itu dirinya tengah demam.


Latusya menatap kala tangan kecilnya yang penuh luka sayat bergetar menjahit luka diperut Zen remaja yang kembali mengangga akibat tendangan lawan tanding kakaknya itu.


Tubuh Zen remaja kejang hebat.


"Tidak...tidak....kakak!!!" Latusya meringkuk, berteriak hebat kala ingatan dan apa yang dirinya lihat saat ini benar-benar memberikan trauma parah!.


Tubuh Zen remaja yang kejang dengan busa putih keluar dari celah bibirnya.


Sia kecil yang menangis keras dan Kenzo kecil yang menutup kedua telinganya gemetar.


Apa yang bisa dilakukan anak-anak seperti mereka?.


Hanya dengan ilmu pengobatan dasar dan alat seadanya!.


 


Sosok yang tengah menerjang dinginnya air dan peluru-peluru yang datang bagai hantaman deras air hujan,tetap tenang berenang kearah sosok gadis yang perlahan tenggelam semakin dalam.


Hingga....


Zleph...


Darah marah menguar bercampur dengan air danau yang keruh.


Raylion, memicing tajam badai ganas tergambar dari maniknya yang dalam.


Greph....


Tubuh rapuh yang terasa dingin itu berhasil dirinya raih,menariknya mendekat dan meraih wajahnya yang cantik.


Cup.....


Menyalurkan sedikit oksigen pada sosok yang tetap menutup mata itu dengan penuh harapan.


Raylion,tidak tau jelas seberapa dalam danau ini.Sebelum bernafas menjadi semakin sulit dirinya hanya tidak ingin Tusya-nya sakit terlalu dalam!.


"Dear aku disini...disini untukmu,membawamu pulang...kita akan pulang my love...."


Meskipun memiliki daya tahan tubuh yang kuat,namun kini ada sosok gadisnya yang harus dirinya priorotaskan.


Bahu kiri yang terus mengeluarkan darah kala dinginnya air danau membuat lukanya terasa mulai menyakitkan.


Raylion menatap ke atas,berenang berlawanan arah sembari membawa tubuh latusya.

__ADS_1


Dada-nya mulai terasa sesak kala sulur-sulur tanaman air dan lumut tebal benar-benar menghambat.


Uhuk...


Deg....


Raylion menunduk,meraup bibir latusya yang tanpa sadar terbuka kala batuk akibat sesak di dada menghantam.


"Dear...sedikit lagi bertahan kumohon!"


Byurrrrr...


Keduanya segera keluar dari air..


Raylion dengan segala ketahanan tubuh dan nafasnya yang tersendat-sendat membawa tubuh latusya ke daratan.


Ini bukan apa-apa dibanding pelatihan keras keluarganya.


Namun,masalahnya adalah sosok rapuh penuh luka ini!.


Raylion perlahan duduk diatas tanah dengan daun-daun kering sebagai alas.


"Tusya..... bangun....ini bukan tempat dimana kamu bisa tidur dengan nyaman dear...bangun ya dan aku akan membawamu tidur di ranjang paling nyaman di dunia...kumohon jangan menyakitiku seperti ini.." Raylion berucap dengan senyum nanar.


Menepuk pipi pucat dengan kulit sedingin es itu.


"Simba....."


Deg...


Raylion menatap manik indah yang terbuka samar itu,lega terasa meski secercah.


"Ya...ya...i'm Simba the great Lion!" Raylion berucap cepat berusaha agar tetap membuat manik itu terbuka meski samar.


Senyum manis itu tertarik samar


"Kamu...kenapa setiap aku dalam keadaan bahaya,menyedihkan bahkan terluka...kamu selalu ada? Simba...jangan jatuh cinta padaku ..aku tidak pantas menerima,semua perhatianmu....."


Gadis rapuh dalam pelukannya itu berucap lirih,hampir tak terdengar jika saja pendengaran raylion tidak tajam.


Menggeleng ribut,raylion hanya mampu menghela nafas kala manik indah itu tertutup kembali.


" Baiklah...tidurlah dear nanti kamu harus bangun kembali!" Raylion menarik tubuh latusya semakin merapat,mengecup keningnya dan segera bangkit.



...( pemanis)...


Membawa tubuh latusya ala bridal kala suara tembakan demi tembakan mulai terdengar nyaring disertai dentingan benda tajam yang saling beradu.


Rupanya,para sahabatnya juga tertahan.


Apa boleh buat?.


Sebelum itu, sebaiknya membawa latusya ke rumah sakit adalah hal utama.


...To be continue...

__ADS_1


__ADS_2