My Dear Beauty Peony

My Dear Beauty Peony
carry on


__ADS_3

Burung nuri burung dara


Hai apa kabar semua?


Minta vote,like, komentar dan ulasan ya


Semangat awal dan have fun day


...✒️ Selamat membaca dan semangat ✒️...


...----------------...



...----------------...


...🥀...


...🥀...


Disisi lain...


Mustang hitam berhenti dengan decitan nyaring di depan sebuah rumah sakit dengan plang besar bertuliskan Roosevelt Hospital Center.


Helios,mendekat cepat dengan brangkar rawat yang telah didorong empat orang pria dengan seragam perawat.


Raylion keluar dari mobil,dan Helios tercengang.


Apakah selama mengemudi segila itu,hades ini memangku nona sulung Sanches?!.


"Apa yang kalian lihat?! cepat!!"


Raungan kejam penuh kepanikan itu sukses membangunkan semua tenaga medis yang menunggu.


"Baringkan di- "Helios melotot horor kala melihat punggung putih penuh darah itu.


"Lion, tengkurapkan saja..perlahan!" Helios memberi instruksi cepat.


"Lakukan apapun kak...buat Tusya-ku kembali sehat..." Helios tertegun,harga diri seorang Raylion setinggi langit dan setangguh Himalaya!.


Sampai matipun adik keduanya ini tidak akan pernah sudi memanggilnya kakak,tapi demi gadis ini.


"Pasti...." Helios mengangguk tegas,menepuk bahu adik keduanya itu,sampai.


"Kau terluka?!" Helios menggeleng miris,melihat wajah poker itu.


"Sebaiknya,rawat dulu lukamu..kau berbau seperti air danau dan jangan sampai infeksi!"


Raylion menatap kaca pintu ruang UGD dimana latusya kini hendak ditangani.


"Aku harus disini.. melihatnya..." mendengus jengah, Helios menatap dingin sosok raylion.


"Kau lihat dirimu! aku janji akan tangani nona sulung Sanches tapi kau harus menjaga dirimu juga...pergi bersihkan dirimu lalu tunggu aku di ruanganku!" Helios berbalik,ikut memasuki ruang UGD meninggalkan raylion berdiri seorang diri.

__ADS_1


Pria muda yang berdiri dipuncak Piramida ekonomi itu,yang selalu terlihat acuh kejam dan tidak kenal ampun.


Kini,terlihat kesepian dengan punggung rapuh hanya karena seorang gadis!.


...----------------...


"Ada-apa dengan matamu itu bibi?" Winxs bertanya dengan senyum polos,rinai melotot horor.


"Dasar kampungan! bagaimana bisa kau mengataiku bibi?! buta!" Vigo dan Winxs tertawa dengan keras,keduanya tak perduli wajah pias kedua penjaga dan wajah jengah Kenzo.


"Kau memang puft....terlihat seperti seorang bibi....apa salahnya?" Winxs berucap dengan polosnya,mendengus dan melotot jijik.


Rinai meraung.


"Penjaga,usir orang kampung ini dari sini!" Rinai berucap dengan nada tinggi.


"Tapi...tapi nona,mereka adalah kawan dari nona sulung,mereka datang mencari nona sulung, bagaimana jika nona sulung marah?" Pria penjaga yang lebih tua berucap penuh perhitungan.


"USIR SAJA,APA KALIAN TIDAK MAU MENDENGARKU LAGI?!!"


"Ada-apa ini ribut sekali?!"


Sosok paruh baya dengan aura tenang dan berwibawa nampak berjalan mendekati gerbang.


"Papa?!" Rinai bergidik melihat manik dingin menusuk Alejandro.


"Woah...hallo paman,masih ingat saya tidak?!" Winxs segera mendekat,menatap ayah latusya antusias.


Alejandro terdiam,nampak mengingat siapa gadis penuh keceriaan dan energi positif ini.


Winxs mengangguk ribut.


Sugar daddy-nya ternyata masih ingat pada dirinya!.


Winxs senang namun sebuah geplakan pada keningnya segera membuat senyum lebarnya luntur.


"Jangan mulai...genit itu jangan kau bawa ke rumah sia juga!"Kenzo berucap jengkel.


"Hallo tuan Sanchez,kami adalah kawan latusya dari Maroko..." Alejandro tertegun,dan senyum kebapakan segera terbit begitu tau anak-anak muda ini adalah teman-teman putrinya.


"Masuk...masuklah paman ingin berbicara banyak pada kalian tentang Latusya...jangan sungkan anggap rumah paman ini sebagai rumah kalian juga!" Alejandro meraih telapak tangan Kenzo dan menariknya samar memasuki pekarangan kediamannya.


Melihat keramahan ini,Vigo dan Winxs melempar senyum provokatif pada rinai yang menatap mereka bengis.


"Papa! papa bahkan tidak pernah menyapa teman-temanku,tapi kenapa orang-orang dusun ini papa bawa masuk dengan ramah?!!" Rinai meraih lengan Alejandro,berucap tak terima.


"Rinai...mereka teman-teman baik saudarimu,layak kamu berbicara seperti itu?" Tatapan dingin dan nada bicara sengit Alejandro sukses membuat rinai bungkam.


Melihat ayahnya membawa masuk ketiga orang asing itu,membuat rinai terbakar dengki.


"Kenapa...kenapa papa jadi berubah setelah anak kampung itu kembali?bahkan jal*ng itu tidak pulang semalaman papa tidak marah?! tapi jika aku pasti akan berbeda! tunggu saja..." Rinai berjalan masuk dengan senyum paksa.


Begitu masuk,hal pertama yang dirinya lihat.

__ADS_1


Sang ayah yang sibuk memerintah para pelayan menyiapkan berbagai cemilan dan teh seduh terbaik.


" Nah tuan Sanchez.... bagaimana Latusya,kami dengar dia tidak kembali sejak kemarin pagi?" Kenzo berucap membuka percakapan.


"Tentu saja...siapa yang tahu dia pergi kemana dan dengan siapa? mungkin saja dia pergi dengan seorang pria tidak jelas dan bersenang-senang hingga lupa waktu!" Rinai berucap dengan senyum jijik.


"RINAI!"Alejandro membentak seketika, bagaimana bisa putrinya itu memiliki pikiran buruk seperti ini?!.


"Buat apa papa berteriak pada rinai? seorang gadis yang tidak pulang sepanjang malam tanpa kabar,siapa yang akan berfikir baik tentang itu?!" Jesika berjalan turun dari tangga,mendekati suami juga putrinya dan menatap ketiga tamu tak diundang itu selidik.


"Siapa kalian?" Langsung dan tidak memiliki sedikitpun keramahan,Jesika menatap para tamunya dingin.


Sudah mendengar dari laporan marry, rasa jijik dan rendah segera hadir.


"Nyonya...jujur saja,kami kemari hanya mencari sahabat kami...setelah kami bertemu kami akan segera pergi...lagipula,sikap anda dan dia..." tunjuk Kenzo pada rinai.


"Kalian tinggal di kediaman yang begitu mewah,dilayani pelayan dan yang pasti hidup dilingkungan kelas atas...tapi sayang ..untuk menghormati tamu pun anda tidak mampu!"


Kenzo berucap dingin,pria tampan dengan kaca mata membingkai matanya tak menghadirkan sedikitpun emosi.


"Benar...apakah dengan uang anda bisa menganggap rendah orang lain? hanya karena penampilan kami,sayang sekali....harga dirimu pun bisa kami beli!" Kali ini,Vigo .


Pria muda dengan penampilan eksentrik itu berucap dengan senyum provokatif.


"APA KATAMU?! TIDAK TAU SO-"


"Mengapa anda berteriak? jangan tersinggung jika kau sendiri suka menyinggung orang lain....." Winxs berucap sembari berdiri dengan wajah meremehkan.


"Tuan Sanchez, sepertinya kami akan datang saja lain kali saat latusya ada ..kami permisi!" Kenzo berdiri,membungkuk sopan pada pria baya yang nampak menahan amarahnya itu.


Akhirnya,tanpa menyentuh suguhan tamu yang disediakan para pelayan Sanchez.


Kenzo,Vigo dan Winxs berlalu pergi.


PLAK.....!


"MAMA!!" Rinai menjerit kaget saat sebuah tamparan keras terdengar.


Jesika jatuh terduduk hingga dahinya menabrak pinggiran meja.


"Papa apa-apaan?!! kenapa menampar mama?!" Rinai membantu Jesika duduk di sofa,berbalik menatap wajah murka ayahnya.


"Masih berani bicara?!! karena kalian berdua,aku tidak bisa lebih dekat dengan sia melalui teman-temannya! tidak bisakah kalian berdua menjadi manusia yang benar?! bagaimana bisa kalian menghina tamu seperti itu?!! " Alejandro meraung,hingga para penjaga dan pelayan segera menunduk takut.


"Papa! harusnya papa itu marah pada putri dusun papa itu,dia pasti menghilang karena tidak bisa membuktikan janjinya dalam dua hari itu! lihat ini sudah hari kedua dan dia menghilang,dia pasti takut pada keluarga Imanuel... dan papa harus terima iris...dia harus bertanggung jawab atas keguguran-ku!!!" Rinai berucap dengan emosi.


Pelik, Alejandro menutup mata dengan kedua tangan terkepal.


Kemana putri sulungnya pergi?.


Mengapa candrik belum juga memberi kabar?.


Bagaimana nasib putri bungsunya,iris?.

__ADS_1


...To be continue...


__ADS_2