
Bagaimana semuanya,sehat? terima kasih ya yang sudah baik sekali terus memberi jejak disini.El tau mungkin ada yang merasa novel ini kurang bagus atau bahkan tidak menarik.
Karena,yang vote ini tidak sebanding dengan yang baca.Buat yang selalu tinggalkan jejak El berterimakasih sekali,kalian reader terbaik sumber inspirasi bagi El.
Buat yang punya saran atau kritikan bisa komentar ya El tunggu ♥️.
...✒️ Happy reading and keep spirit ✒️...
...----------------...
Part sebelumnya...
" Bel...kamu jangan nekat! bagaimana jika gadis desa itu melawan balik?"
"Sudahlah Dorothy! jika rinai tidak bisa membantu aku membalas dendam,setidaknya dengan memberi pelajaran manusia jelek itu sudah bisa membuatku sedikit puas!"
Sebuah mobil sedan hitam,berjalan perlahan mengikuti sosok iris dengan dua orang wanita yang berada didalamnya.
Isabela dan Dorothy.
"Jangan sekarang bela! kita tunggu beberapa hari lagi...cari tempat sepi agar kita bisa mengurusi iris,biarkan pelac*r Latusya itu tau akibat membuat kita tidak senang!"
Dorothy berucap dengan senyum bengis diwajahnya yang terhias eyes shadow dan lipstik smokey.
Isabel terdiam,menimbang saran dari temannya itu.
Keduanya tersenyum culas dan segera,mobil itu melewati iris dengan sedikit menyerempet gadis malang itu hingga terjatuh.
...----------------...
Sementara itu....
Tokyo,Jepang.
Pukul 16.00 waktu setempat.
Seorang pria tua,berbaring dengan wajah sayu.Jarum infus tertancap disisi kiri tangannya.
Manik redupnya nampak tersenyum meski dengan sangat samar.
"Ayah....ayah pasti segera sehat kembali...bukankah ayah ingin bertemu dengan cucu ayah lagi? ayah seorang jendral dimasa muda...bahkan meski usia ayah tidak lagi muda,ayah tetaplah pribadi yang kuat! ayah....putri Luna sudah kembali ayah....ayah harus pergi ke Spanyol kita jemput cucu ayah itu...."
Sosok pria paruh baya,dengan janggut tipis menggenggam telapak tangan yang kini terasa benar-benar kurus, tulang dan kulit menempel dengan sedikit daging yang tersisa.
Wanglei,kakak sulung mendiang Aluna menatap ayahnya nanar.
Klik....
Pintu ruang rawat pribadi di kediaman tua Fujihara terbuka perlahan.
"Kak...." sosok lain,mendekat dengan wajah memerah dengan air mata yang mengalir deras.
Wanglei menoleh,mendapati adik serta keponakannya telah tiba.
Keduanya mendekat,memeluk saling menguatkan.
"Apakah ayah......?" Xingbei berucap dengan nanar,maniknya memerah dengan suara bergetar pilu.
__ADS_1
"Tidak...tidak adik....ayah kita adalah jendral yang kuat dia akan bertahan! bukankah menurut informan kita...sudah kembali?" suara bergetar Wanglei penuh sanggahan.
Pukh...
Tepukan bahu mendarat di bahu rapuh mantan jendral angkatan laut itu.
Likay,putra dari Xingbei menatap sang paman getir.
"Sudah paman...kakek ingin istirahat...biarkan dia pergi..."
Benar,tuan tua Fujihara sudah lama berada dalam keadaan sakit hingga tiga tahun yang lalu jatuh dalam keadaan koma.
Dan hari ini,pria tua itu membuka mata namun tak bergerak.
Tanda-tanda vital-nya perlahan menunjukkan penurunan tajam.
Wanglei mengigit bibirnya kuat hingga memucat.
Klik...
Seorang pria seusia likay perlahan masuk.
"Ayah....tim dokter meminta ayah dan paman menemui mereka di ruang tamu" Suara pria muda berdarah campuran Jepang dan China itu terdengar lemah.
Wanglei mengangguk,berbalik mengecup kening ayahnya sebelum keluar bersama Xingbei.
"Jaga kakek kalian..." Xingbei menepuk bahu likay dan sang keponakan,putra Wanglei.
Louhan Fujihara.
Pria yang berprofesi sebagai seorang pilot muda itu mengangguk samar.
Keduanya duduk disebuah set kursi besi di dekat jendela balkon.
"Kau sudah mengetahuinya?" Likay bertanya tanpa menatap saudara sepupunya.
Louhan menoleh tanpa ekspresi.
"Adik kita sangat cantik...dia juga manis dan pemberani,dia tegas dan tidak mudah diintimidasi!"
Likay tersenyum lembut.
Namun senyumnya luruh begitu menatap kearah sang kakek.
"Kakek tidak punya waktu lagi....dan paman Alejandro baru saja membawa kembali Latusya...adik kita.....apakah masih sempat?" Kegetiran terasa pahit saat likay menatap wajah sang kakek.
Pucat,tak ada rona lagi disana.
Nafas itu begitu lemah dan mata itu telah kembali tertutup.
"Kakek......." Likay berdiri dengan sentakan keras kursi yang langsung terjatuh akibat gerakan tiba-tiba pria itu.
Louhan bergerak cepat,kedua pria muda cucu Fujihara itu berlari menuju ranjang pesakitan.
"KAKEK!! AYAH...AYAH....!!" Likay berteriak getir kala mesin elektrokardiogram disisi ranjang sang kakek berbunyi nyaring.
__ADS_1
Louhan terjatuh meluruh,diantas lantai yang dingin pria tampan itu menangis .
Menutup wajahnya,louhan membiarkan likay berlari keluar mencari ayah juga pamannya.
Akhirnya,sosok Fujihara tua hingga akhir hayatnya tak juga dapat melihat sosok cucu perempuan sulungnya,putri dari sosok Aluna.
Sore itu,awan mendung menenggelamkan seluruh kediaman tua Fujihara.
Pria tua itu tiada,menyusul istri,menantu juga putrinya.
...----------------...
Brukhhh....
Alejandro terjatuh,terduduk lemah diantas kursi kerjanya.
Andromeda menunduk penuh bela sungkawa.
Baru saja,pukul 7 malam berita duka dari negara Jepang sampai.
"Batalkan pesta penyambutan Latusya, Andromeda siapkan tiket pesawat.Aku akan bawa semuanya ke Jepang biarkan Latusya melihat sosok kakeknya untuk yang pertama dan terakhir kalinya..." Alejandro berucap lirih.
Tidak ada rasa benci untuk sosok tuan besar Fujihara itu,meski dimasa lalu.Pria tua itu selalu menghina dan menyalahkan atas kehidupan iris,Aluna istrinya bahkan Latusya putrinya yang hilang 20 silam.
Meski kini putrinya telah ia bawa kembali,namun bagi tuan tua itu.Semua sudah terlambat!.
Andromeda mengangguk,berbalik pergi dengan cepat untuk menjalankan perintah sang atasan.
Alejandro menatap foto mendiang Aluna ,foto berbingkai putih yang ia simpan begitu dalam di laci nakas meja kerjanya.
"Aluna..maafkan aku....jika saja aku tidak begitu buta dimasa lalu,jika saja aku tidak salah paham padamu....Aluna aku janji akan menjaga putri kita....Latusya...iris....maafkan papa, nak..." Alejandro menangis lirih.
Meraih sebuah map,sebuah surat wasiat yang diri tulis sejak lama.
Dirinya pastikan, anak-anaknya akan hidup berkecukupan meski kelak dirinya juga pasti akan pergi menyusul sang istri.
...----------------...
Latusya menatap langit,malam ini terasa begitu dingin hingga bintang dan bulan-pun tak menampakkan diri.
"Nona...untuk masalah yang adik anda alami.. sebaiknya bawa beberapa sampel kosmetik yang nona iris selalu gunakan...akan baik jika kita tau kandungan apa yang terdapat didalamnya hingga menyebabkan kerusakan separah ini pada wajahnya"
Latusya tersentak kala mengingat ucapan seorang dokter spesialis kulit yang ia datangi bersama iris sore hari tadi.
Berbalik, menggunakan jubah piyamanya.
Latusya harus bergegas agar bisa menyembuhkan radang yang terjadi pada kulit wajah adiknya.
Namun,begitu membuka pintu.
Wajah candrik terlihat sendu dan iris yang berdiri dengan air mata berderai..
"Kakak....kakek....hiks....."
Deg...
Dan tidak tau bagaimana, jantungnya seketika berdegup kencang atas perasaan cemas atas ucapan iris.
__ADS_1
Kakek?.
.....To be continued.....