My Dear Beauty Peony

My Dear Beauty Peony
Not same


__ADS_3

Cari cuan...cari cuan....hidup susah matipun susah...


Sudahlah mari merapat 🥀


...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya...


...Vote, like, komentar dan ulasan 🌹...



...----------------...


Kediaman tua Fujihara,Tokyo Jepang.



Latusya keluar dari kamarnya,merasa mulai risih kala para pekerja maupun penjaga kediaman tua Fujihara ini terus menatapnya dengan manik berbinar-binar.


"Wah...nona muda ini sangat cantik dengan kimono tradisional negara kita!"


"Ya.....kulitnya bahkan lebih cerah dibanding gadis-gadis Jepang modern...dia seperti kecantikan tradisional gadis bangsawan kuno!"


" Tapi kudengar dia besar di sebuah desa nelayan! bukankah gadis-gadis yang besar didesa semuanya berkulit gelap dan kasar?"


" Apalagi dia itu berasal dari desa nelayan sebelum dibawa tuan besar Sanchez!"


"Sttt.......tapi jika bandingkan dengan nona muda Yui dari keluarga cabang ke dua,menurut kalian siapa yang lebih cantik?"


" Menurutku nona Sanchez ini lebih cantik! kecantikan bagaikan kecantikan yang berasal dari lukisan cat minyak! sangat murni....."


Latusya berjalan dengan tenang,mengernyit kala mendengar sebuah nama yang para pelayan itu bandingkan dengan namanya.


"Yui...siapa dia? bagaimana mereka bisa bandingkan dirimu dengan orang yang bahkan tidak kita kenal?" Latusya menghela nafas kala sosok rinai tiba-tiba sudah berjalan disisinya dengan senyum lembut dan kimono merah mencolok.


Rinai tersenyum pongkah melihat bagaimana tatapan latusya begitu intens padanya.


"Si udik ini pasti iri melihat betapa cantik dan indah kimono yang kupakai!" Rinai benar-benar tak mengetahui,latusya menatap wanita itu karena merasa geli.


Kimono merah terang dengan corak bunga yang begitu ramai.Belum lagi,make up mencolok yang benar-benar menutupi kulit pucat wanita itu.


Benar-benar mirip wanita Geisha!


Menghela nafas,latusya merasa kasihan akan beban kulit rinai.


Tapi,bodoh tetaplah bodoh!.


Namun begitu meneliti kimono yang dipakai latusya,rinai tersentak dan rasa marah mendera.


"Ini adalah kimono model terbaru yang harganya bahkan setara sebuah tas channel! apa-apaan Fujihara ini benar-benar tidak adil!"


Rinai membatin sembari meraih lengan kimono latusya.


Latusya mengernyit dalam,menyentak tangan rinai dari lengannya.


" Saudari.....siapa yang memberimu kimono ini? sangat cantik,mengapa berbeda ya dari bahan kimono milikku? bahan kimono ku tidak sehalus milik saudari..." Rinai tersenyum sendu,namun tak lama wajahnya kembali ceria.


Menatap iri pada sosok latusya.



Benar-benar sangat cantik!.


Warna lembut dari kimono yang dikenakan gadis itu sukses mempercantik penampilan sederhana yang dirinya tampilkan.


Rinai menatap kembali kimono yang dirinya kenakan.


Rasanya,kimono merah ini sudah tak lagi sedap dipandang mata!.

__ADS_1



Sudah berdandan bahkan sejak matahari belum terbit,hanya untuk bisa membuat semua pria terkesan.Namun kenapa rasanya,semua hanya membuat dirinya nampak bodoh?!.


"Se..selamat pagi kakak sulung...kak rinai..." Keduanya segera menoleh kesamping,sosok iris mendekat dengan kimono berwarna ungu lembut.


"Puft....iris?" Rinai dengan menahan tawa,tawa menghina tepatnya.


Menatap sosok iris jijik.


"Kenapa kau tertawa?" Latusya dengan ekspresi dingin menatap rinai tajam,rinai dengan senyum polos menatap balik kedua kakak beradik itu.


"Maaf saudari,aku bukanya tertawa..hanya saja,iris...kimono cantik ini benar-benar tak layak kau pakai! wajahmu itu....." Dengan wajah tak enak,rinai menunjuk kimono yang dikenakan iris.


Gadis remaja itu menunduk sendu.



Ini adalah kimono yang diantarkan langsung oleh kakak sepupu sulung,louhan.


Benar,ini adalah kimono yang louhan pesan sepasang dengan kimono milik latusya.


Memang benar, pakaian tradisional ini sangatlah cantik.Namun itu jika hanya digunakan oleh kakak perempuannya, latusya.Namun jika dirinya yang pakai.


Terbukti, dirinya tidaklah layak!.


"Iris....semua perempuan terlahir cantik,inner beauty mereka lebih penting dari pada penampilan luar yang bisa menipu! percaya...kamu cantik,siapa dan bagaimana orang lain melihat itu semua tergantung pada hati mereka!" Latusya meraih telapak tangan sang adik.


Namun...


Iris menepisnya.


Rinai menyeringai dan menonton dalam kegembiraan.


"Kakak tau apa?! kakak bisa katakan itu karena kakak memiliki wajah sempurna,tubuh ideal dan juga.Semua orang memang suka pada kakak! aku...mereka tidak akan baik padaku jika bukan karena kakak! papa....mama...bahkan kak candrik yang dulu jarang pulang akhirnya memutuskan tinggal hanya setelah kakak kembali!! inner beauty,omong kosong!!" Iris berbalik,berlari pergi dengan air mata menetes.


Iris.....


"Kau tidak tau apapun tentang diriku iris, kau adikku....aku akan melakukan apapun dimasa depan untuk membuatmu bahagia,namun masa laluku...bahkan lebih berat darimu dan aku tidak mengeluh! kau tidak pernah dewasa meski dengan semua yang telah terjadi!"


Latusya membatin,hanya tuhan yang tau betapa marah dirinya mendengar ucapan iris yang seakan memojokkan dirinya.


Namun apa daya,gadis itu belum memiliki fikiran dewasa dan stabil.


"Sudahlah saudari...iris memang seperti itu,dia kekanakan dan suka sesuka hatinya.." Rinai berucap sembari memeluk bahu latusya dengan senyum lembut.


Senyum culas yang tersembunyi .


"Jauhkan tanganmu dariku!" Latusya menatap tajam,rinai bergidik sebelum menarik tangannya dan menatap dalam diam saat latusya telah melangkah pergi menuju ruang makan.


"Heh...akan kuhancurkan hubungan kalian berdua! iris...kau adalah alat rusak yang masih berguna!"


Tertawa kejam,rinai bahagia ternyata menjadi jahat itu menyenangkan!.


...----------------...


"Kenapa para gadis itu belum juga turun? aku mulai lapar...." Raimba berucap dengan tubuh lunglai.


Sungguh,mereka sudah duduk selama hampir satu jam lamanya.Namun para gadis itu belum juga turun!.


Raimba yang memang telah hidup dalam jam yang selalu stabil baik makan,bekerja maupun bersantai merasa frustasi.


"Ayah....kau tidak akan berubah kurus hanya dengan sedikit menunggu..." Helios menatap ayahnya jijik.


" Maaf paman,sudah membuat kalian menunggu!" Rinai dengan senyum ceria berjalan masuk,diikuti latusya dan iris dari belakang.


Deg....

__ADS_1


Raylion terdiam mematung,maniknya bergetar melihat sosok cantik berbalut pakaian tradisional itu.


Helios mendengus,sepupunya sudah gila!.


Merasakan aura yang tidak enak dari dua sosok putrinya, Alejandro berdiri.


"Nak...ada-apa?" Alejandro menatap latusya,bertanya pada putri sulungnya itu.


"Tidak ayah...semua baik!" Latusya tersenyum samar,maniknya melirik meja makan dengan tatami berhias sebuah bantalan busa sebagai alas duduk.


"Ayah...dimana aku harus duduk!"


Greph....


"Eh? kamu... lepaskan!" Latusya tersentak saat sebuah telapak tangan besar sedikit kasar meraih telapak tangannya.


"Duduk disini!"


"Hei!!" Pekik Likay,Louhan dan candrik secara bersamaan saat raylion sudah mendudukan latusya disamping pria itu.


Mengendik bahu acuh,raylion tersenyum geli melihat wajah jengkel gadisnya.


"Sudah hentikan kalian bertiga,sadar usia! sekarang semua sudah duduk dan mari mulai sarapannya!" Wanglei berucap lelah,sebagai kepala keluarga setelah sang ayah wafat.


Wanglei akhirnya merasakan lelahnya mengatur generasi muda!.


"Paman...mengapa kami harus memakai kimono pagi ini?" Dengan senyum cerah,rinai memulai percakapan.


"Apa kau tau...bicara saat makan itu tidak sopan?! Jepang dan Spanyol berbeda,jangan kau bawa kebiasaanmu disini!" Hardik xingbei pada putri Jesika itu.


Rinai menggigil,merapat pada sang ibu dengan wajah menahan tangisnya.


"Sialan orang tua ini membuatku terkejut!" Batin wanita muda itu geram.


"Hari ini ada festival,setelah makan akan paman beritahu" Wanglei tersenyum pada latusya dan iris.


Namun senyuman pudar kala melihat wajah iris yang...


Rezef,yang pertama selesai akhirnya pamit untuk beristirahat bersama kedua putranya meninggalkan kedua cucunya


" Nani ka mondai ga hassei shimashita ?"


Begitu peralatan makan diletakkan,dan tertua Roosevelt telah beranjak,suara dingin wanglei terdengar.


Hening....


Raylion menatap dingin sosok iris.


 Pria tampan itu sudah mendengar semuanya melalui sebuah earphone disisi telinganya.


Dimana sebuah alat perekam kecil yang dirinya letakan disepanjang koridor kamar gadisnya.


Jangan salahkan dirinya,karena raylion hanya selalu merasa frustasi jika tidak mendengar suara gadisnya bahkan hanya untuk sehari saja!.


Entah bagaimana, intuisinya sebagai pemimpin Lion King bergejolak atas itu.


" Nona muda Sanchez, kehidupan masing-masing orang punya takdir yang berbeda.Tergantung bagaimana kau menyingkapi dan bersyukur untuk itu....jalan hidup bisa berubah,namun kemana arah angin membawa.Itu semua tergantung apakah hatimu akan tetap bersih atau tinta hitam akan tumpah dan mengotorinya!"


Raylion berucap dengan wajah dingin,begitu suara rendah penuh makna itu jatuh,semua mata akhirnya beralih pada tiga gadis Sanchez itu.


Helios menyeringai,adik keduanya ini selama hampir 30 tahun tidak pernah perduli akan urusan orang lain,namun hari ini.Untuk pertama kali,pria berhati batu itu mau berucap begitu panjang.


Dan itu semua hanya untuk sosok Latusya,hanya agar jalan hidup gadis itu tetap lurus.


Menjaga agar tidak ada lagi hama yang bertambah!.


.......To be continue......

__ADS_1


__ADS_2