
...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya...
...Vote,like, komentar dan ulasan 🌹...
...🎠Selamat membaca dan selamat berpetualang imajinasi ðŸŽ...
...----------------...
...----------------...
Hiruk pikuk kebisingan terdengar di mansion besar Sanchez.
Tepatnya,area dapur mansion kini terdengar bising oleh instruksi sang nyonya.Jesika Sanchez.
"Koki Wang....tolong masukan lebih banyak seafood kedalamnya,marry...buat beberapa omelette dengan potongan udang dan jus buah"
"Baik nyonya...!"
Jesika tersenyum miring,melihat seluruh masakan yang hampir siap diatas pantry sebelum para pelayan membawa semuanya ke meja makan.
Sementara itu...
Aroma hujan yang mengguyur semalam membawa hawa kesejukan dengan suara kicauan burung dan sinar hangat mentari pagi.
Latusya berdiri diatas balkon kamarnya,menatap lurus pada jendela dapur yang terlihat dari jendela kamarnya.
Wajah cantik itu tersirat dalam,tak memiliki satupun jejek emosi akan ikatan keluarga pada sosok yang mereka sebut sebagai ibu tirinya.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu terdengar,gadis cantik itu melangkah menuju pintu dan membukanya.
"Selamat pagi saudari...mari turun makan,mama sudah memasak begitu banyak untuk menyambut dirimu " Rinai,wanita muda itu berdiri didepan pintu kamar Latusya dengan senyum lembut.
Suaranya terdengar manis dan penuh kasih sayang.
Latusya menatap tanpa minat, bersidekap dada dan terus menatap sosok rinai lamat.
Rinai,bergidik canggung.
"Ha..hahaha...kenapa saudari menatapku seperti itu? apa ada yang salah dengan wajahku?" Tertawa canggung,rinai memaki didalam hati atas tatapan dingin itu .
Menyeringai,senyum main-main yang untuk para pria akan terlihat bagai racun yang membakar jiwa imajinasi panas mereka.
" Hm...wajahmu...alismu,tidak simetris...hidungmu terlalu tinggi...dan itu sedikit miring ke kiri....apa kau menyuntik bibirmu? terlalu tebal untuk ukuran seorang wanita berusia 21 tahun....dagumu,terlalu lancip...berapa total biaya operasi plastik yang nampaknya sedikit gagal ini?"
Hening.......
Rinai berdiri terpaku, tercengang dengan wajah terkejut horor.
Menyentuh wajahnya dengan ketakutan.
Sementara,Latusya berdiri malas dengan ekspresi puas.
"Ha...haha...saudari,bicara apa kamu? I...ini adalah wajahku,ini asli tanpa operasi da-"
__ADS_1
" Dengar...terserah kau mau bagaimana,tapi...percaya padaku.Sebaiknya pergilah ke klinik kecantikan dan lihat bagaimana wajahmu terlihat aneh!" Dengan senyum samar,Latusya melangkah pergi melewati tubuh kaku rinai.
Begitu hampir mencapai tangga, bersembunyi di balik pilar.
Tawa itu pecah.
"Hahahaha.....sungguh demi ****** ***** batman milik Ethan,wajahnya sangat konyol!" Latusya tertawa bahkan sampai tak menyadari wajah kaget candrik dan iris.
Tentu saja,hal yang luar biasa selama hampir seminggu tinggal seatap .
Baru kali ini mereka melihat bagaimana indahnya tawa lepas sosok putri sulung Sanches itu.
Wajahnya yang biasa tergambar malas dengan sikap acuh tak acuh kini pecah dengan tawa penuh kepuasan.
Indahnya membuat hati siapapun melayang.
Keduanya masih terpaku hingga sosok itu menghilang,tepatnya telah pergi menuju ruang makan.
Latusya berjalan memasuki ruang makan,disana sudah ada sosok Alejandro duduk dikursi utama dengan sisi kiri terlihat jelas Jesika sibuk mengambilkan makanan untuk suaminya itu,meski Alejandro terlihat acuh dan sibuk dengan ponselnya.
"Selamat pagi sayang...tidurmu nyenyak? mama hari ini masuk spesial untuk kamu jangan sungkan ya kalau ada yang kurang.." Jesika bergerak cepat meraih lengan Latusya dan membawanya duduk di sisi kanan Alejandro.
Alejandro sendiri meletakkan ponselnya dan tersenyum lembut pada sosok putrinya.
Latusya,benar.
Pria itu memutuskan berubah menjadi lebih baik,memberi meski sedikit perhatian untuk anak-anaknya.
"Selamat pagi nak..." Alejandro menyapa hangat,Latusya mengangguk samar tanpa perubahan ekspresi wajah.
Menyentak tangan Jesika yang semakin erat mencengkram lengannya begitu ucapan Alejandro terdengar.
Air matanya jatuh dengan wajah sendu.
"Maafkan mama jika kamu tidak nyaman..." Jesika berlalu dengan senyum nanar,dibalik itu senyum sinis tersemat kala melihat tatapan para pekerja yang terlihat memandang anak tirinya itu dengan kening mengeryit dalam.
Rinai turun tak lama dengan wajah mendung,menatap sosok santai Latusya penuh dendam.
Dibelakangnya turun candrik dan iris .
" Duduk dan makan" Alejandro berucap dengan senyum penuh kesabaran.
Iris menegang,dan candrik berdecih sinis.
"Jesika biarkan iris duduk dikursi milikmu,kamu bisa duduk disisinya dan rinai pindah duduk disamping candrik"
Hening...
Semua orang merasa pendengaran mereka salah!.
Apa ini? apa kepala keluarga Sanchez ini mulai memperhatikan iris? putri tak berguna itu?.
Alejandro mulai menampakkan wajah gelap kala tak ada pergerakan sama sekali.
"Apa aku harus mengulang kata-kataku?!" Menyentak geram dan Jesika segera bangkit dengan pias.
Kini, Alejandro disisi kiri duduk iris dan kanan ditempati Latusya.Candrik duduk disamping Latusya dan disebrang meja disisi iris ada Jesika dan rinai di kursi ujung.
__ADS_1
Semua mulai makan dengan tenang,tenang namun didalam hati setiap orang terpatri perasaan campur aduk kala melihat perubahan sang kepala keluarga.
Terkecuali iris,gadis itu menatap meja makan dengan wajah pias.
"Paman Tyson..bolehkan aku meminta nasi goreng dengan ayam saja?" iris berucap hati-hati sembari melirik ekspresi ayahnya.
Alejandro terkenal akan sikapnya begitu menghargai makanan.
"Iris! kamu apa-apaan coba?! mama masak dari pagi buta hanya untuk kita,dan kamu justru meminta makanan lain pada butler Tyson? tidak menghargai sekali kamu ini!"
Prank....
Alejandro menghempas sendok dan garpunya.
"Tyson...beri apa yang iris minta!" Alejandro menatap putri bungsunya dengan biasa,tak ada emosi berlebih.
"Pa..papa! tapi lihatlah semua makanan berkualitas ini,ba-"
" Apa kau tau iris alergi seafood? apa kau ingin adikku masuk rumah sakit lagi?" Candrik memotong bengis,menatap Jesika dengan ganas.Tak menggubris ujaran rinai.
Alejandro terdiam,semakin menatap lamat wajah putri bungsunya,ada penyesalan disana.
"Maaf....seh-"
"Untuk apa minta maaf iris?! kau hidup disini selama 18 tahun dan dia bahkan tak tau kau alergi seafood? tidak bisa dipercaya?" Latusya tertawa main-main,menatap wajah pucat pasi Jesika dan putrinya .
Kembali makan dengan tenang,Latusya tidak perduli akan reaksi pasangan ibu dan anak itu lagi, apapun selama itu tidak mengganggunya.
"Kak Latusya,apakah pagi ini kakak jadi membawaku keluar?" Begitu sendok dan garpu telah diletakkan kembali kala sarapan telah berakhir.
Iris membuka mulutnya hati-hati.
Latusya dengan anggun menyeka bibirnya dengan tisue ,menatap wajah cemas adiknya.
"Kalian ingin keluar?! bolehkan aku ikut?" dengan antusias,rinai bertanya melupakan semua yang terjadi seakan tak ada apapun.
"Tidak..." Senyum lembutnya luntur kala mendapat balasan telak sosok Latusya.
" Iris..kita saudari,bisakah kita pergi bertiga?" Tak bisa membujuk Latusya,rinai menatap iris dengan melas.
Gadis itu menatap wajah tenang kakak sulungnya,Latusya tak menunjukkan reaksi apapun.Namun sorot dingin itu sukses membuatnya sadar.
Latusya tidak ingin dibantah!.
"Ma..maaf kak Rinai,kak Latusya berkata tidak jadi aku tidak bisa membantah,selain itu ini juga rencana kak Latusya jadi aku minta maaf..." Menatap rinai takut,iris tau senyum kakak keduanya ini tidak tulus.
"Jangan jadi tidak tau malu...kau tidak diajak!" Candrik berdiri,meraih tas medis miliknya mengeluarkan sebuah credits card dan memberikannya pada Latusya.
"Adik,ini jika kalian berniat berbelanja pakai saja kartu kakak!" Senyum pria muda itu nampak antusias.
Hingga...
"Pakai punya papa!"
Hening.......
.....TBC.....
__ADS_1
Sepi.....