My Dear Beauty Peony

My Dear Beauty Peony
Kepingan


__ADS_3

Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya 💃


Jejak kalian bagai oasis di pandang pasir🤸


Mau jungkir balik rasanya kalau ada yang vote apalagi komen sepanjang jalan kenangan 💃


Maafkan El ya jadi stand up komedi disini🤸


...☘️ Selamat pagi dan mari membaca ☘️...



...----------------...


Memandang area taman dari sisi balkon,tidak tau kapan bisa kembali lagi ketempat ini?.


Jepang......


Rumah kelahiran ibunya, seperti apa jika saat ini sosok itu masih ada?.


Berbalik,menatap setiap sudut kamar yang dirinya sudah tempati selama satu minggu lamanya,latusya menghela nafas panjang dengan ekspresi yang kembali kosong tanpa satupun emosi terkait.


"Kak Zen,sudah aku katakan padamu dulu sebelum kau memintaku untuk bersama keluargaku.Hubungan darah itu rumit..dan aku tidak suka dengan semua permasalah ini!"


Latusya berucap dengan kedua tangan yang mencengkram pembatas balkon kamarnya.


"Sia....semua butus proses adik,kalian baru saja bertemu emosi kalian belum tergali begitu dalam jadi,wajar jika ada beberapa konflik" Pria yang berdiri disisi lain balkon,bersandar pada dinding sembari bersidekap dada.


Jemarinya menjebit sebuah rokok.Menatap latusya dengan senyum tabah.


Benar,Zen De'Scorpion.


Pemimpin Red cobra sekaligus kakak angkat latusya.


"Huft...kenapa kakak kemari?" latusya menghela nafas malas.


Zen,tertawa geli melihat ekspresi sang adik.


Tidak berubah!.


Namun tak lama ekspresi pria berusia 30 tahun itu berubah gelap.


" Ini berhubungan dengan misi terakhirmu beberapa waktu yang lalu!" Zen,menghisap rokoknya dan menghembuskan asap yang berbentuk lingkaran cincin putih di udara.


Latusya masih menunggu.


"Seseorang membunuh Don Bosco beserta seluruh penopang dibalik pria itu! namun...ada seseorang yang berada terlalu dalam yang tidak tersentuh oleh para pembunuh itu...sekarang jejak kita terpecah,orang itu...kini memburu organisasi..." Zen berucap dengan senyum miring,namun latusya merasa masalah kali ini sangat berat.


"Maka dari itu kakak kini ada di Jepang,bersama kembar Ethan dan Nathan untuk mencari tau...siapa orang itu?"


Zen membuang rokoknya,menekan benda itu pada sebuah pot bunga hias di sisi balkon.


"Kak....." Latusya memanggil penuh penyesalan.

__ADS_1


Andai dirinya dan kelompoknya berhasil tanpa meninggalkan jejak,mungkin seseorang itu tak turun menghabisi Don Bosco beserta orang-orangnya dan seseorang lagi yang kini cukup berbahaya yang tengah memburu mereka.


Dua kubu besar yang berbahaya,satu musuh dan satu lagi belum jelas menuju sisi positif atau negatif?.


"Tidak masalah... kakak akan berusaha semaksimal mungkin agar kehidupan adik kakak ini tidak akan terganggu oleh masalah organisasi..." Zen mengusap pucuk kepala latusya,sungguh dirinya amat sangat menyayangi gadis kecil yang dulu selalu mengobati lukanya meski gadis itu juga terluka.


Mereka tumbuh bersama meski usia keduanya sangat jauh berbeda.


Ditempat yang layaknya neraka,keduanya saling menjaga dan merawat satu sama lain.


Latusya tergugu,manik indah itu perlahan terasa panas dan akhirnya.


Pelupuk manik seindah bening embun itu meneteskan air mata panas yang membakar hati.


Zen meraih tubuh sang adik,memeluknya erat.


"Maaf...maafkan Sia kak...sia belum cukup kuat ternyata...kami lemah....kami belum bisa menjadi tembok besar untuk kakak dalam menahan badai....maaf...maaf...." Latusya berucap dengan getir.


Zen menggeleng, menumpukan dagunya pada pucuk kepala latusya dalam pelukan hangat kasih sayang itu .


Perasaan mereka tersalurkan.


"Tidak sia..kamu adik kakak...diantara semua anak didik tua bangka jahanam itu, hanya kamu yang rela menahan sakit demi mengobati kakak setiap malam...kamu segalanya bagi kakak...kakak rela memetik bintang dan menahan badai hanya untuk adik kakak ini...sia...bahagiamu adalah bahagia kakak...meski kita seperti tikus dan kucing jika bertemu...kamu tetap hidup kakak!" Zen tersenyum kala sia mendongak dan menatapnya cemberut.


"Siapa tikusnya?"


"Ya kamulah,masa kakak!"


Bugh..!


Akhirnya,pelukan itu terlepas dengan pukulan maut latusya pada perut Zen.


Baru saja keduanya merasakan perasaan harmoni rukun dan damai.


Kini?.


Mulut Zen benar-benar racun!.


"Kau yang tikus...aku kucingnya!" hardik latusya sengit.


Zen meringis ngilu.


"Ya...ya...ya...kucing hitam galak!" ucap Zen melirih,mana berani dia mengatai langsung latusya sebagai kucing hitam, bisa-bisa gadis itu kembali mengamuk.


"Kucing Persia putih kan?" latusya memicing tajam.


"Ya..ya...Persia putih yang cantik!" Ucap Zen pasrah.


Tersenyum sombong,latusya menepuk bahu Zen puas.


"Anak pintar...." Ucapnya santai.


Zen mendelik,menyentil kening gadis cantik itu gemas.

__ADS_1


Untung sayang!.


"Kamu akan kembali sore ini?" Zen mengalihkan pandangan kearah jam tangan yang melingkari tangannya.


"Dua jam lagi...." Jawab latusya sembari melangkah memasuki kamarnya,menutup pintu balkon kala Zen mengikuti masuk.


"Kapan kakak akan kembali ke Moskow?" Latusya bertanya sembari mengemas alat-alat make up di meja riasnya.


Memasukan produk-produk kecantikan itu kedalam pouch bag miliknya.


"Dua hari kakak disini....mencari orang itu sangat sulit,semua kelompok-kelompok underground di Jepang ini sudah kakak telusuri,tidak ada satupun yang mencurigakan.Sungguh,kakak bahkan sesekali berharap,apa tidak bisa orang misterius itu membantu kita lagi menumbangkan punggung belakang Don Bosco itu?! menyusahkan sekali..." Zen meraup wajahnya gusar.


"Sabarlah kak...jika Ethan dan Nathan tidak bisa...coba minta bantuan pada kenalan dari organisasi lain...pergilah ke Rusia kak,disana bukankah ada-"


Tok...tok...tok...


"Sya,ini kak Candrik!" Ucapan sia terpotong oleh ketukan pintu dan suara panggilan candrik.


Zen memdelik.


"Baiklah sia, sepertinya kakak harus pergi " Zen berjalan menuju balkon kembali .


Namun,maniknya tak sengaja melihat sebuah kalung berbandul taring diatas meja rias .



"Dari siapa?" Zen bertanya sembari menunjuk kalung itu penasaran.


Latusya beralih dari jalannya menuju pintu.


"Punya tuan muda Raylion...tidak tau apa maksudnya memberiku kalung itu dan mengatakan akan mengambilnya lagi nanti..pria aneh dan gila itu...." Ucap latusya tak berdaya.


Tanpa gadis itu sadari,nada bicaranya tidak sedingin kala menyebut orang lain.


Ada jejak kelembutan dan kepasrahan disana.


Dan Zen menyadari itu.


Pria itu terdiam, tersenyum samar.


"Kakak tau sejarah taring itu..jika ada kesempatan akan kakak cerita!" Zen melangkah menaiki balkon, dan melompat sebelum latusya sempat memanggilnya.


Rasa penasaran muncul begitu maniknya menatap bandul taring itu!.


Dengan linglung,latusya membuka pintu.


"Sya,lama sekali buka pintunya...." Candrik menghela nafas panjang.


"Ada apa kak?' Latusya melirik candrik dan para pelayan yang nampak menggeret banyak koper dengan iris dan rinai yang nampak berjalan menuju ke area ruang keluarga.


"Sya...papa mempercepat kepulangan kita! Butler Tyson memberi kabar bahwa keluarga Imanuel sudah datang ke mansion dan membuat keributan soal keguguran rinai!" ucapan candrik membuat latusya menghela nafas panjang.


" Baiklah kak,aku segera menyusul" Latusya menjawab, mengangguk candrik mengusap rambut adiknya sebelum berbalik menuju ruang tengah.

__ADS_1


...To be continue...


__ADS_2