
...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya...
...Vote,like, komentar dan ulasan 🌹...
...----------------...
...----------------...
Sebuah ruangan pribadi di salah satu club.
" Kudengar gadis itu dibawa pulang oleh assisten Andromeda? rinai.....siapa dia sebenarnya? bagaimana bisa pelayan tua itu bilang dia adalah nona sulung Sanches? rinai...kami butuh penjelasan!"
Seorang wanita dengan penampilan smokey bertanya dengan cepat,setelah membawa Simon dan Isabel ke rumah sakit, sekelompok kecil orang-orang yang sebelumnya diusir secara halus oleh kepala pelayan Sanchez akhirnya berakhir di sebuah club.
Rinai,duduk dengan wajah sedih.
"Tidak tau....mereka bilang papa hanya membawanya dari sebuah desa kecil nelayan...para pelayan bilang dia adalah anak-"
Rinai tersentak,menatap para teman kuliah-nya dengan wajah pias.
Sementara didalam hatinya senyum sinis tergambar.
"Jadi dia hanya anak haram?! pasti benar! "
"Dia hidup di desa tapi berani bersikap sombong pada kita!"
"Siapa namanya tadi? Latusya? heh..hanya udik desa yang menang sedikit wajah!"
"Kita harus beri dia pelajaran jika bertemu lagi!"
" Sudahlah kalian para wanita...untuk apa begitu dendam? lagipula jika memang tuan Alejandro sendiri yang membawanya kembali,bukankah akan mencari masalah jika kita mengusiknya?"
Perdebatan antara sekelompok pria dan wanita itu sukses membuat senyum rinai luntur.
Sementara disisi lain bilik, sekelompok pria muda berparas tampan duduk kaku kala aura bengis seorang pria menguar sehitam pekatnya langit malam.
Pria tampan dengan wajah rupawan dan senyum dingin yang tersembunyi dibalik tatapan matanya.
"Ka..kakak kedua....mengapa kau terlihat seperti akan menguliti seseorang?!"
Dan akhirnya,pria muda yang baru saja berbicara itu terduduk kaku kala semua mata menuju padanya .
"Anak bodoh ini tidak tau apa itu diam!"
" Suasana hati hades satu ini sangat rumit dan menakutkan!"
" Lebih baik merawat Hikaru dibanding bersama pria labil pemarah ini!"
Clik..
"Hai semuanya...lama tidak bertemu!"
Seorang gadis berjalan masuk dengan senyum cerah mempesona.
...----------------...
Sanchez mansion.
__ADS_1
Lorong panjang mansion Sanchez terasa berbeda,kala semua aktivitas para maid terhenti begitu Tyson tua berjalan berdampingan dengan seorang gadis muda yang parasnya benar-benar membuat siapa saja merasa tertegun.
Aroma manis bunga wisteria sehangat musim semi menguar kala sosok cantik itu berjalan melewati mereka.
"Dia benar-benar nona sulung Sanches?!"
"Betapa cantiknya....bahkan dengan caranya dia berjalan!"
"Benar... melihatnya bagai melihat tuan Alejandro muda dengan versi perempuan!"
"Sttttt..kalian tidak lihat wajah nona rinai? dia marah!"
"Ck...apa urusan dengan kita? lagipula siapa pekerja disini yang tidak tau prilakunya? hanya teratai putih!"
"Hati-hati kau akan dihukum berat jika pelayan Meri mendengar!"
"Heh..penjilat itu? untuk apa takut, lagipula sebentar lagi posisinya akan digeser! aku sudah lama muak dengan tingkahnya!"
"Benar....nona rinai itu hanya dewi palsu dengan dua wajah!"
"Diam...diam...kembali bekerja dia datang!"
Latusya melirik melalui ekor matanya,rinai berdiri diujung arah tangga,menatapnya dengan bengis.
"Nona sulung....ini kamar anda,saya minta maaf jika tidak sesuai selera anda.Jika perlu perubahan nona bisa memberi tau saya" Tyson tua tersenyum lembut menatap wajah rupawan gadis yang kini menjadi nona besar di mansion Sanchez.
Latusya berdiri didepan pintu,sebuah pintu dengan cat berwana putih tulang.
Membalas dengan anggukan sopan.
Selain itu,pria tua ini memiliki aura positif yang membuat siapapun merasa tenang dan nyaman.
"Tidak masalah paman Tyson,apapun boleh saya tidak punya selera spesfik selama kamarnya nyaman" Latusya berucap lembut.
Tyson tua semakin merasa bahagia,gadis ini selain cantik juga memiliki kepribadian yang baik!.
Bahkan tau cara menghormati orang tua meski dirinya hanya seorang pelayan!.
Pintu kamar putih tulang itu terbuka,aroma sisa samar cat basah langsung tercium begitu pintu terbuka.
Latusya melangkah masuk dibawah tatapan lembut Tyson tua.
"Mansion ini hanya memiliki dua lantai,karena tuan Alejandro tidak terlalu suka membangun kediaman yang terlalu besar,lantai dua adalah lantai khusus kamar-kamar anggota keluarga.Dan kamar nona adalah kamar terbesar yang langsung menghadap taman " Tyson tua menjelaskan dengan senyum penuh kesabaran.
"Nona..kalau begitu saya undur diri terlebih dahulu..." Latusya membalik badannya,menatap kepala butler itu sopan.
"Terima kasih sekali lagi paman Tyson" Pintu segera tertutup dan Latusya kembali dalam ketenangan lagi.
Barang-barangnya yang tak seberapa sudah diatur rapi di sebuah walk in closet minimalis yang terdapat didalam kamar barunya.
Menghela nafas panjang,Latusya berjalan menuju pintu balkon.
Kriettt...
Pintu kaca ber-krangka besi itu terbuka perlahan.
__ADS_1
Latusya berdiri disisi pembatas,menatap taman dengan sentuhan Jepang itu intens.
"Jadi benar....ibu....adalah putri dari keluarga berdarah Jepang" Latusya bergumam samar,bibirnya terasa kelu saat menyebut kata ibu.
Taman yang dibangun secara khusus,dengan kolam ikan koi dan beberapa sentuhan gaya khas negara tirai bambu itu sukses membuat siapapun merasa tenggelam pada masa lalu.
Tok...tok...tok....
Segera,suara ketukan pintu menyadarkannya dari keheningan.
Latusya berbalik,berjalan dengan perlahan dan membukakan pintu.
Dan seketika keheningan dalam tercipta.
"Siapa?" Latusya menatap pria muda yang berdiri dihadapannya dengan wajah datarnya.
Dan pria itupun menatap balik dengan wajah termangu.
...( Cendrik El ganti ya )...
Latusya berdiri dengan wajah tanpa ekspresi,namun aura lembut gadis itu sukses membawa senyum haru dari sosok itu, candrik.
Tau benar sosok dihadapannya itu,namun Latusya merasa tidak perlu bertindak seakan mengenali, lagipula mereka memang belum pernah bertemu dan sosok candrik-pun dirinya tau melalui informasi dari Zen.
"Latusya?" Candrik berucap dengan perasaan menggebu,ini adiknya!.
Dan ini adalah putri sulung dari ibunya,Aluna!.
" Ya..." Latusya menjawab dengan suara lembut,candrik memiliki aura seorang kakak dan itu hampir sama dengan tatapan kasih sayang Zen!.
"Aku candrik...kakakmu..." Latusya tersenyum samar,pria ini memiliki kemampuan membuat gadis-gadis ingin tertawa.
Lihatlah bagaimana dia memperkenalkan diri dengan ekspresi wajah takut dan cemas!.
Seolah takut orang lain tak percaya akan ucapannya!.
"Kakak....." Candrik mematung,bak sebuah panah melesat mengenai telak jantungnya!.
Astaga,adiknya ini sangat manis dengan pesona acuh tak acuh disertai aura gadis muda yang benar-benar polos.
"Boleh...bolehkah kita bicara?" Candrik berucap dengan hati-hati,takut adiknya merasa tidak nyaman.
Latusya tak berbicara,namun gadis cantik itu dengan perlahan menggeser tubuhnya untuk memberi ruang agar candrik bisa melangkah masuk.
Candrik melangkah memasuki kamar yang dulunya begitu tertutup bagi siapapun.
Kamar yang hanya bisa dimasuki oleh Alejandro dan kepala pelayan saja,itupun hanya untuk sekedar membersihkan dan tetap menjaga keadaan kamar itu.
"Dulu....kamar ini awal mulanya adalah kamar ibu kita....mama Aluna, pria itu tak membiarkan siapapun memasuki kamar ini....bahkan dia sendiripun hanya masuk sekali dalam sebulan...." Candrik duduk disebuah kursi putih panjang yang terdapat di sisi kiri pintu.
Latusya sendiri duduk disisi ranjang,menatap sosok candrik dalam diam.
"Kamu memiliki aura lembut mama...tapi dominasi pria itu lebih kuat dalam dirimu... Latusya...kakak hanya ingin bilang...selamat datang kembali..." Candrik mendekat,mengusap rambut Latusya dengan tangan gemetar.
"Tidak perduli masa lalu yang telah kita semua lalui...mari dimasa depan saling menopang dan melindungi..." Candrik menepuk bahu mungil itu,berlalu dengan senyum lemah.
__ADS_1
...TBC...