
^^^Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya^^^
...Vote,like, komentar dan ulasan 🌹...
...🎠Selamat membaca dan selamat berpetualang imajinasi ðŸŽ...
...----------------...
Pukul 21.00,hujan deras mengguyur dengan angin badai yang melanda.Amukan badai menghantam disertai terpaan air yang menghantam setiap atap dan jendela.
Gadis itu,berdiri didepan sebuah pintu bercat putih tulang dengan raut wajah penuh kegelisahan.
Disampingnya,sosok pria berdiri menepuk punggungnya menguatkan.
"Ketuk dan bicarakanlah...semua akan baik-baik saja,kakak yakin....kakak perempuan iris,pasti gadis yang baik dan lembut...dia memang terlihat acuh,tapi percayalah...kilau mata seseorang tidak akan pernah berbohong,percaya pada kakak!" Candrik,berdiri menepuk kepala iris dengan senyum menenangkan.
Iris,gadis itu menatap wajah meyakinkan candrik,tak bisa berbuat apa-apa saat gemuruh hatinya hanya menginginkan satu hal.
Dekat dengan sang kakak perempuannya!.
Iris mengangguk ,menekan sebuah harapan terakhirnya.
Dia punya satu lagi sosok yang disebut sebagai keluarga!.
Jika tidak bisa dengan rinai,mungkin sosok yang baru saja hadir dalam hidupnya ini bisa menjadi rumahnya pulang!.
Iris menatap candrik yang berlalu,menatap kembali jam dinding.
22.00
Sudah satu jam dia terpaku.
Semoga kakak perempuannya belum tertidur.
Tok...tok...tok...
Beberapa kali ketukan.
Iris merasa kulit kepalanya mulai mati rasa.
Menarik nafas dalam-dalam.
Klik......
"Ka..kakak...ak-"
"Masuk...."
Latusya memotong cepat ucapan terbata-bata sosok adiknya.
__ADS_1
Bukankah lucu,selama 20 tahun ada seseorang yang ternyata harus dirinya sebut adik?.
Nampaknya,iris benar-benar tidak mengenalinya.
Iris memasuki kamar tidur sang kakak,kamar yang dulu bahkan adalah ruangan yang begitu keras sosok ayahnya jaga,tak seorangpun boleh memasuki kamar ini.
Dan alasannya,tidak seorangpun yang pernah memberitahu dirinya.
"Aku.. benar-benar boleh memanggilmu kakak?" Iris berbalik,menatap wajah bak pahatan dewi aprohidite itu dengan pupil gemetar.
Semua orang selama ini menjauhinya,merasa malu jika dirinya mendekat dan menatapnya seolah sampah busuk yang tidak layak disebut manusia!.
Hanya candrik,Alvaro dan Jason.
Hanya tiga pria ini yang mau mengakui dirinya sebagai manusia,menyebutnya adik tanpa rasa malu!.
Bahkan ayah kandungnya sendiri,selalu menganggapnya bagai udara kosong tak terlihat.
Latusya tersenyum samar,senyum lembut tanpa maksud terselubung sebagaimana dirinya selama ini bersikap pada orang lain.
Tulus.
"Iris..apa hubungan kita?" Latusya bertanya,meraih telapak tangan dingin nan kasar adiknya dengan kening mengeryit dalam.
Bukankah iris selama ini hidup dalam keluarga kaya? ada pelayan yang selalu bekerja untuknya meski mereka tak menganggapnya ada, Alejandro meski selalu bersikap acuh.Namun semua kebutuhan iris pasti terpenuhi.
Namun mengapa,telapak tangan ini seperti orang-orang yang selalu melakukan pekerjaan kasar?.
Latusya tidak bertanya,hanya menarik lembut kembali tangan itu dan membawanya duduk bersama di sebuah set sofa dekat pintu balkonnya.
Melodi terpaan hujan menjadi saksi bisu keheningan yang terasa hangat itu.
"Kenapa?" Iris menatap wajah halus sang kakak dengan wajah tercengang.
Kelembutan ini sangat manis!.
Tidak pernah ada satupun selain ketiga kakak angkatnya yang memperlakukan dirinya begitu lembut.
"Maaf....reaksiku terakhir dibawah sana mungkin menyakiti perasaan kakak...aku minta maaf...hatiku tidak lagi bisa membendung semua yang kupendam selama ini lagi...maaf membuatmu tak nyaman kak..." Latusya tersenyum,menatap lurus wajah sang adik.
Wajah ini benar-benar tak seperti gadis kaya ibukota lainya.
Benar-benar tak terawat,bahkan beberapa noda hitam dan jerawat yang membentuk keropeng terlihat meski dari jarak cukup jauh.
"Iris....tidakkah kamu tau?" Latusya terdiam sesaat,menatap wajah bingung adiknya.
Iris menggeleng lemah,menunduk merasa rendah melihat perbedaan antara parasnya dan sang kakak.
Latusya tersenyum.
 " Bagi kita para perempuan. Wajah adalah harga diri,rambut adalah mahkota dan sepasang kaki dengan sepatu yang tepat adalah petunjuk kearah pernikahan yang bahagia...itu adalah pepatah kuno,dan semua gadis di dunia ini sebelum mereka menikah...apapun yang mereka jalani,merawat diri adalah hal yang utama" Latusya mengusap wajah kasar adiknya.
__ADS_1
Iris menunduk semakin dalam.
Latusya,meski hidup dalam pelatihan keras, para tetua Red Cobra dizaman sebelum Zen selalu mengedepankan penampilan.
Meski ratusan kali memegang dan melatih bagaimana cara menggunakan senjata, pada akhir pekan akan ada sesi perawatan bagi mereka para wanita dalam kelompok,itu semua adalah untuk menunjang keberhasilan misi.
Semakin cantik maka akan semakin beracun dan berbahaya!.
"Mama Jesika...dia tidak pernah memberi tahu itu,jika dia keluar bersama kak Rinai untuk kesalon...aku hanya akan dirumah mengerjakan pekerjaan da-"
Deg...
Iris mematung,bibirnya tanpa sadar mengucapkan apa yang tengah dirinya fikirkan!.
Menoleh patah-patah,aura dingin menguar dengan cepat dari sisinya.
Latusya,menatapnya lamat dalam keheningan mencekik.
Senyum lembutnya luntur.
Meraih bahu iris,Latusya berdiri dengan wajah gelap.
Meski baru bersama beberapa waktu,Latusya merasa ikatan batin mereka tersimpul kuat.
"Bicara iris....katakan semua pada kakak!"
Iris mematung,gemetar dengan manik memerah.
"Ya...sejak aku berusia 7 tahun,mama jesika mulai mengurangi jumlah pelayan di mansion.Mama bilang papa akan senang jika memiliki anak perempuan yang rajin...mama Jesika juga bilang...papa bekerja sangat keras untuk gaji para pekerja...jadi mama memintaku membantu beberapa pekerjaan di mansion...jika mama dan kak Rinai keluar..mama hanya berkata dia pergi membantu papa...dan kakak harus pergi ke berbagai les untuk bisa mendapat beasiswa prestasi untuk mengurangi biaya pendidikan kami...a-"
Latusya,memotong dengan kejam.Terlalu tak habis fikir akan kepolosan iris dan kelicikan Jesika.Sebagai ibu tiri yang jahat,wanita itu sukses mengambil peran.
"Apa kamu bodoh? tidak tau seberapa kaya keluarga Sanchez ?! bahkan keluarga kak Cendrik saja dengan seluruh asetnya bisa membuatmu hanya hidup untuk makan dan tidur tanpa cemas akan uang sampai hari tua! bagaimana kamu bisa percaya begitu saja papa bekerja keras untuk gaji para pekerja?! iris...lihatlah bagaimana wajah Jesika, seorang wanita dewasa berusia 40 tahun terlihat seperti 30 tahun? rinai....lihatlah bagaimana dia menghabiskan jutaan dollar setiap bulan untuk perawatan kecantikan! cobalah untuk tidak naif iris,kau sudah 18 tahun!" Latusya berucap geram.
Iris tersentak,air mata panas jatuh dari kelopak matanya.
"Besok pagi,bangun lebih awal dan ikut kakak!" Latusya menatap sosok iris lamat,iris mengangguk lemah.
Sementara itu,disisi pintu kamar yang tak tertutup rapat.
Rinai mencibir jijik.
"Ma....mama harus lakukan sesuatu! aku tak ingin kedua benalu itu menggunakan sepeserpun uang papa! " Rinai menarik ibunya menjauh,berbisik dengan geram.
Jesika menyeringai bengis,menepuk pipi putrinya.
"Kamu tenang saja..mama akan ajari kamu bagaimana membuat gadis jelek itu sengsara! tunggu tanggal mainnya..dan Latusya...melihat dia bagai melihat luka masa lalu...mama akan tangani dia kamu tenang saja!"
Keduanya berlalu dengan senyum culas terpatri.
.....TBC.....
__ADS_1