
...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya πΉ...
...Vote,like, komentar dan ulasan...
...π Selamat membaca dan selamat berpetualang imajinasi π...
...----------------...
Dentang demi denting waktu terus berlalu.Latusya duduk dengan bosan sembari menunggu Zen selesai dengan telfonnya.
Merogoh saku mantel yang ia kenakan.
"Eh...dimana ponselku? perasaan tadi sudah aku simpan didalam sini saat berberes?" Latusya bermonolog,membuka tas ranselnya.
Nihil...
Ponsel berlogo apel gigit itu tak juga dirinya temukan.
"Apa tertinggal dikamar rumah sakit ya?"
Klik...
Zen mengeryit melihat wajah melamun sang adik.
"Sisi..cari apa?" Zen berucap sembari memasang seatbel miliknya sendiri .
"Tunggu kak.. sepertinya ponselku tertinggal di kamar rumah sakit!" Latusya membuka kembali seatbel-nya.
Bersiap turun.
"Biar kakak saja kamu tunggu disini!" Zen meraih lengan Latusya dan mulai membuka lagi seatbel-nya dan pintu mobil.
Namun.
"Tidak biar aku saja kak" Latusya turun dengan cepat tanpa bisa dicegah.
Menghela nafas panjang,Zen menatap Latusya geli melihat kecepatan berjalan gadis itu .
Inikah sosok yang baru saja mengalami luka tembak dan perkelahian sengit? terkadang Zen merasa Latusya terlalu memaksakan diri!.
...----------------...
Disisi lain...
Satu sosok mungil menyeret dirinya hingga ujung ranjang pesakitan.
"Ka..kalian mau apa?" Suara lemah itu terdengar bergetar kala tiga sosok wanita berjalan memasuki ruang rawatnya dengan wajah bengis.
Cahaya sinar mentari yang masuk melalui kaca jendela,memperjelas wajah pucat pasi gadis itu semakin terlihat.
"Dasar kau ja*ang sial! kenapa kau masih tetap hidup?! seharusnya kami pastikan kau benar-benar mati sebelum kami tinggalkan!" Sosok wanita dengan penampilan yang tidak se-glamor seperti biasanya mengeram bengis.
"Benar! harusnya aku tidak perlu merasa kasihan padamu terakhir kali! rinai benar...kau memang pembawa sial!" Wanita lain,dengan kantung mata menghitam berucap penuh emosi.
"Apa..apa yang kalian bicarakan? jangan...jangan mendekat!!!" Iris,gadis manis malang itu menjerit kala sosok lain dengan sebuah gunting berjalan mendekat.
"Karenamu kakakmu yang tidak waras itu membuat bisnis keluarga kami terancam dan kami di drop out dari universitas!!! mati saja kau dasar sialan!!!!!".
Tiga orang wanita itu mendekat.
Celina,Abel dan Marina.
Sahabat sekaligus para penjilat sosok rinai.
Mendekat dengan bengis.
"JANGAN!!!"
__ADS_1
"Mati saja!!"
...----------------...
Latusya,berjalan cepat melewati lantai dua rumah sakit sebelum menaiki lift kembali menuju lorong kamar rawatnya sebelumnya .
Namun, sebelum kakinya mendekati pintu lift .
"Hentikan.....sakit ...."
"Cepatlah Celine atau seseorang akan datang!"
Kening mulus tertutupi poni samar itu mengeryit.
Kakinya tidak tau bagaimana mulai berjalan cepat mendekati sumber suara.
Brakhhhh....
Manik indah itu seketika menyorot dingin.
Seorang gadis remaja,tergeletak naas jatuh disamping ranjang pesakitan dimana rambutnya telah terpotong tidak rata dan pipi membengkak dipenuhi air mata.
Sementara tiga sosok berdiri dengan posisi berbeda.
Satu memegang gunting,satu lagi memegang teko yang mana masih ada asap mengepul keluar dari sana.
Dan satu lagi dengan posisi salah satu kakinya berada di perut remaja malang itu.
"Siapa kau?! jangan ikut campur dan pergi sana!!" Sosok dengan rambut sebahunya berucap sarkas.
Latusya berjalan mendekat .
Greph....
"Akhhhh...apa yang kau lakukan?!! lepaskan aku!!" Celine,menjerit kesakitan kala sebuah tangan mencengkram lehernya.
Dan teko yang isinya hampir tumpah itu terlempar jauh sebelum isinya mengenai sosok iris.
"Rupanya beberapa orang tidak punya rasa takut! bahkan berani melakukan penganiayaan dilingkup rumah sakit sebesar ini?" cengkraman tangan lembut itu semakin erat.
Tidak tau mengapa,Latusya merasa ingin mencekik sampai mati tiga orang ini!.
Menatap remaja malang yang kini menatapnya sayu,jejak kehidupan nampak meredup dimatanya.
"Lepaskan teman kami! kau orang gila kurang ajar!!!" Marina meraung,berlari kearah Latusya dengan ganas sembari membawa gunting ditangannya terancung kearah wajah cantik Latusya.
Hahaha.....
Langkah cepat Marina terhenti,Celine yang terus memberontak tanpa sadar berhenti bergerak begitupun sosok Abel yang berdiri mematung.
Tawa itu,terdengar penuh ancaman dengan kilat membunuh yang tajam.
"Kenapa,kalian ingin membunuhku?...apa tidak tau apa arti karma? tiga lawan satu...tidak tau malu!"
Brakhhhh..
Tubuh Celine terlempar hingga menabrak sosok Marina.
Kedua wanita itu mengerang keras begitu tubuh keduanya menghantam dinding.
Latusya menyeringai bengis,menyugar rambut panjang nan bergelombang halus miliknya kebelakang.
Tatapannya menyapu Abel yang berdiri disisi iris.
Wanita itu gemetar kala Latusya mendekat.
"Kau tidak apa?" Mengabaikan sosok Abel yang sudah pucat pasi.
Latusya membantu iris bangkit,membawanya kembali berbaring .
__ADS_1
Menatap wajah kosong seakan tak bernyawa itu, hatinya berdenyut sakit.
Mengigit bibirnya menahan amarahnya,Latusya menutup tubuh iris dengan selimut rumah sakit, memperbaiki infus gadis itu dan menepuk kepalanya lembut.
"Tidur ya...semua baik-baik saja..." Latusya berucap lembut,untuk pertama kalinya dirinya tidak lagi bersikap acuh pada orang lain.
Greph.....
Iris menarik lengan putih nan ramping itu begitu Latusya bergerak.
"Tolong.... jangan pergi....takut...."
Deg.....
Suara lirih penuh kesedihan nan kesepian yang menyayat hati.
Latusya menatap sosok lemah itu iba,setelah menaburkan bubur obat bius,dan iris telah tertidur lelap.
Manik indah itu memerah,berbalik begitu manik lemah itu tertutup.
Latusya berjalan menuju pintu .
"Ma..mau apa kamu?!" Abel memekik takut kala melihat bagaimana sosok itu tiba-tiba mengunci pintu .
"Kau.. perempuan gila! jangan berani menyakiti kami lagi atau kau akan tau balasannya! kami sahabatnya adik dari pemilik rumah sakit ini! jangan berani macam-macam!!!!" Marina mengutuk dan mengancam dengan ketakutan jelas diwajahnya.
Srakhhh...
Degggg...
Ketiganya mematung dengan jiwa yang seakan ditarik paksa.
Latusya menarik Baretha miliknya dari balik saki blazer-nya.
Manik indah itu berkilat badai.
"Baru teman adik pemilik rumah sakit saja kau berani berlagak? aku bahkan tidak takut membunuh seorang kepala negara bila diperintahkan....lalu....mari lihat bagaimana aku mengurus manusia sampah seperti kalian..nasib buruk kalian bertemu denganku.." Latusya tersenyum main-main.
"AKU AKAN MEMBUATMU MEMBA-AKHHHH"
Dor.......
Baretha itu telah memuntahkan isinya,peredam suara membuat suara senjata api itu cukup tertahan keluar.
Brukhhh...
Tubuh Abel dan Celine jatuh terduduk.
Marina terbaring dengan kepala berlubang!.
Sebuah peluru telah bersarang disana.
Wajah keduanya memutih seputih kertas,suara keduanya seakan terkunci.
"Burung beo yang terlalu berisik harus dibungkam...!" Latusya berucap lembut,mengarahkan kembali ujung Baretha itu kearah kedua wanita yang sudah ketakutan hingga menjadi bisu!.
"Ada kata-kata terakhir?" Latusya menatap dengan senyum penuh kasih sayang.
"Kau.... PEMBUNUH K-"
Dor......Dor.....
"Terlalu lama...sayang sekali aku tidak mendapat bayaran atas tiga orang ini!" Latusya menyimpan kembali senjata miliknya.
"Jangan biarkan siapapun yang telah melewati batas tetap hidup,siapapun kamu....kini mereka telah membayar mahal atas perbuatannya padamu...selamat tinggal.." Latusya berbalik keluar dan pergi dengan tenang.
Tanpa perlu cemas akan ketiga mayat itu, Latusya pasti akan menyuruh Ethan mengurus cctv.
"Well...my naughty girl...kekejaman dirimu memang pantas untukku...."
__ADS_1
.....TBC.....
Poor meπ£