
...Vote,like, komentar dan ulasan 🌹...
...----------------...
Tatapan manik indah itu terkesan malas,menatap tiga orang pria yang berdiri menatapnya dengan kejam.
Tubuh ideal itu tertutup oleh tubuh remaja yang tingginya bahkan hampir sama dengannya, Latusya.Gadis itu merasa lucu melihat tubuh kecil dan kurus itu terlihat gemetar kala dirinya tau pasti anak laki-laki itu tengah terpaku menahan rasa takutnya.
Namun tetap saja,remaja yang bahkan tak dirinya ketahui namanya itu masih berusaha melindungi dirinya.Untuk sesaat Latusya merasa hangat.
Gemeratuk gigi dari pria remaja itu terdengar kala keheningan malam mencekam.
"Kau..urus remaja idiot itu!" Pria ditengah berucap dengan jengkel.
"Kecil..."
Seorang perampok dengan jaket hijau gelap melangkah maju, menodongkan pistol miliknya kearah kepala remaja itu.
Namun...
Begitu tangan besar penuh tato itu mencengkeramnya lengan kurus anak laki-laki itu.
Wush....
Brakh.....
Mata demi mata para perampok itu membola kaget.
Tubuh itu terhempas dengan satu kali tendangan dan menghantam salah satu rak berisi beer-beer kaleng.
Sia,meringis samar kala area pinggangnya terasa tertarik dan berdenyut.
"Sial...aku terlalu cepat bergerak luka sayat ini terbuka lagi!"
Mengatur nafasnya perlahan,Latusya berdiri disisi remaja yang kini melihatnya bak melihat hantu!.
"Sudah aku katakan,pergi dan jangan sentuh barang apapun disini..." Sia berucap sembari menatap tiga sosok yang kini berdiri,begitu korban tendangannya tadi telah dibantu oleh dua orang lainya lagi.
"Mati saja!!" Perampok yang memakai jaket denim berujar murka,gadis tidak tau diri ini sudah melewati batas!.
Beraninya dia menendang teman-nya!.
Dor.....
Latusya mendorong remaja itu dan dirinya segera bergerak cepat menuju bawah meja kasir!.
Peluru itu menancap pada area dinding dibelakangnya!.
Remaja dan pria baya itu melotot kaget saat sia mengeluarkan glock miliknya,tentu saja itu adalah milik penjaga resident Roosevelt yang ia curi!.
Krak...
Menarik dan selesai mengisi peluru.
"Apa?" Sia menatap remaja dan pria baya itu santai.
Dor....dor...dor...
"Bersembunyi? hahaha...." Suara pria itu sukses membuat decakan jengah dari sia mengalun indah.
Bergerak cepat.
Dari selah meja kasir.
Dor.....dor...
Akhhhh......!
Jeritan terdengar kala sepasang kaki itu berhasil tertembak di area lutut.
__ADS_1
Ketiga perampok itu melotot kaget.
Gadis itu punya senjata api?!.
Wushhh...
Dengan cepat,tubuh semampai itu melompati meja kasir.
Duakhhhh...
Menendang wajah perampok yang berdiri dengan satu kaki lagi,memutar tubuhnya kemudian kembali menendang perampok lain yang memegang senjata.
Ketiganya jatuh dalam keadaan terkejut!.
Wushhh...
Mengeryit dan mengelak cepat kala salah seorang perampok bergerak bangkit cepat dan mengarahkan kepalan dengan ujung senjata itu kearah tubuh sia.
Mengelak cepat dan akhirnya keduanya mulai berkelahi .
Pukulan demi pukulan gadis itu hindari,namun seorang lagi bangkit dan mulai ikut menyerang sia.
"Kalau tidak kubunuh maka mereka akan terus membuat susah.." Latusya berdiri menjauh,kedua perampok yang tersisa mulai menarik pelatuk.
Sederet tembakan terhindar.
Dor.....
Sia berhasil menembak kepala salah satunya.
Menunduk,menyentuh lengan kirinya.
"Hah...." Mendesah panjang,lengannya tergores peluru dan mulai mengeluarkan darah.
Dor...
Brukhhh....
Senjata api yang terangkat naik,berhenti di udara.
Latusya,mematung kala tau pasti tembakannya tidak mengenai sosok itu,lalu peluru itu datang darimana?!.
Menatap sekeliling dengan cepat.
Berlari keluar toko untuk melihat siapa yang sudah ikut menembak perampok itu!.
Hanya ada kekacauan toko dan jajanan luar yang sepi!.
Menggeleng tak berdaya,dicari pun tidak ketemu!.
Latusya kembali masuk,sembari menekan lengannya yang dipenuhi darah hingga menetes kelantai.
Menatap pria baya yang nampak kehilangan jiwa kala melihat seluruh isi toko yang sudah hancur dan remaja lelaki yang terlihat menendang-nendang sosok perampok yang tewas oleh luka tembak.
"Wah...kakak kau benar-benar bisa menembak?! hebat sekali....." Latusya menatap sosok remaja penuh binar antusias itu dengan senyum samar.
"Paman.."Pria baya itu mengangkat wajahnya,menatap sosok sia dengan lemah.
"Yah...setidaknya uangku tidak hilang begitu saja" ucapnya menampilkan tersenyum pahit.
Latusya mendekat.
"Paman..apa kau punya ponsel? bisakah kupinjam sebentar?" Latusya berjalan menarik remaja itu menjauh dari mayat-mayat perampok itu.
"Kak pakai saja ponselku,paman Larry suka lupa membawa ponselnya jika berjaga toko!"
"Anak nakal,aku membawa ponsel hari ini...nona ini dia" Larry,memberikan ponselnya pada sosok gadis yang telah membunuh tiga orang pria dewasa itu dengan sedikit gemetar.
Sia menerimanya.
Menekan beberapa digit nomor.
__ADS_1
Tut.....
" Siapa?"
" Aku..."
" My sisi?" Latusya merotasi kedua bola matanya malas kala mendengar suara sang kakak.
" Kirim aku 3 juta dollar sekarang....aku akan kirim nomor rekeningnya jangan kurang satu sen pun!"
Klik.....
"Paman beri aku nomor rekening anda lalu kirim ke nomor terakhir yang aku hubungi!" Menyerahkan ponsel itu kembali,dan Larry tanpa mengerti apapun segera menulis nomor rekeningnya.
Latusya segera berbalik pergi,dan tak lama larry.Pria baya itu melotot kaget kala tiga juta dollar baru saja masuk ke akun bank miliknya.
...----------------...
" Peony...." Suara panggilan seorang pria terdengar begitu Latusya keluar dari toko.
Sebuah Pajero hitam baru saja berhenti.
"Nathan..." Mendekat dan melangkah langsung memasuki mobil.
"Kau terluka? kita kerumah sakit dulu,kau tertembak!" Nathan berucap dengan wajah datarnya.
Acuh,sia jatuh tertidur begitu mobil bergerak pergi.
Tak lama,dua orang pria dengan rompi hitam dengan bagian punggung tergambar kepala singa keluar dari kegelapan.
"Kuharap presiden tidak akan menjatuhi kita hukuman mati...." Salah seorang dengan rambut hitam dengan garis merah berucap getir.
" Kau saja yang mati,bukankah sudah kukatakan cepat bertindak begitu tembakan pertama terdengar? tapi kau justru bilang ingin melihat dulu kehebatan gadis presiden?! kau memang idiot!' Pria dengan masker penutup setengah wajahnya dari hidung hingga mulut itu berucap sarkas,tak peduli atas nelangsa rekan-nya.
"Diam kau shadow! kau itu setan tak berguna,kau juga ingin melihatnya tapi kau justru berkata sebaliknya? kau fikir aku tidak tau?"
Dan perdebatan itu berakhir begitu suara kejam nan dingin mengalun lewat earpeace mereka.
"Kembali....dan masuk arena!"
Deg...
Double kill.....
...----------------...
Sedang disisi lain...
Candrik berlari keluar dari lift, didekapan-nya terbaring sosok iris yang terlihat pucat dengan wajah terhias keringat dingin.
" Paman Sam siapakan mobil kita kerumah sakit!" Gema suara keras candrik mengalun memecah malam dikediaman Sanches.
Siapa yang tau,malam dirinya datang setelah bekerja seharian melakukan operasi.
Awal yang hanya ingin memastikan keadaan sang adik,candrik mendapati iris menggigil hebat namun suhu tubuhnya sangat tinggi.
Dokter muda itu akhirnya memutuskan membawa sang adik untuk penanganan medis langsung ke rumah sakit.
"Cepat paman Sam!" Candrik duduk sembari memapah tubuh iris bersandar didada-nya.
"Papa....papa iris rindu papa...tolong sayangi iris juga papa...."
Deg....
Pupil manik gelap itu terpaku,menunduk dan menatap sosok lemah itu getir.
"Ma...cintamu pada Alejandro telah mengurung kami pada pria tak berhati itu selamanya! " Candrik membatin dengan senyum pahit.
Karena iris,dirinya tak bisa meninggalkan Sanchez manor sepenuhnya.
Tanpa dirinya,iris akan menjadi korban Jesika dan rinai dan gadis rapuh itu akan hancur sepenuhnya!.
__ADS_1
.....TBC.....