
...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya...
...Vote,like, komentar dan ulasan 🌹...
...🎠Selamat membaca dan selamat berpetualang imajinasi ðŸŽ...
...----------------...
Sanchez mansion.
20.00 night.
Segelap langit malam,sedingin angin berhembus dan bintang-bintang yang enggan menampakkan diri.
Ada keheningan ditengah tatapan mata yang saling terkunci.
Gadis dengan wajah yang tak lagi dapat memberi sinar seorang gadis muda dengan masa-masa indah penuh suka cita.
Terduduk, kata-kata tak dapat lagi terucap manik sendu itu bergetar dengan sesak yang terasa menghimpit dada.
"Jadi....kau...kau adalah kakakku? kakak kandung yang berasal dari ibu yang sama? haha..mengapa semua mempermainkan hidupku?" Suara getir itu terdengar mengalun ditengah ruang keluarga yang terasa menyesakkan dada.
Para pelayan yang berdiri jauh menunduk,merasakan rasa sakit nona mereka.
Meski terkadang mereka memperlakukan sosok itu bagai udara kosong,namun kini.Sesal datang bagai badai yang tengah menunggu waktu yang tepat untuk mengamuk.
Dan mungkin inilah saatnya!.
"Ini bukan salah kita....takdir dan hati jahat seseorang yang telah mempermainkan semuanya..." Latusya,gadis yang duduk dengan wajah tanpa ekspresi menatap gadis remaja yang beberapa waktu lalu pernah dirinya tolong di rumah sakit.
Siapa yang tau takdir akan serumit ini?.
Iris,duduk disebuah sofa tunggal.
Menatap wajah Alejandro,Jesika,candrik dan rinai.
Kemudian sosok yang duduk begitu tenang meski 20 tahun telah berlalu sosok itu tidak bersama.
Rinai menatap kakak beradik itu dengan senyum sinis yang tersembunyi dibalik wajah sendunya .
Jesika menangis dengan air mata mengalir deras.
Wanita ini benar-benar geram dan terpaksa memainkan drama lagi setelan 20 tahun lalu.
Membuang bayi ini ternyata sia-sia! harusnya dia bunuh saja langsung agar hal seperti ini tidak terjadi!.
Bayi cantik itu kini kembali,kembali dengan cara yang tidak pernah dirinya duga!.
Jesika dibawah tatapan sendunya,mulai merangkai berbagai rencana untuk menumbangkan dua duri dalam hidupnya ini!.
Sanches properti harus jatuh ke tangannya!.
Kembali pada Latusya yang menatap adik kandungnya begitu rumit,perasaan dibawah ketenangan ini adalah badai yang mengancam!.
Melihat wajah dengan tawa getir itu,candrik menunduk.Meremat sandaran sofa dengan wajah sendu.
Alejandro terdiam,detak jantungnya berdegup keras kala melihat dua orang putri kandungnya.
Putri? apakah dirinya sudah bisa menerima iris?.
__ADS_1
"Ada seseorang...dulu sekali,saat aku berusia 7 tahun.Mengatakan sesuatu yang membuat hatiku berdebar mencoba memupuk harapan dibawah sikap papa....mama... yang kusangka ibuku,ternyata dia bukan ibuku...kini ada seseorang yang datang dan mereka bilang dia adalah kakakku...kakakku yang hilang... bagaimana perasaanku..papa?" iris menoleh dari wajah Latusya kearah Alejandro.
Tergugu,hancur sudah harapan terakhirnya.
Apakah begitu tak berarti dirinya di hidup Alejandro? hingga tak ada satupun hal yang berhak dirinya tau sampai bibir orang lain berbicara?.
" Taukah papa...ada seseorang wanita dewasa sangat cantik...dia selalu muncul setiap aku terlelap,setiap aku bernafas...rasanya sesak kala mengingat wajahnya dan sorot matanya!" Menutup wajahnya dengan kedua tangannya,iris menangis pilu.
Tuhan tau,betapa acuh keluarga ini padanya!.
Latusya terduduk,mengigit bibirnya kelu.
" Iris...terkadang apa yang kau rasakan tidak lebih berat dibanding orang lain....tegar adalah jalan kita untuk tetap bertahan...." Latusya berucap dengan senyum samar,percayalah .
Dirinya tak berani menarik senyum lebih atau sesuatu akan jatuh dari matanya.
Cairan bening itu terasa memanas,memaksa keluar untuk mengobati luka.
"Tegar? aku mencoba...mendorong batas hatiku..memaksa menguatkan fikiranku,perasaan rinduku pada mimpi itu semakin kuat...hiks.... orang-orang yang menyakiti menyebar seperti luka,semakin terasa sakit saat aku menutup mata! "
Raungan iris menyebabkan tanpa sadar,setitik air mata jatuh dari kelopak mata Alejandro.
Latusya menunduk,menghela nafas berat.
"Hiks...meskipun aku selama ini mencoba bertahan..melupakan dan mengabaikan luka yang kalian semua berikan....dia datang lagi..hiks...membelai dan mengatakan...tidak apa-apa! " Iris menunjuk sosok Alejandro dan Jesika dengan tatapan penuh luka dan kecewa.
" Iris jangan seperti itu pada papa dan mama! papa sibuk kamu harus memaklumi dirinya...dan mama....apa mama kurang selama ini memberimu perhatian? jangan kelewat batas!" Rinai berucap dengan wajah penuh air mata. Berdiri sembari menunjuk iris seakan tak percaya akan kelakuan gadis itu.
Seakan iris adalah gadis tidak tau diri dan tidak masuk akal!.
Egois dan tidak memikirkan beban orang lain!.
Latusya tertawa.
Deg......
Rinai mundur dan terjatuh disisi Jesika.
Duduk dengan wajah pias.
"Latusya! meski kau bukan putriku...apakah kau pantas berbicara seperti itu pada saudaramu?!" Jesika mengusap punggung rinai dengan wajah kecewa.
Latusya mendengus dingin,acuh akan drama ibu dan anak itu.
Iris menatap Latusya dalam.
Adik?.
Secepat itu sosok yang begitu cantik penuh pesona luar biasa itu bisa menerima dirinya?.
"Iris...semua orang hidup dijalan masing-masing,maafkan pa..papa jika kau merasa terluka...tapi luka ini bukan hanya kau sendiri yang merasakan pa-"
" Papa tau...hidup terabaikan rasanya bagaimana? dulu....saat semua orang begitu buruk memperlakukan aku...papa taukah kau?aku bertahan hanya untuk melihatmu tersenyum dan menyayangiku sepertinya anak-anak lain diperlakukan oleh ayah mereka....hiks..hanya kaulah papa....jika kak Rinai punya Mama Jesika yang menyayangi-nya,setidaknya papa bisa melihat aku....sekali saja sayangi aku papa...hiks kenapa kau begitu membenciku? hancur hatiku setiap kali kau memalingkan wajahmu padaku....mereka yang begitu jahat selalu berkata bahwa aku adalah putri yang tidak kau harapkan.... aku diam.Mengharapkan kasih sayangmu menyakitkan bagiku...papa aku ini putrimu kan?"
Iris menangis dan menatap wajah tampan ayahnya.
Wajah yang dulu selalu dingin menatapnya,kini hancur dengan manik memerah dan bibir gemetar.
Diam.
Latusya bangkit,berbalik pergi dengan setetes cristal bening yang sukses jatuh dibalik punggung rapuh yang perlahan pergi .
__ADS_1
Langkah demi langkah terasa penuh duri.
"Iris...setidaknya kau lebih baik dari diriku....tidak ada cambukan,peluru panas yang terarah padamu dan jalan penuh ranjau..." Menarik sedikit sweeter rajut bagian lengan.
Sebuah bekas luka bagai lukisan kelabang panjang terlihat samar.
...----------------...
Menatap cermin dengan wajah sembab.
Latusya berbalik,menatap punggungnya dengan senyum getir.
Kulit punggung putih itu terlihat hampir seluruh bagiannya dipenuhi bekas luka.
Dan untuk menutupi semua itu,Zen bahkan membuatkan dirinya kulit tiruan agar bisa menyelesaikan segala macam jenis misi yang membutuhkan jenis kecantikan utuh yang sempurna tanpa cacat.
Tapi....
Dirinya memang cacat!.
Wajahnya memang sangat rupawan,semua pria akan mendatangi seperti lebah yang mencari nektar bunga.
Namun,apa yang akan mereka lakukan jika melihat luka-luka ini?.
Hidup sebagai seorang assassin,dilatih begitu keras sejak berusia dini.
Tidak ada kata anak perempuan harus dimanja,bagi Red Cobra dimasa lalu sebelum Zen.
Yang kuat menang dan yang kalah akan binasa!.
Dengan piyama sutra yang melekat di tubuhnya.
Latusya berbalik membuka pintu balkon.
Menatap rembulan sendu.
Mengingat iris,jalan hidup tentunya begitu keras bagi mereka dengan cara yang berbeda.
Tanpa disadarinya,sepasang mata gelap nan tajam memandangnya dari balik kegelapan.
Mantel hitamnya berkibar diterpa angin malam.
"My dear little fox....you cry?"
Manik tajam itu menggelap,kedua tangannya terkepal kala setitik air mata jatuh dari sosok cantik itu.
Raylion,mengangkat telapak tangannya seakan menyentuh wajah cantik itu.
Perasaannya tidak enak,dan itu benar.
Berlian cantik miliknya menangis,gadis yang bahkan tak berkedip kala menembak mati seorang perampok dan berkelahi sengit dengan beberapa penjaga terlatih.
Kini menangis? menangis dihari kedua kepulangannya?.
Melihat pintu balkon itu telah tertutup dengan sosok Latusya yang telah menghilangkan dari posisinya.
Raylion berbalik,melompati tembok mansion Sanchez dan kembali dimana mobilnya terparkir.
Hanya keheningan dingin disertai raungan mesin mobil yang bergemuruh bak Sambaran petir.
Raylion,mengemudi dalam kemarahan!.
__ADS_1
...TBC...