
...Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya...
Vote,like komentar dan ulasan 🤸
...🌹...
...Selamat membaca...
...Dan...
...Semangat...
...🌹...
...----------------...
...----------------...
Part sebelumnya...
Sebuah mobil sedan,dengan lambang police berhenti tepat di depan kediaman keluarga Sanchez.Diikuti sebuah mobil Alphard abu-abu.
"Cepat opsir...anda semua harus menangkap pembunuh itu! " Seorang wanita paruh baya,dengan wajah geram menunjuk gerbang Sanchez yang nampak tertutup.
"Sabar nyonya....kami akan bertindak sesuai protokol" Seorang pria baya berseragam police berucap sabar.
Ketiga police berjalan mendekati pos penjaga kediaman Sanchez.
Kedua penjaga yang berjaga tercengang!.
Penjaga yang lebih dewasa maju.
Dan membiarkan penjaga yang lebih muda berlari memasuki kediaman untuk melapor pada tuan mereka.
"Tuan....ada gerangan hal apa anda semua datang kemari? ada yang bisa tuan Sanchez kami bantu?" Dengan sangat hati-hati.
Ketiga police itu memiliki ekspresi tegas dan kaku diwajah mereka.
"Kami disini membawa perintah penahanan sementara untuk nona bungsu Sanchez...tolong kerjasamanya!"
Deg.....
...----------------...
Siang yang mendung,menghiasi ketegangan kediaman Sanchez kala tiga orang berseragam police menyambangi kediaman itu sembari membawa surat perintah penahanan.
Begitu berita ini dibawa oleh seorang penjaga muda yang berjaga di depan,kegaduhan segera terjadi.
"Tidak..tunggu petugas,biar saya menghubungi pengacara saya dulu!" Alejandro berseru cepat, bagaimana bisa dibawah matanya sendiri.Alejandro membiarkan putri bungsunya ditangkap atas tuduhan pembunuhan?!.
Belum lagi,ini adalah kawasan vila-vila keluarga kaya.Apa yang akan difikirkan orang-orang dimasa depan tentang putrinya? belum lagi,ketiga anaknya belum ada yang menikah!.
"Maaf tuan Alejandro,kami harus segera melakukan tugas.Anda bisa mencari pengacara dan datang ke kantor!" Petugas yang memiliki lencana kepala segera berucap tegas.
"PAPA...HIKS...IRIS TIDAK MAU DIPENJARA!!"
Alejandro menatap kala dua orang polisi membawa turun iris dari lantai dua diikuti Jesika dan rinai.
"TUNGGU KAK CANDRIK...KALIAN TIDAK BISA MEMBAWAKU!"
__ADS_1
Air mata sudah mengalir deras diwajah iris,wajah yang semakin hari semakin rusak!.
Tidak tau bagaimana semua bisa terjadi,berbagai perawatan sudah Alejandro datangkan langsung ke kediaman untuk merawat kerusakan wajah iris,Jesika bahkan sudah mendatangkan dokter spesialis kulit kepercayaan-nya.Namun bukan membaik,radang pada wajah iris semakin menjadi bahkan menimbulkan luka basah dan beberapa terlihat bernanah!.
Semua terjadi sejak kembali dari Jepang.
"Iris tenang,papa akan lakukan sesuatu u-"Alejandro yang berusaha menenangkan iris tertahan oleh amarah Jesika.
"Lakukan apa?! iris sudah bunuh calon cucu kita! anak dari putrimu juga,rinai! kau mau tutup mata dan biarkan rinai menderita sendiri?!" Jesika menarik rinai yang sudah menangis dirangkulan Pedro.
Benar,pria itu sudah pulih dan kini datang bersama kedua orang tuanya.
"Dasar pembunuh! kau masih berani menangis dan mencari pembelaan?! kau membunuh calon bayiku dan rinai,dia kakakmu! kau gadis berhati busuk seperti rupamu!" Pedro sangat bersyukur, dirinya tidak lagi berhubungan dengan gadis berhati iblis ini.
Bahkan bayi yang belum lahir saja tidak lepas dari kebencian-nya!.
"AKU TIDAK MEMBUNUH BAYI KALIAN! HIKS...AKU TIDAK LAKUKAN ITU!" Dibawah para penghuni vila lain yang perlahan datang, oleh kedatangan police yang tidak biasa dan keributan dari kediaman Sanchez.
Perlahan,pekarangan kediaman itu penuh oleh para penonton yang penasaran!.
Hingga...
Sebuah Ferrari putih berhenti cepat didepan gerbang dan membuat kaget para tetangga yang menonton.
"IRIS!!" candrik berlari masuk dengan menahan sakit pada paha kirinya.
Benar,mengapa dirinya begitu lama kembali setelah masalah selesai?.
Semua tak lain karena sebuah peluru bersarang di pahanya!.
Dan Helios-lah yang membantunya mengeluarkan benda itu dengan operasi kecil namun cukup memakan waktu.
"Hiks..kakak tolong!!aku tidak mau masuk penjara!!" Iris menangis,berusaha melepas cengkraman kedua polisi muda itu namun tidak berpengaruh sama sekali.
"Apapun itu..mari bicara di kantor,kami menunggu! semua..kembali!"
Dengan itu, Alejandro dan candrik menatap para police yang membawa iris dengan putus asa.
Jesika dan rinai menyeringai puas dibawah bujukan iba pada tetangga dan keluarga Imanuel yang kasihan atas keguguran rinai.
"Sangat tidak disangka,gadis yang terlihat pendiam itu ternyata memiliki hati yang buruk!"
"Hah...lihat saja wajahnya yang hancur itu?! pantas saja dia selalu murung dan jarang bersosialisasi!"
" Benar-benar aib Sanchez!"
"Eh...bukankah kudengar putri sulung mendiang Aluna sudah kembali? kenapa belum ada berita apapun? apakah putrinya ini juga seburuk adiknya? iris?"
"Sudahlah...jangan biarkan anak-anak kita bergaul dengan putri mendiang Aluna...buruk hati buruk juga wajahnya!'
"Sudah bubar...bubar...kasihan tuan Alejandro atas perbuatan iris!"
Alejandro hampir limbung,beruntung candrik segera menahan tubuh pria baya itu .
"Kau lihat tuan Sanchez?! mana kesombongan putri sulungmu? dia pasti bersembunyi karena tidak mampu membuktikan bualannya?" Rihana berseru pongkah,ibu Pedro itu mengelus rambut rinai yang terlihat sedih.
Mungkin,orang lain akan berfikir.
Rinai terpuruk atas kemalangan adiknya .
Namun....
__ADS_1
Pesta pora sudah meledak dihatinya!.
"Jaga bicaramu! adikku,Latusya sedang dirawat di rumah sakit akibat penculikan!" Ujar Candrik berang.
Alejandro kembali tersentak menatap candrik linglung.
"Cand....candrik,apa yang kamu katakan? Sia diculik,dirawat?! " Wajah Alejandro jatuh,pucat seakan darahnya membeku seketika.
"Heh...jangan cari alasan mengelak! pembual itu memang pantas besar didesa! " Jesika menghujat tak lagi menahan diri,melihat mata semua orang menatap putrinya sendiri iba.
Jesika tidak sungkan lagi menjatuhkan latusya dan iris!.
...----------------...
Jarum infus itu dicabut paksa.
"Berhenti Tusya!" Raylion menahan gerakan kasar latusya.
Para pria disana, sahabat sekaligus kedua saudara raylion melotot horor melihat betapa ganas gadis itu mencabut jarum infusnya!.
"Tidak.....aku harus kembali...." Dengan nafas lemas,latusya berusaha bangkit dibawah tekanan raylion yang sudah menahan tubuhnya agar tetap berbaring.
"Tusya.... punggungmu baru saja dibabat akibat banyaknya luka cambuk, bagaimana aku bisa membiarkanmu pergi seperti ini?!" Raylion berucap tak berdaya,memeluk tubuh lemas yang berusaha memberontak.
Terdiam,latusya diam menatap wajah dengan manik tajam menyirat kelembutan dan putus asa itu.
Manik indah nan sayu itu mengembun,terasa panas.
Mencengkram lengan kokoh yang tengah memeluk tubuhnya lembut itu.
"Sudah berapa lama aku tertidur?" Latusya bertanya dengan gelisah.
Mengusap rambut panjang yang terlihat berantakan itu,menghela nafas panjang.
"Hanya sehari setela-"
"Sudah tiga..sudah tiga hari sejak kemarin berlalu dihari kedua?! tidak....aku harus pulang!!!" Latusya terlalu panik,penjara akan membuat adiknya menyandang status pembunuh jika keluarga Imanuel dan Jesika benar-benar nekat!.
"Hei...hei...tenang Tusya,aku akan selesaikan apapun masalahmu,tenang ya...tarik nafas!"
Latusya mencengkram kemeja depan Raylion,manik indah itu memerah .
"To..tolong pinjami aku ponsel...." Latusya kini terbakar cemas,dia harus segera menghubungi Kenzo!.
Raylion menyerahkan ponsel dengan nomor pribadinya.
Latusya,dengan gemetar mulai mendial nomor Kenzo.
Lama menunggu...
"Siapa ini...nomor penipuan y-"
"VIGO,MANA KENZO?!!"
Terdengar grasak-grusuk setelah teriakan latusya,raylion menghela nafas berat.
Tak ingin menganggu,hanya duduk disisi latusya diatas ranjang rumah sakit yang sudah diganti menjadi ranjang ukuran queen size.
"PEONY?! KAU KEMANA SAJA?!"
...----------------...
__ADS_1
...To be continue...