My Dear Beauty Peony

My Dear Beauty Peony
Day say goodbye


__ADS_3

Sulitnya mencari cuan!


Hai semua bagaimana hari ini?


Mendekati akhir bulan ini guys...yang anak kos apa kabar? mari pejuang mie dan kerupuk merapat sini......


Wkwkwkw...El lagi error butuh suntikan vitamin U🤑.....


Have a nice day..


...----------------...


...Vote,like, komentar dan ulasan ya jangan pelit!...


...✒️ Happy reading and keep spirit ✒️...



...----------------...


Dihalaman belakang bagian dapur,nampak terlihat dua orang wanita dengan penampilan berbeda jauh tengah berbicara dengan ekspresi serius.


Wanita dengan penampilan glamor nampak mengeluarkan sebuah amplop coklat cukup tebal dan menyerahkannya pada seorang wanita yang terlihat memakai seragam maid.


"Dengar ya marry,suamiku akan membawa semua orang ke Jepang untuk pemakaman Fujihara tua itu.Maka kesempatan bagimu untuk membereskan semua barang bukti dan pastikan tidak ada yang tersisa saat aku kembali,paham?" Jesika,menatap wajah wanita yang sudah mengabdi padanya sejak pertama kali menikah dengan Alejandro 15 tahun lalu.


Pelayan setianya!.


Marry,meraih amplop berisi sejumlah besar uang itu dengan senyum lebar.


"Tentu saja nyonya....saya akan pastikan gadis udik itu tidak akan bisa melakukan apapun pada nyonya dan nona rinai! serahkan pada saya!"Mary,wanita berambut hitam sebahu itu tersenyum semakin lebar kala membuka amplop dan melihat betapa tebal uang yang mengisinya!.


Sungguh,bukankah dia bisa bersenang-senang dengan uang sebanyak ini?!.


Dirinya tak salah memilih setia pada nyonya kedua Sanchez ini!.


Jesika menyeringai,melihat sekeliling dan pergi setelah memastikan keadaan aman.


Sementara itu....


Koper-koper berisi barang bawaan Alejandro dan anak-anaknya sudah siap didalam sebuah mobil van cukup besar .


"Iris.....apakah semua sudah nak? kalau ada yang kurang atau perlu dibeli,katakan saja pada papa" Iris tersentak,wajah datar Alejandro namun dengan ucapan penuh kesabaran itu sukses membuatnya terdiam.


Kelembutan dan kasih sayang sosok ayah,sesuatu yang tiba-tiba begitu berarti besar.Hal yang dirinya tunggu selama 18 tahun hidup!.


Kini iris mendapatkan hal itu,namun apakah dirinya bahagia atau sedih?.


Mengapa begitu lama?.


"Tidak papa...semua sudah selesai di packing oleh paman Tyson" Iris menatap wajah sang ayah,ada senyum haru diwajahnya.


Tak lama,Jesika berjalan keluar bersama rinai.


" Ma...haruskan kita ikut untuk berurusan dengan orang mati?! aku malas sekali pergi untuk pria tua itu! "


"Sabar,mama tau kamu tidak suka.Tapi kamu tetap harus mendekati para pria muda Fujihara itu...harus mendapat perhatian mereka,aset mereka itu begitu banyak tidak kalah dengan aset Sanchez! ambil hati mereka jangan biarkan rasa tidak sukamu membuat tambang uang kita melayang!"


"Tapi mama......mereka, Fujihara itu dari dulu memang tidak pernah menyukai kita! bahkan aku ingat...saat kecil dulu,putra jendral Wanglei itu,likay.Dia pernah melihatku hampir tenggelam di kolam renang tapi dia bahkan tidak menatapku dan pergi begitu saja bersama candrik! aku benci mereka ma,bahkan sampai sekarang!"

__ADS_1


Kedua ibu dan anak itu saling berbisik,Jesika mencubit lengan rinai yang juga tidak mampu menjaga ekspresi wajahnya.


"Rinai, ada-apa dengan dirimu? jika tidak ingin pergi tidak perlu pergi,wajahmu jelek sekali..." Candrik berucap sarkas,dokter muda yang sudah izin cuti selama 7 hari itu berucap dengan wajah datarnya.


"Candrik,jangan bicara begitu...rinai sedang kurang sehat mama harap kamu sebagai seorang dokter mengerti..." Jesika segera membalas saat melihat wajah gelap Alejandro.


"Uhuk...uhuk...maaf kak candrik,cuaca sekarang tidak menentu.Aku jadi sering tidak enak badan" Dengan lemah,rinai mengikuti drama ibunya.


"Sakit? kau sendiri yang tau..." Dengan senyum dingin,candrik menarik iris memasuki Alphard putih yang hampir menyerupai mini Van dengan kapasitas kursi penumpang bisa diduduki enam orang.


"Tyson tua..dimana Latusya?" Alejandro mendapati tidak adanya sosok putri sulungnya,kemana gadis itu?.


"Tuan,nona sulung sudah berada di mobil depan bersamaan asisten Andromeda" Tyson melapor tak enak.


Alejandro menghela nafas berat.


Mobil yang dibawa Andromeda adalah mobil berisi barang-barang dan koper yang keluarganya akan bawa menuju Jepang.


"Baiklah...Tyson tua,mungkin kami akan berada disana kurang lebih selama 7 hari hingga masa berkabung,tolong jaga kediaman ini!" Alejandro menepuk bahu kepala pelayan tua itu.


Akhirnya,semua menaiki mobil dan segera melaju menuju bandara internasional tujuan Tokyo, Jepang.


...----------------...


Tokyo, Jepang.


Pukul 10.00 pagi


"TUAN....." Seorang pria dengan pakaian hitam dan kain putih mengikat lengan kirinya mendekat dengan wajah tegang.


Wanglei dan Xingbei menatap kepala penjaga kediaman tua Fujihara itu dingin.


"Kenapa kau begitu panik ?" Likay bertanya dengan wajah tenang.


"Itu....tuan Alejandro datang bersama keluarganya!" Kai yang sudah mengatur nafas akhirnya mampu bersuara.


Hening..


Brakh...


Xingbei bangkit dengan cepat,kursi yang terjungkal dan mengagetkan para pelayat tidak diindahkan pria baya itu.


"Apa...dengan siapa saja dia datang?!" Xingbei menarik kerah kai dengan pias.


"Ba...banyak orang a-"


" Ayah kita lihat saja dulu!" Dengan itu,likay berjalan keluar dengan cepat dari aula berkabung.


Namun....


Deg....


Beberapa orang berwajah asing berjalan masuk.


Hingga,sosok Alejandro terlihat masuk dengan iris dan candrik.


Kemudian dibelakangnya terlihat Jesika dan rinai yang masuk dengan wajah sendu,penuh kesedihan.


Namun yang menjadi fokus semua orang,bahkan para pelayat yang hadir.

__ADS_1


Satu sosok gadis cantik dengan gaun hitam,dengan rambut panjang terhias pita panjang berwarna putih .


Gadis itu,mengangkat wajahnya dan menatap lurus kearah seluruh keluarga Fujihara.


Maniknya sebening kristal,begitu murni dengan keteguhan dan kepolosan seorang gadis muda.


Manik itu begitu bersih,dengan pahatan keindahan yang begitu membawa rasa kekaguman dan pesona yang begitu murni.


Likay dan louhan berdiri mematung,sedang kedua ayah mereka berdiri dengan mata memerah.


...----------------...


Sebuah peti mati dengan corak sulur merambat,berwarna hitam dilettakan ditengah sebuah ruangan besar yang diisi oleh begitu banyak tamu dengan pakaian hitam.


Seorang gadis dengan rambut panjang coklat gelap bergelombang terduduk dihadapan sebuah figuran besar dengan foto seorang pria tua lengkap dengan seragam militer-nya.


Foto berlatar hitam dan putih itu memperlihatkan seorang pria tegas dengan wibawa yang begitu kuat.


Air mata itu tanpa sadar menetes.


Latusya,membawa telapak tangannya menyentuh pipinya yang telah basah.


Alejandro duduk disisi putrinya, menatap getir akan air mata itu.


Bahkan meski tidak pernah bertemu sekalipun,perasaan kasih sayang itu tulus terpancar hanya dengan menatap bingkai foto.Sedangkan dengan dirinya?.


"Adik...." Seorang pria muda berwajah oriental,mengusap wajah cantik penuh air mata itu dengan senyum teduh.


"Maaf.....aku bahkan tidak pernah datang menjenguk kakek..." Likay,tersenyum teduh.


Gadis yang bahkan belum beberapa jam tiba dan kini menangis untuk kakeknya!.


Benar,darah Fujihara akan selalu mengingat asal mereka meski tidak bersama untuk waktu yang lama.


"Tidak tau benar atau tidaknya, tapi...terima kasih karena tidak pernah melupakan diriku...kakak sepupu kedua" Latusya menatap wajah teduh likay,pria muda itu mengusap rambut panjang adik sepupunya dengan sayang.


"Adik....kau adalah bagian dari kami...dimana pun kau berada,maaf kakak dan semua keluarga Fujihara belum sempat melihatmu begitu kamu kembali" Louhan datang,menyerahkan secangkir teh oolong pada sang adik.


Tak jauh,duduk iris dan candrik.Keduanya diapit oleh Wanglei dan Xingbei.


"Iris... bagaimana kabarmu,nak?" Wanglei bertanya menatap wajah keponakannya prihatin.


"Jandro,apa kau ini ayahnya?! mengapa kau tidak pastikan putri bungsumu ini mendapat perawatan semahal ibu juga saudari tirinya? betapa mencolok wajah berusia 40 tahun itu!' Xingbei, dengan sarkas menyindir wajah terawat Jesika dan rinai.


Alejandro menghela nafas panjang,tidak tau bagaimana wajah putri bungsunya bisa mengalami radang separah itu.Padahal,uang bulanan yang ia berikan untuk iris sama banyaknya dengan rinai.


Pria baya itu menatap Jesika rumit.


Apakah istrinya ini tidak memberi uang bulanan iris dengan benar?.


Segera, perbincangan itu terhenti kala seorang bikhu datang bersama beberapa orang dari kuil.


Dan,upacara penghormatan roh segera dimulai sebelum acara pelepasan jasad Fujihara tua akan dilakukan.


.....To be continued.....


El malas....


Banyak hantu disini...

__ADS_1


__ADS_2