
"Kalian bertiga, silahkan duduk." kata Evelyn dingin.
"Andra, kamu duduk di sampingku ya sayang," ucap Evelyn sambil tersenyum ke Andra.
Andra menyengirkan keningnya dan hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu duduk disitu? Itu kan kursi pimpinan rumah sakit," ucap Andra bingung.
"Ya. Berdiri kamu dari kursi itu. Kamu bukan siapa-siapa disini. Pergi kamu," sindir Hanna.
Evelyn memasang ekspresi dingin dan datarnya.
"Dasar bawahan tidak tahu diri," ucap Evelyn dingin.
"Apa katamu! Saya bukan bawahanmu!" teriak Hanna sambil mengebrak meja.
Evelyn hanya diam sambil memandang orang didepannya dengan tajam.
Kevin pun bersuara, "Hanna, mulutmu itu dikontrol. Gak ada sopan-sopannya dikitpun," ucap Kevin.
"Kamu diam aja laki-laki tidak berguna!" kata Hanna kesal.
Kevin yang tidak mau membalas, akhirnya memilih diam saja. Sedangkan Andra menepuk bahu temannya, "Kontrol emosimu, dia tetaplah perempuan." kata Andra.
Kevin pun hanya mengganggukan kepalanya.
"Betul-betul wanita tidak tahu diri sekaligus murahan," batin Evelyn.
Hanna berdiri dari kursinya dan memaksa Evelyn untuk berdiri dari kursinya.
"Berdiri kau, gak usah sok jadi pemimpin kau. Kau hanya sampah yang disukai Andra saja," hina Hanna sambil mendorong Evelyn sampai jatuh.
Brukk...
Evelyn yang terjatuh pun merasakan sakit di pantatnya, sedangkan Andra yang melihatnya langsung mendekat kearahnya.
"Kamu tidak apa-apa sayang? Bagian mana yang sakit?" tanya Andra khawatir.
Evelyn hanya menggelengkan kepala nya sambil tersenyum, dan hanya mengelus pipi Andra. "Aku gak apa-apa kok ndra. Gak usah khawatir, itu bukan seperti dirimu saja," ucap Evelyn pelan.
Andra pun berdiri dan mendekat kearah Hanna, emosinya sudah memuncak melihat orang yang dia cintai diperlakukan seperti itu.
"Apa maksud lo mendorong calon istri gue hah!" ucap Andra dingin.
"Lo gak berhak melakukan itu sama dia. Gue aja gak pernah berlaku kasar sama dia. Lo yang bukan siapa-siapa, berani pula," ucap Andra dingin sambil menarik rambut Hanna kuat.
Hanna yang diperlakukan seperti itu pun merasakan sakit di kepalanya, " Aawww.... sakit ndra. Lepasin tangan lo dari rambut gue," ucap Hanna sambil menahan sakit.
"Gak. Gue akan buat lo merasakan sakit yang lebih. Gak usah sok preman lo disini," ucap Andra dingin.
Kevin yang melihat itu pun melangkah maju dan melepaskan tangan Andra dari rambut Hanna.
__ADS_1
"Lo gak usah berlaku kasar juga ndra. Dia juga perempuan! Lepasin dia!" teriak Kevin.
Andra melepaskan tangannya, lalu melangkah mendekat ke Evelyn.
"Ayo berdiri," ucap Andra sambil membantu Evelyn berdiri.
"Ndra, aku gak apa-apa kok. Kontrol emosimu My husband," ucap Evelyn sambil tersenyum.
"Gak usah tersenyum gitu. Dan aku belum jadi suamimu," ucap Andra pelan sambil menyentil dahi Evelyn.
Hanna yang melihat keromantisan kedua orang tersebut pun merasa kesal. Dia pun duduk di kursi pimpinan itu.
"Gak usah sok mesra-mesra disana kalian. Gue yang akan duduk di kursi ini, bukan lo perempuan sialan!" hina Hanna.
Evelyn melepaskan Andra dan berjalan santai menuju Hanna, "Lo bermimpi ya jadi pemimpin rumah sakit ini. Kalau bermimpi jangan ketinggian, nanti jatuh loh," sindir Evelyn.
Andra dan Kevin hanya memandang kedua perempuan yang sedang beradu mulut.
Kevin mendekat ke Hanna, "Kamu jangan duduk disana, kamu bukan pimpinan." ucap Kevin.
"Diam aja. Gue pemimpin disini, emang lo gak mau jadi wakil gue," ucap Hanna sombong.
Evelyn hanya menggelengkan kepalanya, "Dasar tidak tahu diri," sindir Evelyn.
"Ingat, Evelyn yang gue kenal tidak pernah berkata kasar, apalagi mengumpat." ucap Andra sambil memeluk Evelyn dari belakang.
"Gue perintahkan lo lepaskan pelukan lo itu ndra dari perempuan murahan itu!" teriak Hanna.
Mereka yang sedang beradu mulut, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," jawab Evelyn dingin.
Ternyata yang masuk Adijaya, sekretaris pribadi papa Evelyn.
"Nona... Kenapa nona bisa duduk disana? Bukannya di kursi pimpinan," kata Adijaya sambil berjalan masuk.
Evelyn memandang orang yang sedang mendekat itu dengan datar, "Anda datang, berarti papa sudah sampai di Indonesia ya?" tanya Evelyn.
"Iya nona," jawab Adijaya sambil melihat orang lain yang duduk disana.
"Anda kenapa bisa jadi duduk disana? Bukankah anda hanya seorang suster? Dasar tidak sopan. Berdiri anda dari sana sekarang!" kata Adijaya kesal.
Hanna yang mendengar itu pun langsung berdiri dari sana dan berjalan ke depan Adijaya.
"Maaf Mr. Adijaya. Saya hanya melindungi kursi yang harusnya anda dudukkin, bukan malah perempuan murahan itu yang duduk," ucap Hanna sopan.
Adijaya yang mendengar itu pun menepuk jidatnya, "Anda tidak sopan dengan pimpinan yang sebenarnya rumah sakit ini," kata Adijaya.
"Ap-apa maksud anda?" ucap Hanna bingung.
__ADS_1
"Nona Evelyn adalah pemilik rumah sakit ini dan juga pewaris Lee corporation and production." kata Adijaya.
Ketiga orang yang disana pun terkejut tanpa terkecuali.
Andra melihat kearah Evelyn dengan muka yang meminta perjelasan.
Evelyn pun menghela nafasnya, lalu berdiri dan berjalan ke kursi kebesarannya lagi.
"Kamu gak usah mengatakan yang sebenarnya Adijaya, dia hanya ingin menyombongkan dirinya sendiri tadi," sindir Evelyn.
Adijaya pun mendekat dan meletakkan berkas di depan Evelyn.
"Berkas apa ini?" tanya Evelyn datar.
"Itu berkas yang anda minta. Berkas yang mengatakan kalau nona CEo sah di rumah sakit ini, sedangkan tuan Kivandra adalah pemimpin kedua tertinggi disini," jelas Adijaya.
Andra yang mendengar namanya pun terkejut. "pemimpin tertinggi kedua setelah dia. Mana mungkin," batin andra.
Evelyn pun membaca berkas itu dan menandatanganinya.
"Urus semuanya, dan laporkan secepatnya," kata Evelyn.
"Baik nona. Kalau begitu saya permisi, karna tuan besar hanya menyuruh saya kesini untuk memberitahu anda," jelas Adijaya.
"Ya... Pergi dan keluarlah," jawab Evelyn dingin.
Adijaya pun keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya.
"Kenapa diam nona Hanna? Tadi dengan sombong nya bilang kalau anda pimpinan disini," sindir Evelyn pelan.
Sedangkan Hanna hanya diam saja.
"Suster Hanna, saya tidak mau ada seorang suster yang sombong di rumah sakit saya. Jadi mulai besok, silahkan ambil pesangon anda dan keluar dari rumah sakit ini," kata Evelyn dingin.
"Apa maksud anda? Anda memecat saya?" tanya Hanna pelan.
"Tidak tuli kan? Saya rasa anda bukan orang bodoh juga," sindir Evelyn.
"Dan anda juga sudah menjebak Suamiku untuk datang ke club dan memberinya obat perangsang. Benar bukan suster?" tanya dan sindir Evelyn.
Andra yang mendengarnya pun berkata, "Jadi itu semua rencanamu suster Hanna!" ucap Andra dingin.
"Iya. Itu rencana nya, tapi dibantu sama Kevin. Bukankah begitu Vin?" tanya Evelyn.
"Apa hukuman yang cocok untuk tenants SMA ku yang bodoh hanya karena cinta aja," ucap Evelyn.
Kevin pun berkata, " Iya ndra. Semua kejadian itu disuruh sama Hanna. Kamu tahu kan kalau aku cinta sama Hanna. Jadi maafin aku Andra Evelyn," jawab Kevin.
"Kau suster Hanna, pergi dari sini dan minta pesangonmu sekarang juga," perintah Evelyn.
Apakah Hanna akan diam saja menerima keputusan Evelyn itu?.
__ADS_1