My Dream Boyfriend

My Dream Boyfriend
Bab 61


__ADS_3

Tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangan Evelyn, seorang pria setengah tua masuk kedalam. Ya, itu adalah papa nya Evelyn.


Evelyn langsung melepaskan pelukan mereka berdua, dan langsung saling menjauh.


"Appa, ternyata sudah sampai. Kenapa gak kabarin elyn?" tanya Evelyn sambil berdiri lalu berjalan kearah papa nya.


"Hn...setahu Appa, tadi sekretaris Appa sudah memberitahu dan datang kesini," jawab Appa Brian datar.


"Hehehe Elyn lupa," ucap Evelyn sambil menggaruk lehernya kikuk.


Appa Brian hanya menggelengkan kepalanya, lalu melihat kearah Andra.


"Kamu sudah move on dari Andra ternyata," ucap Appa Brian sambil duduk di sofa.


Andra melototkan matanya dan melirih ke Evelyn.


Evelyn yang melihat tatapan Andra pun mengerti, "Appa ada-ada aja. Evelyn mana bisa move on. Yang duduk itu Andra, bukan laki-laki lain," kata Evelyn.


"Benarkah? Udah jadi dokter ternyata ya," ucap Appa Brian sambil menatap Andra dari bawah keatas.


"Dulu kurusan, sekarang agak gemukkan ya," lanjutnya.


Andra yang mendengarnya pun sedikit malu.


"Appa, jangan bilang gitu. Andra tetap seperti yang dulu. Orang yang Elyn cintai," ucap Evelyn.


"Apa kabar nak?" tanya Appa Brian ke Andra.


"Baik om. Kalau om bagaimana?" jawab Andra dan menanyakan kembali.


"Seperti yang kamu lihat. Dan kenapa masih manggil om, panggil papa aja," ucap Appa Brian tenang.


"Hn...Iya pa," jawab Andra canggung.


Evelyn pun ikut duduk di samping Andra, "Ngomong-ngomong, Appa mau ngapain kesini?" tanya Evelyn pelan.


"Hanya mau lihat anak Appa yang katanya gila kerja oleh sekretaris pribadinya," jawab Appa Brian datar.


"Dan lagi, Appa mau kamu memeriksa ini dan ikutlah meeting pemegang saham." lanjutnya.


"Meeting pemegang saham? Kapan pa?" tanya Evelyn.


"Tiga hari lagi, di Paris." jawab Appa Brian.


Evelyn terkejut lalu berkata, "Tapi pa. Elyn ada meeting juga sama Mr. Walson 3 hari lagi. Dan itu pun di jepang. Evelyn mana bisa, suruh aja abang yang ikut meeting ke Paris Appa," kata Evelyn.


"Tidak bisa Elyn. Karna kamu adalah pemegang saham yang akan di tunjuk untuk selanjutnya," kata Appa Brian dingin.


"Apa maksud Appa?" tanya Evelyn tidak mengerti, Andra juga menatap mereka berdua dengan muka tidak mengerti juga.


"Tahun ini akan dipilih pemimpin pemegang saham bagi seluruh pengusaha. Dan kamu termasuk kedalam calon pemimpin tersebut," jelas Appa Brian.


"APA!!" teriak Evelyn terkejut sambil berdiri. Andra juga ikut terkejut, tapi dia langsung menarik tangan Evelyn untuk duduk kembali.


Evelyn hanya melihat andra, lalu melihat Appa nya lagi, " Apa maksud Appa?! Appa kan tahu, kalau Elyn tidak mau jadi pemimpin dalam organisasi apapun pa," Ucap Evelyn frustasi.

__ADS_1


"Appa tidak bisa melarang Elyn, semua pengusaha yang mendaftarkan kamu jadi calon pemimpin selanjutnya. Bukan Appa," kata Appa Brian tenang.


"Gak. Elyn gak mau, Elyn hanya mau jadi pengusaha biasa aja. Elyn juga hanya mau hidup tenang bersama Andra dan keluarga kita nanti pa." ucap Evelyn dingin.


Appa Brian hanya menatap Evelyn.


"Tolong lah pa, Elyn gak mau keluarga Elyn nantinya jadi sasaran orang yang menginginkan posisi itu. Appa kan bisa menyarankan yang lain." mohon Evelyn.


"Tidak bisa Elyn. Kapan kalian menikah?" tanya Appa Brian.


Evelyn dan Andra saling menatap Satu sama lain, setelah mendengar perkataan Appa Brian.


Kemudian Andra yang menjawabnya, "Secepatnya pa," jawab Andra cepat.


"Secepatnya itu kapan? Tidak usah lama-lama," tanya Appa Brian lagi.


"Appa, gak usah dibahas lagi." kata Evelyn.


"Eomma terus saja menanyakan kapan punya cucu darimu Evelyn." kata Appa Brian datar.


Mendengarkan kata cucu, Evelyn jadi teringat saat kejadian waktu dia melakukannya bersama Andra.


"Appa gak ada kerjaan lain emangnya? Kenapa gak balik ke kantor?" tanya Evelyn bertubi-tubi.


"Kamu mengusir Appa? Bilang kalau mengusir appa." ucap Appa Brian dingin.


"Gak loh pa. Gitu aja Appa ngambek," ucap Evelyn sambil memeluk Appa nya dari belakang.


"Ya sudah, Appa pulang dulu. Nak Andra, kapan-kapan datang lah ke rumah ya. Jangan malu-malu," ucap Appa Brian.


"Iya pa," jawab Andra singkat sambil menyalim tangan Appa Brian yang diikuti sama Evelyn.


"Hufft... Appa ada-ada aja deh," ucap Evelyn sambil menghela nafas.


Andra pun langsung memeluknya dari belakang sambil meletakkan kepalanya di leher Evelyn.


"Kenapa kamu menghela nafas begitu?" tanya Andra.


"Tidak apa-apa kok. Ndra, soal yang waktu itu, gimana kalau aku hamil duluan dari pernikahan kita?" tanya Evelyn.


"Hn... Tidak masalah. Aku akan beli rumah yang besar untuk kita berdua bersama anak-anak nantinya," kata Andra.


Evelyn melepaskan pelukan Andra di pinggangnya.


"Kamu gak kerja hm... Pak dokter," ucap Evelyn.


"Hn... baiklah, aku kerja dulu ya my crazy girl" ucap Andra sambil mencium kening Evelyn.


Evelyn melototkan matanya terkejut.


Sedangkan Andra menahan tawanya," Kenapa mukanya memerah?" tanya Andra.


Evelyn pun mencium pipi Andra juga.


"Semangat kerjanya My husband," ucap Evelyn.

__ADS_1


Andra pun mengacak-acak rambut Evelyn.


"Iihhh jadi rusak rambutku," ucap Evelyn ngambek.


Andra melihat jam tangannya, "ternyata sudah jam segini," batin Andra.


"Aku kerja dulu ya. Kalau ada apa-apa telpon aja." ucap Andra sambil tersenyum.


"Iya cerewet," ejek Evelyn.


Andra pun keluar dari ruangan itu, Lalu berjalan ke ruangan prakteknya.


Sedangkan Evelyn segera menelpon sekretarisnya.


"hallo," jawab orang itu.


"Ke ruangan saya sekarang juga bas," ucap Evelyn datar.


Beberapa saat kemudian, Evelyn pun mengambil tas dan kertas yang mau dia lihat.


"Kita pulang ke rumah sekarang.. Ayo," ucap Evelyn dingin.


"Baiklah nona," jawabnya sopan.


Mereka berdua pun keluar dari ruangan tersebut, dan berjalan menuju lift.


Tapi di tengah perjalanan, Evelyn melihat Hanna yang sedang membawa semua barang-barangnya, sedangkan Hanna yang melihat Evelyn pun menatap nya dengan tajam.


"Udah mau pulang ibu pimpinan. Kenapa cepat banget pulangnya, contoh yang tidak baik sama karyawan yang lain," sindir Hanna yang suaranya sengaja dibesarkan.


Sedangkan Evelyn hanya memandangnya datar, "Hm...ya. Luis, kenapa pelakor ini masih disini sih? Apa security disini gak ada gunanya ya?" tanya Evelyn ke sekretarisnya dengan muka dinginnya.


"Maafkan saya nona, saya akan memanggil security sekarang," jawab sekretaris itu sopan sambil menelpon security.


Evelyn hanya melipat tangannya di dada, sedangkan Hanna makin menatap nya dingin dan malu.


Beberapa kemudian, security pun datang.


"Maaf nona, nona memanggil saya?" tanya nya sopan.


"Kenapa wanita pelakor ini tidak kamu usir dari rumah sakit ini!" ucapnya sedikit membentak.


"Maafkan saya nona, tapi suster Hanna sendiri yang akan keluar katanya nona," jawab security itu takut.


"Sekarang bawa dia keluar dari sini, dan jangan pernah biarkan dia menginjak rumah sakit ini selamanya. Paham!!" teriak Evelyn.


Teriakan Evelyn tersebut membuat semua orang menatapnya.


Evelyn tidak peduli dan langsung berjalan lagi dengan santainya.


Hanna yang tidak terima pun mendorong Evelyn dari belakang, dan Evelyn pun jatuh.


Wajahnya kena kelantai dan keningnya berdarah.


"Nona!" kata sekretarisnya sambil membantu Evelyn berdiri.

__ADS_1


"Evelyn!!" teriak seseorang dari belakang sambil berlari ke arahnya.


Siapakah yang berlari itu?


__ADS_2