
Besok pagi nya.
Evelyn sedang bersiap-siap untuk pergi rapat ke luar negeri. Dia juga membawa pakaiannya lumayan banyak, karena dia tidak tahu sampai kapan dia disana.
Evelyn pun turun dari kamarnya, di dapur pelayannya sudah siap membuat sarapan untuk nya.
"Brian, apa Appa dan Mama sudah berada di mansion mereka?" tanya Evelyn.
"Iya nona. Tuan besar dan Nyonya besar sudah ada disana," jawab Brian sekretarisnya.
"Baiklah... Aku ada tugas buatmu. Kamu Antarkan surat ini ke rumah sakit untuk dokter Kivandra. Mengerti?" jelas Evelyn sambil menyerahkan suratnya ke Brian.
"Saya mengerti nona," jawab nya sopan.
"Ya sudah. Kamu antar aja sekarang suratnya," ucap Evelyn datar.
"Baik nona. Saya permission dulu," pamit Brian sopan.
Sekretarisnya pun pergi mengantarkan surat tersebut ke rumah sakit. Sedangkan Evelyn menyeret kopernya keluar dan memasukkan nya ke dalam bagasi mobilnya.
Lalu dia pun mengendarai mobilnya menuju bandara. Tapi dia pun menelpon sekretarisnya lagi.
"Hallo... Ada apa nona?" tanya Brian.
"Kamu langsung ke bandara setelah dari rumah sakit. Saya tunggu, jangan lama." ucap Evelyn dingin dan langsung mematikan Hp-nya.
Sementara itu, Andra sudah berada di rumah sakit dengan muka pucat. Semua suster Dan dokter disana pun menatapnya kasihan.
Andra yang sedang berjalan ke ruangannya melihat sekretaris yang biasa menemani Evelyn.
"Evelyn kemana? Kenapa hanya sekretarisnya aja yang datang kesini," batin nya. Dia pun langsung melangkah mendekati sekretaris Evelyn tersebut. Sedangkan Brian melihat Andra berjalan menuju nya.
"Maaf tuan Andra, ini ada surat dari nona Evelyn untuk anda. Kalau begitu saya langsung pamit," ucapnya sopan sambil membungkuk, lalu berjalan.
"Tunggu sebentar! Ini surat apa? Dimana Elyn sekarang?" tanya Andra bertubi-tubi ke sekretaris tersebut.
"Saya hanya disuruh untuk memberikan surat itu ke tuan Andra. Dan menyuruh saya untuk pergi ke bandara, kalau begitu saya pamit dulu tuan," ucap Brian yang langsung jalan cepat keluar rumah sakit tersebut.
Sedangkan Andra yang mendengar perkataan sekretaris yang tadi pun terkejut, "Bandara?" gumam Andra.
"Gak... Gak mungkin...," kata Andra.
Dia pun langsung menelpon Evelyn, tapi hanya ada suara call center yang mengatakan nomornya tidak aktif.
Andra langsung berlari keluar rumah sakit, lalu mengendarai mobilnya menuju bandara.
"Gak Elyn. Jangan lagi, kumohon. Aku gak mau kehilanganmu lagi," ucap Andra pelan sambil mengendarai mobilnya sekencang angin.
__ADS_1
Sedangkan sekretaris Evelyn pun baru sampai di bandara dan langsung berlari untuk mengejar jadwal penerbangan. Dia pun sampai di ruang tunggu bersama Evelyn.
"Sudah selesai kan? Ayo masuk!" perintah Evelyn sambil berjalan menuju petugas bandara.
"Baik nona," ucap Brian dengan mengikuti Evelyn dari belakang.
Mereka berdua pun sudah berada di pesawat dan akan lepas landas.
Andra yang baru sampai di bandara, tapi sayangnya pesawat yang di tumpangin Evelyn sudah berangkat 10 menit yang lalu.
Andra yang mencari-cari keberadaan Evelyn sambil berlari kesana-kemari.
"Kamu dimana Lyn? Aku nyesal udah ambil keputusan itu. Jangan tinggalkan aku, kumohon," gumam nya sambil terus mencari.
Selama 1 jam Andra mengelilingi bandara, tapi tidak ada Evelyn disana.
Dia pun terduduk lemas di bangku tunggu.
"Aku sudah membuat kesalahan. Waktu itu aku menunggu selama 5 tahun, sekarang aku harus menunggu berapa tahun lagi lyn," ucap Andra sambil meremas rambutnya kuat.
Tiba-tiba Hp-nya berbunyi, ada terpampang nama Sandra disana.
"Ngapain lagi kak Sandra menelpon?" tanya nya pelan lalu mengangkat telpon tersebut.
"Ndra... sakit... aarrgghh...," suara rintihan kesakitan Sandra.
"Ndra... tolong anakku dan aku," ucap nya lemas.
"Kak tenang, Andra akan kesana.. Tunggu ya kak," jawab nya dan langsung berlari lagi menuju mobilnya dan mengendarai nya kembali ke rumah.
10 menit pun dia sudah sampai di rumah dan langsung membuka pintu rumah nya.
BrakKk....
"Kakak dimana?!" teriak Andra, tapi tidak ada yang menjawab. Dia pun langsung melangkah kearah kamarnya.
"Kakak dimana sih?! Kakak!!" teriaknya. Dia pun mencari-cari di sekitar kamarnya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dan menemukan Sandra yang sudah terjatuh dengan kaki yang berdarah.
"Astaga kakak!!" teriak Andra sambil menggendong Sandra untuk dibawa ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, dia pun langsung membawa Sandra ke ruang UGD, tapi suster disana melarangnya masuk.
"Maaf dokter Andra. Andra tidak boleh masuk kedalam." ucap suster tersebut dan langsung menutup pintu ruangan UGD tersebut.
Andra yang sudah khawatir pun berjalan mondar-mandir sambil berkata, "Kenapa banyak masalah yang datang bersamaan sih. Masalahku dengan Evelyn belum selesai, ditambah masalah kak Sandra lagi," ucap nya sambil menutup muka nya mengunakan kedua tangannya.
Tap... Tap... Tap...
__ADS_1
Suara lari seseorang mengema di lorong rumah sakit. Ternyata yang datang papa nya Sandra.
"Apa yang sudah kau lakukan pada putriku!" bentaknya sambil menarik kerah Andra.
"Saya tidak apa-apain kak Sandra pa. Saya sampai rumah sudah melihat kak Sandra seperti sekarang ini," jelas Andra.
"Gak usah berbohong kau. Kalau terjadi apa-apa dengan putriku, awas aja kau!" ucapnya sambil melepaskan cengkramannya dari kerah Andra.
Sedangkan Andra menarik nafasnya dan langsung duduk.
20 menit kemudian dokter pun keluar dari UGD.
Andra langsung berdiri dan diikuti dengan papa nya Sandra.
"Gimana istri dan anak saya dok?" tanya Andra.
"Istri anda mau bertemu dengan anda dok," ucap dokter itu ke Andra.
"Saya bisa masuk kan?" tanya Andra pun masuk kedalam.
Papa Sandra yang ingin masuk juga, tapi ditahan dokternya.
"Maaf pak, tapi pasien hanya ingin bertemu dengan suaminya. Nanti gantian ya pak," ucap dokter tersebut.
Di dalam ruangan UGD.
Andra melangkah ke arah Sandra, "Kak, kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya Andra.
"Tidak apa-apa. Tadi hanya terpeleset doang. Ndra, aku mau kamu menjaga anakku. Aku tidak mau papa ku yang menjaga nya. Anakku adalah anakmu juga. Jangan biarkan nanti papaku mengambilnya. Kamu berjanjilah ndra," kata Sandra pelan.
"Tapi kak, aku gak berhak atas anak kakak. Kita akan bercerai juga setelah anak kakak lahirkan," ucap Andra.
"Tidak ndra. Aku mau kamu yang menjaga anakku, kamu berhak atas anakku juga. kumohon, jangan biarkan keluargaku mengambilnya. Kumohon ndra, pertahanin anakku disisimu," ucap Sandra menangis sambil mengenggam tangan Andra.
Andra pun hanya menganggukan kepalanya.
"Kakak gak usah mikirin itu dulu, usia kandungan kakak masih 7 bulan. Kakak harus kuat demi dia juga ya," ucap Andra sambil tersenyum.
"Ndra, aku gak tahu kapan aku bisa bertahan. Dokter memberikan dua pilihan samaku. Mau selamatin anakku atau nyawaku. Tapi aku memilih anakku. Jadi kumohon berjuanglah demi anakku ndra," kata Sandra pelan.
"Apa maksud kakak?! Kakak akan tetap bertahan. Gak usah ngomong gitu lagi. Ngerti!!" bentaknya.
Tak lama kemudian dokter yang tadi pun masuk kembali, "Maaf dokter Andra, saya harus membawa nona Sandra ke ruang operasi," ucap dokter itu.
"Tunggu dulu, kenapa harus ke ruang operasi. Apa ada yang terjadi?" tanya Andra.
Dokter tersebut pun menganggukan, "Karna terjatuh tadi, air ketubannya sudah pecah. Jadi harus di lakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan anaknya. Kalau begitu saya permisi," ucap dokter itu sambil mendorong dankar Sandra keluar ruangan.
__ADS_1