
Andra terus melihat kepergian Evelyn dan Lilly, "Aku merasa memiliki ikatan dengan anak itu. Dia sangat mirip denganku dan Evelyn. Apa itu memang anak kami berdua?" batin Andra.
Sedangkan Arka melihat papa nya yang diam sambil terus melihat kearah perginya kedua orang tadi.
"Papa!" panggil Arka sambil menarik-narik ujung celana Andra.
"Papa!!" panggil Arka lebih keras.
Andra yang dipanggil dan merasa celana nya ditarik-tarik pun tersadar dan langsung melihat kearah Arka.
"Ada apa Ar? Apa ada masalah?" tanya Andra ke Arka.
"Papa kenapa bengong?" tanya Arka balik.
"Gak apa-apa. Ayo kita ke ruangan papa. Papa mau periksa pasien," jawab Andra sambil menggendong Arka.
"Papa, kapan lagi ketemu dengan tante cantik?" tanya Arka.
"Segera... Sabar ya," jawab Andra.
Sedangkan di tempat Evelyn.
Evelyn membawa anak nya ke ruangannya, lalu melepaskan gendongannya.
Lilly menatap mommy nya, "Mom, om yang tadi itu tampan juga. Lilly cuka cama om tadi," ucap Lilly sambil tersenyum.
Evelyn hanya diam menatap anaknya.
"Mom, Lilly mau om tadi jadi daddy Lilly. Bolehkan?" tanya Lilly dengan mata berbinar.
"Honey, kenapa bilang seperti itu? Kan udah mommy bilang, daddy Lilly sudah meninggal. Dan mommy gak mau nikah lagi," jawab Evelyn dingin.
Melihat tatapan mommy nya yang menakutkan, Lilly langsung menundukan kepalanya. Dia takut melihat mommy nya sedang marah.
"Tapi mom, setiap Lilly melihat anak-anak lain di taman bersama daddy Dan mommy mereka, Lilly mau seperti mereka mom. Lilly mau punya daddy juga," ucap Lilly dengan mata berkaca-kaca.
Evelyn yang melihat anaknya yang hampir menangis pun langsung memeluknya, "Maafin mommy honey... Mommy udah pisahin kamu dengan daddy mu sendiri. Mommy hanya tidak mau dianggap orang yang merusak rumah tangga orang lain. Maafin mommy, maafin aku juga Andra," batin nya sedih.
Evelyn pun tidak sadar kalau dirinya menangis. Lilly langsung melepaskan pelukannya.
"Mommy... Kenapa mommy menangis? Jangan menangis mom. Maafin Lilly sudah membuat mommy sedih," ucap Lilly sambil menghapus air mata Evelyn.
"Iya gak apa-apa. Suatu saat Lilly akan tahu kebenaran. Maafin mommy ya honey," kata Evelyn dengan menghapus air mata nya.
Lilly hanya menganggukan kepalanya.
Tokk... Tokk... Tokk...
Suara ketukan pintu menghentikan percakapan ibu dan anak tersebut.
"Masuk," jawab Evelyn dari dalam.
__ADS_1
"Maaf menganggu nyonya. Saya mau memberikan berkas yang nyonya suruh tadi," kata Brian sekretaris Evelyn.
"Iya. Makasih ya Brian," jawab Evelyn sambil mengambil berkas tersebut dari tangan sekretaris nya.
"sama-sama nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu nyonya," ucap Brian sopan sambil membungkukan badannya lalu keluar dari ruangan Evelyn.
Evelyn langsung melihat ke arah Lilly, " Honey... Kamu bisa bermain atau belajar sendiri gak apa-apa kan? Mommy ada kerjaan yang harus diselesaikan," ucap Evelyn ke Lilly.
Lilly hanya mengangguk patuh dan langsung mengambil tas miliknya.
Sedangkan Evelyn membuka berkas yang diberikan sekretaris nya tadi.
Berkas tersebut berisikan tentang Andra, Sandra, dan anak mereka.
Test DNA milik Andra dan Arka.
"Gak mungkin... Ini tidak mungkin. Jadi Arka itu bukan anak kandung Andra. Jadi, Arka sebenarnya anak Sandra dengan siapa?" batin Evelyn terkejut melihat laporan tersebut.
"Aku harus menyelidikin nya. Ini demi masa depan lilly," lanjut Evelyn dalam hati nya.
Lily menatap mommy nya yang muka nya terkejut, " Bukannya mommy sering memeriksa laporan dengan ekpresi yang biasa. Tapi kenapa melihat laporan itu ekspresi mommy seperti itu ya?" batin Lilly penasaran.
"Mommy," panggil Lilly pelan.
Tapi Evelyn tidak mendengarkannya dan asik bengong melihat laporan Tes DNa.
"Mommy!!" teriak Lilly sambil berjalan dan memeluk kaki Mommy nya.
Evelyn pun tersadar saat merasakan ada seseorang yang memeluk kakinya.
Lilly hanya menggelengkan kepala nya, " Gak mom. Lilly hanya bosan saja. Bisa Lilly pelgi jalan-jalan keluar mom?" tanya Lilly ke Evelyn.
"Mau jalan-jalan kemana honey? Mau ditemanin tidak?" tanya Evelyn.
"Lilly hanya bocan dicini mom. Bica kan?" tanya Lilly dengan muka lucu nya.
"Dengan ekspresi seperti itu, kamu sangat mirip dengan daddy mu Lilly. Aku sangat merindukanmu ndra" batin Evelyn.
"Baiklah. Tapi pergi lah bersama dengan Brian ataupun Louis" jawab Evelyn sambil mengelus rambut Lilly.
Lilly hanya menggangukkan kepalanya.
Kemudian Evelyn menelpon Louis, " Louis, ke ruangan saya sekarang," perintah Evelyn dari telponnya.
"Baik nyonya" jawab Louis.
Setelah selesai menelpon, Evelyn langsung mematikan sambungannya dan langsung memandang kearah Lilly.
"Tunggu Louis datang, baru Lilly bisa pergi ya sayang" ucap Evelyn.
Tidak berapa lama, ada yang mengetuk pintu ruangannya.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
"masuk," jawab Evelyn.
Ternyata yang masuk bukan Louis, melainkan Andra.
Evelyn terkejut melihat kedatangan Andra, lalu dia pun langsung menatap Andra.
"Apa ada masalah Mr. Dhermandra? Atau ada urusan yang penting sampai datang ke ruangan saya?" tanya Evelyn dingin.
"Tidak ada. Saya hanya mau berbicara empat mata dengan anda nyonya," jawab Andra.
Evelyn langsung melirik Lilly, dan kebetulan pula Louis masuk kedalam ruangan juga.
"Permisi nyonya, apa anda memanggil saya?" tanya Louis sopan.
"Ya. Lilly mau pergi jalan-jalan, tolong temanin dia. Bisa kan?" jawab Evelyn.
"Bisa nyonya" kata Louis lagi.
Evelyn pun langsung mendudukkan Lilly di meja nya dan berkata, "Honey, mommy mau bicara dulu sama Dr. Andra. Kamu jadi jalan-jalan kan? Hati-hati ya nak" ucap Evelyn lembut sambil tersenyum.
Lilly pun mengganguk patuh dan langsung mencium pipi mommy nya dan minta turun dari atas meja.
"Louis, jaga putri tunggal saya. Mengerti!!" perintah Evelyn.
"Baik nyonya. Mari nona" jawab Louis sambil memegang tangan kecil Lilly.
Lilly melihat Andra yang sedang berdiri diam, "Bye bye Dr. Andra" ucap Lilly sambil melambaikan tangannya ke Andra.
Andra pun membalas lambaian tangan dari Lilly juga. Lalu dia kembali melihat ke arah Evelyn.
"Silahkan duduk Dr. Andra" ucap Evelyn.
Andra bukannya duduk, dia malah langsung menarik tangan Evelyn, sampai Evelyn pun terjatuh ke pelukkannya.
"Aku sangat merindukanmu My Crazy girl. Sampai rasanya rinduku ini mencengkek leherku" ucap Andra pas di kuping Evelyn.
Evelyn yang mendengarnya pun langsung mendorong badan Andra.
"Jangan macam-macam anda Dr. Andra. Anda sudah punya istri dan anak. Begitu juga dengan saya. Jadi jaga perilaku anda!" kata Evelyn dingin sambil berjalan menuju kursinya lagi.
Tapi Andra tidak menyerah, dia kembali memeluk Evelyn dari belakang.
"Aku mohon jangan seperti ini Lyn. Kamu pergi tanpa kabar selama 3 tahun. Apa Lilly itu putri kita?" tanya Andra.
"Lepaskan saya Dr. Andra! Lilly itu bukan putrimu!! Dia tidak ada hubungan apapun dengan anda!" jawab Evelyn tegas.
"Gak!. Aku gak percaya Evelyn. Lilly itu putri kita kan. Anak kandungku..Please, jangan berbohong" jawab Andra.
Evelyn pun melepaskan pelukan Andra.
__ADS_1
"Dengar!! Kalau pun dia putri kandungmu, kamu gak punya hak apapun atas dia. Karna kamu sudah meninggalkan kami berdua!" ucap Evelyn dingin.
"Jadi lebih baik menjauhlah dari kami berdua. Dan uruslah keluargamu sendiri!!. Kalau sudah paham, pintunya ada di sebelah sana!!" teriak Evelyn keras