
Ketika Hagi kembali ke ladang bunga Lily, Hagi tidak lagi menemui keluarganya tapi langsung pergi ke danau tembaga yang menjadi perbatasan paling dekat dengan kerajaan Langit. Sebelum pergi menemui Kyuhyun, dia sempat meminta Nammi untuk menemuinya di Danau tembaga. Hagi butuh pertolongan gadis itu untuk menyampaikan pesan pada Donghae, agar perang ini cepat berakhir.
Ketika sampai di danau tembaga, Nammi sudah menunggunya di sana dan tanpa banyak bicara Hagi langsung menarik gadis itu untuk berbicara dengannya di goa yang biasa Hagi gunakan untuk beristirahat jika malas untuk kembali kerumahnya.
"Seperti yang aku katakan aku butuh bantuanmu, pastikan kau mengantarkan surat ini pada Donghae sepuluh hari kemudian dari pertemuan kita sekarang." Hagi langsung menyerahkan sebuah gulungan yang sengaja ia segel dengan kekuatan mutiara merah dan biru yang jujur saja membuat Nammi terkejut.
"Bagaimana bisa? Siapa kau sebenarnya?" Hagi menarik nafas lalu menggenggam tangan Nammi.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, jika seperti ini Donghae pasti akan mempercayai ucapanku hanya saja aku perlu berjaga-jaga jika saja Donghae tidak mempercayaiku jadi aku mohon berikan surat ini sepuluh hari lagi kau mengerti?" Nammi menatap surat itu dengan takjup, selama ini dia tidak pernah merasakan kekuatan sebesar ini apa lagi hanya di segulung surat.
"Apa isinya bisa membuat perang berakhir?" Pertanyaan Nammi membuat Hagi menarik nafas panjang.
"Aku harap begitu, setidaknya kita harus mencobakan?" Nammi akhirnya mengangguk pelan.
"Akan aku sampaikan, lalu setelah ini anda akan pergi kemana?" Hagi terdiam sesaat lalu tersenyum miris.
"Kau tidak perlu tahu, sekarang pergilah pastikan kau tidak ketahuan oleh siapapun jangan sampai surat ini jatuh ketangan orang yang salah atau jangan sampai Donghae menerimanya sebelum sepuluh hari dari sekarang jika tidak semua akan berantakan." Sekali lagi Nammi mengangguk pelan dan tanpa di minta dua kali langsung pergi meninggalkan Hagi sendirian di dalam goa.
Ketika Hagi sendirian di dalam Goa, Hagi mulai menatap kesekeliling goa dengan perasaan sedih, tempat ini begitu banyak menyimpan kenangan antara Kyuhyun dan dirinya entah itu kenangan manis di awal pertemuan mereka, atau bagaimana Hagi jatuh hati pada Kyuhyun juga kenangan pahit dimana Hagi hanya bisa menangis melihat Kyuhyun yang menperkosa Hyunmie di sini.
"Setelah ini... aku tidak akan pernah datang lagi kesini, aku akan sangat merindukan tempat ini." Gumam Hagi pelan lalu perlahan juga meninggalkan goa.
Di luar Hagi menatap hamparan bunga Lily biru yang mulai bergoyang ketika Hagi merentangan tangannya, bunga Lily di ladang ini sangat mencintai Hagi sang pemilik mutiara Biru, bahkan ketika Hagi tidak menjadi pemilik mutiara biru sekalipun bunga Lily biru di ladang ini akan selalu menyambut Hagi dengan bersinar kebiruan saat malam hari. Sekali lagi Hagi menatap hamparan ladang bunga lily di hadapannya dengan ekspresi sedih, Lagi, dia akan kembali merasakan banyak kehilangan karena cintanya kali ini bahkan untuk selamanya.
"Oh Sang Pencipta jika ada cara lain tolong beritahu aku?" Gumam Hagi semakin sedih.
Perlahan Hagi berjalan meninggalkan ladang bunga Lily yang seolah merasakan kesedihan Hagi dengan merunduk perlahan. Tujuan Hagi sekarang adalah puncak tertinggi Gunung Ji, karena yang terlintas di pikiran Hagi hanyalah Sang Pencipta, hanya Dialah yang bisa membantu Hagi dan sepertinya Sang Pencipta memang sengaja menunggunya karena kalau tidak Sang Pencipta tidak akan membiarkan Donghae menyerang kerajaan Rubah tanpa alasan.
Sama seperti sebelumnya Hagi harus berpuasa untuk menyucikan diri selama seminggu penuh, Hagi juga berlutut di Gunung Ji sebagai permohonan untuk membuat perjanjian dengan Sang Pencipta. Bahkan kali ini Hagi terus menangis memohon belas kasihan Sang Pencipta padanya, dengan segenap perasaan sedih Hagi mencurahkan isi hatinya pada Sang Pencipta.
"Beri aku kesempatan terakhir Sang Pencipta, biarkan aku menolong mereka sekali lagi..." permohonan yang tulus untuk orang-orang yang Hagi cintai kembali membuat Sang Pencipta memandang rubah kesayangannya itu dan mengirimkan seorang utusan untuk menemui Hagi.
"Kau lagi? Aku harap ini benar-benar yang terakhir, sebagai mahluk ciptaan Sang Pencipta kau harus lebih berusaha dan merelakan dalam menjalani hidupmu, kau tidak bisa terus membuat perjanjian seperti ini." Hagi terlihat lega saat seorang utusan datang lalu menegurnya karena utusan ini juga yang membantunya 300 tahun lalu.
"Aku berjanji ini akan menjadi yang terakhir, izinkan aku melakukan barter dengan Ratu Rubah juga adikku." Sang utusan menghelah nafas lalu memanggil dengan cepat Hyunmie yang masih terkurung sebelumnya di tubuh Hagi.
Ketika Hyunmie keluar dari tubuh Hagi, Hyunmie langsung menampar wajah Hagi dengan amarah luar biasa dia muak dengan kakaknya ini, walaupun tubuh Hyunmie di miliki oleh Hagi, sejatinya Hyunmie tahu apa yang terjadi dengan Hagi.
"Apa yang sebenarnya kakak lakukan disini? Kenapa kakak selalu menyelesaikan masalah dengan membuat perjanjian dengan Sang Pencipta?" Geram Hyunmie lalu menatap tajam pada Hagi yang masih memegang pipinya terasa panas. Perlahan Hagi juga menatap frustasi kearah Hyunmie.
"Lalu kenapa kau mendukung namja itu merelakan ekornya demi memanggilku lagi? Kau bisa pergi bersama Donghae walaupun harus kehilangan mutiara merah karena kau terlahir sebagai darah campuran, kau bisa hidup bersamanya walaupun hanya sebentar. Kau tahu pasti jika kemungkinan kau tidak akan bisa keluar dari tubuh ini jika kau membantu membuatkan gelang rembulankan? Jadi sebenarnya disini siapa yang bodoh? Kenapa kau lakukan semua ini." Hyunmie mencengkram bahu Hagi lalu menatap Hagi kesal.
"Itu karena aku mencintaimu, karena kau saudaraku aku ingin melihatmu bahagia bersama pria itu walaupun hanya sebentar. Kau tahu aku selalu berpikir andai saja aku tidak hidup kau mungkin sudah berbahagia dengan namja bodoh itu." Hagi menggelengkan kepalanya tidak setuju lalu memeluk Hyunmie erat-erat.
"Tidak, jangan berkata seperti itu, keputusan itu adalah milikku, keputusan memberikan mutiara merah juga pengorbanan kehilangan suaraku, aku hanya ingin memiliki seorang adik cantik sepertimu dan aku tidak pernah menyesalinya." Kali ini Hyunmie memeluk Hagi tidak kalah eratnya lalu ikut menangis hal itu membuat Sang Utusan yang melihat merasa sedih sendiri, cerita yang Sang Pencipta buat untuk kedua rubah ini sedikit memilukan tapi sebagai seorang Utusan yang juga di ciptakan oleh Sang Pencipta, dia tidak bisa mempertanyakan takdir yang Sang Pencipta buat karena Sang Utusan tahu jika Sang Pencipta tahu apa yang tidak ia ketahui.
__ADS_1
"Jadi barter apa yang akan kau lakukan dengan adikmu?" Ucapan Sang utusan membuat Hyunmie melepas pelukannya dari Hagi lalu menatap Hagi sambil menggelengkan kepalanya panik.
"Tidak, jangan kakak aku tidak apa-apa walaupun harus diam di dalam tubuh kakak asalkan kakak bisa bahagia bersama pria itu." Hagi menatap Hyunmie sendu lalu mengelus pipi Hyunmie pelan.
"Bagaimana aku bisa bahagia jika kau menderita, bagaimana aku bisa bahagia jika pria yang aku cintai bisa kapan saja meregang nyawa, lagi pula aku sudah berjanji pada Donghae untuk membuatmu renkarnasi kembali agar perang yang terjadi bisa berakhir, kau tahukan betapa Donghae mencintaimu." Hyunmie mengigit bibirnya sedih, di hatinya yang paling dalam Hyunmie memang berharap jika ia bisa bersama dengan Donghae, tapi lebih dari itu dia tidak bisa membiarkan kakaknya kembali berkorban.
"Apa... tidak ada cara lain selain harus membuat perjanjian ini? Aku tahu pasti akan ada pengorbanan lagikan?" Hagi menghelah nafas dia tahu hal ini akan menyiksanya seumur hidup ketika Hagi kembali kedunia manusia.
"Aku ingin melakukan barter dengan adikku tentang pertukaran mutiara merah dan mutiara biru, agar adikku bisa berenkarnasi kembali. Sebagai pengorbanannya aku akan melepas perjanjianku dengan Hyunmie 300 tahu lalu, Sang Pencipta boleh mengambil jasad yang sedang ku gunakan sekarang." Hyunmie menegang sempurna lalu berteriak keras.
"TIDAKKK!!!! apa yang Kakak lakukan aku tidak mau." Hagi langsung menggenggam tangan Hyunmie keras kepala walaupun berulang kali Hyunmie berusaha melepaskan tangan dari Hagi dengan kembali terisak.
"Dengarkan aku ini bukan hanya untuk kebaikanmu, tapi untuk kebaikan pria yang aku cintai juga demi kebaikan kedua kerajaan Langit dan Rubah." Hyunmie kembali menangis kali ini lebih keras lagi.
"Kenapa? Kenapa kau yang harus terus berkorban untuk orang lain? Kenapa kau membuatku merasa apa yang aku lakukan selama ini tidak berarti sama sekali." Hagi kembali memeluk Hyunmie erat lalu tersenyum sambil menangis.
"Tidak, kau sangat membantuku selama ini aku sangat berterimakasih jika kau mau berenkarnasi sebagai putriku di dunia manusia aku sudah berjanji pada Donghae untuk menjodohkanmu jika kau terlahir sebagai putriku." Hyunmie mengangguk sambil bergumam kecil lalu kembali menangis dalam pelukan Hagi.
Sementara Sang Utusan hanya bisa menghelah nafas, jika apa yang dikatakan Hagi tadi benar bisa jadi perjanjian akan terjadi seperti terakhir kalinya gadis ini pasti akan menghabisakan keberuntungannya sebagai yang di istimewakan Sang Pencipta.
"Kau bisa melakukan perjanjiannya sekarang juga dengan adikmu." Ucapan itu langsung membuat Hagi melepas pelukan Hyunmie lalu menatap Sang Utusan heran karena biasanya Sang Utusan akan meminta izin terlebih dahulu pada Sang Pencipta. Seolah mengerti kebingunggan yang Hagi rasakan Sang Utusan tersenyum kecil.
"Terimakasih... aku rasa terimakasih saja tidak cukup." Sang Utusan hanya mengangguk kecil, tentu saja terimakasih saja tidak cukup, berbaktilah pada Sang Pencipta jadilah sebaik baiknya orang baik maka Sang Pencipta akan selalu bersamamu.
"Silahkan mulai." Ucapan Sang Utusan membuat Hyunmie terlihat masih tidak terima lalu menggelengkan kepalanya pada Hagi, tapi Hagi juga menatap Hyunmie sambil memohon membuat Hyunmie mendesah kesal.
"Baiklah... akan aku pastikan berenkarnasi menjadi putrimu dan aku akan menjadi putri yang baik untukmu." Hagi mengangguk cepat membuat Hyunmie menghelah nafas.
Setelah itu keduanya mulai membuat segel lalu menyatukan kedua telapak tangan bersama-sama saat itu juga aura mereka saling bertukar, cahaya biru milik Hagi pindah ke tubuh Hyunmie sementara cahaya merah milik Hyunmie pindah ke tubuh Hagi ketika semuanya selesai perlahan Hyunmie mulai berubah transparan.
"Sampai jumpa lagi Hyunmie_ya..." sebagai jawabannya Hyunmie hanya mengangguk kecil lalu menghilang begitu saja.
"Sekarang katakan apa perjanjianmu dengan Sang Ratu?" Hagi perlahan berbalik lalu menatap Sang Utusan cukup lama. Lalu setelah itu Hagi mengatakan perjanjian seperti apa yang Hagi inginkan, sekali lagi Sang Utusan hanya menggelengkan kepalanya lalu menghelah nafas.
"Akan aku sampaikan, kau tunggulah disini." Hagi mengangguk pelan membiarkan Sang Utusan menyampaikan perjanjiannya dengan Ratu Rubah pada Sang Pencipta.
Sama seperti terakhir kalinya, Sang Utusan butuh satu hari untuk membicarakan semuanya pada Sang Pencipta, setelah Sang Pencipta menyetujuinya Sang Utusan kembali ke puncak Gunung Ji dan menyampaikannya pada Hagi.
"Kali ini Sang Pencipta menerima pengorbanan dari perjanjian yang kau buat dan Sang Pencipta berharap kau tidak menyesal karena mengorbankan hal itu lagi." Hagi mengigit bibirnya tapi kemudian menarik nafas panjang.
"Bisa panggilkan Ratu Rubah sekarang?" Sang Utusan langsung memanggil Ratu Rubah, tapi tidak bersama jasad Sang Ratu hanya jiwa Ratu Rubah saja yang hadir yang awalnya sedikit heran dengan tempat itu, tapi ketika melihat Hagi Sang Ratu terkejut.
"Sedang apa kau disini? Kenapa kau menghilang begitu saja?" Perkataan Ratu Rubah hanya di balas senyum sinis dari Hagi.
__ADS_1
"Apa lagi, bukankah anda sendiri yang meminta saya untuk pergi? Juga bukankah anda juga yang menginginkan putra anda kembali seperti semula?" Ratu Rubah menegang lalu menatap Sang Utusan terkejut lalu menunduk memberi hormat. Setelah itu Ratu Rubah kembali menatap Hagi cemas.
"Tapi kenapa harus disini? Kau hanya harus melepas gelang rembulan bukan untuk pulang ke duniamu." Hagi mendengus kesal sudah Hagi bilang semua tidak sesederhana itu.
"Memang apa yang Ratu pikirkan? Kalau semudah itu aku tidak mungkin berada disini." Ratu Rubah kembali menatap Sang Utusan cemas lalu menatap Hagi memohon.
"Kalau begitu kita pergi dari sini, kita bicarakan cara lain yang lebih mudah dari pada disini." Hagi berdecak tidak percaya lalu menatap Ratu Rubah tajam.
"Seharusnya anda tidak memohon jika tidak sanggup menerima kenyataan jika akhirnya anda tidak bisa menerima pengorbananku lagi untuk putra anda. Ratu seharusnya bersyukur karena aku mau melepas segalanya untuk Kyuhyun kenapa jadi cemas seperti ini?" Ratu Rubah terlihat semakin panik lalu berusaha mendekat kearah Hagi tapi karena Ratu Rubah hanyalah sebuah Jiwa, Ratu Rubah tidak bisa menyentuh Hagi ketika Ratu Rubah mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Hagi.
"Tidak, kau tidak bisa melakukan hal ini padaku Hagi... Kyuhyun bisa membenciku." Sekali lagi Hagi tersenyum sinis.
"Selalu ada harga untuk setiap apa yang kau inginkan, itulah pengorbananmu karena menginginkan Kyuhyun tetap hidup bukan." Ratu Rubah terlihat lemas lalu terduduk di tanah, ada rasa iba di hati Hagi tapi dengan cepat Hagi menangkisnya.
"Anda harus membuat perjanjian denganku jika ingin Kyuhyun seperti semula." Ucapan Hagi membuat Ratu Rubah menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Tidak, aku tidak mau di benci anakku sendiri." Hagi memutar bola matanya , dasar egois.
"Kalau begitu aku hanya akan lepas tangan tentang Kyuhyun, dia bisa mati dan aku tetap pulang ke duniaku." Mendengar ancaman itu Ratu Rubah langsung panik lalu mendekat kearah Hagi.
"Jangan begitu, bukankah kau mencintainya? Kau tidak mungkin membiarkan dia mati begitu sajakan?" Hagi mengerang frustasi dia tentu saja tidak akan diam saja, itu alasan kenapa ia disini.
"Kalau begitu anda harus membantu, dulu Raja Rubah juga melakukan perjanjian dengankukan dan beliau mau melakukannya." Ratu Rubah semakin gelisah dan masih bungkam membuat Hagi menghelah nafas panjang.
"Aku tidak punya waktu lagi, sebentar lagi aku akan menghilang." Ucapan itu membuat Sang Ratu nampak kebingungan.
"Menghilang? Tapi bukankah jiwamu saja yang pergi? Kalau jasad Hyunmie menghilang bagaimana dengan Dewa tertinggi?" Kali ini Hagi marah, sial Ratu Rubah memang terkenal menyebalkan tapi Hagi tidak mengira ibu Kyuhyun ternyata semenyebalkan ini.
"Aku sudah mengurusnya, jadi anda mau atau tidak apa anda tidak melihat Sang Utusan sedang menunggu kita." Ratu Rubah menatap Sang Utusan yang sepertinya terlihat jengkel juga pada Ratu Rubah, akhirnya Ratu Rubah mengangguk pasrah, jika demi anaknya Ratu Rubah akan melakukannya.
"Perjanjian ini di buat agar mutiara merah yang sudah berbagi energi dengan ekor Kyuhyun bisa masuk ke tubuh Kyuhyun ketika aku melepas gelang rembulan bersamaan dengan kembalinya ekor Kyuhyun ke tempat semula." Mendengar itu Ratu Rubah terkejut sekaligus senang mendengar hal itu.
"Oh terimakasih Hagi, aku tidak akan melupakan kebaikanmu." Hagi memutar bola matanya, walaupun tidak sopan Hagi sudah tidak peduli.
"Sebagai pengorbanannya aku akan melepas suaraku ketika aku kembali ke dunia manusia juga aku merelakan kenangan tentang diriku di memori suamiku aku meminta belas kasihan Sang Pencipta agar setidaknya Kyuhyun mengingat keberadaan Yeong Ji." Ucapan Hagi membuat Ratu Rubah tertegun lalu menatap Hagi tidak percaya.
"Sebagai balasannya anda harus berjanji apapun keputusan Kyuhyun di masa depan jangan pernah menentangnya, pastikan putraku menjadi Raja Rubah setelah Kyuhyun. Aku tidak peduli sekalipun Kyuhyun menikah lagi suatu saat nanti tapi harus Yeong Ji yang menjadi Raja Rubah setidaknya sebagai imbalan atas setiap pengorbananku untuk kerajaan ini. Jika tidak mutiara merah akan kembali padaku sebagai pemilik sahnya." Ratu Rubah menghelah nafas walaupun dia egois entah kenapa rasanya Ratu Rubah bisa merasakan rasa sakitnya menjadi Hagi jika sampai putranya tidak mengingat Hagi lagi.
"Baiklah aku setuju." Ucapan Ratu Rubah membuat Hagi menarik nafas panjang, setelah itu Sang Utusan mendekat lalu di telunjuknya keluar cahaya berwana ungu yang langsung menyinari tubuh Hagi dan Ratu Rubah.
"Silahkan buat perjanjiannya." Setelah mendapat izin dari Sang Utusan Hagi dan Ratu Rubah mulai membuat segel lalu berusaha menyatukan kedua telapak tangan yang tertahan cahaya ungu Sang Utusan, walaupun begitu cahaya jingga, biru dan merah megiar dari tubuh Hagi dan Ratu Rubah tanda perjanjian sudah di buat.
bersambung
__ADS_1