My Eternal Love

My Eternal Love
Hurt Destiny/Takdir Menyakitkan


__ADS_3

3 tahun kemudian



Seoul masih sama seperti biasanya ketika memasuki musim dingin, jaket tebal tidak pernah absen di pakai oleh siapapun jika sedang berada di luar rumah. Tapi sepertinya hari ini ada yang salah dengan Hagi, apapun yang ia lakukan selalu bermasalah termasuk dirinya yang kini berakhir di sebuah halte bis tanpa jaket tebalnya, beberapa kali orang meliriknya kasihan karena mengigil sendirian sambil menunggu bus lewat. Kalau sudah begini, Hagi mulai menyesali kenapa ia tidak mendengar ucapan ibunya.



Di mulai saat pagi hari, mendadak sekali ia tidak merasa lapar dan memutuskan untuk tidak sarapan dan sekarang ia merasakan perutnya yang perih karena lapar juga kedinginan, kedua ibunya jelas memohon padanya untuk menggunakan sopir pribadinya jika ingin pergi keluar tapi sekali lagi Hagi menolak dan memilih menyetir mobilnya sendiri yang entah kenapa mendadak mogok di tengah jalan. Bukan hanya itu dia menunggu cukup lama untuk datangnya mobil derek sehingga memutuskan untuk naik taxi yang hebatnya bisa terjebak macet membuat Hagi memutuskan untuk keluar dari taxi dan menggunakan rute bus.



Entah dia lupa atau terlanjur tidak konsentrasi pagi ini, dia meninggalkan jaket tebalnya di dalam taxi yang sudah melaju jauh membuat Hagi hanya mengumpat luar biasa dalam hati. Sialnya lagi halte bus tempat dimana ia menunggu bis jauh dari keramaian sehingga Hagi bahkan tidak bisa berinisiatif untuk membeli jaket baru.



"Kau bodoh? Bagaimana jika Rumah Sakitku lebih jauh dari sini." Tiba-tiba saja seseorang sudah ada di sampingnya menegur Hagi sambil menyampirkan jaket tebal di bahu Hagi yang tersenyum meringis.



"Maaf..." Min Gyu hanya bisa menghelah nafas saat melihat isyarat dari Hagi dan menarik gadis itu untuk berdiri. Walaupun hari ini Min Gyu sibuk, ketika gadis itu mengiriminya sms jika dia sedang kedinginan di halte bus, Min Gyu langsung berlari menuju ke halte bus dan sedikit marah melihat Hagi yang kedinginan.



"Ayo, kita ke Cafe dekat sini dulu, badanmu sudah sangat kedinginan, bilang saja pada editormu jika kau datang terlambat." Hagi menghelah nafas tapi kemudian mengangguk kecil, tubuhnya memang sudah sangat membeku sekarang. Keduanya akhirnya berjalan perlahan sambil Min Gyu merangkul bahu Hagi yang sepertinya lemas karena terlalu lama menunggu di halte.



Hari ini Hagi memang berencana menemui editornya karena semenjak dia sembuh total Hagi sudah tidak bisa lagi menjadi pemandu wisata karena bisu, sebagai gantinya Hagi menggembangkan hobi menulisnya dan mulai membuat cerita pendek di blog yang ternyata di sukai banyak orang hingga akhirnya membuat salah satu cerita terfavoritnya di angkat menjadi novel. Tapi karena kebodohannya Hagi jadi harus menunda pertemuannya dengan sang editor.



Saat sampai di cafe dekat rumah sakit, Min Gyu dan Hagi langsung memesan beberapa minuman hangat beserta roti panggang untuk mengisi perut Hagi yang sepertinya semakin perih. Melihat Hagi yang makan lahap Min Gyu menghelah nafas dia tadinya berniat mengomeli Hagi tapi gadis ini tidak pernah bisa membuat Min Gyu marah terlalu lama.



"Pelan saja makannya, aku tidak akan memintanya." Hagi hanya tersenyum canggung lalu mulai makan perlahan.



"Tunggu di sini, aku akan membawa mobilku dan mengantarmu ke penerbit." Hagi menggelengkan kepalanya lalu mulai berbicara dengan isyarat.



"Tidak usah... aku tahu kau sibuk, pinjamkan saja aku jaketmu ini." Min Gyu berdecak kecil lalu bersandar di kursi sambil melipat kedua tangannya dan memicingkan mata.



"Kau lebih suka aku mengomel atau mengantarmu?" Hagi menghelah nafas lalu mengangguk kecil.



"Baiklah... mengantarku saja." Hagi tahu jika Min Gyu sudah mengomel, pria ini bisa seperti ajjuma-ajjuma yang tidak mau di sela dan biasanya omelan Min Gyu sangat panjang.



"Bagus, jadi tunggu di sini, jangan kemana-mana." Kali ini Hagi mengangguk lalu kembali makan.  Membiarkan Min Gyu pergi dari cafe.



Setelah selesai makan Hagi menunggu sambil meminum tehnya, dulu sebelum koma Hagi lebih suka meminum kopi, tapi setelah mengingat kehidupan sebelumnya Hagi jadi lebih menyukai Teh khususnya Teh bunga Camomelia atau teh Jasmin yang wanginya menenangkan yang jelas jika bukan mengantuk Hagi tidak pernah meminum kopi lagi.



Sesekali Hagi menatap keluar jendela cafe menatap keramaian dengan melamun dan  selalu berakhir dengan air mata yang berjatuhan karena mengingat orang yang Hagi cintai. Tiga tahun semenjak ia bangun dari komanya Hagi mencoba hidup sebaik mungkin, tersenyum dan berbaur dengan banyak orang yang mau menerima keterbatasannya sebagai orang bisu, tapi kerinduannya pada anak dan suaminya tidak bisa hilang ataupun berkurang. Menangis adalah sedikit dari reaksi Hagi jika sudah merindukan keduanya, jika di kamar atau di tempat sepi Hagi bisa histeris jika sudah merindukan anak dan suaminya.


__ADS_1


Menggelang keras, Hagi menghapus air matanya lalu berusaha mengalihkan perhatiannya ke sekeliling cafe, pasti ada yang memperhatikannya karena menangis dan saat itulah tatapan Hagi terpaku pada seseorang yang juga menatapnya dengan ekspersi terkejut.



Tubuh Hagi bergetar luar biasa, rasa sesak juga sakit di hatinya membuat air mata yang tadi sempat berhenti kembali berhamburan, Hagi tidak bisa menahan air matanya walaupun sudah berusaha dan lagi ia tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada sosok 7 meter di hadapannya yang duduk sambil menatapnya kebingungan.



"Kyuhyun... Kyuhyun..."



Tangisan Hagi berhenti ketika orang itu tiba-tiba saja meringis seolah kesakitan sambil menekan dadanya, Hagi reflek berlari mendekat kearah orang itu, saat Hagi menyentuh orang itu, Hagi harus menarik tangannya karena tubuhnya seolah terkena aliran listrik, sedangkan orang itu juga mengerang semakin kesakitan sambil menatap Hagi sayu.



Ya Tuhan dia tidak tahu harus bagaimana, suaranya tidak bisa ia gunakan sehingga tidak tahu harus bertanya bagaimana. Sekali lagi Hagi berusaha menyentuh orang itu, kali ini tidak ada aliran listrik seperti tadi, Hagi berjongkok lalu menatap orang itu sambil kembali menangis karena orang itu masih terlihat kesakitan dan menekan dadanya.



"Ya Tuhan bagaimana ini, apa kau baik-baik saja? Kyuhyun_ah..." Hagi mengigit bibirnya dia tidak bisa bertanya mengunakan isyarat karena tidak semua orang tahu tanda isyarat itu tapi anehnya orang itu menatap Hagi kebingungan.



"Kau...? Apa kau mengenalku?" Pertanyaan itu sontak membuat Hagi terkejut sekaligus bingung, tapi sebelum sempat bertanya orang itu kembali mengerang kesakitan membuat Hagi kembali panik. Saat bermaksud memapah orang itu agar membawanya kerumaha sakit, seorang wanita tiba-tiba saja mendorong Hagi hingga duduk di lantai.



"Yakkk, apa yang kau lakukan padanya? Minggir kau, Kyuhyun_ssi kau tidak apa-apa? Kita kembali kerumah sakit kau harus melakukan pengecekan ulang." Tanpa sempat memgatakan apa-apa Kyuhyun yang masih kesakitan sudah di bawa oleh  wanita tadi meninggalkan Hagi yang masih terduduk di lantai karena terkejut.



Hagi mengerutkan keningnya, dia bingung dengan apa yang terjadi barusan, Ya Tuhan cerita apa lagi yang sedang kau buat, Hagi bergumam lalu mengigil ketakutan, dia bahkan tidak sanggup berdiri karena masih shock dengan apa yang terjadi barusan.




"Yaak, apa yang kau lakukan di lantai begini?" Min Gyu yang baru datang langsung melihat Hagi yang terduduk di lantai dan mendekat kearah Hagi lalu membantu gadis itu berdiri. Tatapan linglung Hagi pada Min Gyu membuat pria itu cemas.



"Hey ada apa?" Pertanyaan Min Gyu juga sedang Hagi pikirkan, jadi sebagai jawabannya Hagi memejamkan matanya lalu tersenyum kecil.



"Tidak ada... ayo pergi." Min Gyu masih berniat bertanya tapi melihat Hagi yang menunduk sambil mengigil juga ia melihat bekas air mata di pipi gadis ini, Min Gyu memutuskan untuk bertanya lain kali.



"Apa kau mau pulang saja?" Pertanyaan Min Gyu di balas gelengan kecil dari Hagi.



"Tidak... editor." Jawaban singkat itu akhirnya membuat Min Gyu menghelah nafas pelan, baiklah berarti Hagi tidak


ingin berbicara jika menjawab sesingkat itu. Sebagai balasannya Min Gyu hanya membantu Hagi berjalan menuju mobilnya lalu mengantar Hagi menuju penerbit dan bertemu dengan editornya.



***



Kyuhyun terbangun di pagi ini dengan mimpi buruk itu lagi, mimpi yang tidak pernah absen semenjak dia mengalami kecelakaan 3 tahun lalu, mimpi yang membuatnya merasa jika ada yang tidak beres dengan jantungnya yang merasa sakit luar biasa ketika bangun dari tidur di pagi hari.


__ADS_1


Alasan Kyuhyun akhirnya terjun kedunia malam, sekalipun tidak suka adalah karena hanya saat minum dan di tempat bising saja Kyuhyun bisa melupakan mimpi yang membuatnya harus datang ke pisikiater setiap minimal seminggu sekali. Jein gadis yang selalu menempel padanya ketika ia bangun dari koma yang memperkenalkannya dengan dunia malam itu. Hingga akhirnya Kyuhyun yang dari awal tidak tertarik pada Jein menjadi ketergantungan dengan gadis itu.



Sekarang setelah pertunangan di batalkan Kyuhyun kesal karena dia tidak punya teman untuk pergi ke club, karena hanya dengan bersama Jein saja para wanita yang usil mendekatinya menjauh, jadi sudah hampir dua minggu ini Kyuhyun lebih rutin datang kepisikiater dari pada ke club malam.



Hasilnya Kyuhyun kembali mimpi buruk dan merasa kesakitan saat di pagi hari membuat jadwal paginya di isi pergi kerumah sakit terlebih dahulu bukannya ke kantor. Seperti hari ini Kyuhyun kembali bertemu dengan seorang pisikiater langganannya, seorang wanita muda yang di kenalkan oleh asisten pribadinya Shindong.



Kim Min Hwa sang dokter pisikiater muda yang jangan di tanya sangat cerdas dan bisa di percaya dalam dunia pisikiater. Walaupun gadis ini jelas menunjukan ketertarikan pada Kyuhyun, dia tidak tertarik pada gadis itu. Saat ini Jein masih lebih menarik dari pada Min Hwa.



"Jadi apa sebenarnya mimpi itu? Selama ini kau tidak pernah mau memberitahukannya padaku." Kyuhyun menggaruk tengkuknya tidak gatal, dia juga tidak terlalu jelas dengan mimpinya hanya saja rasanya aneh.



"Mimpi ini tidak ada istimewanya, hanya sama seperti mimpi yang penuh imajinasi kau tahu, mimpi yang tidak masuk akal tapi anehnya kenapa rasa sakitnya begitu nyata." Min Hwa memutar bola matanya, Kyuhyun selalu mengatakan hal yang sama jika di tanya soal mimpinya.



"Aku tidak bisa membantumu jika kau tidak bilang yang sebenarnya." Kyuhyun mendengus sebal dokter muda ini kadang menyebalkan jika sudah soal mimpinya juga.



"Pokoknya sangat aneh, tidak masuk akal dan menurutku tidak ada artinya dan tidak ada sangkut pautnya dengan dadaku yang sering sakit itu." Min Hwa menghelah nafas, sepertinya pekerjaannya akan semakin sulit jika Kyuhyun terus keras kepala seperti ini.



"Sudahlah, bagaimana jika kita bicara di luar sambil minum kopi? Jujur saja aku tidak suka dengan bau rumah sakit, aku muak rasanya." Min Hwa menghelah nafas sekali lagi, Kyuhyun memang tidak pernah bertahan lama di  rumah sakit, dia selalu meminta berkonsultasi di rumah atau di tempat privasi lain. Hari ini kebetulan Min Hwa sibuk jadi Kyuhyun sendiri yang datang kemari.



"Baiklah, di cafe depan seperti biasa." Kyuhyun mengangguk setuju dan pergi tanpa menunggu Min Hwa sama sekali.



Di cafe Kyuhyun menunggu cukup lama, tadi saat keduanya akan ke luar rumah sakit, tiba-tiba saja ada pasien penting yang harus Min Hwa tangani membuat Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk menunggu di cafe sampai pasien penting itu selesai Min Hwa tangani.



Saat itulah Kyuhyun melihat seorang gadis yang awalnya terlihat biasa saja di mata Kyuhyun, tapi perlahan gadis itu menarik perhatiannya, cara gadis itu makan dan minum entah kenapa begitu menarik dan ketika gadis itu mulai melamun dan menatap kearah jendela, Kyuhyun merasa familiyar dengan gadis itu.



Mengejutkannya saat Kyuhyun melihat gadis itu menangis Kyuhyun merasakan perasaan tidak nyaman di hatinya, rasanya seperti ada yang mencekik kecil lehernya membuat Kyuhyun menelan ludah berulang-ulang. Tapi bukan hanya sampai di sana keanehan terjadi, Kyuhyun cukup terkejut ketika gadis itu tiba-tiba menatapnya juga sama terkejutnya dengan Kyuhyun dan gadis itu menangis, lalu memanggil namanya berulang-ulang.



Heran, bingung juga tidak nyaman tentu saja bercampur menjadi satu di hati dan pikiran Kyuhyun, tapi sebelum semuanya jelas rasa sakit di dadanya kembali lagi membuat Kyuhyun kali ini mengerang kesakitan. Hal itu sepertinya memancing kekhawatiran gadis itu yang mendekat kearah Kyuhyun yang justru semakin sesak nafas saat melihat gadis itu panik.



Kyuhyun yakin gadis itu bahkan tidak membuka mulutnya, atau Kyuhyun yakin merasa tidak mengenal gadis di hadapannya tapi anehnya gadis ini bertanya keadaannya dan juga memanggil namanya, Kyuhyun bisa mendengarnya.



Sebelum semua jelas atau sebelum Kyuhyun bertanya lebih jauh, Min Hwa yang datang tiba-tiba saja menjauhkan gadis itu dari Kyuhyun dan membawa Kyuhyun kembali ke rumah sakit tanpa memberikan kesempatan untuk Kyuhyun berbicara apa-apa.



Siapa gadis itu? Kenapa dia mengenal Kyuhyun? Anehnya kenapa tanpa berbicara Kyuhyun bisa mendengar suara gadis itu? Siapa gadis itu sehingga membuat Kyuhyun merasakan perasaan tidak nyaman hanya karena melihat gadis itu menangis juga panik melihatnya kesakitan, sama seperti saat dia terbangun dari mimpi buruknya setiap malam? Kyuhyun tidak mendapatkan jawabannya karena saat sampai rumah sakit, Min Hwa memberikannya obat penenang dan tertidur.


__ADS_1


bersambung


__ADS_2