
Episode 81 : Perbedaan pikiran antara Noah dan Arabelle.
***
Ketika Noah menggendongnya, Arabelle mencengkeram kuat selimut yang menutupi tubuhnya.
“Turunkan aku … kenapa kau suka sekali menggendongku?!” gerutu Arabelle merasa jika Noah suka sekali tiba-tiba menggendongnya.
Membuat Arabelle kadang terkejut sekali tiba-tiba tubuhnya sudah melayang di udara.
Noah hanya tersenyum, dia benar-benar memiliki kepercayaan diri yang terlalu tinggi.
"Memangnya salah menggendong istri sendiri? diamlah sayang, jika kau terus menunjukkan pemberontak aku akan semakin bergairah dan tidak akan bisa menahan diriku." seru Noah menatap kearah istrinya yang bersembunyi di dalam selimut pertahanan yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya.
"Haaah!"
Arabelle sampai menghela nafasnya berat ketika mendengar itu.
'Iya Bel, diamlah ... kau sudah melihat kebuasan nya tadi, jangan mempersulit hidup dan hindari gairah lelaki yang menjadi suami mu ini!'
Seru Arabelle berkumandang di dalam hatinya.
Bagaimana dari mulai hari ini dia akan menjaga sikap agar Noah tak menghabisi nya seperti tadi.
Padahal yang tadi bagi Noah bukanlah apa-apa melainkan hanya sekedar pemanasan, tetapi bagi Arabelle olahraga panas tadi sudah menguras seluruh energinya.
__ADS_1
.
.
Setelah beberapa saat, Noah menurunkan Arabelle ...
“Tunggu disini sebentar sayang … aku akan menyiapkan air hangat untuk kita …” lalu tanpa memperpanjang perdebatan itu, Noah mengisi bathtub dengan air hangat agar mereka bisa berendam dengan nyaman.
Arabelle berdiri di sudut ruangan sembari mencengkeram selimut dengan kuat-kuat, dia melihat bagaimana suaminya mempersiapkan segalanya untuknya, dan dia hanya berdiri saja tidak dibiarkan melakukan apapun.
Ketika air hangat sudah tersedia, Noah tersenyum sangat nakal melihat ke arah istrinya yang berdiri bagaikan kepompong.
Noah mencoba menarik selimut yang menutup tubuh polos istrinya.
Arabelle menggelengkan kepalanya disaat ia melihat senyuman super nakal Noah .
Bagaimana semakin ia pikirkan semakin tidak mungkin baginya untuk berendam bersama suaminya disana.
Segalanya masih terlalu tiba-tiba dan membuat Arabelle malu sekali.
“Aku tidak mau! Aku ingin bersama mu, aku sudah menunggu ini dalam waktu yang sangat lama.”
“Aku janji tidak akan melakukan apa-apa, lagian tubuhmu masih sakit, aku tidak ingin memaksakan tubuh mu …” seru Noah entah mengapa merasa malu ketika mengatakan itu.
Pipi dan daun telinganya memerah lagi dan dia menjadi salah tingkah.
__ADS_1
Segala ingatan bagaimana dia melakukan olahraga panas dengan Arabelle tadi terbersit di pikirannya, dia sangat suka melakukan itu dengan istrinya sampai rasanya ia sampai pusing.
‘Apa yang dipikirkan lelaki ini? kenapa pipi dan daun telinga nuya memerah lagi?’
‘Apakah dia mengingat kejadian tadi? Aaaa … aku malu sekali!’
Teriak Arabelle dalam hatinya.
Bagaimana pun tadi ketika malam pertamanya dengan Noah, Arabelle sampai sedikit berteriak ketika Noah melakukan penyatuan itu.
Rasanya Arabelle ingin melupakan saat itu, dimana Arabele sungguh tak bisa menguasai dirinya tadi.
‘Ah … lupakan, lupakan!’ seru Arabelle menggelengkean kepalanya.
Baik Noah maupun Arabelle sama-sama tenggelam dalam diri mereka masing-masing.
Arabelle ingin melupakan karena merasa sangat malu, sedangkan Noah ingin mengulang lagi sebanyak yang ia mau.
‘Wajah istriku tadi seksi sekali, aku ingin melakukannya lagi tetapi katanya dia sakit, yah … bagaimana pun itu adalah kali pertama nya, ho ho ho! Beruntungnya aku! Semua kali pertama istriku semuanya aku yang merasakannya!’
Noah merasa bangga pada dirinya sendiri, dan merasa dia sagat beruntung bagaimana pertama kali istrinya adalah bersamanya.
.
.
__ADS_1
.