My Impotent Husband

My Impotent Husband
Bab 21. Menerima Permintaan


__ADS_3

Mira pun melalui hari-hari nya tanpa sang suami dengan penuh suka cita.


Ada pacar sang adik ipar dan mama mertua yang selalu menemaninya di sore hari selepas pulang kerja dengan berbagai macam kegiatan.


Ada kalanya shopping bersama, nobar bersama, masak bersama, dan masih banyak kebersamaan lain nya yang ketiga nya lakukan sekali berkumpul.


Hal tersebut pun membuat Mira menjadi semakin nyaman berada di kediaman mertuanya tersebut.


Hanya saja, sore itu tanpa Mira dan keluarga nya duga jika Yeon pun telah kembali pulang lebih awal dari rencana awal.


Wajah Yeon pun terasa begitu kusut dan sedikit kurang bersemangat.


"Aku tidak berhasil memenangkan tender yang sudah aku incar cukup lama, Mom. Aku ingin istirahat lebih dulu," ucap Yeon begitu tiba dan langsung melangkahkan kaki ke dalam kamar tidurnya.


Seluruh mata yang memandang wajah kusut Yeon pun hanya mampu saling memandang.


"Mira, kembali lah ke kamar kalian. Siapa tahu Yeon sedang sangat butuh sandaran di pundak kamu," ucap Mommy Yeon.


"Baik, Mom," ucap Mira dengan langsung melangkah menaiki anak tangga satu persatu dan memasuki kamar dimana dirinya dan sang suami tidur bersama.


Mira pun segera memasuki kamar tersebut dan menuju ke dalam kamar mandi dan mengisi bathub dengan air hangat serta memberikan aroma terapi yang menenangkan di dalam ruangan tersebut.


"Lekas lah mandi. Jangan banyak melamun," ucap Mira dengan memberikan handuk kepada sang suami.


Yeon pun nampak menatap wajah istrinya tersebut dari atas hingga ke bawah dan memastikan jika sang istri baik-baik saja selama perjalan bisnis nya ke luar negeri.


Setelah semua di rasa oke, Yeon pun segera menerima handuk pemberian dari sang istri dan melangkah kan kakinya menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Yeon pun kini tengah berendam di dalam bathtub yang berisi air hangat di Sertai harum aromaterapi yang begitu menenangkan untuk dirinya yang terlihat tidak cukup baik-baik saja.


Setelah di rasa rileks, Yeon pun segera mengakhiri kegiatan untuk membersihkan tubuhnya tersebut dan dengan cepat melilitkan handuk ke pinggang rampingnya itu.


Seperti beberapa waktu yang lalu jika akan berganti baju, dengan tanpa malunya Yeon melepas sehelai kain yang menutupi area sensitif nya tersebut di depan sang istri.


Mira yang mulai terbiasa dengan aksi suaminya tersebut pun berusaha berpura-pura untuk tidak melihat tubuh suaminya yang terlihat polos.


"Baju kamu sudah aku siapkan di ranjang tidur kita," ucap Mira berusaha memberitahu kan kepada sang suami agar segera memakai baju yang lengkap.


Yeon pun segera memakai baju yang telah di persiapkan oleh istrinya itu.


"Makanlah, kamu pasti lelah," ucap Mira dengan memberikan satu nampan berisi sepiring nasi serta lauk pauk plus minumnya.


"Terimakasih Mira," ucap Yeon dengan menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutnya secara perlahan.


"Mira, bagaimana jika aku meminta bantuan mu untuk mengabulkan permintaan ku ini? Dan mungkin permintaan kamu ini juga akan menyakiti hati dan perasaan kamu. Namun aku akan tetap berjanji untuk bersikap adil dan juga menyayangi janin yang ada di dalam perut kamu walau itu bukan darah dagingku sendiri," ucap Yeon dengn tanpa basa-basi.


Karena di sepanjang hari selama di luar negeri Tyas terus menerus untuk mendesak nya agar segera bisa tinggal seatap dengan nya yang membuatnya mau tidak mau harus segera mengutarakan kegelisahan hatinya itu kepada Mira.


Mendengar penuturan sang suami pun membuat Mira menghentikan kegiatan mengeringkan rambut suaminya tersebut dengan tiba-tiba.


Mira paham dengan arah pembicaraan sang suami dan Mira pun sadar jika tidak ada perasaan apa pun di hati Yeon untuk dirinya dan meragukan janin yang kini tengah tumbuh di dalam perutnya.


Karena pada dasarnya pernikahan keduanya juga terbentuk karena sebuah kecelakaan.


"Katakan lah, aku akan berusaha mengabulkan keinginan kamu itu. Karena aku pun tahu jika pada dasarnya tidak ada rasa cinta di hati kita masing-masing," ucap Mira dengan menahan getir di dalam dada nya.

__ADS_1


"Tyas ingin kita bertiga tinggal di atap yang sama di penthouse pribadiku," terang Yeon secara gamblang.


Hal tersebut membuat Mira menghirup nafas sedalam-dalamnya agar tidak tersulut emosi apalagi hingga melontarkan kata-kata kasar kepada suaminya tersebut.


"Aku mohon dengan sangat, tolong bekerja samalah denganku ya Mira. Aku janji tidak akan mengabaikan kamu dan jika janin yang kamu kandung terbukti itu adalah darah dagingku maka aku janji tidak akan menceraikan kamu dan merawat anak kita bersama-sama sebaik mungkin. Namun aku ingin menikahi Tyas sebagai istriku yang kedua setelah nya. Bagaimana pun juga aku masih sangat mencintai nya, Mira. Dan tolong rahasiakan semua ini dari keluarga ku," ucap Yeon dengan menggenggam jemari Mira.


'Kamu brengsek Yeon. Walaupun pernikahan kita bukan di dasari karena atas rasa saling cinta yang begitu mendalam, tidakkah kamu bisa menghargai perasaan ku sebagai seorang wanita. Wanita mana yang ingin di madu walaupun surga sudah pasti menanti. Percuma saja sedari kecil aku mengagumi kamu yang terlihat seperti malaikat yang selalu melindungi ku dimana pun kita berada,' gumam Mira di dalam hati.


"Terserah kamu saja. Toh aku hanyalah istri di atas kertas saja. Dan istri sementara kamu. Aku pun tidak berani menjanjikan untuk akan bertahan hidup di sisi mu selamanya. Jadi jangan mencoba menghalangi ku jika suatu saat aku menginginkan perpisahan di antara kita," ucap Mira dengan segera menepis kedua tangan Yeon.


Mira pun segera keluar dari dalam kamar tersebut dan melangkahkan kaki menuju taman yang sepi dan terlihat damai.


Ditaman tersebut lah Mira menangis sepuasnya tanpa bersuara sedkitpun.


Mira pun terus menangis dalam diam. Begitu juga dengan Yeon yang terlihat semakin terlihat frustasi di dalam kamarnya tersebut.


Yeon pun mengerti jika langkahnya kali ini sedikit banyak pasti akan melukai hati Mira.


Namun Yeon pun tak kuasa menolak keinginan Tyas karena Tyas pun selalu mengancam nya untuk mengungkapkan tentang dirinya yang di vonis impoten oleh sang dokter kepada khalayak media.


Jika hal tersebut terungkap, pasti akan membuat saham di perusahaan nya menjadi tidak stabil dan pastinya akan membuat kedua orang tua nya malu sejadinya.


Yeon pun segera menyulut batang rokoknya di area balkon kamar nya tersebut.


"Kita bisa langsung pindah ke penthouse mu mulai besok. Biar aku nanti yang bicara kepada Mommy serta Daddy tengang kepindahan kita yang terkesan sangat mendadak ini. Namun aku juga ingin mengajukan syarat untuk mu agar tidak mencampuri urusan pribadiku dan jangan sekali-kali mengaturku di dalam rumah tangga kita," ucap Mira dengan nada tegas namun begitu menohok untuk Yeon.


Sedangkan Yeon hanya mampu mengangguk kan kepala nya dengan perlahan namun dengan perasaan yang tidak karuan.

__ADS_1


__ADS_2