My Impotent Husband

My Impotent Husband
Bab 65. Melahirkan


__ADS_3

"Katanya aku di suruh cuti lebih cepat. Namun sama saja seperti tidak cuti jika Yeon terus membawaku kemana pun dia berada,"


"Tidak tau apa jika tubuhku terasa lelah sekali jika setiap hari harus mengikuti suami posesif ku itu," gerutu Mira di dalam ruang ganti yang ada di dalam ruangan khusus milik sang suami.


"Jangan banyak menggerutu sayang. Aku bersikap begini agar ketika kamu merasakan mulas akan melahirkan itu orang pertama yang membawa mu ke rumah sakit adalah aku," jawab Yeon tiba-tiba.


"Astaga, kenapa kamu ikut masuk ke ruang ganti juga sih, suamiku? Hem? Apa tidak bosan melihat tubuhku yang semakin hari semakin terlihat bengkak semua ini?" tanya Mira dengan gemas menatap sang suami.


"Siapa bilang aku bosan? Kamu tidak tahu saja jika pesona tubuh wanita hamil itu jauh lebih menggairahkan, sayang," ucap Yeon dengan menyesap leher Mira secara perlahan.


"Suamiku ... ini sangat geli. Tolong, bisa tidak agar berhenti melakukan hal itu? Sungguh meresahkan!" ucap Mira dengan berusaha menyingkirkan kepala Yeon yang tengah bersandar di pundaknya.


"Kenapa sayang? Apakah kamu sedang ingin? Tidak apa jangan malu tinggal katakan saja dengan suami perkasa mu ini. Suami kamu kan bukan lagi pria impoten. Toh kata dokter kandungan mu semakin rutin kita melakukan itu maka akan semakin lebih baik untuk membantu mempercepat proses persalin anak pertama kita," ucap Yeon dengan tangan yang sudah bergerilya kemana-mana.


Mira pun nampak mendengus kesal melihat tingkah suaminya tersebut.


"Masih ada waktu satu minggu lagi untuk waktu hpl ku Yeon. Aku lelah jika setiap saat kamu memaksa ku untuk melakukan nya secara terus menerus di setiap ada kesempatan," ucap Mira dengan berusaha mengancingkan kembali atasan nya yang telah di lucuti oleh Yeon begitu saja.


"Sayang ... menolak perintah suami itu dosa besar loh," kata Yeon dengan berganti menyingkap bawahan Mira.


Mendengar kata dosa pun membuat Mira kembali tidak berdaya. Kedua nya pun kembali melakukan olahraga panas di ruang ganti hingga lupa daratan.


Lagi-lagi sang Aspri Brian harus mendengarkan jeritan laknat yang terus terdengar begitu syahdu dan membuat siapa pun yang mendengar pasti ikut meremang.


"Selalu saja Tuan Yeon lupa mengunci pintu ruang kerjanya jika asik melakukan itu. Membuat batang perjaka ku merasa ternista kembali karena akhir-akhir ini ikut menanggung rasa tegang jika mendengar suara-suara laknat itu," gerutu asisten Brian dengan kembali menutup pintu ruang kerja presdirnya tersebut.


Sedangkan di dalam ruang ganti tersebut masih tercipta suara-suara khas jeritan ah uh yang terus menggema.


"Say—ang ... aku sampaii, ouchh ..." lenguh Yeon dengan terus memompa miliknya dengan cepat hingga tubuhnya terasa lemas karena telah mengeluarkan seluruh cairan miliknya di dalam milik Mira.


Mira pun segera menyingkir dari tubuh sang suami karena perutnya terasa sakit yang tiba-tiba datang dan pergi.

__ADS_1


"Sekali lagi sayang," ucap Yeon dengan kembali memasukkan miliknya ke dalam milik Mira.


Jlebbb! Penyatuan pun kembali tidak terhindarkan.


Yeon pun terus menikmati setiap permainan yang dirinya ciptakan. Mendesahh tak karuan, yang membuat Mira kembali terbuai oleh sentuhan demi sentuhan yang membuat dirinya melupakan rasa sakit di perutnya yang kembali timbul dan hilang.


Hingga Yeon pada akhirnya menyelesaikan penyatuan yang terakhir karena melihat wajah sang istri yang terlihat semakin pucat.


Bulir keringat pun terlihat dengan jelas membasahi wajah istrinya itu.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Yeon dengan cemas serta menduduk kan sang istri di sofa yang ada di ruang kantornya tersebut.


"Peruttku ra—rasanya sak—sakitt sekali. Datang dan pergi rasanya. Seperti nya ada cairan yang keluar dan mengalir ke bawah selangkangannku," ucap Mira dengan tersendat-sendat karena menahan nyeri yang terus mendera.


"Ini tanda jika kamu akan melahirkan sayang!" pekik Yeon dengan cepat memakaikan jaket kepada sang istri dan kemudian menggendong nya keluar dengan cepat.


"Masih ada waktu satu minggu untuk hari persalinan ku tiba," jawab Mira dengan lemah sembari mengalungkan tangannya dengan erat di leher sang suami.


"Nyonya Mira apakah akan melahirkan hari ini?" gumam Brian dengan tanggap membantu sang Presdir.


"Saya bantu menggendong Nyonya, Tuan," tawar Brian dengan hendak menyentuh istri bossnya tersebut.


"Biar aku yang menggendongnya! Kamu yang memegang kemudi. Kita ke rumah sakit sekarang!" titah Yeon dengan wajah yang telah di penuhi oleh keringat.


Aspri Brian pun segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah sakit terdekat.


"Ssakiitt—" pekik Mira tertahan karena rasa sakit yang terus mendera.


Tangan Mira pun mencengkeram lengan Yeon serta menancapkan kukunya dengan sangat dalam.


Yeon sendiri menahan rasa sakit yang dirinya terima akibat cakaran yang terus istrinya berikan di lengan nya tersebut.

__ADS_1


"Sabar sayang ... atur nafas dan hembuskan secara perlahan," ucap Yeon dengan mengusap lembut perut serta kepala sang istri secara bergantian.


"Yeon sialan! Bisanya cuma ngomong sabar! Kamu tidak ta—tau jik—ka ini sangat meny—nyiksa sekali. Argghhh!!" pekik Mira dengan sesekali mengejan serta menjambak rambut sang suami dengan sangat kuat.


"Kemudikan cepat!! Istriku sudah tidak kuat!" pekik Yeon dengan panik melihat sang istri terus merintih dan mengejan.


"Kita sudah masuk ke pelataran rumah sakit tuan," jawab asisten Brian dengan segera menuju ke IGD.


Petugas kesehatan pun dengan sigap memindahkan Mira ke atas brankar dan mendorongnya ke ruang khusus untuk persiapan bersalin.


"Pembukaan telah lengkap!" teriak sang Bidan menginterupsi.


Semua petugas kesehatan yang terlibat pun segera memposisikan untuk membantu proses melahirkan.


Begitu juga dengan Yeon yang terus siaga berada di samping sang istri.


"Ini sakit sekali Yeon! Dasar lelaki brengsekk! Bisanya celap celup doang tapi tidak ikut merasakan rasa sakittt ini," omel Mira dengan terus menarik kencang rambut sang suami di kala kontraksi kembali datang.


Dokter kandungan serta Bidan yang membantu proses melahirkan pun segera memberikan instruksi kepada Mira untuk segera mengejan dengan sekuat tenaga di kala kontraksi kembali datang.


Tak lama kemudian tangisan bayi pun menggema di dalam ruangan tersebut.


"Jenis kelamin nya laki-laki, Tuan dan Nyonya," ucap sang Dokter dengan cepat.


Perawat pun segera membersihkan tubuh bayi merah tersebut dengan cepat dan segera memberikan bayi tersebut ke dalam dekapan sang ibu.


Yeon yang melihat putranya telah lahir di dunia pun hanya mampu meneteskan air mata bahagia.


"Terimakasih sayang telah melahirkan seorang putra tampan yang memiliki wajah sangat persis denganku," ucap Yeon dengan terus mengecup kening sang istri.


"Aku tidak pernah menyangka jika pria yang dulunya impoten sepetiku kini telah memiliki seorang baby. Mari kita buat baby lagi yang kedua setelah ini ya sayang ... yang banyak ... dua, tiga, empat dan seterusnya," ucap Yeon yang membuat mata Mira melotot tajam.

__ADS_1


"Kamu melahirkan sendiri saja! Biar tahu gimana rasanya. Kamu sih mau nya enaknya saja!" gerutu Mira dengan galak.


__ADS_2