
'Siapa sih yang berani sekali mengumpatiku di belakang hingga membuatku tersedak mendadak serta bibir yang terus berkedut,' batin Yeon dengan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran milik nya.
Tak lama kemudian lamunan Yeon pun segera tersadarkan oleh suara ketukan pintu.
"Masuk!" titah Yeon.
Sang asisten pun segera bergegas menuju ke ruangan sang pemilik gedung pencakar sekaligus boss arrogan nya tersebut.
"Katakan!" ucap Yeon kemudian.
"Mommy Anda telah menempatkan dua bodyguard pribadinya di depan apartemen pribadi Nona Mira, Tuan. Seperti nya Nyonya besar sedang menjaga Nona Mira dengan menempatkan dua bodyguard kepercayaan nya untuk mencegah Nona Mira kabur dari negara ini," terang sang assisten yang telah menempatkan banyak mata-mata untuk mencari keberadaan sang istri.
"Kabur?? Untuk apa Mira kabur??" tanya Yeon dengan menatap heran.
"Menurut informasi yang saya terima, Nona Mira akan segera menggugat cerai anda dan kembali ke Indonesia lagi, Tuan. Maka dari itu Nyonya besar yang mengetahui rencana besar Nona Mira pun segera memperketat penjagaan agar Nona Mira tidak bisa pergi meninggalkan apartemen nya tersebut," ucap sang assisten dengan nada menggebu-gebu.
"Berani sekali Mira ingin menggugat cerai diriku secepat ini! Bukan kah dirinya telah setuju untuk berpisah denganku setelah melahirkan anaknya kedunia? Apa mungkin ini semua karena Mira ingin segera menikah kembali dengan lelaki yang telah membuatnya hamil??" gumam Yeon dengan mengepalkan kedua telapak tangannya dengan sangat erat.
"Tidak bisa di biarkan! Aku yang telah bersusah payah dengan terpaksa menikahi nya. Namun dengan semudah itu dirinya kemudian mencampakkan ku dengan merencanakan gugatan cerai secara sepihak tanpa menunggu persetujuan dariku lebih dulu," ucap Yeon yang kemudian segera menyambar kunci mobilnya serta meninggalkan sang asisten seorang diri di dalam ruangan tersebut.
"Astaga boss ... begini kah nasib asisten pribadi yang di perlukan jika sedang di butuhkan saja," ucap sang assisten dengan perlahan.
Sedangkan Yeon, terlihat tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh dengan tujuan agar segera sampai di kediaman pribadi milik istrinya tersebut.
Kedua bodyguard pribadi sang Mommy pun terkejut begitu mendapati sang tuan muda nya tengah berdiri di hadapan nya.
"Minggir! Aku ingin menemui istriku!" bentak Yeon dengan mengibaskan salah satu tangan nya.
Kedua bodyguard tersebut pun pada akhirnya memberikan jalan kepada sang tuan muda yang nampak tergesa masuk ke dalam apartemen milik istrinya tersebut.
Rencana awal untuk memarahi Mira pun nampak sirna begitu saja ketika mendapati tubuh sang istri yang tengah meringkuk tertidur di sofa.
__ADS_1
Wajah istrinya tersebut pun nampak terlihat agak pucat dan di samping sofa tersebut pun terdapat sebuah koper yang mungkin telah di persiapkan oleh Mira untuk pergi dari negara ini.
Yeon pun kemudian segera membuka koper milik istrinya tersebut secara perlahan serta mengembalikan baju-baju yang ada di dalam koper tersebut untuk ia letakkan kembali ke dalam almari milik istrinya itu.
Setelah nya, Yeon pun terlihat membopong tubuh istrinya tersebut dan memindahkan nya ke ranjang tempat tidur sang istri.
Yeon pun melirik nakas di samping ranjang tempat tidur istrinya tersebut.
Ada beberapa jenis obat yang tersedia di atas meja nakas tersebut.
"Apa Mira sakit? Pantas saja wajahnya terlihat pucat," gumam Yeon dengan sangat perlahan.
"Sakit apa dia?" gumam Yeon lagi yang kemudian terlihat mencari tahu jenis obat yang tengah di konsumsi oleh sang istri melalui google.
"Obat pereda demam, vitamin, serta obat untuk penguat kandungan," gumam Yeon dengan mengernyitkan kedua alisnya.
"Apa kandungan Mira tidak baik-baik saja? Kenapa dia tidak mengatakan apa pun kepadaku tentang kondisinya? Bukan kah dokter yang memeriksa nya dulu mengatakan jika semua nya sehat?" batin Yeon dengan terus mondar-mandir di dalam kamar tidur milik istrinya tersebut.
"Untuk apa kamu kemari?" tanya Mira dengan segera memalingkan wajahnya dari hadapan lelaki yang tidak kunjung mempercayai ucapan nya jika sang janin adalah darah daging nya bahkan terus mengumpati nya sebagai wanita murahan.
"Kenapa kamu tidak mengatakan kepadaku jika kamu tengah sakit? Kenapa aku menemukan obat penguat kandungan di atas nakasmu itu? Apa terjadi sesuatu dengan bayi yang ada di dalam perut kamu itu?" ucap Yeon dengan melontarkan banyak sekali pertanyaan dengan nada yang seperti teramat cemas.
"Bukan urusan kamu! Untuk apa kamu terlihat seperti peduli kepadaku serta bayi yang tengah ku kandung? Bukan kah kamu akan sangat senang jika aku serta bayi yang tengah ku kandung ini hilang dari hadapan kamu? Sudahlah jangan lagi berpura-pura baik di depan ku. Pergilah, aku membutuhkan waktu untuk beristirahat lebih dan tidak ingin di ganggu oleh siapa pun itu," ucap Mira dengan segera membalikkan kembali tubuhnya memunggungi tubuh Yeon.
Hanya terdengar helaan nafas dari mulut Yeon sebagai jawaban dari ucapan Mira.
Yeon pun kemudian segera keluar dari dalam kamar tersebut dan menutup pintunya dengan rapat.
Dengan langkah perlahan, Yeon pun menuju ke dapur dan membuka stok makanan yang ada di dalam kulkas Mira.
Yeon pun segera mengenakan appron dan memasak untuk makan malam kedua nya.
__ADS_1
Ruangan yang terlihat sangat minimalis dan nampak sunyi sepi pun membuat hati Yeon teriris.
Bagaimana mungkin seorang pemilik perusahaan e-commerce terbesar di negara Korea tersebut menempati sebuah hunian apartemen sederhana yang jauh dari kata mewah.
Tak berapa lama kemudian hidangan pun tersaji di meja makan minimalis milik sang istri.
Di meja makan minimalis tersebut terdapat sebuah bingkai foto. Foto Mira kecil bersama dengan ke dua orang tuanya.
"Pasti sangat kesepian hingga membawa serta bingkai foto keluarga utuh nya di meja makan mini ini," gumam Yeon dengan raut wajah yang berubah menjadi sendu.
"Aku antar ke dalam kamarnya saja makanan ini," gumam Yeon yang kemudian melangkah kan kaki menuju dimana kamar Mira berada.
Tangan Yeon yang hendak membuka pintu kamar Mira pun segera Yeon urungkan tatkala mendengar isak tangis yang terdengar samar dari luar pintu.
"Apa Mira sering menangis pilu seperti itu? Apa yang membuatnya menangis tersedu-sedu seperti itu? Apa karena kondisi tubuhnya yang tengah sakit??" gumam Yeon lagi dan kemudian membuka pintu kamar Mira dengan sangat cepat.
"Mira! Apa yang terjadi?? Apakah tubuh mu masih terasa lemah dan sakit hingga manangis seperti ini??" tanya Yeon dengan menyingkap selimut yang tengah Mira gunakan.
"Lepas! Jangan sentuh aku! Aku tidak ingin melihatmu saat ini! Pergi!" teriak Mira dengan berusaha meronta di dalam dekapan Yeon.
"Aku sangat membencimu Yeon! Tolong kali ini biarkan aku pergi jika kamu masih tidak mempercayai ucapan ku! Aku telah menyadari dan menyesali langkah yang ku ambil untuk meminta pertanggung jawaban darimu jika hanya membuat ku terus tersakiti seperti ini. Tolong bi—biarkan aku pergi—" ucap Mira dengan nada yang kemudian terbata-bata dengan tangan yang terus memegangi perut nya tersebut.
Melihat Mira yang seperti tengah kesakitan pun membuat Yeon panik.
"Kenapa Mira?? Apa perut kamu terasa sangat sakit??" tanya Yeon dengan mengusap bulir keringat yang keluar dari dahi istrinya tersebut.
"Perutku memang terasa nyeri dan sakit sekali seperti i—ini akhir-akhir ini," ucap Mira dengan terbata serta bulir keringat yang masih terlihat bercucuran.
Hingga tak lama kemudian Mira pun nampak terkulai lemas dan membuat Yeon panik luar biasa.
Dengan keadaan panik, Yeon pun segera menggendong tubuh istrinya yang telah terkulai lemah tersebut menuju ke rumah sakit bersama kedua bodyguard nya.
__ADS_1
"Lajukan mobilnya dengan cepat dan cari rumah sakit yang terdekat dari sini segera!" ucap Yeon dengan terus mengusap dahi sang istri yang masih nampak mengeluarkan bulir keringat.