
Satu jam kemudian, Yeon kini tengah duduk berhadapan dengan sang informan beserta asisten Brian.
"Saya menginginkan seluruh informasi tentang apa saja yang pernah di lalui nya dan di lakukan nya hingga kini. Aku ingin seluruh bukti yang ada di tanganku adalah bukti yang valid. Satu kali dua puluh empat jam, berikan laporan itu kepada ku," ucap Yeon dengan menyodorkan selembar foto Tyas kepada sang informan.
"Baik, Tuan," ucap sang Informan dengan mengangguk penuh hormat.
"Tunggu dulu ... selidiki juga tentang kejadian di tanggal xx bulan cc dimana aku berada di negara Indonesia tentang bagaimana aku bisa berada disebuah kamar bersama dengan seorang wanita yang kini telah menjadi istriku. Sekaligus selidiki siapa yang menjadi dalang di balik kejadian tersebut," ucap Yeon dengan kembali menyodorkan kan fotonya bersama Mira.
"Baik, Tuan. Apakah ada perintah yang lain lagi?" tanya sang informan kemudian.
"Tidak, kembali lah dan kerjakan misi mu ini dengan secepat nya," titah Yeon yang kemudian segera di laksanakan oleh sang Informan.
Setelah sang Informan pergi, Yeon pun kembali mengemudikan mobil nya kembali menuju ke rumah sakit dimana sang istri berada.
Begitu Yeon hendak membuka pintu rawat inap Mira, terdengar lah suara tawa dari bibir Mira sang Mommy yang tengah asik bercerita.
Mengintip sekilas wajah Mira yang telah kembali ceria pun membuat Yeon menarik nafas dengan lega.
Dirinya pun mengurungkan niat nya untuk masuk ke dalam ruang rawat inap tersebut agar tidak merusak suasana damai yang tercipta di wajah Mira.
Yeon pun memutuskan untuk menunggu di depan ruang rawat inap dan mencari informasi seputar bagaimana cara membujuk seorang istri agar kembali nyaman dengan sang suami.
Kiat-kiat pun telah Yeon pahami, hanya satu kiat saja yang tidak yakin akan Yeon bisa lakukan kepada Mira, yakni urusan ranjang
"Apa aku bisa melakukan itu dengan Mira?"
"Aku sangat tidak percaya diri bahwa milikku bisa bereaksi kembali. Mungkin malam panas kita di Indonesia kala itu merupakan suatu mukjizat yang nyata untukku hingga bisa melakukan nya hingga membuat perut Mira kini sedikit membuncit," gumam Yeon dengan terus mengacak rambutnya yang sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Ah sebaiknya aku meminta maaf dengan tulus serta melakukan pendekatan yang normal-normal dulu saja lah agar Mira tidak lagi merasa marah jika aku kembali ada di dekatnya," gumam Yeon lagi.
Kali ini Yeon memutuskan untuk meliburkan diri dalam mengurus urusan perusahaan dan beralih untuk melakukan misi damai dan menaklukkan kembali hati sang istri.
__ADS_1
Yeon pun kembali pulang ke rumah orang tua nya dan segera mengistirahatkan tubuhnya di ranjang yang beberapa kali Mira tempati.
Namun Yeon pun tidak kunjung bisa memejamkan kedua mata nya karena masih gelisah memikirkan kembali nasib pernikahan nya bersama Mira.
"Dulu aku memang pernah sangat menyukai Mira kecil. Aku tidak menyangka jika pada akhirnya kita di pertemukan kembali dalam sebuah ikatan pernikahan," gumam Yeon lagi dengan menatap guling yang biasa di pakai Mira untuk dijadikan pembatas wilayah tidur.
"Sudahlah sebaiknya aku hentikan dulu semua rasa gelisah yang hinggap di hatiku ini," ucap Yeon dengan mengambil sehelai baju tidur yang biasa di pakai Mira di saat malam.
Baju tersebut pun nampak Yeon peluk dengan sangat erat hingga dirinya pun pada akhirnya benar-benar bisa tertidur dengan pulas.
Hingga matahari pun kembali bersinar, dengan semangat Yeon pun segera membersihkan diri.
Setelahnya bergegas menuju ke sebuah toko bunga, dan memilih kan secara khusus bunga yang paling Mira sukai, bunga lily.
Yeon pun kini tengah memeluk bunga lily yang akan di berikan kepada sang istri dengan sangat hati-hati di sepanjang lorong rumah sakit.
Yeon pun memasuki ruang ranap inap Mira dengan penuh percaya diri dengan menenteng seikat bunga lily pilihan.
Yeon pun menatap Mira yang tengah tertawa lebar ketika di suapi oleh Adolfo dengan sangat telaten.
Entah apa yang tengah mereka bicarakan sebelum nya hingga membuat Mira tertawa begitu lepasnya.
"Silahkan masuk, Tuan Yeon," ucap Araa sang asisten pribadi Mira yang melihat kehadiran suami dari atasannya tersebut datang.
Yeon pun kemudian mendekati ranjang Mira dan memberikan sebuah kecupan di kening Mira.
"Biar saya saja yang menyuapi nya, Tuan Adolfo," ucap Yeon dengan meminta mangkuk yang tengah Adolfo pegang.
Namun seolah Adolfo enggan untuk memberikan mangkuk tersebut kepada Yeon, maka terjadilah adu tarik menarik mangkuk yang kini terlihat tertarik ke samping kiri dan kanan.
"Lepaskan tangan jelek kamu itu dari mangkuk ini! Aku lah suaminya dan aku melarang mu untuk menyuapi istriku!" ucap Yeon dengan nada tinggi serta wajah memerah menahan emosi karena tidak kunjung mendapatkan mangkuk tersebut.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Tanganku jelek?? Apa kamu tidak memiliki mata hingga tidak bisa melihat betapa kekarnya tanganku ini?? Cih, dasar mata rabun!" balas Adolfo tak mau kalah.
Yeon yang telah tersulut oleh emosi pun hendak membalas dengan sebuah pukulan yang hampir mendarat di wajah bule Adolfo.
"Stop! Kalian berhenti lah! Keluar kalian keluar!" pekik Mira yang merasa jengah dengan sikap kekanakan dua lelaki di depan nya.
Yeon yang mendengar teriakan Mira yang nampak menggema pun kembali tersadar. Tujuan nya kemari adalah untuk meminta maaf demi mempertahankan kelangsungan pernikahan nya dan bukan untuk mengacaukan segala nya.
Dengan cepat Yeon pun segera mengusap perlahan tangan Mira, karena kini dirinya tidak ingin terjadi sesuatu dengan janin yang tengah di kandung oleh istrinya tersebut jika terbawa oleh emosi.
"Mira ... jangan emosi ... ingat anak kita disini," ucap Yeon dengan agak lirih sembari mengusap perlahan perut istrinya tersebut.
Mira yang melihat ucapan serta tindakan Yeon yang mendadak berubah manis pun nampak melongo, begitu juga dengan Adolfo.
Namun Mira pun segera tersadar kembali jika dirinya belum lah memaafkan atas ucapan kasar yang Yeon lontarkan kepadanya beberapa hari yang lalu.
Yang menyebutnya sebagai wanita murahan serta menuduh dirinya melakukan hal bejat bersama Adolfo lah dan lain sebagainya.
"Lepaskan tangan kamu itu dari atas perutku! Anak ini bukan lah anak mu seperti yang selalu kamu hinakan kepada ku. Aku ingin sendiri," ucap Mira dengan membalikkan tubuhnya agar tidak lagi melihat wajah Yeon yang kembali membuatnya mengingat ucapan yang begitu melukai hatinya.
"Mir—" ucapan Yeon pun terpotong karena sebuah tarikan tangan yang sangat kuat.
"Mira ingin sendiri!" hardik Adolfo dengan menarik kuat tangan Yeon menuju ke pintu keluar yang nampak di ikuti oleh sang asisten pribadi.
"Nona, saya undur diri dan segera mengurus urusan perusahaan terlebih dahulu," pamit Araa dengan sedikit berteriak dari arah pintu.
Araa, Yeon, serta Adolfo kini telah berada di luar pintu rawat inap Mira.
"Akan ku potong tangan jelek kamu itu jika masih berani menyuapi istriku. Apalagi jika berani menyentuh seujung kuku istriku, jangan harap kamu bisa hidup di dunia ini," ucap Yeon dengan mata yang menghunus tajam ke arah Adolfo.
"Cih, siapa yang peduli dengan ancaman tuan muda manja seperti mu," balas Adolfo yang kemudian dengan cepat segera pergi meninggalkan Yeon seorang diri.
__ADS_1