
Keluarga Yeon serta Mira kini telah berada di kediaman orang tua Yeon.
Begitu juga Mira dengan bayinya yang telah di perbolehkan untuk pulang oleh pihak rumah sakit.
Bayi tampan yang belum di beri nama tersebut nampak tertidur dengan pulas di dalam box bayi di kamar pribadi Mira serta Yeon.
"Cucu kita sama sekali tidak rewel. Setelah menyusu langsung tidur lagi. Nangis pun Hanya di kala haus atau pup saja ya, Dad? Tidak seperti Yeon dulu sering nangis. Mommy dulu sempat kewalahan menghadapi Yeon waktu Baby," tutur Mommy Yeon di hadapan sang suami serta keluarga besan.
"Itu berarti cucu kita sama persis seperti Mira waktu bayi. Sangat mudah tertidur dan anti rewel," jawab Papa Mira dengan cepat.
Sedangkan Mama Tiri serta Astrid hanya tersenyum kecut mendengar obrolan mereka.
Christ yang sedari tadi nampak terus berharap agar Mira segera keluar dari kamar kini terlihat gelisah.
Ingin sekali Christ masuk ke dalam kamar Mira namun usaha nya tersebut selalu gagal karena Astrid yang terus mengikuti nya kemana pun dirinya melangkah.
__ADS_1
"Kak Chirst, lupakan lah kakak ku itu. Sebentar lagi kita akan punya baby sendiri. Lebih baik kita segera kembali pulang ke Indonesia atau pekerjaan kakak sebagai sutradara akan mengalami banyak kerugian jika kita terus berada disini," ucap Astrid mengingatkan sang suami.
"Aku tahu! Tidak usah menggurui ku," ucap Christ yang telah lebih dulu masuk ke dalam salah satu kamar tamu yang di khususkan untuk dirinya serta Astrid.
Posisi kamarnya pun sangat jauh dari kamar pribadi milik Yeon serta Mira.
Yeon sendiri yang menempatkan kamar tamu paling ujung untuk sepasang pasutri tersebut agar tidak terus berusaha mengganggu kenyamanan Mira.
Sedangkan Yeon kini tengah duduk di samping box bayi menunggu sang anak yang tengah tertidur sembari memeriksa surel yang berkaitan dengan pekerjaan nya.
"Sayang lihatlah ini bacalah! Sepertinya lusa Jerome akan menikah! Syukurlah jika cecenguk bibit pebinor itu sudah akan menikah. Itu artinya saingan ku sudah tumbang satu," ucap Yeon dengan mata berbinar menuju ke arah Mira.
Mira pun segera ikut membaca surat undangan pernikahan tersebut.
"Wahh Jerome akan menikah dengan sekertaris sendiri, Sayang! Kalau jodoh memang tidak kemana ya," ucap Mira dengan ikut merasa senang begitu membaca nama kedua calon mempelai.
__ADS_1
"Tapi bagaimana ini sayang? Menikahnya di Sidney kan? Kamu baru saja melahirkan dan belum boleh bepergian jauh apalagi menggunakan pesawat," ucap Yeon lagi dengan raut wajah yang nampak bingung.
"Ya mau gimana lagi? Kita wakilkan saja kedatangan serta hadiah pernikahan mereka dari kita. Biar orang kepercayaan kamu saja yang datang menggantikan kita. Mereka pasti memaklumi kok," tutur Mira memberikan ide yang terdengar cukup logis.
"Baiklah sayang. Setelah kamu sudah di perbolehkan berpergian oleh dokter, setelahnya kita kunjungi Jerome serta istrinya itu. Aku ingin memamerkan bayi tampan ku kepada Jerome agar dia sadar dan tidak lagi mengejar mu," ucap Yeon yang masih saja takut jika Jerome kembali mengejar sang istri.
"Aish! Kamu ada-ada saja. Jerome kan sebentar lagi memiliki istri. Mana mungkin masih terus mengejar ku," jawab Mira dengan menepuk pelan bahu sang suami.
"Yah siapa tahu Jerome menikah karena kecelakaan saja dan tidak mencintai calon istrinya itu. Bisa jadi sekertaris nya itu telah di perkossa oleh Jerome hingga hamil. Makanya menikah nya pun terasa terburu-buru dan terlalu singkat. Biasalah menikah karena terpaksa," ucap Yeon dengan entengnya.
"Memangnya kamu! Habis merkossa aku waktu itu main pergi begitu saja!" hardik Mira dengan memukuli dada Yeon dengan membabi buta karena kembali jengkel mengingat masa suram nya dulu akibat perbuatan suaminya.
"Aww ... ampun sayang. Jangan di pukuli seperti itu dong sakit tahu. Lebih baik di elus-elus atau di peluk saja tubuh kekarku ini," jawab Yeon yang otaknya kembali ke mode mesum.
Mira yang semakin kesal mendengar jawaban sang suami pun kembali memukuli suaminya tersebut dengan tanpa ampun.
__ADS_1