
Mira yang telah terlanjur sakit hati dengan ucapan Yeon pun memutuskan untuk kembali ke apartemen pribadinya.
Di dalam kamar apartemen nya lah Mira menumpahkan segala rasa sakit yang di rasakan selama ini.
"Kenapa semua ini terjadi kepadaku? Sungguh aku tidak ingin ternoda hingga berbadan dua seperti ini. Hiks ..." ucap Mira di sela isak tangisnya.
"Aku benci kamu, Yeon! Yeon bodoh!" umpat Mira dengan terus menangis sendiri.
Hingga kedua mata Mira pun terasa sangat berat dan pada akhirnya terpejam dan terbuai kedalam mimpi-mimpi indahnya bersama sang Mommy.
"Mommy ..." rintih Mira dengan mata yang masih terus terpejam.
Hingga pagi bergulir, namun tidak ada tanda-tanda Mira segera terbangun dari mimpi-mimpi indahnya tersebut.
Asisten Araa yang telah menunggu kedatangan sang Presdir yang tak kunjung segera datang pun menjadi sangat gelisah. Padahal pagi itu ada rapat penting dengan perusahaan milik Adolf group untuk membahas proyek kedua nya serta keberangkatan bersama di Jerman yang akan di lakukan satu hari kemudian.
"Pagi-pagi sekali Tuan Yeon pun telah meneleponku dan meminta kepadaku jika telah bertemu dengan Mira maka di minta untuk segera menghubungi nya. Apa terjadi sesuatu dengan Nona Mira ya?" gumam Araa di dalam ruang rapat yang nampak telah di hadiri oleh beberapa karyawan termasuk Adolfo itu sendiri.
"Kemana Nona Mira? Tidak seperti biasanya Nona Mira terlambat dalam acara sepenting ini," tanya Adolfo dengan setengah berbisik kepada Araa.
Araa pun terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan rekan bisnis dari CEO nya tersebut.
"Bisa kah rapat ini di tunda lebih dulu, Tuan? Saya ingin mencari Nona Mira terlebih dahulu," pinta Araa dengan wajah yang terlihat kebingungan.
Mendengar ucapan Araa yang terdengar panik pun membuat Adolfo segera memberikan instruksi kepada seluruh mitranya untuk menunda rapat ini.
"Kita lanjutkan rapat ini melalui rapat virtual saja serta schedule rapat akan di informasikan lebih lanjut lagi oleh Nona Araa nanti, terimakasih," ucap Adolfo dengan tegas.
Setelah itu Adolfo serta Araa nampak tergesa menuju ke apartemen pribadi milik Mira.
Dengan cekatan Araa pun menekan tombol pin apartemen milik Mira.
__ADS_1
"Semoga Nona Araa ada di dalam apartemen ya, Tuan," ucap Araa dengan perasaan yang sangat cemas.
Setelah pintu apartemen terbuka kedua nya pun segera menghambur kan diri masuk ke dalam apartemen tersebut dan mencari keberadaan Mira.
"Astaga Nona Mira!" pekik Araa dengan wajah yang sangat panik begitu mendapati wajah pucat dari atasan nya tersebut.
Begitu juga dengan Adolfo yang dengan sigap segera mengecek kondisi Mira yang tengah mengalami demam tinggi.
"Nona Mira, bangun ..." ucap Araa dengan mengoles hidung Mira dengan minyak aromaterapi.
Adolfo pun segera memanggil dokter pribadi keluarga nya di Korea untuk segera bertandang ke apartemen milik Mira.
Hingga tak lama kemudian, sang dokter pun datang dan dengan sigap segera memeriksa kondisi Mira yang terlihat lemah tak berdaya tersebut.
Setelah menyuntikkan obat di tubuh Mira, sang dokter pun kemudian berbicara enam mata bersama Araa serta Adolfo.
"Tuan, saya telah memberikan suntikan yang aman untuk tubuh Nona Mira yang tengah hamil muda. Jangan membuat Nona Mira tertekan secara mental dan fisik karena sangat tidak baik untuk kondisi janin yang memiliki kandungan lemah seperti Nona Mira saat ini," ucap sang Dokter dengan memberikan resep obat kepada Adolfo.
Namun rasa terkejut nya tersebut segera ia abaikan dengan mendengarkan ucapan sang dokter dengan seksama.
Setelah sang Dokter pergi, Adolfo pun segera meminta penjelasan kepada Araa sang asisten mengenai kondisi Mira yang tengah berbadan dua.
Araa pun mau tak mau kemudian menjelaskan permasalahan dari awal hingga komunikasi nya yang terakhir kali bersama Mira serta Yeon kepada Adolfo.
"Jadi Mira telah menikah dengan lelaki brengsek itu? Dan lelaki itu tidak mau mengakui serta terus menyangkal jika kandungan yang ada di dalam perut Mira itu bukan lah darah daging nya? Aku harus menyelidiki apa yang sebenarnya telah terjadi. Rahasiakan ini semua dari Mira ya Araa, jika aku telah mengetahui rahasia besar yang tengah di tutupinya dengan sangat rapat," ucap Adolfo dengan segera menuju ke dapur.
Membuka kulkas yang nampak kosong melompong tanpa isi.
Pada akhirnya Adolfo pun segera meminta orang suruhan nya untuk membawakan makanan sehat serta menebus resep obat yang telah di berikan oleh dokter pribadi di keluarga nya.
Hingga satu jam kemudian, Mira pun terbangun dari tidurnya dengan kepala yang masih terasa nyeri.
__ADS_1
"Nona, tetaplah berbaring," ucap Araa dengan menahan tubuh Mira supaya masih tetap berbaring di ranjang nya tersebut.
Mira pun begitu terkejut begitu mendapati Araa serta Adolfo yang telah berada di sampingnya.
"Kenapa kalian berdua bisa kemari?" tanya Mira dengan suara yang lemah.
"Nona jangan lagi banyak berfikir, ayo segera saya suapkan sarapan untuk Nona. Tuan Adolfo lah yang telah menyiapkan ini semua demi kesembuhan Nona," ucap Araa dengan menyuapkan bubur ayam ke dalam mulut Bu Presdir nya tersebut.
"Aku baik-baik saja, Araa. Aku tadi hanya butuh istirahat sebentar saja. Jangan memperlakukan ku seperti anak kecil, tidak enak jika di lihat Tuan Adolfo," ucap Mira dengan berusaha meraih sendok bubur yang tengah di pegang oleh Araa.
"Jika tidak ingin di suapi oleh Araa, apa itu artinya kamu ingin nya aku yang menyuapi kamu ya, Mira? Baiklah kemarikan mangkuk buburnya, Araa," titah Adolfo dengan cepat merebut mangkuk di tangan Araa tersebut.
"Bukan ... Adolf, aku bisa makan sendiri," sanggah Mira dengan cepat.
Namun Adolfo pun seolah tidak memperdulikan ucapan Mira dengan terus menyuapi Mira bubur ayam tersebut hingga habis.
"Ayo obat nya segera di minum," titah Adolfo lagi.
Mau tidak mau Mira pun segera meminum obatnya tersebut dengan perasaan yang aneh karena sedari tadi terus di tatap dengan sangat lembut oleh Adolfo.
"Mira ... perjalanan bisnis kita sebaiknya di wakilkan oleh orang-orang kepercayaan di perusahaan kamu dan aku saja. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan dirimu jika memaksa ikut bertolak ke Jerman. Jadi beristirahat lah dengan baik. Aku akan segera kembali ke kantor dan mengurus semua nya, jadi jangan kawatirkan apa pun," ucap Adolfo dengan mengusap tangan Mira secara perlahan.
"Tapi ..."
"Jangan pikirkan apa pun. Serahkan semua nya kepada orang-orang pilihanku. Aku pamit permisi lebih dulu ya Mira. Nanti aku datang kembali kemari," ucap Adolfo dengan mengusap kening Mira dengan perlahan.
Mira pun hanya menatap kepergian Adolfo dengan perasaan yang masih belum dirinya mengerti.
"Adolfo kesambet apa sih, Raa? Kok menjadi semakin lembut seperti itu? Aku tidak enak jika terus di perlakukan seperti ini oleh orang asing," ucap Mira dengan menatap wajah sang asisten yang terlihat sama bingung nya.
'Karena Tuan Adolfo telah mengetahui segala nya, Nona,' batin Araa dengan menatap iba kepada atasan nya tersebut.
__ADS_1