
Pada akhirnya Mira pun di antar oleh Yeon menuju ke perusahaan milik Mira.
"Jika ada yang bertanya tentang pernikahan mu, maka jangan dulu kamu katakan kepada orang-orang jika aku lah suamimu. Karena aku anti mempublikasikan hubungan ku dengan wanita mana pun, termasuk hubungan ku dengan Tyas," papar Yeon mewanti-wanti.
"Apa kamu tidak takut jika kamu tiba-tiba di gossipkan oleh media sebagai lelaki pelangi jika tidak pernah terlibat dengan skandal wanita pun?" tanya Mira dengan terkekeh perlahan.
"Tidak lah, aku masih normal kok. Jika mereka berani membuat gossip murahan seperti itu maka tinggal menunjukkan kartu pernikahan kita di depan media saja, iya kan?" ucap Yeon dengan sama terkekeh perlahan.
"Dasar labil. Tadi ingin nya hubungan kita tidak di publikasikan. Sekarang malah menjadi berubah ingin menunjukkan buku pernikahan kita di depan media," jawab Mira dengan mencebikkan bibir.
"Kita jalani sesuai alur saja lah, ya? Kita sudah sampai, sini mendekat lah padaku lebih dulu," ucap Yeon dengan memberikan kode kepada Mira.
Mira pun sedikit mendekat di dekat Yeon dengan wajah bingung.
Lalu dengan cepat cepat Yeon pun melabuhkan ciuman di kening Mira dengan lembut serta mengelus perut rata istrinya tersebut.
Mira pun terlihat tercengang begitu mendapati elusan tangan di perutnya di tambah ciuman di kening yang di labuhkan oleh Yeon.
Seketika debaran di jantung Mira pun bekerja lebih ekstra.
"Entahlah mengapa aku ingin mengelus perut kamu ini. Jangan keberatan ya, oke? Ya sudah sana buruan turun, bekerjalah dengan baik," ucap Yeon dengan tatapan yang berbeda.
Mira pun segera mengangguk kan kepala. Namun sebelum keluar dari dalam mobil, Mira pun memberikan sebuah concelear produk ternama yang biasa di pakainya sehari-hari kepada Yeon.
"Ini untukmu. Pakailah untuk menutup tanda merah-merah di leher kamu yang terlihat sangat jelas itu. Tapi, jika kamu ingin tetap menunjukkan bekas kemerahan kamu itu, maka kembalikan dengan segera concealer milikku," ucap Mira dengan wajah melengos.
Seketika Yeon pun tersadar jika masih ada bekas kemerahan di lehernya yang tercetak dengan jelas.
"Bukan aku yang membuat ini," ucap Yeon dengan menunjuk warna merah-merah di lehernya yang sudah seperti macan tutul tersebut.
__ADS_1
"Siapa pun yang melihatnya pun akan tahu jika bukan kamu yang membuatnya. Mana mungkin kamu bisa menciptakan tanda kemerahan seperti itu dengan mulut kamu sendiri. Dasar menyebalkan," jawab Mira dengan nada yang terdengar seperti mengomel.
Kemudian Mira pun tidak lagi menjawabi ucapan Yeon berikutnya dan dengan segera memasuki pintu utama di lobby perusahaan miliknya tersebut.
Terlihat seluruh karyawan segera nampak menunduk dengan hormat kepada Mira.
Dengan cepat Yeon pun mengoles concealer tersebut untuk menutup bekas kemerahan di lehernya.
"Ah, entah mengapa Tyas akhir-akhir ini menjadi lebih menyebalkan dan berani sekali memberikan cupangan seperti ini tanpa seizin ku," gumam Yeon dengan terus menutup bekas tersebut dengan make up.
Setelah itu Yeon pun segera tancap gas menuju ke perusahaan nya dengan terlihat senyum yang mengembang karena terus terbayang oleh wajah cantik Mira.
Hingga setiba nya di perusahaan milik nya, wajah Yeon pun masih nampak terus memancarkan senyuman nya.
Setiap karyawan yang di jumpai nya pun di berikan sebuah senyuman hangat olehnya yang membuat seluruh karyawan tersebut terheran-heran.
Yeon pun menikmati seluruh pekerjaannya dengan perasaan yang sedikit lebih berwarna.
Disaat dirinya ingin menelepon Mira untuk mengajaknya makan siang bersama, namun panggilan masuk dari Tyas lebih dulu berdering di ponselnya.
"Hallo, sayang. Malam ini aku akan kembali ke Indonesia karena ada teken kontrak baru dengan produk kecantikan lokal di negara asalku,"
"Jadi aku mohon, sebagai permintaan maaf ku atas kesalahan ku pagi tadi, aku ingin mengajak kamu makan siang bersama. Aku tunggu di restoran yang baru buka dan sangat booming di kalangan anak muda masa kini yang tidak jauh dari kantormu ya. Aku telah mereservasi privat room untuk makan siang kita," ucap Tyas di dalam telepon tersebut.
"Baiklah, aku akan segera kesana," jawab Yeon dengan menutup telepon nya tersebut setelahnya.
"Ah, yasudahlah ... lunch pertama kali ku dengan Mira tertunda. Lagi pula masih ada banyak waktu untuk mengajak Mira makan siang bersama sih," gumam Yeon seorang diri dengan bersiap menuju ke restoran yang di maksud oleh Tyas.
Hingga tak lama kemudian, Yeon pun telah berada di satu privat room di restoran nya tersebut.
__ADS_1
Namun ketika Yeon ingin membasuh tangan nya menuju ke arah wastafel, mata Yeon tanpa sengaja pun bertemu dengan kehadiran sang istri di privat room tepat di samping ruangan dimana dirinya berada dan terlihat sedang tertawa bersama dengan seorang lelaki yang nampak terlihat punggung belakang nya saja.
"Dengan mudahnya dia menerima ajakan makan siang lelaki asing tanpa izin dariku," gumam Yeon dengan perasaan jengkel dan kembali ke tempat semula.
Di sepanjang makan siang bersama dengan Tyas, Yeon pun hanya terlihat diam saja ketika Tyas membicarakan banyak hal.
Pikiran Yeon pun melanglang buana memikirkan Mira yang tengah asik berduaan dengan lelaki yang tidak terlihat wajahnya tersebut.
'Apa benar jika diriku ternyata hanya di jebak dan di manfaatkan oleh Mira agar janin milik orang lain yang kini tumbuh di dalam perut nya menjadi milikku?' gumam Yeon di dalam hati dengan perasaan kesal yang memuncak.
"Sialan!" pekik Yeon dengan sangat keras dan menggebrak meja yang tengah di pakai nya itu dengan sangat kuat.
Tyas pun nampak terlonjak kaget mendapati wajah marah yang tercetak jelas dalam gerakan gesturnya tersebut.
"Sayang, are you oke?" tanya Tyas dengan perlahan.
Yeon pun bergegas berdiri.
"Makan siang lah sepuasmu. Aku sedang banyak masalah di kantor dan aku akan segera kembali," ucap Yeon dengan segera meninggalkan restoran tersebut tanpa menunggu jawaban dari Tyas lagi.
Tyas pun terlihat semakin geram dengan sikap Yeon yang semakin hari semakin berubah semenjak dirinya menikah dengan Mira.
Tidak ada lagi kelembutan untuknya. Panggilan sayang pun sudah sangat jarang Yeon ucapkan untuk Tyas.
"Jika terus begini, maka ATM berjalan ku pasti akan menjauh secara perlahan. Apa aku main dukun saja kali ya untuk memikat hati Yeon kembali?" gumam Tyas dengan berfikiran yang mengarah ke arah mistis.
"Sepertinya perlu ku coba. Tapi dimana dukun yang masih benar-benar ampuh di era sekarang ini? Aku pun ingin mendapatkan ajian jaran goyang dan semar mesem seperti lagu yang sering Via Vallen bawakan," gumam Tyas dengan berfikir sangat keras.
"Sial! Ini semua gara-gara wanita murahan itu yang mengaku-ngaku hamil dengan Yeon. Hingga perhatian Yeon kepadaku pun rasanya tidak seintens dulu!" umpat Tyas dengan terus memasukkan banyak makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1