My Impotent Husband

My Impotent Husband
Bab 43. Darren Kebingungan


__ADS_3

Disaat yang bersamaan, Mom serta Dad Yeon pun nampak pusing tujuh keliling dengan masalah yang kembali menimpa keluarga nya.


Sang putra sulung terlibat hubungan dengan dua wanita, sedangkan sang putra bungsu yang terlihat semakin membangkang dan jarang sekali terlihat kembali pulang kerumah.


"Sudahlah Mom, kita hanya tinggal menunggu janin yang ada di dalam kandung Tyas cukup umur untuk di lakukan test DNA. Prioritas utama kita saat ini adalah menjaga Mira dengan sebaik-baiknya," ucap Dad Yeon dengan mengelus punggung istrinya tersebut agar tidak kembali merasa tertekan oleh keadaan.


"Aku sungguh menyesal karena telah melahirkan dua putra yang sama sekali tidak bisa membuat hati Mom tenang, Dad," tutur Mom Yeon dengan meneguk air mineral yang tengah ia pegang.


"Hush, jangan bilang seperti itu, Mom. Kedua anak kita sama-sama membanggakan untuk kita. Hanya saja belum saatnya kita memetik hasil yang telah kita tanam kepada kedua putra kita," ucap Dad Yeon yang kemudian telah merubah posisinya berada tepat di belakang Mom Yeon dengan memijat kepala istrinya tersebut dengan perlahan.


"Pasti hati Mira kembali terpukul, Dad. Bagaimana mungkin di saat dirinya tengah mengandung dengan perut yang sudah terlihat membuncit lalu tiba-tiba datang lah wanita lain nya lagi yang mengaku tengah hamil hasil dari buah cinta bersama dengan suami sah nya. Haish, Mom sungguh bingung," ucap Mom Yeon dengan memegangi kepalanya yang kembali berdenyut nyeri memikirkan akan nasib anak-anak nya.


"Aku punya ide, Mom," ucap Dad Yeon di sela-sela keheningan di antara keduanya.


"Apa, Dad??" tanya Mom Yeon yang kemudian segera berbalik menatap wajah suaminya tersebut.


"Kita minta Yeon untuk berbulan madu ke luar negeri saja bersama Mira. Setelah janin yang di kandung oleh Tyas telah cukup umur untuk melakukan tes DNA baru setelahnya segera kita berikan mandat kepada Yeon untuk segera kembali ke tanah air untuk melakukan tes DNA bersama," usul Dad Yeon yang terdengar cukup masuk akal di telinga Mom Yeon.


"Ide bagus sih, Dad. Tapi masalah nya aku telah berjanji kepada Tyas akan mempertemukan Tyas kepada Yeon jika janin yang ada di kandungan nya tersebut merindukan kehadiran Yeon," tutur Mom Yeon yang terlihat kembali bingung.


"Gampang itu, Mom. Tinggal kita beri alasan terus menerus kepada Tyas saja jika wanita itu ingin bertemu dengan putra kita. Pokoknya Daddy akan mengakui Tyas sebagai menantu kedua Daddy jika hasil tes DNA yang keluar benar menunjukkan kecocokan dengan DNA putra kita. Jika tidak, jangan harap wanita itu bisa kembali hidup enak di dunia ini," ucap Daddy Yeon dengan senyum seringai nya.


"Benar itu, Dad. Yasudah lah, Mom mulai mengantuk, Dad. Mau tidur dulu. Bilang kepada bodyguard Dad untuk jangan lengah ketika mengawasi Tyas," pinta Mom Yeon sebelum merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


"Siap, istriku. Sudah terpasang cctv di setiap sudut ruangan juga. Hanya di dalam kamar mandi saja yang tidak Dad berikan kamera cctv," terang Dad Yeon yang kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya tersebut.


Di belahan negara lain nya, terlihat Darren yang tengah di maki-maki oleh pihak management.


"Bagaimana bisa artis yang telah kamu handle itu mengajukan cuti panjang di saat tengah terikat kontrak dengan banyak pihak, Darren?? Apa kalian sanggup memberikan uang pinalti jika seperti ini??" tanya kepala management dengan melempar surat cuti yang telah Darren berikan.


"Aku tidak mau tau! Maksimal cuti yang Tyas ambil tidak boleh lebih dari satu bulan! Jika lebih dari tenggat waktu yang aku berikan maka kalian harus membayar seluruh denda sesuai dengan perjanjian di awal kontrak!" bentak sang kepala manajement kemudian.


Darren pun hanya mampu mengangguk lemah dan berpamit undur diri dari ruangan tersebut.


Dengan penuh keresahan, Darren pun segera mengemudikan mobilnya menuju ke apartemen yang biasa Tyas tempati.


Memencet angka-angka yang merupakan kode akses yang biasa digunakan oleh Tyas dalam keluar masuk ke dalam apartemen nya tersebut bersama dengan Darren.


"Ponsel nya pun tidak kunjung aktif," gumam Darren dengan mengacak frustasi rambutnya tersebut.


Darren pun nampak menyesal karena telah mengambil keputusan yang salah dengan mencoba menghamili Tyas secara diam-diam.


Pada kenyataannya, yang di minta Tyas pertama kali untuk mempertanggung jawabkan kehamilan nya tersebut sudah pasti adalah kekasih nya yang merupakan lelaki berkebangsaan Korea Selatan yang sangat kaya raya itu.


"Harus kemana aku mencarinya?? Tidak mungkin bukan jika aku harus mengganti uang pinalti seorang diri jika dalam kurun satu bulan Tyas tak kunjung menampakkan batang hidungnya kembali?" gumam Darren dengan wajah yang terlihat sangat kusut.


Dengan modal google, Darren pun mencoba mencari tahu kontak ataupun kediaman kekasih Tyas di Korea.

__ADS_1


"Hanya alamat perusahaan nya saja yang berhasil aku dapatkan," gumam Darren dengan masih menimbang-nimbang keputusannya untuk bertolak ke Korea guna mencari keberadaan Tyas.


"Aku tahu, saat ini kamu pasti tengah mengandung anakku dan mencoba menggunakan janin anakku itu untuk menjerat kekasihmu yang ada Korea. Kamu jahat Tyas!" ucap Darren dengan memukuli tembok yang ada di depan mata nya tersebut sebagai pelampiasan amarahnya.


Setelah nya Darren pun berusaha menenangkan pikiran kembali dengan mengunjungi club malam yang berada di pusat kota tersebut.


Memesan banyak sekali bir, yang membuatnya terus meracau tak jelas dengan meneriakkan nama Tyas berkali-kali.


Sedang kan Tyas yang terkurung di dalam apartemen milik orang tua Yeon pun nampak terus mengumpat di dalam hati. Ponsel satu-satunya yang ia miliki pun telah di ambil paksa oleh bodyguard yang terus berjaga di dekatnya atas perintah Dad Yeon.


Disamping itu, di setiap sudut apartemen tersebut pun nampak terpampang kamera cctv yang membuat setiap gerak-gerik nya sudah pasti bisa terpantau melalui kamera cctv tersebut.


Ingin mengumpat, mengeluh, serta berteriak pun Tyas tahan mengingat misinya kali ini dirinya harus bersikap lebih manis agar lebih bisa meyakinkan kedua orang tua Yeon serta mempertimbangkan keberadaan nya beserta sang janin dengan segera tanpa harus melalui segala rangkaian tes DNA.


"Nona Tyas, camilan serta makanan bergizi tinggi pun semuanya telah tersaji di atas meja. Selain itu peraturan dari Tuan besar yang mengatakan jika Nona Tyas tidak bisa keluar masuk apartemen tanpa seizin darinya," tutur sang bodyguard yang terlihat terus mengamati Tyas dari jarak dekat.


"Iya aku tahu. Namun jika bayi yang ada di dalam kandungan ku ini sangat ingin segera bertemu dengan Yeon sudah pasti di kabulkan bukan?" tanya Tyas kembali memastikan janji sang Mommy Yeon kepadanya yang memperbolehkan dirinya untuk bertemu dengan Yeon.


"Maaf Nona Tyas, namun kabar yang saya terima barusan jika tuan Yeon saat ini telah melakukan perjalanan bisnis ke negara Dubai dan kepulangan nya pun belum bisa di pastikan dengan jelas. Nona Tyas di minta untuk sabar menunggu hingga perjalanan bisnisnya usai," tutur sang bodyguard dengan mencoba menjelaskan panjang lebar agar wanita yang ada di depan nya tersebut tidak lagi bertanya yang membuat dirinya terasa kesulitan untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang terus terucap dari mulut Tyas tersebut.


Mendengar hal tersebut pun membuat Tyas menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Semoga kali ini aku tidak terjebak di dalam permainan ku sendiri," batin Tyas dengan hati yang mulai terasa was-was.

__ADS_1


__ADS_2