
Yeon nampak terus mengumpat sembari memukul kemudi yang masih nampak diam di tempat.
"Adolfo sialan! Berani sekali dia menyuapi istriku dan memperlakukan istriku seperti pasangan nya sendiri!" pekik Yeon dengan terus menuju stir kemudinya sebagai bahan pelampiasan kekesalan.
"Berani sekali dia melawan ku dan mengatai ku dengan sebutan tuan muda manja! Kehadiran nya pun membuat misi untuk mendekati Mira menjadi terganggu dan gagal total!"
"Arrggghhhh!!!" pekik Yeon sembari mengacak rambutnya.
Dengan perasaan dongkol, Yeon pun kemudian melajukan mobilnya menuju ke kantor dengan segera.
Rencana untuk meliburkan diri mengurus urusan kantor demi menjaga Mira pun gagal total.
Tak lama kemudian dirinya kini telah kembali duduk di kursi singgasana di dalam ruang kerja nya tersebut.
"Tidak jadi libur, boss?" tanya sang asissten dengan raut muka bingung begitu mendapati sang boss yang kembali bekerja dalam suasana hati yang terlihat kacau.
"Apa kamu pernah memiliki pacar?" tanya Yeon kepada asistennya, Brian.
"Jangan bertanya tentang cinta kepada saya, boss. Saya bukan ahlinya," ucap asisten Brian dengan langsung seperti sudah mengetahui permasalahan yang tengah di landa oleh atasan nya tersebut.
"Ah yasudah kalau begitu. Pergi sana, kerja kan tugasmu dengan benar," ucap Yeon dengan melambai-lambai kan tangan nya agar sang asisten segera pergi dari ruangan nya.
Yeon pun segera meraih telepon nya.
"Hallo, Mom. Tolong jagakan Mira untukku ya," ucap Yeon di dalam sambungan teleponnya.
"Tanpa kamu suruh, Mommy pun sudah pasti menjaga Mira dengan sepenuh hati. Memangnya kamu yang datang kemari hanya untuk membuat kegaduhan saja! Makin kesal jadinya mommy melihat tingkah kamu, Yeon! Sudahlah Mommy tutup dulu, kamu fokus bekerja saja mengurus perusahaan dengan benar," titah sang Mommy yang kemudian menutup telepon nya dengan cepat.
"Haish, Mommy. Anak sendiri malah di perlakukan seperti anak pungut. Aku harus membujuk Mommy agar bisa membawa Mira kembali pulang kerumah," gumam Yeon seorang diri sembari membolak-balik kan dokumen yang berada di hadapan nya tanpa ada yang di baca dengan serius oleh Yeon.
__ADS_1
Pandangan nya tertuju pada dokumen, namun pikiran Yeon telah mengembara kemana-mana.
Hingga tak lama kemudian terdengar dering ponsel miliknya berbunyi.
Informan semalam yang Yeon sewa kini menghubungi nya. Meminta Yeon agar segera bertemu di sebuah cafe yang telah Yeon sepakati.
Tak lama kemudian, keduanya pun bertemu di dalam sebuah privat room di dalam cafe tersebut.
"Semua hasil yang tuan minta telah berada di dalam amplop coklat ini," ucap sang informan dengan menyodorkan sebuah amplop coklat kepada Yeon.
Yeon pun segera membuka amplop yang berisikan bukti-bukti yang dirinya minta.
Memang benar jika Tyas selama ini masih bermain dengan pria-pria di luar sana. Bahkan seluruh uang pemberian nya pun nampak Tyas habiskan untuk menyewa gigolo yang bisa memuaskan nya dengan tarif yang begitu tinggi.
Bukti Tyas yang terlibat dalam skandal dengan sang manager serta tarif jual diri Tyas dengan para lelaki hidung belang pun nampak tertera begitu rinci di dalam laporan tersebut.
"Ternyata semakin menjadi dan menghamburkan uang pemberian ku untuk semakin gila bersama banyak lelaki. Apa dirinya tidak takut jika suatu saat akan terkena penyakit kelamin??" gumam Yeon dengan membanting dokumen beserta foto yang berisikan bukti kegilaan yang telah di lakukan oleh Tyas tersebut ke atas meja.
Yeon pun berusaha meredam emosi serta amarah nya dengan terus memandang hiruk pikuk pusat kota tersebut dari balik kaca yang ada di dalam ruangan nya tersebut.
"Tuan, ini berkas tentang malam anda Indonesia beberapa bulan yang lalu," ucap sang informan dengan menyodorkan sebuah map yang lain lagi.
Yeon pun segera membuka amplop tersebut. Membaca dengan teliti dan kemudian memutar video rekaman cctv yang tengah memperlihatkan dirinya yang tampak melalui lorong hotel tersebut dengan terus meracau.
"Panas ... air ..." racau Yeon di dalam rekaman tersebut dengan langkah yang tertatih.
Kondisi Yeon di dalam rekaman video tersebut pun nampak kacau hingga kancing kemeja nya pun telah hilang entah dimana.
Hal tersebut pun terekam dengan jelas hingga memperlihatkan dada atletis Yeon serta wajah yang nampak memerah khas orang mabuk.
__ADS_1
Yeon yang tengah sempoyangan serta terus meracau dengan tubuh yang terasa panas akibat wishkey yang telah di campur dengan obat gairah pun membuat dirinya tanpa tersadar membuka setiap pintu kamar hotel yang di temui nya tersebut satu persatu.
Hingga Yeon tanpa sengaja dengan cepat berhasil membuka pintu kamar hotel yang Mira tempati karena ternyata pintu tersebut belum menutup secara sempurna.
Hingga waktu menjelang pagi, nampak Yeon yang keluar dari dalam kamar tersebut dalam kondisi yang sudah nampak segar bugar kembali.
Yeon pun dengan cepat menaikkan kedua alisnya dengan menatap wajah sang informan.
"Jadi?" tanya Yeon dengan raut muka yang nampak sulit di jelaskan.
"Saya telah menyelidiki hal-hal lain nya lagi tuan. Anda tidak sengaja meminum wishkey yang telah bercampur obat laknat tersebut yang seharusnya bukan milik anda. Jadi tidak ada pihak lain yang berusaha menjebak anda,"
"Nona Mira pun telah saya selidiki tuan. Setelah anda keluar dari kamar inap yang Nona Mira tempati, tak lama kemudian kekasih serta adik tiri Nona Mira masuk ke dalam kamar hotel tersebut dan tak lama kemudian sang kekasih Mira pun keluar dalam keadaan marah-marah,"
"Kekasih Nona Mira pun segera memutuskan untuk mengakhiri hubungan di antara kedua nya dan lebih memilih untuk bersama sang adik tiri dari Nona Mira setelah mengetahui tubuh Nona Mira yang dalam keadaan telah ternoda," ucap sang informan secara rinci.
"Lalu setelahnya? Apakah Mira terlibat skandal dengan pria lain?" tanya Yeon.
Sang informan pun terlihat menggelengkan kepalanya dengan segera.
"Tidak, Tuan. Nona Mira tidak terlihat dekat dengan siapa pun lagi setelahnya. Jika tuan masih kurang yakin dengan bayi yang di kandung nona Mira maka bisa menunggu hasil tes DNA antara tuan dengan janin tersebut," jawab sang informan dengan menatap lekat wajah klien nya tersebut.
Yeon yang telah melihat dan mendengar semua nya dengan seksama pun nampak mengangguk-angguk kan kepala dengan perlahan.
"Ada yang hendak tuan tanyakan lagi?" tanya sang informan.
"Tidak. Sudah cukup jelas. Terimakasih atas kerjasama nya. Ambil uang mu, dan pergilah," ucap Yeon dengan menyodorkan mata uang dollar yang ada di dalam sebuah koper kecil kepada sang informan.
"Senang bekerja sama dengan anda, Tuan. Saya pamit undur dulu," ucap sang informan dengan membungkuk kecil dan kemudian berlalu dari ruang tersebut.
__ADS_1