
Daddy Yeon pun mendongakkan kepalanya tatkala mendengar suara ketukan sepatu semakin mendekat ke arahnya.
Senyum pun terpancar dari bibir Daddy Yeon begitu melihat sang putra sulung menengok dirinya.
"Apa kabar, Son?" tanya Daddy dengan masih memperlihatkan senyum hangatnya.
"Baik, Dad. Kami segera kembali ke tanah air begitu mendengar kabar tentang kalian," jawab Yeon dengan melihat seksama wajah Daddy nya tersebut.
Mata yang nampak sayu dan terlihat kurang tidur serta tubuh yang menjadi lebih kurus dari terkahir kali mereka bertemu pun terlihat jelas dari wajah Daddy nya tersebut.
"Daddy mengaku salah. Jika Mommy tidak kunjung memaafkan Daddy, maka Daddy minta agar Yeon mampu menggantikan sosok Daddy untuk menjaga Mommy serta adik kamu ya, Son," ucap Daddy yang terdengar seperti permintaan terakhir.
"Mommy pasti akan memaafkan, Daddy. Daddy jangan terlalu berfikiran buruk. Kita semua mencintai, Daddy. Begitu juga dengan Mommy yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan Daddy," ucap Yeon dengan perlahan sembari membuka pintu jeruji.
__ADS_1
Ceklek! Pintu pun terbuka.
"Ayo Dad, kita kembali ke dalam. Udara disini sangat pengap tidaklah bagus untuk kesehatan Daddy," pinta Yeon sembari berusaha memapah Daddy nya tersebut.
Namun Daddy Yeon pun terus menggelengkan kepalanya serta tidak kunjung mau untuk berpindah tempat.
"Jangan, Nak. Aku ingin tetap disini, tempat ini sangat cocok untuk merenungi semua kesalahan Daddy," ucap Daddy Yeon dengan kembali duduk di ranjang kecil yang sudah nampak usang tersebut tanpa mau keluar dari balik jeruji besi.
"Saat itu Daddy tersulut emosi karena omongan wanita itu, Nak. Bagaimana mungkin dirinya berani menyamakan diriku dengan dirinya sebagai orang hina. Daddy melakukan itu karena di luar kendali Daddy. Sudahlah untuk apa membahas masalah itu. Pergilah," jawab Daddy Yeon dengan wajah yang berubah menjadi dingin.
"Daddy jangan coba-coba melakukan percobaan bunuh diri di tempat pengap ini. Akan ada pengawal yang menjaga Daddy dua puluh empat jam disini agar Daddy tidak melakukan hal konyol tersebut," ucap Yeon dengan menatap wajah sang Daddy dengan sangat serius.
"Jangan khawatir kan itu. Daddy telah berubah fikiran dan tidak akan melakukan hal konyol itu begitu mengingat Daddy yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakek. Biar waktu yang membuktikan jika janin milik mantan sekretaris Daddy itu bukan darah daging Daddy," jawab Daddy Yeon dengan seulas senyum serta mengacak rambut putra sulungnya itu.
__ADS_1
"Yeon percaya dengan Daddy. Yeon pamit undur diri, Dad. Yeon akan mengawal tuntas masalah Daddy agar keluarga kita harmonis seperti sedia kala,"
"Pergilah, hati-hati dengan wanita di sekeliling mu. Jangan tertipu dengan kecantikan mereka. Kebanyakan dari mereka hanya menginginkan tubuh dan harta kekayaan kita. Fokus dengan Mira serta calon anak kamu dan jangan lengah seperti Daddy," ucap Daddy dengan memberikan nasehat kepada putranya tersebut agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti nya.
"Baik, Dad," jawab Yeon.
Kemudian Yeon pun memanggil beberapa penjaga untuk membawakan berbagai macam jenis kartu permainan untuk menemani Daddy selama di dalam penjara pribadi.
Tak lama kemudian penjaga tersebut berserta dua teman nya pun nampak membawa berbagai jenis kartus permainan seperti poker, uno, monopoli, ular tangga dan tak lupa papan catur.
"Temani Daddy ku disini, laporkan kepada ku jika ada sesuatu yang janggal mengenai Daddyku," bisik Yeon kepada pengawalnya tersebut.
"Siap, Tuan," jawab mereka serentak.
__ADS_1